A Fan With A Man

A Fan With A Man
Ancaman James



Beno berjalan menuju pintu dengan langkah cepat. Wajah kesalnya tidak bisa disembunyikan begitu dia meraih gagang pintu dan menariknya hingga setengah terbuka. Wajah herannya menunjukkan jika dia tidak mengenal orang yang sekarang sedang berdiri di depan pintunya.


"Ah, aku minta maaf karena sudah mengganggu waktu anda. Aku sedang mencari teman perempuanku. Apa anda melihat seorang perempuan kesini?"


James berusaha tenang meski rasa curiganya sangat kuat. Dia yakin jika nomor kamar ini tidaklah salah dan ada Sisil didalamnya.


"Sorry! Gue nggak liat ada seorang perempuan kesini. Mungkin anda salah tempat."


Dengan kasar dan tidak sopan, Beno langsung menutup pintu kamar dengan mengabaikan ekspresi James. Akhirnya, ketika pintu itu hampir tertutup rapat, dengan amarah James yang sedari tadi dia tahan dan kini memuncak, akhirnya meledak juga.


Dengan kasar dan serampangan James tiba-tiba menendang pintu itu sampai membuat Beno terdorong dan nyaris tersungkur.


"Apa-apaan!" Gertak Beno marah.


Mendengar ada keributan, sontak Sisil menoleh dan matanya membelalak. Membelalak tidak percaya dengan sosok lelaki dengan amarah memuncak yang sedang dilihatnya.


"James?!" Sisil bergumam pelan. Seketika perasaan takut dan kalut yang tadi memenuhi rongga dadanya menghilang seketika berganti dengan kelegaan.


"Aku sudah berusaha bertanya dengan sopan. Tapi kamu tetap bersikap kasar. Jangan salahkan aku jika aku bertindak kasar padamu!"


"Lo yang nggak tau sopan santun. Bisa-bisanya lo menerobos masuk ke kamar gue kayak berandalan.!"


James berdecih, "Aku tidak akan melakukannya jika tidak memiliki alasan yang kuat."


Amarah Beno mulai memanas. Dia berniat akan menonjok wajah James dengan keras disertai umpatan kasar.


"Dasar pria kurang ajar!"


Begitu Beno akan melancarkan aksinya, suara teriakan Sisil terdengar yang menyebut nama James dengan keras.


"James...!" Pekik Sisil.


Di detik Sisil berteriak, di detik itulah Beno sadar jika pria yang ada di hadapannya itu adalah James, pria yang sedang dekat dengan Sisil belakangan ini. Sontak, konsentrasi Beno membuyar dan kesempatan itu diambil oleh James untuk memukul Beno dengan telak.


Tubuhnya tersungkur dan hidungnya mengeluarkan darah segar. Baru saja Beno akan bangkit namun James telah menimpalinya dengan sebuah pukulan lagi hingga Beno tidak bisa mengangkat tubuhnya bangkit.


Melihat kegaduhan dan serangan bertubi-tubi yang dilakukan James, membuat Sisil cemas dan juga takut. Takut kalau James akan menghabisi Beno karena itu akan semakin menambah keadaan semakin rumit.


"Hentikan, James! Dia bisa mati!" Sisil berusaha menyadarkan James namun pria itu tidak menghiraukannya.


Sambil menahan rasa sakit dari pukulan-pukulan James, darah segar mulai berceceran dimana-mana, bahkan hampir di seluruh wajah Beno. Sisil semakin takut hingga merasa syok melihat kemarahan James yang membabi buta. Dengan tubuh lemas, Sisil berusaha menyeret kakinya ke arah James dan menarik tangan James untuk menyadarkannya.


"Berhenti, James. Dia bisa mati.!" Suara Sisil mulai bergetar.


"Aku tidak peduli!" Sergah James tanpa melihat ke arah Sisil yang ketakutan.


"James, please........?!" Sisil memohon sambil menggerakkan lengan James. "........hentikan."


Akhirnya, di kalimat inilah Sisil berhasil membuat James berhenti. Dengan kesadaran yang mulai terkumpul, James mengalihkan pandangannya pada Sisil yang sedang memasang wajah pilu. Mata memerah dengan genangan air mata di sudut matanya, serta penampilannya yang jauh dari biasanya.


Rambutnya yang terurai dan setengah basah, serta wajah takut dan gemetar yang Sisil tunjukkan, membuat James merasa iba dan terenyuh. Hatinya tidak tega melihat Sisil dengan kondisi seperti itu.


"Kita pergi dari sini!" Sergah James kemudian. Dirinya langsung membuka jaket yang dipakainya dan memakaikannya pada Sisil hingga menutupi seluruh tubuh Sisil rapat-rapat.


"Ini peringatan terakhir! Jika kamu berani muncul kembali di hadapannya, atau melakukan apapun yang berkaitan dengan transaksi ilegal, aku tidak akan segan-segan untuk melaporkan dan memenjarakanmu bahkan ke dalam sel paling bawah sekalipun! Camkan itu!"


●●●


Hangat...


