A Fan With A Man

A Fan With A Man
Sesal



Rendy terlihat memukul-mukul dinding belakang kampus. Setelah dia mendengar pengakuan yang kaluar dari mulut Vika, dia langsung menyendiri dan melampiaskan perasaannya ke kebun belakang kampus dengan penuh amarah. Dirinya sangat marah sekaligus menyesal. Bukan! Bukan artian marah yang sebenarnya pada Vika.


Melainkan marah pada dirinya sendiri karena tidak memberikan gadis itu kesempatan untuk menjelaskan semuanya sejak awal.


Dan sekarang, Rendy benar-benar menyesal karena terlambat mengetahui segalanya. Mengetahui kesedihan yang gadis itu alami karena keegoisannya. Andai saja, saat itu dia tidak termakan oleh emosinya sendiri dan dapat mengendalikan amarahnya, mungkin hubungan mereka tidak akan seburuk sekarang, kan?


"Bodoh lo, Rendy! Lo emang bodoh!"


Pekiknya menggeram kala tangannya meninju sebuah dinding yang sedikit tajam, menyebabkan tangannya terluka hingga mengeluarkan darah segar dari sana.


Rendy mengalihkan pandangan pada tangannya yang terluka, lalu menatapnya dengan tajam, "rasa sakit ini nggak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan rasa sakit yang kamu alami selama ini, Vika. Aku minta maaf, karena nggak ada di samping kamu saat kamu butuh sebuah pelukan. Butuh sebuah kata-kata semangat untuk menguatkan kamu." Lirihnya penuh penyesalan.


Namun, sesaat kemudian wajahnya berubah penuh tekad dengan tangan yang terkepal kuat. Dan mengucapkan sebuah kalimat i'tikad penuh janji pada dirinya sendiri.


"Kali ini aku nggak akan melepaskan kamu lagi, Vika. Aku janji, aku akan memperbaiki hubungan kita." Ucapnya penuh janji disertai tatapan matanya yang penuh tekad.


Sementara Rendy berkutat memerangi kemarahannya dengan sebuah penyesalan, Vika sedang dalam perjalanan pulang dari kampus. Satya, sang pengawal yang diutus James sekaligus merangkap menjadi supir pribadi untuk Vika, sudah lebih dulu sampai untuk menjemputnya.


"Nona, saya langsung mengantar nona pulang atau ke kantor?"


"Mmm... kita ke kantor aja, Sat. Aku ada sedikit perlu dengan James."


"Baik, Nona."


Sebuah senyum tipis melengkung begitu saja tanpa diminta. Ada perasaan lega luar biasa dalam hati Vika. Mungkin karena dia baru saja mengeluarkan isi hatinya yang selama ini membelenggunya.


Hatinya terasa sedikit lebih ringan dibanding sebelumnya yang seolah menopang beban berat yang begitu menyesakkan dada.


●●●


Vika pun sampai di kantor James. Begitu keluar dari mobil, dia langsung menuju meja resepsionis untuk menanyakan keberadaan James. Sebab, pria itu bilang, dia mempunyai setumpuk jadwal meeting yang harus dihadirinya hari ini. Dan Vika akan memastikannya lebih dulu. Namun, sebelum ia sampai pada meja resepsionis itu, dia sudah disambut lebih dulu oleh pegawai resepsionis yang menyadari kedatangannya. Tak terkecuali juga seorang penjaga keamanan di pintu masuk kantor yang dengan sigap membukakan pintu untuknya.


"Nona Vika, selamat datang."


Petugas resepsionis bernama Desi itu tampak memberi hormat, terlihat dari namanya yang bertengger pada sebuah papan nama kecil di dada sebelah kirinya.


Vika menyahuti dengan senyum ramah, "terima kasih, Des. Apa... James ada diruangannya?" Sambungnya kemudian.


"Pak James baru aja sampai dari pertemuan meeting. Dan sekarang sudah di ruangannya." Sahut Desi dengan ramah.


"Baiklah kalo gitu. Aku akan menemuinya. Terima kasih, Desi."


Vika menimpali dengan sebuah senyuman yang melengkung sempurna di bibirnya, wajahnya pun sumringah seperti sedang merasa senang. Sampai-sampai beberapa pegawai yang berhadapan langsung dengannya dapat merasakan aura positif yang dipancarkan darinya.


Vika mulai memasuki lift yang akan membantunya menuju ruangan James dengan cepat. Suara lift pun berdenting, menandakan dirinya telah sampai di lantai tempat ruangan James berada. Dengan langkah santai, Vika mulai melangkahkan kakinya sampai dia tiba di depan pintu kayu berukiran berwarna coklat yang bertuliskan 'CEO' di sebuah papan nama kayu keemasan yang mengkilap.


Vika mengetuk pintu itu lebih dahulu, sampai terdengar ada sahutan dari dalam, dia mulai membukanya perlahan.


