
"Selamat pagi, kak..."
Sapaan itu terdengar dari kejauhan, disertai dengan langkah kaki yang menuruni anak tangga menuju dapur. Ya! Bukan tanpa alasan, ada seseorang yang sedang membuat sesuatu hingga tercium menembus dinding kamar, membuatnya ingin segera menghampiri dan mencari tahu apa yang sedang seseorang itu buat disana.
"Selamat pagi," Dimas menjawab sapaan Meila sambil menolehkan wajahnya disertai dengan senyuman.
"Kamu lagi buat apa, kak?" Meila tidak sabar untuk bertanya, sedikit mengintip melalui punggung Dimas yang begitu menjulang didepannya.
Dimas tersenyum sambil membelakangi Meila. Tadinya dia menahan untuk tidak memberitahu apa yang sedang dibuatnya. Namun, mendengar suara gadis mungil yang begitu penasaran, akhirnya Dimas memberitahunya.
"Strawberry honey pancake and strawberry fresh smoothies with cream."
Dan tebakan Dimas benar. Mata Meila membelalak sempurna, berbinar penuh antusias begitu mendengar makanan manis berbahan dasar buah kesukaannya. Meila beralih untuk berdiri disamping Dimas, tepat disamping meja marmer dekat dengan pria itu menyimpan semangkuk besar buah strawberry.
"Kamu bisa buat pancake?" Tanya Meila dengan mata yang berbinar, tidak sabar untuk segera mencicipi hasil masakan Dimas.
"Menurut kamu gimana? Aku bisa... apa nggak?" Dimas malah bertanya balik pada Meila, membuat Meila dengan spontan berpikir sambil memutar bola matanya.
"Mmm... kalo diliat dari kebiasaan kamu yang selalu mengatasi semuanya sendiri, tinggal dirumah sendiri, harusnya sih... bisa." Jawaban Meila terdengar polos, dengan tangannya yang mulai mengambil sebuah strawberry segar dan memainkannya sebelum kemudian memasukkannya kedalam mulut.
Dimas terkekeh, menghentikan aksinya yang sedang mengiris tipis buah manis asam tersebut lalu menghadapkan tubuhnya ke arah Meila. Matanya memperhatikan Meila yang tampak segar sehabis mandi, dengan aroma bayi menyenangkan yang menyeruak hingga indera penciumannya.
Dimas memajukan wajahnya, menunduk hingga sejajar dengan Meila yang bertubuh mungil. Lalu mengendus-endus aroma Meila dengan sengaja, hingga membuat gadis itu mundur satu langkah ke belakang sambil memasang wajah bingung.
"Kenapa, kak? Ada yang salah sama aku?" sekarang giliran Meila yang mengendus-endus dirinya sendiri untuk memastikan.
"Kamu wangi. Wangi bayi yang bikin aku betah deket-deket kamu." Jawab Dimas tanpa basa basi.
"Kak Dimas... jangan kayak gitu. Aku malu." Pipinya seketika merona, sembari memalingkan wajahnya ke samping dengan kepala tertunduk. Dimas telah berhasil menggodanya, memancing sikap canggungnya yang ia sembunyikan.
Dimas pun tertawa, dengan mata yang memperhatikan Meila yang tampak salah tingkah didepannya. Tiba-tiba dengan gerakan secepat kilat, tangan Dimas merangkul pinggang Meila dan mengangkatnya, lalu mendudukkan Meila ke atas meja marmer dekat dengannya. Akibat aksi Dimas tersebut, membuat Meila memekik kaget dan secara refleks memegang bahu Dimas sebagai pegangan baginya.
Kaki Meila tergantung tidak menyentuh lantai, lalu Dimas berdiri didepannya, memerangkapnya menggunakan kedua lengannya. Tidak ada yang bisa Meila lakukan saat ini, dirinya hanya memasang wajah bingung didesak dengan perasaan ingin melarikan diri disertai jantung yang berdegup kencang.
"Kamu tampak manis dengan pipi memerah kayak gini," tangan Dimas mengelus pipi Meila, memainkannya dengan memutar disekitar pipi. "Nggak perlu pakai make-up lagi buat terlihat cantik. Cukup aku goda kamu... sampe pipi kamu merona kayak gini." Sambungnya lagi disertai godaan, semakin membuat pipi Meila terasa panas hingga ke tulang pipi.
