A Fan With A Man

A Fan With A Man
Pemeriksaan Akhir



Ketika Dimas dan Meila sampai di lobby rumah sakit tempat dimana dokter Yoga bertugas, mereka langsung menuju ke meja administrasi untuk memberitahukan kunjungan rutin yang telah dijadwalkan oleh dokter Yoga padanya.


Begitu mereka sampai di depan meja admisnistrasi, salah satu suster penjaga langsung menghampiri dan menyapanya dengan ramah.


"Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?" Sapa suster itu penuh senyuman.


Dimas lah yang menjawab suster itu dengan jawaban yang tak kalah ramah.


"Pagi, sus. Mmm... Sebenarnya kami belum ada janji hari ini karena jadwal check-up rutinnya itu besok. Dan berhubung besok kami ada urusan lain, jadi kami majukan hari ini. Ah, ya. Dokter yang menanganinya adalah dokter Yoga."


Dimas juga menyebutkan nama dokter Yoga di akhir kalimatnya untuk memperjelas dan memudahkannya membuat temu janji.


"Kebetulan jadwal dokter Yoga hari ini cukup padat, tapi saya akan menanyakannya lebih dulu."


Dimas mengangguk menanggapi. "Sebut aja nama saya, Dimas. Beliau kenal saya kok."


Suster itu menghubungi Yoga melalu pesawat telepon. Setelah beberapa saat, suster itu terlihat menutup panggilan telepon dan menghampiri mereka lagi ke depan meja administrasi.


"Dokter Yoga bilang, anda bisa langsung menuju ruangannya. Beliau sedang menunggu anda."


Dimas tersenyum kepada suster itu seraya menjawabnya, "Baik, sus. Terima kasih." Diikuti dengan Meila yang juga memberikan senyuman manisnya pada suster itu.


Karena Dimas sudah tau dimana letak ruangan dokter Yoga, dia tidak perlu lagi menanyakannya. Dia langsung mengarahkan kakinya menuju koridor di ujung lorong sambil menghela Meila untuk mengikutinya.


"Ayo," Dimas lalu menghela Meila dengan menggandengnya. Saling melempar senyum sepanjang lorong yang dilewati banyak orang.


●●●


"Gimana rasanya? Dingin, kan?"


Dokter Yoga sedang memeriksa Meila dibantu dengan seorang perawat. Mulai dari memeriksa luka sampai jahitannya. Lalu memeriksa kondisi lapisan kulit luar dan dalam untuk pencegahan infeksi. Tidak lupa juga Yoga mengoleskan krim salep berwarna bening di akhir pemeriksaan ke permukaan kulit Meila yang dijahit secara merata. Kemudian membiarkan salep itu mengering tanpa harus diperban lagi.


Ketika Yoga bertanya pada Meila saat mengoleskan salep yang langsung terasa dingin di permukaan kulit, dengan otomatis Meila langsung mengangguk malu-malu. Mengiyakan pertanyaan sekaligus pernyataan Yoga yang sangatlah benar. Salep itu terasa dingin dan sejuk. Tidak lengket, dengan tekstur bening dan tidak berbau.


"Kamu bisa mengoleskannya dengan rutin selama satu minggu ke depan."


"Iya, om." Sahut Meila kemudian.


"Ya! Selesai.." Ucap Yoga saat menyelesaikan pemeriksaan. "Sus, tolong dibantu, ya."


Setelahnya, Yoga membersihkan tangannya ke wastafel dengan antiseptic dan kembali ke meja ruangannya dimana telah ada Dimas sedang menunggu. Sedangkan Meila, tampak dibantu oleh suster ketika menuruni ranjang rumah sakit yang cukup tinggi. Bahkan, Meila harus menuruni 3 buah anak tangga berbentuk besi untuk memudahkannya naik dan turun.


"Lukanya sudah sangat membaik. Nggak ada jahitan yang terbuka atau adanya infeksi luar dan dalam. Kamu nggak perlu melakukan check-up lagi kedepannya. Tapi, kapanpun kamu merasakan sakit, jangan menunda untuk memeriksakannya, ya,?"


"Iya, om. Terima kasih." Meila menyahuti sambil tersenyum.