"James, aku mengganggumu?" Kepalanya muncul di balik pintu, diikuti dengan suara khasnya yang mampu mengalihkan James dari fokus pandangannya pada sebuah laptop.


Sudah tentu James tidak merasa terganggu jika itu menyangkut dengan Vika. Dia sudah berpesan padanya untuk datang kapan saja ke ruangannya tanpa harus meminta izinnya lebih dulu.


"Vika?" James menyahuti dengan senyuman hangat, wajahnya memang sedikit terkejut melihat Vika yang tiba-tiba sudah ada di depan pintu ruangannya tanpa memberitahunya lebih dulu. James pun berdiri dari kursi kebesarannya sambil menegakkan tubuh. "Ayo, masuk!" Perintah James lembut sambil berjalan mendekatinya, lalu menghela Vika untuk duduk pada sebuah sofa yang ada di seberang meja kerjanya.


"Tidak akan masalah jika seorang adik mengganggu kakaknya sedikit, bukan?" Ucap James dengan seringaian disertai ledekan kecil. Membuat Vika tersenyum seketika sambil mendengus ringan.


"Kamu mau minum apa?" Sambil menawarkan minuman pada Vika, James berjalan menuju mini bar miliknya yang ada di sudut ruangan.


"Apa aja," jawab Vika singkat.


James mengambil dua kaleng soft drink untuk mereka. Memberikannya satu pada Vika yang langsung diterimanya. Lalu duduk di samping gadis itu pada sofa lainnya. Menyandarkan punggungnya dengan nyaman sambil menyesap minumannya.


"How's your day?" Tanya James seketika setelah menyesap minumannya.


Vika tersenyum lalu mendesah pelan. "My day is the same as usual. Nothing special." Ucapnya singkat sambil menggoyangkan minumannya.


"And you? How about you? Apa... ada yang spesial dari acara meeting-meetingmu itu?" Ucap Vika kemudian dengan menimpali beberapa pertanyaan untuk James.


James tampak menghela napasnya sesaat sebelum kemudian manjawab.


"Tidak ada yang spesial dari semua jadwal meetingku. Tapi....." kalimatnya menggantung di udara seolah mengawasi. "Pagi ini ada kejadian spesial di kampusmu begitu aku selesai mengantarmu saat akan menuju kantor." Sambungnya kemudian diselipi nada misterius.


Dan hal itu berhasil memancing rasa ingin tahu Vika sampai gadis itu mengangkat sebelah alisnya.


"Apa itu?" Sahut Vika tidak sabar. Nadanya terdengar santai, namun juga tidak bisa menutupi rasa penasarannya.


James tampak tersenyum ironi. "Pria bernama Rendy dengan keberaniannya telah menghadangku tepat di depan mobilku!" Ucap James tanpa dosa. Seakan sedang memancing reaksi Vika dengan sengaja menyebut nama Rendy tanpa ragu.


Vika hampir saja tersedak dan nyaris menyemburkan minumannya dengan tubuh yang tiba-tiba menegang kaku.


"Ba-bagaimana bisa? K-kapan? Dimana? Kenapa kamu nggak bilang?" Tanya Vika memberondong.


James membelalak melihat reaksi Vika yang diluar perkiraannya. Ternyata, nama Rendy benar-benar sangat berpengaruh besar bagi gadis itu.


"Santai, Vika. Tenang." James berusaha menenangkan Vika yang sedang bersungut-sungut tapi juga ada sekilas semburat merah yang melintas begitu saja di pipinya kala nama Rendy disebut tadi.


"Apa dia mengancam kamu? Apa Rendy berbuat aneh-aneh sama kamu?"


James tampak menghembuskan napasnya ringan, "ya. Dia sedikit mengancamku, tapi........"


"Apa? Jadi dia benar-benar mengancammu?" Vika langsung menyanggah kalimat James yang belum diselesaikan. Dia terlihat emosi dan marah karena Rendy menggunakan ancaman kepada James yang tidak tahu apa-apa tentang hubungannya.


James baru saja akan meluruskan kalimatnya. Namun, dengan cepat Vika sudah menghentakkan kakinya dan berjalan dengan cepat sambil menggerutu.


"Ini nggak bisa dibiarin! Dia udah keterlaluan. Aku nggak bisa diem terus." Cebiknya dengan menggebu-gebu. "Aku akan bicara sama dia!"


Dengan langkah cepat, Vika langsung berbalik arah meninggalkan James tanpa mengiraukan James yang memanggil-manggilnya. Mencoba menghentikannya karena telah termakan emosinya sendiri.


"Vika! Tunggu, Vika!" Panggil James namun tidak membuahkan hasil. Gadis itu tampak terburu-buru masuk ke dalam lift dan hilang di balik pintu lift.


Tidak ada yang bisa James lakukan. Dia hanya bisa menghela napasnya seraya berucap dengan kedua bahu yang terangkat.


"Padahal aku belum menyelesaikan separuh dari kelanjutannya."


Kemudian James kembali menatap pintu lift yang tertutup, dan seringaian nakal pun muncul begitu saja di bibir merahnya.