Mata Meila membelalak, sedikit memberengutkan bibirnya sekaligus mengatur napasnya yang seperti kekurangan oksigen karena gombalan Dimas.
Tangan Dimas mengambil sebuah strawberry dari mangkuk, lalu menyuapkannya ke dalam mulut Meila yang masih memberengut. Meila pun menerimanya, gadis itu menggigit ujung buah tersebut, dan berusaha mengunyahnya. Namun sebelum berhasil mengunyah, dengan cepat Dimas menyambar bibir Meila dan mengecupnya singkat, mengakibatkan gadis itu terpaku beberapa detik.
Lagi-lagi Dimas menertawakan Meila. Namun entah mengapa hal itu menular, Meila ikut tertawa meski tampak malu-malu. Dimas menyuapi lagi potongan strawberry bekas gigitan Meila tadi, lalu ibu jarinya mengusap bibir bawah Meila yang basah karena buah tersebut.
Begitupun seterusnya, mereka memasak bersama dengan dibumbui candaan dari mata yang saling menyimpan rasa satu sama lainnya. Dengan Dimas yang menumpahkan perhatian dan kasih sayangnya melalui perlakuan, begitu juga Meila yang menerima perlakuan Dimas dengan sikap khas darinya, yang semakin menumbuhkan perasaan cinta dari dalam diri Dimas.
●●●
Seorang gadis tomboy sedang berjalan terburu-buru disebuah koridor hotel tempatnya menginap. Gadis itu seperti sedang mencari sesuatu di dalam tas yang ia selempangkan ke lehernya. Sambil sesekali mendesiskan mulutnya ketika belum juga menemukan benda yang dicarinya.
Sampailah ia didepan lift, jarinya memencet tombol yang ada di samping dinding yang akan membawanya ke tempat yang dituju.
"Ck! Kemana sih, kuncinya?"
Sampai beberapa detik suara lift berdenting dan pintu lift terbuka, tanpa melihat siapa yang ada didalam lift tersebut, gadis itu melangkah masuk dan langsung membelakangi pria dibelakangnya. Gadis itu terlalu fokus dengan benda yang sedang dicarinya hingga hampir putus asa.
Tampak pria itu mengerutkan keningnya ketika dia menyadari siapa gadis yang saat ini sedang berada satu lift dengannya. Ya! Gadis tomboy yang sangat familiar dengan sifat cerewetnya, gadis yang terkesan cuek akan penampilan namun terlihat manis jika dipandang.
Airin...
Ya! Gadis tomboy itu adalah Airin. Gadis yang sedang menemani ibunya ke luar kota untuk acara seminar di Bandung. Dan saat ini, dia sedang menginap disebuah hotel mewah dan tampak.... kebingungan?
"Airin...? Kamu Airin, kan?"
Suara bariton dari arah belakang sontak membuat Airin terpaku sejenak, menghentikan gerakannya yang sedang merogoh isi tas untuk mencari benda yang belum juga ditemukannya. Airin menoleh, memastikan siapa yang saat ini mengenalinya sampai dia sendiri tidak mempedulikan jika dia tidak sedang seorang diri didalam lift tersebut.
"Kak Bryant? Kak Bryant ngapain disini?" Sapanya cepat dengan ekspresi setengah terkejut.
"Aku lagi ada urusan disini." Jawab Bryant memberi jeda, "kamu sendiri ngapain disini? Kayak lagi kebingungan gitu?"
Airin menyeringai, memperlihatkan gigi-giginya yang rapi.
"Aku lagi temenin mama seminar di dekat sini, kak." Wajahnya berubah lemas, "kunci hotel yang aku tempati hilang, kak. Aku lupa taruh dimana..."
"Kenapa nggak minta lagi aja ke bagian receptionist? Mereka akan urus, kok."
Wajah Airin tampak berpikir, "sebenernya aku berpikir kayak gitu. Tapi aku udah telat, kak. Aku ditunggu mama di tempat seminar."
Bryant tampak terdiam sejenak, seperti sedang membantu mencarikan solusi untuk Airin dan sedikit meringankan masalahnya.
"Hmmm... gini aja, aku bantu kamu urus ke bagian receptionist. Kamu tinggal kasih aku nomor kamar kamu, nanti aku kasih kamu kalo udah selesai. Jangan lupa nomor ponsel kamu juga, biar aku bisa hubungin kamu kalo kuncinya udah ditangan aku." Bryant memberikan solusi tercepat yang bisa dibantunya.
