A Fan With A Man

A Fan With A Man
Memilih



"Apa kabarmu, Rendy?"


Vika berusaha mencairkan suasana dengan memulai pembicaraan di antara mereka. Saat ini, mereka sedang duduk berhadap-hadapan dengan buku sebagai penghalang, dan keheningan yang membentang hingga membangkitkan perasaan canggung luar biasa untuk Vika.


Rendy sempat terdiam saat namanya kembali disebut dari bibir wanita yang sempat menempati ruang hatinya. Namun sesaat kemudian, pria itu langsung menguasai diri.


"Baik. Seperti yang kamu liat. Aku baik. Sangat baik!" Jawab Rendy jelas penuh penekanan dengan nada sindiran yang kental tanpa menoleh sedikitpun. Dan sungguh! Berbicara tanpa melihat pada lawan bicara lebih menyakitkan dibanding membicarakan hal buruk seseorang dibelakang.


Saking canggungnya, Vika harus menggigit bibirnya sendiri untuk menetralkan perasaan yang berkecamuk. Dihelanya napas perlahan sebelum kemudian berucap.


"Aku... aku minta maaf untuk....."


"Jangan bicarakan hal yang sama sekali nggak ada hubungannya sama tugas ini. Karena udah nggak ada yang penting untuk dibahas lagi." Potong Rendy ketus yang mampu membuat perasaan Vika hancur.


"Tapi, Ren..."


"Cukup! Kerjakan tugas kamu atau aku akan laporkan pada kepala dekan atas sikap kamu yang nggak kompeten itu." Gertak Rendy memberi peringatan keras. Yang sontak membuat Vika terdiam membisu dengan bibir bergetar sekaligus mata berkaca-kaca dengan kepala tertunduk, menahan kata-kata yang terangkai namun tidak bisa diungkapkan.


Sebegitu besarnyakah kesalahan aku ke kamu, Rendy? Sampe kamu nggak mau menatap lawan bicara kamu?


"Sekali saja, tatap aku seperti dulu kamu pernah melakukannya." ucapnya lirih dalam hati.


Selama sikap kamu yang gigih nggak mau mendengarkan penjelasan aku, gimana caranya aku bisa buat kamu percaya dengan semua yang udah terjadi diantara kita?


Rendy tidak tahan berada satu ruangan dengan Vika. Dia ingin memisahkan diri dari gadis itu secepat mungkin. Bukan! Bukan karena rasa benci yang dirasakannya. Melainkan sikap sedih yang ditunjukkan gadis itu yang membuat hatinya bergetar tapi sayangnya tidak bisa berbuat apa-apa.


Dengan kasar, Rendy beranjak dari kursi. Menutup buku yang dipegangnya dengan cepat sambil mengucapkan sebuah kalimat yang sekali lagi, mampu membuat perasaan Vika semakin sesak oleh rasa bersalah.


"Kerjakan tugas kamu secepatnya! Aku akan keluar menghirup udara segar. Udara di sini sangat panas dan pengap. Membuat aku nggak betah berlama-lama di sini." Ujarnya sarkasme dengan nada ketus. Sambil melenggang pergi tanpa menoleh sedikitpun pada gadis yang saat ini sedang memandanginya dengan wajah memelas meminta dikasihani.


Dan pergilah Rendy, dengan menutup pintu ruangan dengan kasar sampai membuat Vika mengedipkan mata kaget ditempatnya. Meninggalkan Vika seorang diri dengan air mata yang menumpuk di pelupuk matanya. Yang sekuat tenaga sedang menahan sikap emosionalnya yang jika disentuh saja, akan meledak dan menumpahkan semua alasan dibalik kebisuannya yang ia simpan baik-baik selama ini.


●●●


*flashback on


Saat itu, suara bel pertanda berakhirnya kegiatan belajar mengajar membangkitkan sorak sorai pelajar ruang kelas 3 SMA, tak terkecuali Vika dan Rendy. Ya! Mereka telah menjalin hubungan selama 1 tahun pacaran tanpa ada seorang pun guru atau teman yang mengetahuinya. Mereka berusaha menutup rapat hubungan mereka dengan tujuan agar terhindar dari ejekan-ejekan jahil teman-temannya.