Tidak bisa dipungkiri memang, wajah Meila langsung berubah sumringah ketika mendengar pernyataan Yoga yang mengatakan jika dia tidak perlu melakukan pemeriksaan rutin lagi setelahnya. Karena itu menandakan jika dia sudah benar-benar sembuh total.


Dimas sendiri yang mendengar dan menyimak penjelasan Yoga pun juga ikut terlihat senang.


"Kamu dengar itu?" Dimas turut bicara. Membuat Meila menengok ke arahnya dengan sumringah.


"Jangan lupa untuk mengoleskan salep yang tadi. Om akan meresepkannya buat kamu. Itu akan membantu meratakan kembali permukaan kulit yang diakibatkan luka jahitan." Yoga tidak lupa juga untuk mengingatkan mereka agar rutin mengolesi salep yang bisa membantu meratakan permukaan kulit Meila kembali.


"Dimas, kamu bantu kekasihmu, ya? Kamu juga perlu mengingatkannya agar tidak lupa." Yoga berseru mengingatkan. 


"Pasti, om." Dimas menjawab cepat tanpa ragu. Dan itu sambil melirikkan matanya pada Meila.


"Jadi, pemeriksaan rutinnya udah selesai? Dan luka jahitannya udah benar-benar mengering?" Meila bertanya tiba-tiba. Hanya untuk memastikan jika lukanya memang benar-benar sudah mengering dan sembuh total.


Yoga mengangguk dengan mantap. "Sudah. Tapi, seperti yang om bilang tadi. Kapanpun kamu merasakan sakit atau mungkin nyeri di area jahitan itu, jangan menunda untuk memeriksanya. Sebab, jika diabaikan bisa menyebabkan peradangan kulit dan yang paling fatal adalah infeksi parah. Tapi yang om liat, untuk saat ini semuanya sudah benar-benar sembuh."


Cara Yoga menjelaskan terdengar seperti sedang memberi penjelasan pada anak usia 5 tahun yang mengutamakan kesabaran. Berbeda dengan pasien-pasien lain yang telah banyak dia tangani. Cukup diberi resep dan sekali penjelasan saja.


"Iya, aku mengerti." Meila menyahuti dengan senang. Senang karena dia tidak harus disuntik dan merasakan tusukan jarum yang kecil namun mengerikan itu.


"Oke kalau gitu, om. Kami pamit dulu. Terima kasih karena udah mau direpotin dan mengubah jadwal check-up." Dimas berucap sambil berkelakar.


Yoga tertawa mendengarnya. "Ah, nggak apa-apa. Hanya dimajukan satu hari dari jadwal seharusnya. Itu nggak ada masalah. Lagipula, lukanya memang benar-benar sudah sembuh. Dan...." Yoga menuliskan resep salep yang harus mereka tebus di apotek dan memberikannya. ".....ini resep salep yang harus rutin dipakai selama satu minggu ke depan. Satu hari cukup 2 kali."


Dimaslah yang mengambil resep itu dari tangan Yoga. Lalu setelahnya, mereka berpamitan lagi dengan Yoga sampai laki-laki itu mengantarnya hingga depan pintu ruang prakteknya. Menyisakan senyum ramah yang bertengger di bibirnya ketika melihat sepasang kekasih itu berjalan menjauh sambil tidak melepaskan pegangan tangan mereka masing-masing.


"Benar-benar pasangan muda." ujarnya.


Sementara Yoga memperhatikan Dimas dan Meila sebagai pasangan muda. Sambil sesekali melempar senyum senang, Meila menolehkan wajahnya pada Dimas dengan perasaan yang begitu bahagia. Perasaan bahagia yang begitu amat.


Pasalnya, baru kali ini Meila merasa senang ketika izin bolos kuliah. Karena biasanya dia begitu sangat antusias untuk berkuliah dan tidak pernah membolos kecuali ada hal penting yang memang mengharuskannya tidak mengikuti perkuliahan. Tetapi, entah bagaimana perasaannya kali ini sedang tidak ingin belajar.


"Mau jalan-jalan dulu?"


Mendengar kalimat ajakan Dimas yang tiba-tiba, otomatis membuat Meila terkejut sekaligus sumringah. Dia langsung mengangguk setuju tanpa berpikir lagi. Bahkan saking senangnya, Meila terus memasang senyumnya di sepanjang jalan hingga menebar senyumnya itu kepada siapa saja yang berpapasan dengan mereka.