A Fan With A Man

A Fan With A Man
Tawaran Dion



"Jadi kalian udah saling kenal sebelumnya?"


Airin yang sedari tadi hanya bingung dengan menatap antara Dion dan Meila secara bergantian, akhirnya bertanya juga.


"Ah, itu..... Nggak sengaja ketemu di sebuah pesta kak James beberapa waktu lalu." Meila menjawab dengan jujur.


Dion tampak mengiyakan dengan memberi senyuman. Sedangkan Airin malah ber-oh ria seorang diri.


"Oh, iya. Katanya kamu lagi sakit?" Dion bertanya pada Meila. Yang memang dilihat dari sudut manapun terlihat jelas rona pucat di permukaan kulitnya.


"Ah, nggak. Aku... cuma sedikit pusing karena tugas yang menumpuk dan kurang istirahat aja mungkin." Sambil menjawab, Meila melirik pada Airin yang mengisyaratkan untuk tidak mengatakan hal yang sebenarnya jika dia sedang dalam masa periodenya. Dan untung saja, Airin langsung mengerti isyarat yang sahabatnya itu berikan.


"Iya. Dia cuma sedikit pusing. Karena tugas-tugas yang menumpuk akhir-akhir ini." Jawab Airin menimpali.


"Aku bisa mengantarmu pulang jika kamu mau. Kalau kamu tetap menunggu taksi, entah kapan taksi itu akan datang." Dion akhirnya menawarkan sebuah tumpangan tanpa ragu.


Dion menganggap jika ini adalah sebuah kesempatan sekaligus juga keberuntungan kedua kalinya yang dia dapatkan. Tentu saja dia tidak mau menyia-nyiakannya apalagi mendapat penolakan. Dia akan berusaha membujuk dan merayu dengan cara paling lembut agar Meila akhirnya mau ikut bersamanya. Diantar pulang olehnya dan berada satu mobil dengannya.


"Ng-nggak usah, kak. Aku naik taksi aja nggak apa-apa. Aku tunggu sampai taksi itu lewat aja."


Kepolosan dari Meila itu malah membuat Dion tertawa.


"Kamu bercanda, ya? Kalau kamu nunggu taksi sampai taksi itu lewat yang entah kapan lewatnya, kamu akan keburu pingsan disini dan juga dehidrasi. Muka kamu udah pucat begitu. Masih mau menunggu lebih lama lagi?"


"Tapi......"


"Benar, Mei.. gue gak tega liat lo kesakitan kayak tadi. Apa yang akan kak Dimas pikirkan tentang gue kalo sahabat pacarnya ini nggak bisa menjaganya dengan baik?! Lagipula dari tadi gue nggak ngeliat ada taksi yang lewat diluar sana."


Mendengar nama Dimas disebut, seketika membuat Meila teringat akan ucapannya tadi pagi untuk tidak menerima barang atau pemberian apapun dari seseorang. Tetapi, disini ada Dion yang sedang memaksa untuk mengantarnya pulang. Dan Airin pun mendesaknya agar menerima tawaran Dion. Lalu, seakan selaras dengan kondisinya, Meila pun semakin merasakan sakit di sekitar perutnya yang bisa dibilang cukup menyakitkan. Dan Meila tidak sanggup untuk menunggu lagi.


Dia ingin cepat-cepat sampai rumah dan berbaring. Mengompres perutnya dengan air hangat sambil bergelung selimut. Dan dia harus segera memutuskannya. Tapi, benarkah tidak apa-apa? Apakah Dimas akan mengerti kondisinya?


"Jangan terlalu lama berpikir. Ayo, aku akan mengantarmu. Aku janji. Aku akan mengantarmu dengan selamat dan aman sampai rumah. Gimana?"


"Iya, Mei.... ya,?"


Mendapatkan bujukan dari Airin, tak pelak membuat Meila langsung memutuskan begitu saja. Dia masih tampak diam dan meragu. Jika boleh jujur, Meila juga tidak ingin ada campur tangan Dion dalam kehidupannya. Sebab, jika bertemu Dion, dia merasa seperti harus memasang tameng kewaspadaan yang kuat untuk menjauhinya. Meila merasa jika akan ada hal bahaya yang menimpanya jika bersamanya. Meskipun itu memang belum pernah terjadi.