Airin masih terlihat berpikir dan menimbang-nimbang. Satu sisi dia tidak mungkin merepotkan Bryant dan membiarkan pria itu mengatasi masalahnya hanya karena dirinya yang sedang terburu-buru. Namun disisi lain, dia harus cepat menuju tempat seminar karena seminar akan segera dimulai.
"Hei... gimana? Kok bengong?" Suara Bryant yang tiba-tiba, mengagetkan Airin yang masih bertarung dengan logikanya.
"Ah! Hmm... apa nggak apa-apa, kak? Aku nggak mau ganggu kamu. Nanti urusan kamu gimana?"
Bryant terkekeh, "nggak apa-apa, kok. Urusan aku disini masih santai. Jadi masih bisa buat bantu urus kunci kamar kamu,"
Bola mata Airin tampak memutar, lalu akhirnya berucap memutuskan, "hmm... okey deh kalo gitu. Terima kasih sebelumnya." Tidak lupa juga Airin menghadiahkan sebuah senyuman untuk Bryant, hingga membuat Bryant terdiam sejenak. Dan dengan cepat Bryant segera menguasai dirinya.
●●●
Meila tampak berbaring di sofa ditemani layar televisi yang menyala dengan kaki berselonjor lurus sambil memegangi perutnya yang terasa sakit seperti melilit. Sesekali desisan ringan keluar dari bibirnya karena menahan sakit yang terkadang sangat menusuk tak tertahankan. Wajahnya tampak pucat dan keringat dingin keluar memenuhi keningnya, membuat dirinya tidak nyaman dan malas untuk bangun dari posisinya.
Meski sudah terbiasa merasakan sakit di masa periode-nya, namun tetap saja selalu terasa menyakitkan di awal periode hingga bisa memakan waktu berjam-jam lamanya sampai rasa sakit itu hilang dengan sendirinya.
"Sakit banget..." Meila bergumam sendiri dengan suara yang lemas. Sesekali Meila menarik napas panjang lalu menghembuskannya untuk sekedar meringankan rasa sakitnya.
Tampak dari arah belakang, datang lah Dimas yang baru saja menyelesaikan sesuatu dari memindahkan sebuah barang ke dalam gudang. Memang, bukan Dimas langsung yang turun tangan, melainkan beberapa orang penjaga rumahnya yang ia tugaskan untuk melakukan perintahnya.
Matanya menangkap sosok mungil yang sedang berbaring sambil memegangi perutnya. Sesekali Dimas mendengar desisan dari bibir gadis itu, seperti sedang menahan rasa sakit luar biasa yang tak tertahankan.
Wajah Dimas berubah cemas begitu menyadari Meila lah yang sedang merasa sakit. Dia menghampiri Meila dengan langkah cepat untuk segera memastikan kondisi gadisnya.
"Dek, kamu kenapa?" Dimas duduk di pinggir sofa, tepat disamping Meila berbaring. "Kamu sakit?" Tangannya menyentuh kening Meila untuk memeriksa suhu gadis itu, "kamu sedikit demam, juga... kamu keliatan pucat." Dimas tidak bisa lagi menyembunyikan kecemasannya.
Meila menggeleng lemah, berusaha menjawab Dimas dari suaranya yang berat, "aku nggak apa-apa, kak." Meila mendesis lagi, membuat ekspresi wajah menahan nyeri. "Ini cuma sakit perut biasa, kok. Aku... aku baru mendapatkan masa periodeku." Sambungnya lagi dengan suara yang hampir hilang tidak terdengar.
Dimas terkesiap, dia tampak tidak tega melihat Meila yang tampak menahan rasa sakit perut yang mendera. Dimas memperhatikan Meila yang terlihat gelisah dan sesekali mengubah posisi tidurnya hanya sekedar untuk meredakan sakitnya. Didetik itulah otak Dimas berpikir keras mencari cara agar dirinya dapat membantu meredakan rasa nyeri di perut Meila. Dimas sendiri tahu, jika wanita yang sedang dalam masa periode akan merasakan rasa nyeri pada perut hingga beberapa jam dan akan hilang dengan sendirinya.
Namun, melihat gadisnya yang tampak kesakitan dengan tubuh gelisah, membuat dirinya tidak tega dan jika ia bisa akan memindahkan rasa sakitnya itu kepadanya, agar seseorang yang dicintainya terlepas dari rasa sakit yang mendera.