Itulah yang Sisil rasakan ketika tangan James yang besar itu menggenggamnya. Sangat erat, dan juga kuat tanpa rasa sakit. Jika biasanya Sisil akan menolak atau bahkan meronta, kali ini dia cukup diam dan hanya mengikuti langkah James yang membawanya keluar dari gedung dengan sikap gentle.


James membukakan pintu untuk Sisil dan Sisil pun langsung masuk ke mobil itu tanpa suara.


Ketika James sudah duduk di kursi kemudi, dia langsung membawa mereka pergi tanpa bertanya atau mengatakan apapun.


"I-itu... bukan seperti apa yang kamu pikirkan," Sisil lah yang memulai berbicara. Karena dia merasa, pasti James telah memiliki pemikiran buruk tentangnya.


"Jangan katakan apapun untuk saat ini." James menyahuti dengan nada dingin. "Kita harus segera meninggalkan area ini sebelum terlambat." Imbuhnya dengan teka-teki.


Terlambat? Apa.... maksudnya?


Tepat setelah James mengatakan kalimat itu, suara bising sirine dari mobil polisi bergantian masuk ke dalam gedung setelah mobil mereka keluar cukup jauh dari sana. Menandakan jika ancaman James bukan sekedar gertakan dan benar-benar dia buktikan.


"Polisi...?" Sisil tercengang melihat rombongan mobil polisi yang mulai berbaris memarkirkan mobilnya ke depan gedung apartemen. Lalu masuk setengah berlari dengan bergerombol.


"Aku sedikit memberikan gertakan pada mereka. Semoga itu mampu membuat mereka sadar."


Sisil pun terdiam di dalam mobil setelah mendengar kalimat James. Namun, saat disadarinya James tidak membawanya pulang melewati jalanan menuju rumahnya, barulah Sisil bertanya keheranan.


"Kita mau kemana? Kamu mau bawa aku kemana?"


"Kita akan ke apartemenku. Karena aku nggak mungkin mengantarmu pulang dengan kondisimu seperti itu." James menyahuti tanpa menoleh ataupun melirik pada Sisil. Karena itu hanya akan membuat Sisil merasa malu dan terhina.


Namun, Sisil lah yang secara otomatis langsung melihat penampilan dirinya yang memang sangat tidak pantas. Apa yang akan mama dan papanya pikirkan jika dia keluar malam tanpa izin dan pulang dengan keadaan hanya memakai jubah mandi yang tampak kusut?


Memikirkan itu semua, Sisil menjadi kalut dan bersalah. Dia sedikit menundukkan kepalanya sambil menahan malu. Dan hal itu lagi-lagi membuat James iba dan terenyuh.


Disertai helaan napas, James berucap menenangkan sembari mengusap rambut kepala Sisil dengan lembut seperti mengusap kepala anak-anak.


"Jangan pikirkan apapun. Aku akan mengatur semuanya."


Kalimat kepedulian yang keluar dari mulut James itu tanpa sadar membuat hati Sisil tersentuh. Dadanya bergemuruh sementara pangkal tenggorokannya tersekat ditambah dengan kedua matanya yang mulai memanas. Kedua matanya pun berkaca-kaca menahan air mata yang akan tumpah membasahi pipinya. Tetapi, alih-alih menangis, Sisil justru menahannya dan malah menolehkan wajahnya ke jendela mobil.


Dan disanalah James dengan jelas dapat melihat pantulan wajah Sisil melalui kaca mobil yang sedang menahan isak tangis sekuat tenaga.


●●●


Mendengar suara sirine mobil polisi yang saling sahut menyahut bergantian, seketika membuat Beno tersadar dan terpaksa bangkit dari rasa sakit yang sedang dia rasakan di atas lantai kamar yang dingin. Wajahnya babak belur, sementara seluruh badannya terasa sakit dan remuk.


Sambil memegangi perutnya, Beno berdiri terhuyung sambil berjalan terpincang-pincang. Berusaha berjalan secepat mungkin sebelum polisi benar-benar menemukan dan menangkapnya.


"Sial!" Umpat Beno kesal.


Beno akhirnya berlari keluar melewati tangga darurat. Menuruni tangga demi tangga hingga akhirnya dia sampai di halaman belakang gedung dekat dengan gudang. Dilihatnya ada sebuah tembok besar yang tidak terlalu tinggi. Itu memudahkannya untuk memanjat naik dan melompat agar bisa melarikan diri.


Tanpa berpikir lama-lama, Beno langsung melancarkan aksinya. Menaiki tembok dengan menyelipkan ujung kakinya pada permukaan yang tidak rata sebagai pijakan. Lalu, mulai memanjat hingga akhirnya sampai di atas perbatasan tembok dan berhasil turun melompat dengan sempurna.


Kali ini mungkin Beno bisa dibilang masih beruntung dengan bisa melarikan diri. Tetapi, mungkin saja setelah ini dia benar-benar akan tertangkap dan di tempatkan ke dalam penjara lagi dengan hukuman yang mungkin akan lebih berat.