Rendy selalu mengantar Vika pulang dari sekolah. Gadis itu selalu menunggunya tak jauh dari halte sekolah agar tidak ada teman atau guru yang melihatnya.


Hari itu adalah hari Jum'at, hari dimana akhir pekan akan datang dan dibebaskan dari kegiatan belajar. Maka dari itu, Rendy telah menyiapkan kejutan untuk kekasihnya, menuju ke jenjang yang lebih serius atas hubungan mereka ke depannya.


Mereka telah sampai tepat di depan gerbang rumah mewah Vika. Saat Vika memberikan helmnya pada Rendy yang selalu disertai senyuman dan ucapan terima kasih, saat itu juga Rendy berniat mengajak Vika makan malam antara mereka berdua saja.


"Kamu ada waktu besok malam?" Tanya Rendy begitu menerima helm yang diberikan Vika.


Vika tersenyum, lalu menautkan kedua alisnya penuh tanya. "Besok malam?"


"Ya. Besok malam. Malam Minggu. Apa harus diperjelas lagi?" Ucap Rendy dengan memperjelas kata 'malam minggu' yang sekaligus membuat Vika terkekeh renyah.


"Nggak perlu dijelasin aku juga tau kalo besok malam adalah malam minggu. Kenapa harus dengan nada kesal gitu jawabnya?" Jawab Vika dengan sengaja sambil menahan senyumnya.


Rendy menghela napasnya, lalu mengamati gadis itu dengan lekat.


"Oke," Rendy menjeda kalimatnya sebelum melanjutkannya lagi. Lalu memasang wajah serius dengan menatap ke arah bola mata Vika.


"Sayang, apa besok malam kamu mau makan malam sama aku? Dinner sama aku? Kita nonton, jalan-jalan, atau....." Ucapnya lantang dan tanpa basa-basi. Yang langsung disambut gelak tawa Vika hingga berhasil menghentikan kalimatnya.


Rendy mengernyitkan kedua alisnya bingung dengan gelak tawa Vika. Dia bertanya pada dirinya sendiri. Apa kata-katanya ada yang lucu sampai gadis itu tergelak? Atau dirinya sedang mengutarakan ajakan konyol yang sudah biasa para pria katakan hingga tidak mempan untuk para gadis?


"Kenapa kamu ketawa? Apa aku salah lagi?" Tanya Rendy.


"Kamu itu lucu deh, kayak anak SMA yang baru pacaran. Padahal kita udah setahun loh. To the point aja, Sayang." kikik Vika geli.


"Kamu tuh yang selalu mancing-mancing aku, ya? Kan kamu tinggal jawab ada waktu atau nggaknya aja. Beres kan? Masa harus mancing aku dulu......"


"Aku mau!" Ucap Vika singkat, jelas, yang langsung memotong ucapan Rendy, dan berhasil membuat pria itu tertegun. "Aku mau, Rendy..." ulang Vika dengan penuh keyakinan.


Rendy melengkungkan senyum sempurna di bibirnya. Mengisyaratkan rasa bahagia yang terpancar dari wajahnya.


"Besok aku jemput kamu, ya."


"Nggak usah, Rendy. Kamu tunggu aku aja. Aku bisa datang sendiri."


"Kamu yakin?" Tanya Rendy untuk memastikan sambil mengelus pipi gadisnya dengan lembut.


"Iya." Jawab Vika pasti sambil memegangi punggung lengan Rendy seraya mengusapnya.


"Yaudah, aku tunggu kamu di resto biasa, ya?"


"Oke." Jawab Vika lembut disertai senyuman paling manis miliknya.


Setelah membicarakan rencana mereka, Rendy melenggang pergi sebelum kemudian menunggu gadisnya masuk ke dalam rumahnya dan memastikan keamanannya. Kemudian, dia meninggalkan rumah Vika dengan perasaan bahagia yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata.


Rendy akan melamar Vika. Melamarnya secara pribadi antara gadis itu dan dirinya saja. Hanya menandakan sebagai keseriusannya pada gadis itu untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius lagi kedepannya.


Dan Rendy, akan menyusun semuanya dengan rapi, se-sempurna mungkin agar Vika merasa menjadi gadis paling bahagia didunia. Dan Rendy akan memastikannya.


*flashback off


Rendy tampak meremas botol minuman kaleng yang ada di tangannya yang disertai bunyi gemeletuk dari gigi-giginya, saat ingatan memory kebersamaannya dengan Vika terputar begitu saja.