"Mungkin.... aku harus sedikit berbicara curang untuk membantu memperbaiki hubungan mereka." Pungkas James disertai kekehan geli.


●●●


Untuk kedua kalinya, Meila tampak diam dengan menampilkan wajah sendu dan kesedihan. Wajah sehabis menangisnya tidak bisa ia sembunyikan dari Dimas. Mungkin karena Dimas yang sudah terlalu sering melihat Meila menangis sehingga sangat hafal dengan ekspresi wajahnya.


Sambil membagi fokusnya ke posisi kemudi, Dimas menolehkan wajahnya sambil menggerakkan jemarinya untuk mengusap pipi Meila dengan lembut.


"Kamu kenapa, Sayang? Mata kamu keliatan sembab. Kenapa, hm?" Dimas bertanya dengan suara paling lembut.


Tatapan mata Meila begitu sendu, terlihat raut kesedihan dari kedua matanya yang sayu. Sambil menatap Dimas lekat-lekat, pikiran dan hatinya berperang. Apakah dia bisa menceritakan tentang Vika pada Dimas? Sedangkan Vika hanya memintanya untuk tidak menceritakannya pada Rendy saja. Jika dia menceritakannya pada Dimas, itu tidak masalah, bukan?


"Sayang," sekali lagi, melihat Meilanya yang hanya menatapnya diam dan membisu, membuat Dimas tidak sabar untuk memanggilnya kembali. Menarik Meila dari lamunannya.


"A-aku... akan cerita nanti." Sahutnya dengan janji dan suara yang pelan.


Tatapan Dimas berubah curiga bercampur cemas, dia berpikir jika sikap Meila ada hubungannya dengan Sisil.


Mungkinkah Sisil menyakitinya lagi? Atau mencoba mengintimidasi dengan kata-katanya yang menyakitkan?


"Apa ada hubungannya dengan Sisil?" Tanya Dimas penuh selidik.


Meila menyanggah dengan cepat kecurigaan Dimas, sebelum pria itu salah paham dan benar-benar marah.


"B-bukan, kak. Ini... nggak ada hubungannya sama Sisil." Jawabnya dengan berusaha tenang. "Aku akan cerita sama kak Dimas, nanti. Aku janji." Ucap Meila kembali dengan kalimat meyakinkan yang berhasil membuat Dimas sedikit lebih lega.


Dimas tersenyum hangat, lalu tangannya beralih untuk menggenggam tangan Meila dan mengusapnya dengan lembut.


Seolah sedang menyalurkan ketenangan dari suhu telapak tangannya yang hangat menyenangkan. Sehangat perlakuannya pada Meila yang mampu membuat gadis itu nyaman dan damai didekatnya.


●●●


Dan sampailah Vika di rumah Rendy. Dengan gerakan tergesa-gesa, Vika keluar dari mobil yang dikemudikan Satya. Kemudian, menghentikan tindakan Satya yang akan membukakan pintu untuknya dengan segera.


"Satya, kamu kembali aja ke kantor." Dengan tangan terkepal menahan amarahnya, Vika mengawasi permukaan rumah Rendy yang tidak banyak berubah saat terakhir dia mendatanginya dulu.


"Aku ada urusan dengan pemilik rumah ini."


"Tapi, Nona....."


"Satya, James udah memberi aku izin. Jadi, kamu bisa kembali mengerjakan tugas kamu." Vika menyela dengan nada sedikit tegas. Membuat Satya tidak bisa mengatakan apapun lagi.


Satya akhirnya mematuhi apa yang diinstruksikan Vika. Lalu, memberikan salam hormatnya kepadanya sebelum kemudian membalikkan tubuh serta memasuki mobilnya. Melajukan kendaraannya untuk kembali menghadap pada tuannya, James, yang sedang menunggunya dengan tugas-tugas yang akan diberikan untuknya.


Sementara Vika, terdengar dengusan kasar yang entah berapa kali sudah dikeluarkannya.


"Kamu benar-benar keterlaluan, Rendy. Aku nggak bisa ngebiarin kamu melakukan hal yang sama pada orang-orang yang nggak tau apa-apa lagi. Cukup kamu lakukan itu pada James. Selanjutnya, nggak lagi!" Geramnya dengan marah namun berusaha tenang mengatur napasnya.


Jika boleh jujur, Vika masih belum siap untuk menginjakkan kakinya lagi di rumah Rendy. Ada rasa takut, gemetar, juga ragu kala mengingat kenangan lama yang mengharuskannya terusir dari sana sebelum dia menyelesaikan sebuah alasan mengenai hubungan mereka. Tapi, melihat sikap Rendy yang sudah diluar batas dari perkiraannya, dengan terpaksa mendorongnya untuk mengingatkan pria itu untuk tidak menggunakan ancamannya lagi. Terutama bagi orang-orang yang tidak mengetahui apapun dengan masalah yang ada dalam hubungan mereka selama ini.