Di satu sisi Meila takut jika Dimas akan menganggapnya perempuan yang tidak bisa menepati janji jika dia menerima ajakan Dion. Tetapi jika dia tidak menerimanya, mau sampai kapan dia akan menunggu taksi datang untuk mengantarnya pulang? Bisa saja dia menelepon Dimas atau Henry. Namun, Meila tau sepadat apa jadwal mereka hari ini.


Untuk kali ini saja, apa dia boleh menerima tawaran laki-laki ini?


●●●


"Rin, sebenernya gak usah pake dianter kak Dion segala. Gue bisa nunggu taksi, kok." Meila berucap setengah berbisik. Berusaha meminimalisir suaranya agar tidak terdengar oleh Dion.


"Yaelah, Mei... gue takut lo keburu pingsan. Mau sampe kapan lo nunggu nya? Mau gue kasih liat seberapa pucat muka lo?"


"Tapi, Rin...?!"


"Ayo, masuk! Disini panas. Kamu bisa dehidrasi." Dion menyela dengan kalimat perintahnya.


"Ayo, Mei... Nanti keburu sore." Airin pun ikut menimpali.


Dengan ragu, dan dengan langkah berat, Meila mau tidak mau masuk ke dalam mobil Dion yang pintunya sudah dibukakan oleh laki-laki itu.


"Mei, kabarin gue kalo udah sampai rumah, ya." Airin berucap kemudian. Meminta Meila untuk segera mengabarinya jika telah sampai di rumah. Lalu berucap kepada Dion disaat lelaki itu sedang menutup pintu penumpang untuk Meila. "Tolong antar Meila dengan selamat ya, kak. Kalau nggak ada tugas penting dari dosen aku pasti bakal ikut menemani dia. Tapi, sayangnya nggak bisa." Imbuh Airin kemudian.


Dion tampak menipiskan  bibirnya. "Pasti. Aku pasti akan mengantarnya sampai rumah dengan selamat."


Setelahnya Dion langsung masuk ke sisi kemudi dan mengambil alih posisi. Lalu mengendarai mobilnya menuju jalan raya diikuti oleh Sisil yang memberikan lambaian tangannya untuk Meila dari kejauhan.


●●●


Di dalam ruangannya yang megah, Dimas tampak fokus pada sebuah lembaran laporan yang akan dia gunakan sebagai materi meeting siang nanti. Dimas tampak membuka lembar demi lembar laporan secara berulang-ulang untuk memastikan jika tidak ada bagian yang terlupakan.


Suara ketukan pintu yang terdengar begitu mendesak disertai suara Henry yang meminta izin untuk memasuki ruangannya membuat Dimas langsung menyuruhnya masuk. Dan hal pertama yang Dimas lihat adalah tampak Henry begitu gelisah dan bingung.


"Ada apa?" tanya Dimas dengan sebelah alis yang menaik.


"Maaf, tuan. Ini mengenai nona dan sangat mendesak." Mendengar kalimat Henry yang berkaitan dengan Meila, membuat Dimas terkesiap penuh antisipasi. "Itu... salah satu dari bodyguard yang saya tempatkan telah melihat nona masuk ke dalam mobil Dion."


"Apa?" Bentak Dimas dengan terkejut. Dia lalu bangkit dari kursi kerjanya dan berjalan dengan cepat menuju keluar ruangan sambil bertanya pada Henry sambil lalu. "Jam berapa meeting selanjutnya?"


"Jam 3 sore, tuan."


"Masih ada waktu 2 jam lagi sebelum meeting dimulai. Aku akan keluar sebentar. Pastikan klien kita merasa nyaman begitu mereka datang nanti. Aku akan menyelesaikan sesuatu dulu sebelum rapat itu dimulai." Ucap Dimas dengan ultimatum yang tidak dapat dibantah.


Setelah mengucapkan ultimatumnya, Dimas langsung berjalan dengan cepat menuju tempat dimana dia memarkirkan mobilnya, dan melajukan mobil itu dengan cepat dan serampangan.


Henry yang hanya bisa memperhatikan tuannya, tidak mampu menjawab atau bertanya apapun lagi. Dia tahu tanpa harus bertanya sekalipun, sudah pasti tuannya akan mengikuti kemana Dion akan membawa kekasihnya itu. Dan, Henry yang mendapatkan perintah, mau tidak mau harus melaksanakan dan mengatasinya dengan cara yang bijak seperti yang seharusnya.