Setelah meninggalkan Vika sendirian di ruang senat, dan sekarang dia lebih memilih berada di taman belakang kampus untuk menenangkan pikirannya.


Setelah sekian lama dia sudah melupakan gadis itu. Tetapi, hari ini seolah tuntunan takdir sedang mengujinya, dipertemukan kembali dengannya dan pada waktu yang tidak terpikirkan.


●●●


"Dingin?"


Dimas bertanya pada Meila, ketika tidak sengaja melihat gadis itu dengan refleks sedang memeluk tubuhnya sendiri. Dimas pun bergerak, mengambil alih untuk merapatkan selimut yang membungkus tubuh mungil Meila.. Gadis itu baru saja selesai makan siang dan meminum obatnya kembali. Saat ini, mereka sedang duduk setengah bersandar pada sofa-bed di ujung kamar Dimas dekat dengan kaca balkon.


"Sedikit," jawabnya pelan dengan suara seraknya.


Meski kondisi Meila sudah jauh lebih baik, namun tubuhnya masih sangat lemas.


Setelah Meila bangun dari tidurnya, dia merasa bosan jika hanya berbaring di tempat tidur saja. Gadis itu meminta pada Dimas untuk duduk bersandar pada sofa-bed yang letaknya begitu nyaman. Dikarenakan letaknya yang berada tepat di depan kaca pemisah antara balkon dengan kamar, sekaligus memperlihatkan cuaca langit luar dari sana.


Tentu saja Dimas mengizinkannya. Pria itu menggendong Meila dan mendudukkannya pada sofa-bed, dan tak lupa juga dengan selimut tebal untuk menyelimuti tubuh mungilnya. Karena Dimas tau, gadis itu baru mulai sembuh dari demamnya, belum sepenuhnya sembuh dan masih menyisakan rasa hangat di permukaan kulitnya.


Memang, jika dilihat dari keseluruhan, kamar Dimas lah yang sangat luas dibandingkan dengan kamar-kamar yang ada di rumahnya.


Kamar itu layaknya kamar utama sang pemilik rumah yang didesain sedemikian rupa dengan sempurna dan terperinci sampai ke bagian terkecil sekalipun.


Warna dominan hitam dan putih menambah kesan netral dari identitas pemilik kamar tersebut. Namun, jika biasanya kamar seorang pria terkesan sangat mengintimidasi sampai membuat bergidik ngeri, hal itupun tidak. Saat pertama kali Meila menyadari jika dirinya sedang berada dalam kamar Dimas, hal pertama yang dirasakannya adalah Nyaman, tenang, juga terlindungi. 


"Kamu mau meminum sesuatu yang hangat?" Dimas menawarkan minuman hangat seperti teh yang dicampur dengan madu, yang akan membuatnya rileks.


Meila menggeleng lemas, menatap Dimas dengan tatapan mata sayunya. Lalu, sebuah ingatan jika saking terfokusnya mengurus kondisinya, pasti pria itu belum tidur dengan benar.


"Kak Dimas, apa kamu... nggak merasa lelah?"


Dimas mengerutkan keningnya, "merasa lelah? Lelah kenapa?" Tanya Dimas yang langsung beringsut duduk disamping Meila dengan rapat, diikuti lengan yang diselipkan ke belakang punggung gadis itu untuk merangkulnya.


"Karena aku sakit, kak Dimas pasti kurang tidur. Kak Dimas pasti nggak tidur dengan benar," ucapnya parau sambil menunduk dan memainkan jemarinya. "Iya, kan?" Sambungnya lagi dengan memiringkan kepalanya dan menengadahkan wajahnya pada pria itu.


Dimas pun tersenyum seraya mengusap punggung lengan Meila dengan gerakan seirama.


"Sayang, sakit itu bukan sesuatu yang direncanakan. Itu adalah kehendak yang sudah diatur. Dengan aku nggak tidur, aku jadi tahu perkembangan kondisi kesehatan kamu seperti apa, bagaimana, dan sampai mana." Ucapnya memberi pengertian.


"Lagian... siapa bilang aku kurang tidur? Aku itu ikut tidur, sambil meluk kamu, meluk gadis mungil yang manja ini. Mungkin kamu yang nggak ingat." Ucapnya yang diselipi sedikit ledekan, membuat Meila tak henti menatap Dimas dengan lekat.


