A Fan With A Man

A Fan With A Man
Terdengar Indah



Sesampainya di basement, James langsung membawa Sisil ke dalam gendongannya yang kondisinya begitu lemah. Meski sempat mengelak, namun tak urung Sisil akhirnya memilih diam dan membiarkan James menggendongnya. Dia sudah tidak kuat lagi beradu pendapat pada pria itu. Matanya terasa lengket dan kepalanya sangat berat menahan sakit disertai pandangan yang memutar.


Sesampainya di kamar, James langsung membaringkan Sisil ke atas ranjangnya dan menyelimutinya.


"Berbaringlah disini. Aku akan membuatkan bubur untukmu."


Tanpa menunggu jawaban dari Sisil, James langsung pergi menuju dapur dan membuatkan bubur untuknya. Dan tidak lupa juga menyiapkan obat penurun panas untuk diminumnya setelah menyantap bubur hangat. Jika boleh jujur, setelah mendengar suara Sisil yang gemetar disertai isakan tertahan, pikirannya langsung terpecah dan tidak bisa berkonsentrasi lagi dalam pekerjaannya. Segera setelah menutup panggilan dari Sisil, James langsung melacak nomor yang Beno gunakan untuk meneror Sisil. Dan tidak sulit bagi James menemukannya. Hanya saja titik lokasi yang dia temukan tidak akurat dan berpindah-pindah. Membuatnya bingung hingga kesal sendiri.


Mengingat waktu yang tanpa terasa sudah hampir satu jam, James langsung menghentikan dan menunda penyelidikannya. Dia memilih untuk menjemput Sisil dan memastikan kondisinya lebih dulu. Sebab, buat apa dia melakukan penyelidikan sedangkan pikirannya tidak fokus dan malah memikirkan Sisil yang belum dia pastikan kondisinya? Perempuan itu pasti sangat syok dan takut.


Dan seperti dugaannya, apa yang dia lihat dan dia bayangkan sangatlah kontras. Itu sebabnya James tidak mau bertanya macam-macam dulu pada Sisil. Hal pertama yang diutamakan James adalah segera membawa Sisil ke apartemennya untuk mengistirahatkan diri. Sebab tidak mungkin James mengantar perempuan itu pulang dengan kondisi pucat pasi dan tubuh lemas. Yang ada semua akan panik. Hal itu sama saja dengan memberitahu Adrian dan Riana atas apa yang disembunyikan mereka selama ini.


Bubur itupun akhirnya matang sempurna hingga menguarkan bau harum dari bubuk kaldu yang James tuangkan sedikit di dalamnya untuk menciptakan rasa. Sehingga menciptakan rasa gurih ketika mendarat di lidah. James segera menuangkan bubur itu dari panci ke dalam mangkuk yang diberikan sedikit hiasan daun parsley di atasnya. Kemudian meletakkannya ke atas nampan beserta kotak obat yang telah disiapkan sebelumnya.


James langsung membawa nampan itu ke kamar dan membangunkan Sisil sebelum kemudian menaruh lebih dulu nampan itu ke atas meja nakas. Lalu membantu Sisil untuk duduk bersandar dengan bantal sebagai sandaran punggung yang diletakkan di kepala ranjang.


"Ayo, makan dulu. Setelah itu minum obat penurun panas ini." James langsung mengambil kembali nampan itu dan mulai menyuapi Sisil. Meniupinya lebih dulu agar tidak terlalu panas hingga mengakibatkan lidahnya terluka.


Tanpa membantah ataupun menolak, Sisil langsung membuka mulutnya menerima suapan dari sendok yang disodorkan James. Bibirnya yang kering menandakan jika dirinya sedang kekurangan cairan tubuh sehingga menyebabkan dehidrasi.


"Apa buburnya terlalu panas?"


Sisil menggeleng lemas sebagai bentuk jawaban.


Selama James menyuapi Sisil, tidak ada penolakan atau sanggahan yang keluar dari mulut Sisil sedikitpun. Sisil tampak menerima suapan demi suapan meski terlihat dari wajahnya jika dirinya sedang tidak dalam kategori nafsu makan dalam menerima asupan makanan.


Sisil pun akhirnya menghabiskan bubur itu hingga tak bersisa. James pun tampak memulas senyum tipis sembari membantunya meneguk segelas air putih hangat.


"Minum obat penurun panas ini. Ini akan menurunkan panasmu dalam waktu satu jam."


James memberikan obat penurun panas itu pada Sisil yang langsung meminumnya. Lalu merebahkan kembali kepalanya ke kepala ranjang sambil menghela napas ringan berkali-kali. James yang memandangi Sisil lagi-lagi meletakkan tangannya ke kening Sisil untuk memeriksa suhu tubuhnya. Dan memang, masih sedikit panas tetapi sudah sedikit lebih hangat dibanding tadi.


"Kamu mau berbaring?"


Sisil menggeleng lemas "ng-nggak perlu. Cukup gini aja," jawabnya pelan.


"Baiklah." James lalu membenarkan selimut Sisil hingga menutupi batas perutnya. "Jika ada yang kamu perlukan, katakan! Atau kamu menginginkan sesuatu, aku akan berusaha memberikannya."


Sisil pun menoleh, sedikit menyeringai dengan mata yang setengah terpejam.


"...iya. Aku cuma perlu istirahat sebentar. Aku cuma syok dan terkejut." Pungkas Sisil.


James pun menyeringai pelan. Menatap Sisil dengan tatapan teduh sambil bergumam tak habis pikir.


Kekhawatiranku tidak bisa disamakan dengan hanya sebuah kata 'cuma', Sisil. Bahkan kekhawatiranku terjadi sejak detik dimana aku mendengar suara napasmu yang gemuruh memasuki gendang telingaku melalui teleponmu!


