
"Pakai ini. Ini akan membantu menghangatkan tubuhmu."
James yang baru keluar dari walk in closet, tampak membawa sebuah pakaian dari sana. Dia lalu memberikan satu set pakaian hangat itu kepada Sisil yang baru saja keluar dari kamar mandi. Dengan mengenakan jubah mandi warna putih milik James, rambut Sisil tampak tergerai setengah basah karena telah dikeringkan lebih dulu olehnya dengan handuk sesaat sebelum dia keluar dari sana.
Sisil menerima baju itu dengan canggung. Kedua tangan Sisil yang memegang baju membuat James mengalihkan perhatiannya pada pergelangan tangan Sisil yang masih memerah. Ada tanda bekas cengkaramannya yang begitu jelas disana.
"Apa masih sakit?" James meraih tangan Sisil dengan hati-hati.
Ekspresi Sisil berubah jutek. Tetapi tidak menunjukkan adanya kemarahan yang nyata di wajahnya. "Kamu pikir aku meringis kenapa tadi kalau bukan sakit?" Sisil menjawab dengan dagu terangkat.
James terkekeh mendengarnya. Lalu mengusapi pergelangan tangan Sisil dengan hati-hati sebelum kemudian mengecupnya lembut tepat di area memar.
"Aku minta maaf." Sahut James dengan suara berat. Dan itu justru membuat Sisil merinding seketika. Karena suara itu baru pertama didengarnya hingga terdengar begitu seksi di telinganya. "Karena cuma dengan cara itu agar kamu bisa jujur dan mengatakan semuanya."
Sisil berseloroh sambil memasang ekspresi sebal. "Itu namanya curang dan pemaksaan!"
James lagi-lagi terkekeh. "Terserah kamu mau bilang apa. Tapi yang perlu kamu tau, semua yang aku katakan tadi semuanya sungguh-sungguh. Tidak dibuat-buat apalagi ada niat untuk memanfaatkan."
Tatapan James berubah dalam dan Sisil pun mendadak kikuk hingga berdebar. Sebelum suasana menjadi semakin canggung dan dirinya kembali terhanyut, akhirnya Sisil menjawab dengan sebuah gumaman kecil yang tersamar sambil memutus kontak mata diantara mereka.
"Baiklah, kamu bisa ganti baju disini. Dan untuk malam ini, kamu tidur di kamarku. Biar aku tidur di sofa."
Sisil mengiyakan dengan sebuah anggukan. Lalu setelahnya, James membiarkan Sisil mengganti pakaian dan meninggalkannya di kamar sebelum kemudian mengusap bahu Sisil sambil lalu ketika akan melewatinya.
"James..." Sisil memanggil James tiba-tiba ketika James baru akan meraih gagang pintu dan membukanya.
"Ya? Ada yang kamu butuhkan lagi?" Seketika James langsung menoleh.
Sisil tampak bingung dan terdiam beberapa detik. Namun tak urung dia mengucapkan dua kata ajaib yang keluar dari mulutnya yang kelu.
"...Thank you," Sisil berucap pelan.
James memberikan senyuman manisnya yang meneduhkan. Yang belum pernah Sisil lihat selama bersamanya.
"Sama-sama. Kamu bisa melibatkanku kapanpun." Ujarnya penuh arti. "Istirahatlah. Good night."
"Good night too,"
Kemudian James meninggalkan Sisil seorang diri yang sedang merasakan debaran jantungnya yang tak beraturan. Sedangkan Sisil langsung mengatur napasnya perlahan-lahan sebelum akhirnya berlari ke walk in closet untuk berganti pakaian.
●●●
James akhirnya bergegas bangun. Mengibaskan selimutnya dengan kasar dan beranjak duduk sambil memijat keningnya pelan.
Pukul 3 dini hari. Sunyi dan sepi. Hanya bunyi suara jam dinding yang bergerak teratur yang memenuhi isi ruangan. James akhirnya berjalan menuju dapur dan meminum segelas air putih untuk membasahi tenggorokannya dan memperlancar pencernaannya. Dia lalu melirik ke arah kamar yang tampak sepi. Tidak ada suara apapun dari sana. Yang artinya, jika Sisil tengah tertidur pulas dengan nyaman di bawah pengawasannya.