"K-kak... kenapa kamu bawa aku ke kamar kamu? Padahal, biasanya yang aku tau, seorang pria akan melarang siapapun untuk memasuki kamarnya. Apalagi... kalo orang itu... adalah wanita." Tanya Meila ingin tahu dengan nada sedikit ragu.


Ditatapnya Meila dengan lekat dengan tatapan sayang, kemudian menghadiahkan sebuah kecupan hangat ke pelipis gadis itu.


"Satu lagi," sambungnya. Dan kali ini sambil meraih dagu Meila agar tetap menatapnya. "Jangan lagi memikirkan apapun yang hanya akan membuat kamu terbebani. Karena itu akan membuat kamu nggak tenang, Sayang. Kapanpun kamu mau cerita, kapanpun kamu mau mengadu, ada aku. Ada aku yang akan selalu mendengarkan kamu. Mengerti?"


Meila berusaha tersenyum di sela-sela mata sayunya. Lalu tangannya meraih tangan Dimas dan menggenggamnya.


"Terima kasih," ucapnya pelan meski tenggorokannya terasa sakit. "T-terima kasih karena selalu bikin aku nyaman, selalu buat aku merasa k-kalo masih ada seseorang yang peduli sama aku."


Ucapnya sangat pelan sambil sesekali menelan ludahnya menahan sakit di tenggorokannya.


Pernyataan Meila itu ditanggapi kedipan mata lembut disertai senyuman khas pria itu hingga menampilkan lesung pipinya.


Kemudian menarik Meila ke dalam pelukannya, mengusap lengannya hangat yang dibalut dengan rasa sayangnya.


"Nggak ada kata terima kasih untuk orang yang kita sayang." Ucap Dimas sambil mengeratkan pelukannya.


Meila tersenyum dalam dekapan Dimas, lalu mendongakkan kepalanya sedikit seraya berkata. "A-aku sayang kamu, kak."


Suaranya hilang tertelan, namun masih bisa didengar oleh Dimas.


Dimas menunduk sambil tersenyum lembut, "aku tau," ucapnya singkat dan berbisik. Lalu menarik Meila ke dalam pelukannya kembali. Memberikan kecupan hangat ke puncak kepalanya. Lalu, meletakkan dagunya di atas rambut Meila yang halus.


"Tenggorokannya masih sakit?"


"....sedikit....," jawabnya dengan suara serak dan sedikit manja.


"Nggak apa-apa. Nanti akan sembuh." Ucapnya menenangkan sambil merapatkan selimut tebal yang menutupi tubuh Meila. Disambut dengan anggukan kepala dari Meila yang ada dalam peluknya.


●●●


"Kenapa sikap kamu ketus banget sama aku, Rendy? Hati aku sakit banget ngeliat sikap kamu kayak gitu ke aku,"


Ucap Vika lirih dengan mata berkaca-kaca saat dirinya duduk termenung di bawah ayunan kayu belakang rumahnya. Ya! Dia sudah berada di rumah. Sepulang dari kampus tadi, dengan perasaan kacau dan kecewa namun juga sedih, Vika langsung mengunci diri di kamar berjam-jam dan baru keluar 3 jam kemudian setelah selesai membersihkan diri.


Di bawah ayunan itu, dengan raut wajah sendu disertai air mata menggenang di pelupuk mata, Vika bersandar pada ayunan kayu dengan kedua kaki terangkat dan tertekuk, kemudian memeluknya erat disertai kepala yang menengadah ke atas.


Seketika ingatan itu terputar kembali. Ingatan yang merupakan awal dari penderitaan Vika berlangsung sampai saat ini. Penderitaan yang terpendam hingga berubah menjadi sebuah penyesalan terdalam sekaligus rasa bersalah, antara hubungannya dengan Rendy yang masih jauh dari kata kejelasan.


*flashback on


Hari itu pun tiba. Hari dimana sepasang kekasih akan berkencan layaknya pasangan-pasangan lainnya. Vika sudah bersiap, dan akan keluar kamarnya saat tiba-tiba saja suara benda yang pecah karena jatuh membuatnya kaget dan langsung berlari mencari tahu ke arah sumber suara.