●●●


Dimas bilang, sembari menunggunya kembali dari meeting, dirinya bisa membaca novel atau komik dan berbagai buku yang terpajang di lemari. Serta menonton film pilihan di rak kecil yang telah tersedia berbagai macam genre film yang bisa Meila pilih. Atau jika lelah, Meila bisa melakukan tidur siang di kamar tersembunyi yang tidak sembarang orang bisa mengaksesnya. Dan Dimas telah memberikan izin padanya. Tetapi, Meila benar-benar bingung sekarang apa dia harus menonton film atau membaca novel?


Meila pun akhirnya memilih mondar mandir di ruangan Dimas hingga berhenti di depan jendela kaca yang tirainya sedikit dikibaskan. Melihat pemandangan luar dari dalam yang memperlihatkan kegiatan lalu lalang jalan raya, membuatnya menjadi seperti miniatur dari ketinggian. Mulai dari gedung-gedung bertingkat yang berdiri berjajar, rumah-rumah penduduk yang berjarak tampak begitu kecil termasuk pepohonan yang berdiri di sepanjang sisi jalan pun tampak seperti mainan.


Meila pun memulas senyum. Menarik napasnya dalam-dalam dengan perasaan senang.


"Kalau siang aja cantik. Apalagi kalau malam. Pasti pemandangannya lebih cantik." Gumamnya.


Lalu seketika raut wajahnya berubah lesu mengingat dirinya yang sedang berdiri seorang diri di ruangan yang sangat luas tetapi tampak sunyi.


"Mungkin kak Dimas udah memulai meetingnya sekarang." Ucapnya. "Yah... Ada benarnya juga dengan aku kesini. Karena itu adalah pilihan yang baik." Imbuhnya memulas senyum.


●●●


James memperhatikan Sisil dengan ekspresi khawatir. Dia sengaja duduk di pinggir ranjang dan belum beranjak dari saat Sisil menyelesaikan makannya. Ada untungnya juga James duduk disana. Sebab, dia bisa melihat adanya perbedaan dengan jelas perubahan warna kulit Sisil yang tadinya pucat mulai merona normal disertai demamnya yang berangsur menurun. James mulai bisa bernapas lega dan melonggarkan sedikit kecemasannya.


"Are you feeling better now?"


"...just more little bit," jawab Sisil lemah. Namun kali ini dia sudah bisa mengangkat kepalanya sedikit lebih tegap.


"Syukurlah... i'm so scary, you know?" James berujar jujur tanpa menghilangkan kekhawatirannya.


"Nggak perlu terlalu mengkhawatirkanku. Aku hanya sedikit lemas aja. Mungkin sebentar lagi panasnya akan benar-benar hilang." Tangan Sisil lalu menyentuh keningnya sendiri untuk memastikan ucapannya. Dan panasnya memang benar-benar sedikit menghilang.


"Mau kamu hanya lemas atau apapun, rasa khawatirku tetap sama. Entah kamu percaya atau tidak, didetik pertama aku mendengar deru napasmu yang ketakutan tadi, aku merasa sesak rasanya. Sebab, aku tidak tau bagaimana kondisimu sebenarnya. Pikiranku hanya fokus pada bagaimana caranya agar aku bisa segera menjemputmu dan membawamu pulang lalu membuatmu tenang."


Sesaat, Sisil terpaku dengan ucapan James. Dia pun menyeringai. "Kamu terlalu jujur, James!"


"Aku akan selalu jujur didepanmu. Apa kamu pernah melihat aku tidak jujur? Mau itu enak didengar atau tidak, aku akan mengatakannya. Mau tidak enak sekalipun didengar, aku pasti akan menemukan cara agar bagaimana yang tidak enak didengar itu menjadi indah ketika masuk ke telingamu."


Sisil terkekeh. Dan ini pertama kalinya dia terkekeh meski dalam kondisi lemah. "Kamu lagi gombal, ya?"


"Kalau kamu menganggapnya begitu, yaah... tidak buruk juga."


Celotehan James berhasil membuat Sisil terkekeh. Hal itu membuat James turut senang melihatnya. Setidaknya, wajah yang tadi pucat dan lesu tidak bertenaga, sekarang sudah bisa bereaksi kembali.


Ditengah suasana yang damai itu, tiba-tiba saja berubah menjadi tegang saat suara dari ponsel Sisil memecah keakraban keduanya. Sisil dan James saling beradu tatap penuh tanya. Apakah Beno yang lagi-lagi mengiriminya sesuatu? Atau Beno sengaja membuat Sisil merasa gelisah hingga akhirnya tidak tenang dan menyerah padanya?


"J-james..." ketakutan Sisil kembali menguar. Terlihat dari raut wajahnya yang mulai cemas dan ketakutan ditambah dengan kerutan didahinya.


"Tenang, Sisil." ujar James sambil meraih tangan Sisil. "Sekarang kamu buka ponselmu perlahan. Dan lihat siapa pengirimnya."


Dengan masih takut, tak urung Sisil mengangguk juga. Dia mulai meraih ponselnya yang dia letakkan di samping bantal dan mencoba membukanya. Dan seperti dugaannya, pesan itu berasal dari Beno dengan nomor ponsel yang berbeda. Bibir Sisil setengah membuka karena terkejut dengan isi pesan yang Beno kirimkan. Sisil pun menoleh pada James yang sedang menunggu apa isi dari pesan itu dengan ekspresi gelap yang tidak dia sembunyikan.


"Apa? Apa isi pesannya?" Tanyanya yang menggantung di udara.