"Syukurlah... aku bisa membujuknya meski dengan sedikit kasar."
Gumamnya sambil tersenyum.
Seakan ingin memastikannya sendiri, James melangkahkan kakinya ke arah kamar dan mulai membuka pintu dengan sangat hati-hati. Dilihatnya Sisil yang sedang tidur meringkuk membelakanginya dengan napas teratur disertai dengkuran halus.
Dirasa tidak cukup hanya melihatnya dari jauh, James lalu berjalan mendekati ranjang dengan langkah ringan hingga berhenti di pinggir ranjang dengan posisi setengah membungkuk.
Bibirnya mengulas senyum ketika memandangi wajah Sisil yang polos tanpa make up sedang tertidur pulas di atas ranjangnya. Menguasai area kamar yang anehnya, sama sekali tidak membuat James kesal ataupun marah. Justru James merasa bahagia melihatnya.
Tidak mau berlama-lama karena takut akan mengganggu Sisil yang tengah pulas, James akhirnya berniat kembali ke ruang tamu sebelum kemudian membenarkan selimut yang sedikit turun. Lalu membalikkan badannya segera dan berjalan melangkah keluar jika saja lengannya tidak ditahan oleh tangan Sisil.
Sontak James langsung berhenti. Membalikkan tubuhnya segera untuk melihat kondisi Sisil. Takut jika kondisinya sama seperti beberapa waktu lalu yang didapatinya sedang berderai air mata. Tetapi sayangnya, ketakutan James tidak terjadi. Kedua mata Sisil masih terpejam rapat saat tubuhnya berbalik ke arahnya. Hal itu langsung membuat James bernapas lega.
Jika Sisil begitu lelap, tetapi kenapa pegangan di tangannya cukup erat? Seolah takut untuk ditinggalkan sendirian.
"Jangan lakukan ini, Sisil. Aku takut tidak bisa mengontrol diriku," James berujar pelan dengan suara berat tertahan.
Perlahan James melepaskan tangannya dari pegangan Sisil. Tetapi bukannya terlepas, justru pegangannya malah semakin kuat. Dan itupun disertai dengan ekspresi seperti sedang merajuk. Persis seperti anak kecil yang tidak mau tidur sendiri dan meminta untuk ditemani. Tetapi yang membuatnya lucu adalah, ketika wajah cemberut Sisil dipadu padankan dengan kedua matanya yang terpejam. Itu berhasil menggelitik James hingga nyaris menyembur.
"Jangan pergi,.." Sisil bergumam seperti sedang mengigau. "Jangan tinggalin aku sendirian disini... Aku merasa kesepian," suaranya berubah memelas.
James terkejut mendengarnya. Dia kebingungan akan mengambil tindakan antara membiarkan gumaman Sisil dan meninggalkannya, atau menyerah kalah pada dirinya sendiri dan memilih tidur bersama Sisil di atas ranjang yang sama.
"Jangan tinggalkan aku,..." suara Sisil memelas kemudian disusul dengan isakan yang tiba-tiba muncul.
Seolah tidak tega, akhirnya James memilih menyerah dan beranjak naik ke atas ranjang. Langsung merebahkan tubuhnya di samping Sisil dan memeluknya.
"Tidak ada yang akan meninggalkanmu, Sisil. Aku janji. Aku tidak akan membiarkanmu terpuruk sendiri di dalam masalahmu. Aku akan membantumu keluar dari kegelapan itu." James berbisik lembut di atas pucuk kepala Sisil sambil memberikan kecupan lembut disana.
Seakan sadar dan mengerti apa yang James ucapkan, sikap Sisil berubah tenang dan perlahan membalas pelukan James dengan meringkuk ke dalam lengannya. Menempelkan kepalanya ke dada James sambil kembali terlelap nyaman.
Perlahan kedua mata James memejam rapat. Sambil memeluk tubuh Sisil dan mengusapi punggungnya yang tampak kembali tenang hingga tanpa sadar merasakan kantuk yang mulai menyerang dan sama-sama terlelap dalam kantuk yang mendera.