Vika berlari, mencoba mencari suara itu. Dan belum sampai kakinya pada ujung anak tangga, dia menemukan papanya sudah tergeletak pingsan dengan posisi tertelungkup. Vika tertegun, wajahnya dipenuhi kecemasan luar biasa. Dengan cepat Vika langsung bergegas menghampiri papanya.


"Pa... papa? papa kenapa? Apa yang terjadi, pa?"


Vika pun panik. Otaknya membeku, dia tak mempu berpikir dengan jernih. Yang ada hanya derai air mata yang mulai menderas di pipinya. Dengan menggunakan tenaga suaranya, Vika berteriak memanggil tim keamanan untuk membantu membawa papanya ke rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, papanya langsung mendapatkan penanganan darurat pertolongan pertama. Sementara Vika, menunggunya dengan cemas di depan pintu ruang perawatan dengan tangan gemetar.


Tak lama kemudian, keluarlah seorang dokter yang berhasil menangani papanya. Vika langsung menghampiri dokter itu untuk menanyakan kondisi papanya.


"Dokter, gimana keadaan papa? Apa ada hal yang serius?"


Dokter itu tampak menghela napasnya sebelum kemudian menjawab pertanyaan Vika.


"Papa anda terkena serangan jantung. Ini yang saya takutkan jika sewaktu-waktu akan kambuh,"


"A-apa maksud dokter dengan kata 'sewaktu-waktu'?" Vika tak lupa memberikan tanda kutip saat mengulang kata-kata dokter itu.


Sang dokter memberi jeda sejenak sebelum kemudian menjawab kembali.


"Memang... papa kamu tidak cerita tentang penyakitnya?" Tanya dokter dengan bingung. Vika tampak diam, dia hanya menunggu jawaban jelasnya dari dokter itu.


"Papa kamu terkena serangan jantung. Saya sudah menyarankan untuk mengambil jalan operasi di luar negeri. Dikarenakan peralatan di sini kurang memadai. Tepatnya Singapura. Namun, papa kamu belum memberikan jawaban apapun mengenai hal itu. Mungkin, jika kamu yang bicara padanya, beliau akan menurutinya?"


Vika tertegun mendengar penjelasan panjang dokter itu. Kakinya lemas. Namun sekuat tenaga dia tetap berusaha untuk tidak berpikir macam-macam.


"Ba-baik dok, saya akan membujuk papa saya untuk menjalani operasi itu." Janji Vika pada sang dokter, yang langsung disambut dengan anggukan kepala tipis dari dokter itu.


"Apa saya boleh menemui papa?" Tanya Vika kembali dengan nada ragu.


"Silahkan. Tapi jangan katakan sesuatu yang akan membuatnya stress. Karena itu akan memicu kerja jantung yang lebih berat." Pinta dokter kepada Vika. Vika pun mengangguk paham. Lalu berlari memasuki ruang rawat dimana papanya berada.


Saat memasuki ruangan itu, Vika tidak sanggup lagi menahan air matanya yang jatuh, membasahi pipinya saat melihat papanya berbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Tangan yang tertusuk selang infus, dan tabung oksigen sebagai alat untuk membantu pernapasannya.


Dengan cepat, Vika langsung mengusap air mata itu, dia tidak ingin papanya merasa cemas, karena itu akan membuat papanya khawatir dan akan mempengaruhi kesehatannya.


"V-vika...." sapa sang papa saat melihat putrinya datang disertai tangan yang melambai memanggil-manggil putrinya agar mendekat padanya.


Vika menggenggam tangan pria paruh baya yang sangat dicintainya itu. Lalu berdiri setengah membungkuk sebelum kemudian berucap.


"Kenapa papa nggak bilang sama aku tentang penyakit papa? Kenapa papa merahasiakan ini dari aku?" Ucap Vika sendu dengan mata berkaca-kaca.


Sang papa berusaha tersenyum disela bibir dan hidung yang tertutup tabung oksigen.


"Karena... belum saatnya papa... cerita sama kamu, nak." Jawab sang papa pelan dengan suara tertutup tabung oksigen dan napas yang tersengal.