Dimas beranjak dari tempatnya, lalu membawa dirinya untuk duduk didekat kepala Meila sebelum kemudian tangannya mengangkat kepala Meila perlahan dan meletakkannya ke atas pangkuannya.
"Kak Dimas, kamu...."
"Ssshh... jangan banyak gerak, nanti perut kamu semakin sakit," Dimas langsung menyambar sanggahan Meila kepadanya, disertai sebelah tangannya mengusap kepala Meila hingga gadis itu terdiam sambil memasang wajah lemah.
"Mana yang sakit, hm?" Dimas bertanya dengan sedikit memerintah namun juga tidak menghilangkan sikap perhatiannya. Tangannya diletakkan di atas perut Meila yang datar, berusaha membantu meredakan rasa sakit dengan cara mengusapnya.
"T-tapi kak...." wajah Meila hampir padam dengan tangan menahan pergelangan tangan Dimas diatas perutnya, dikarenakan dia bisa menebak apa yang akan Dimas lakukan padanya.
"Mei....." sebutnya dengan sedikit menggeram, "Aku cuma mau bantu kamu meredakan rasa sakitnya." Dimas memasang wajah serius disertai dengan senyuman, tatapan lembutnya mampu membuat Meila menyerah kalah akan sikap Dimas. Dengan perlahan, Meila melepaskan pegangan tangannya pada Dimas dan membiarkan pria itu melakukannya.
Tangan Dimas mulai mengusapkan telapak tangannya ke sekitar permukaan perut Meila, mengangkat bajunya sedikit dan menyusupkan tangannya disana. Meila menarik napas dalam dengan mata terpejam sekaligus dahi yang berkerut, merasakan suhu tangan Dimas yang terasa hangat diperutnya. Membuatnya merasa nyaman, dan seketika rasa nyeri itu mereda disertai usapan lembut yang tiada henti.
Sesekali ketika usapan itu berlanjut, ada sedikit rasa nyeri yang menusuk hingga membuatnya mendesis kesakitan dengan mata terpejam. Membuat Dimas melirikkan matanya ke arah Meila untuk memastikan kondisinya.
"Masih sakit?" Dimas bertanya dengan sikap lembut dibalut dengan perhatiannya.
Meila mengangguk lemah dengan kening berkerut dalam, "se...sedikit..." matanya terangkat menatap langsung ke Dimas.
Dimas masih terus melanjutkan tangannya untuk mengusap perut rata Meila sambil kemudian berucap, "kamu tau, dulu aku pikir rasa sakit pada wanita ketika dalam masa periode itu hal yang wajar. Aku nggak pernah berpikir panjang kalo rasa sakitnya bisa lebih menusuk sampai membuat wajah pucat hingga keluar keringat dingin. Bahkan ada yang sampai pingsan karena nggak kuat menahannya." Dimas melembutkan gerakannya, memelankan iramanya agar suhu tangannya meresap masuk melalui permukaan kulit Meila.
"Tapi... melihat kamu kesakitan kayak gini... membuat aku percaya betapa menderitanya ketika masa periode itu datang, dan betapa hebatnya menjadi seorang wanita. Menahan rasa nyeri tiap bulannya secara berkala tanpa rasa mengeluh sedikitpun." Tangan Dimas mengusap kepala Meila dengan lembut menggunakan sebelah tangannya.
Meila tersenyum lemas, mendongakkan wajahnya sedikit agar dapat menatap langsung ke arah Dimas.
"Setiap wanita itu punya skala tersendiri untuk menahan rasa sakit, kak. Mungkin diluar sana ada yang memiliki skala lebih tinggi dibanding aku, skala dimana mereka tidak merasakan rasa sakit karena kekebalan akan rasa nyeri itu sendiri." Meila menjawab dengan pelan, ucapannya sedikit melambat karena rasa nyeri yang mulai hilang lalu muncul kembali.
Dimas terkekeh pelan, tangannya tidak berhenti mengusap perut dan juga kepala Meila secara bersamaan.
"Mungkin kamu benar. Tapi bagi aku... kamu itu nggak bisa dibandingkan dengan siapapun dan dengan apapun. Kamu ya kamu. Mereka ya mereka. Kamu akan tetap seperti ini. Meila yang polos, ceria, cerdas, selalu menganggap segala sesuatu dari sisi positif, Meila yang nggak bisa tergantikan dibelahan dunia manapun, kamu itu langka, makanya harus dilestarikan." Dimas terkekeh kembali mendengar penjelasannya sendiri. Lalu menyambungnya lagi, "tapi.... ada satu lagi sih yang kurang buat aku," Dimas menghentikan ucapannya sejenak, membuat Meila tidak bisa untuk tidak mengerutkan keningnya.