Vika sangat sedih melihat kondisi papanya yang sangat lemah. Dia sangat menyayangi papanya. Dia juga sangat penurut jika ada permohonan dari papanya yang harus ia penuhi. Begitupun sebaliknya, papanya juga akan berusaha membahagiakan putri semata wayangnya. Berusaha mengabulkan apapun selama itu masih dalam situasi dan kondisi wajar untuk dikabulkan.


Ya! Vika hanya tinggal berdua saja bersama papanya semenjak ibunya pergi entah kemana tanpa kejelasan bersama pria lain. Dan Vika sangat membencinya. Semenjak itulah Vika berjanji akan selalu menuruti semua perkataan maupun permintaan papanya sebagai bentuk tanda bakti kepadanya.


"Papa ada permintaan sama kamu,"


"Permintaan? Apa itu, pa?" Jawab Vika lirih sambil setengah membungkuk.


"Papa mau kamu bertunangan dengan putra dari salah satu relasi papa,"


Vika tertegun, tiba-tiba kehabisan kata-kata. Seperti ada sebuah batu besar yang menimpa dirinya hingga tidak mampu bergerak.


"Tu-tunangan?" Tanya Vika tergeragap.


Bagaimana mungkin Vika bisa bertunangan dengan pria lain sementara hanya ada Rendy di hatinya? Hanya Rendy lah pria yang sangat dicintainya?


"Iya. Papa mau kamu bertunangan dengan pria yang sudah papa pilihkan untuk kamu." Ucapnya lemah dengan suara yang hampir tak terdengar.


"T-tapi, pa.... aku..."


"Vika, papa tau ini sangat mendesak dan terkesan terburu-buru. Tapi, papa ingin melihat kamu bahagia jika sesuatu terjadi pada papa. Papa ingin....."


"Nggak pa, papa akan baik-baik aja. Papa akan sembuh. Vika akan melakukan itu untuk papa," jawab Vika dengan suara bergetar sambil menggenggam tangan papanya erat.


"Tapi... Vika juga mohon, lakukan operasi itu untuk kesembuhan papa. Vika nggak mau papa kenapa-napa. Please, pa..." mohon Vika memelas, dan kali ini tidak bisa menahan air matanya lagi.


Papanya menatap Vika lekat-lekat, lalu mengedipkan kedua matanya disertai anggukan kepala tipis yang mengisyaratkan jika dia akan melakukan operasi itu saat pertunangan anaknya telah terlaksana.


Vika menangis. Lalu membungkuk memeluk papanya dan menumpahkan air matanya di atas dada pria yang sangat dicintainya itu. Menumpahkan perasaan yang berkecamuk yang sama sekali tidak bisa ia gambarkan melalui kata-kata.


"Maafin aku, Rendy.." lirihnya dalam hati disertai isakan yang tak terkendali.


Sementara di tempat lain, Rendy menunggu kedatangan Vika dengan sebuah bucket bunga di tangan. Berkali-kali melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 11 malam. Raut wajah sumringah yang sebelumnya terpancar, seketika berubah menjadi kekecewaan. Dia juga sudah berulang kali menghubungi Vika namun ponselnya tidak aktif.


Rendy tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Dia akhirnya pergi meninggalkan restoran yang sudah dia pesan dengan dekorasi seindah mungkin untuk membahagiakan kekasihnya. Dia juga tidak bisa berbuat apapun jika apa yang sudah direncanakan dengan indah, kenyataannya tidak sejalan dengan apa yang terjadi.


*flashback off


"Andai kamu tau bagaimana posisi aku saat itu, Rendy? Aku nggak bisa memilih diantara kedua orang yang sangat aku cintai. Kalian berdua sangat penting bagi aku."


Vika menangis tersedu-sedu saat memori awal dari perpisahannya dengan Rendy teringat kembali. Hari dimana kehidupan Vika berubah tanpa adanya kebahagiaan yang nyata.


"Tapi kenyataannya... semua itu udah hancur seiring dengan ketidakjelasan hubungan kita. Dan itu semua salah aku, Rendy. Aku yang terlalu pengecut untuk jujur. Maafin aku...." tangisnya pecah tak terbendung.


Dan seolah cuaca berpihak padanya. Suara rintik hujan pun  mulai bersahutan membasahi bumi. Membiarkan tubuhnya terguyur hujan sebagai gambaran dari perasaannya yang sunyi. Meringkuk di bawah ayunan yang mengombang-ambingkan dirinya dengan berderai air mata.