"Apa?" Tanya Meila ingin tahu.
Dimas mengecup bibir Meila singkat, "Manja. Sifat manja kamu belum sepenuhnya kamu tunjukin ke aku. Biarin aku menjain kamu, Mei. Bermanjalah sama aku..."
Pernyataan Dimas kali ini terdengar seperti sebuah permohonan untuknya. Meila terdiam, menatap Dimas dengan seksama. Entah Meila sadari atau tidak, dirinya mulai bergantung pada Dimas, perlahan telah mulai menjajaki perasaannya sendiri untuk menelaah sampai mana dirinya merasa yakin akan perasaan yang kini mulai tumbuh.
Andai kamu tau, kak. Aku sangat, sangat nyaman didekat kamu, kamu selalu perlakukan aku secara istimewa, kamu selalu bisa menenangkan aku ketika aku dilanda kegelisahan dan rasa takut. Tapi disisi lain aku pun bingung akan perasaan aku. Aku sendiri belum bisa mengakui secara gamblang untuk itu. Karena aku tau, jika menyangkut sebuah perasaan, adalah hal yang sensitif dan itu harus benar-benar diyakini.
Meila menarik napas dalam, mengatur detak jantungnya yang semakin berdegup kencang.
"Kak, boleh aku tanya sesuatu sama kamu?" Meila memasang wajah polos dan mata sendu.
Dimas tersenyum, "apa itu?" dengan kedua tangannya yang masih bergerak di posisi masing-masing, kepala dan juga perut Meila.
"Kenapa kamu selalu pengen manjain aku? Padahal... kamu tau aku selalu cuek sama kamu,"
Pertanyaan Meila itu sempat membuat Dimas terpaku sejenak, namun dengan segera pria itu bisa membawa diri kembali.
Dimas terkekeh geli, "cuek itu bukan berarti nggak memperhatikan sama sekali, kan? Cuek itu adalah satu sisi dimana kita belum sepenuhnya mampu untuk mengutarakan isi hati kita pada seseorang. Entah itu rasa suka, benci, rasa kagum, atau rasa marah yang kamu simpan terlalu lama sehingga menimbulkan rasa muak."
Tangan Dimas mengangkat kepala Meila untuk membenarkan posisi kepalanya, agar gadis itu merasa nyaman dipangkuannya. "tapi.... kalo cuek yang ada sama diri kamu itu beda. Perasaan cuek kamu itu lebih kepada sikap yang belum bisa kamu utarakan sepenuhnya, sehingga kamu memilih untuk bersikap cuek yang jika orang lain tidak mengerti, akan menganggapnya sebagai hal yang tidak mengenakkan bagi mereka."
"Oh ya, satu lagi. Kenapa aku selalu pengen manjain kamu..." Dimas tampak berpikir, seperti sedang mengingat kejadian yang lalu, "....jawabannya simpel. Karena aku sayang sama kamu. Dan... aku juga tau, sikap cuek kamu itu bukan karena kamu benci sama aku pastinya, tapi mungkin karena rasa sayang yang mulai tumbuh, tapi kamu lebih memilih untuk menyembunyikannya, kan?" Nada bicara Dimas berubah menjadi sebuah godaan, hingga membuat pipi Meila merona merah dibuatnya.
Meila memalingkan wajahnya dengan salah tingkah, "ka-kamu... tau dari mana...?"
Dimas tertawa geli, menunjuk pipi Meila yang memerah. "Tuh...tuh... ketauan kan dari pipi kamu."
Meila memberengutkan bibirnya karena digoda oleh Dimas, membuat Dimas gemas untuk meraih wajah Meila menghadapnya. Dimas lalu mengecup sekali lagi bibir merah muda manis itu dengan lembut, mengecupnya perlahan dengan rasa sayang yang ia curahkan dari dalam hatinya. Seolah sedang menunjukkan pada Meila bahwa dirinya tidak sedang main-main akan perasaannya.
"Semua itu tampak jelas dengan kamu yang selalu menerima ciuman ini, Sayang..." Dimas berbisik begitu melepaskan bibirnya dari Meila. "Dan aku semakin meyakininya."