A Fan With A Man

A Fan With A Man
Sebentar saja



Meila sedang berada di kebun belakang kampus sambil menghirup udara pagi yang hampir siang dengan udara yang menyejukkan sambil memejamkan mata seperti sedang menenangkan diri. Cuaca hari ini terbilang cukup sejuk, tidak terik namun tidak juga mendung, hal itu dimanfaatkan Meila untuk memilih pergi ke kebun belakang kampus untuk sekedar menghilangkan pikiran atas kegelisahannya sejak tadi malam.


Meila memilih untuk berdiri di dekat kolam air mancur kecil yang didalamnya terdapat bermacam ikan-ikan hias kecil nan cantik dengan sisi kolamnya ditanami tumbuhan mini bonsai yang menurutnya sangat imut dan mampu membuatnya sedikit lebih tenang.


Pertemuannya dengan Beno semalam telah membuat traumanya bangkit kembali dengan kuat, secara tidak langsung telah memancing serangan paniknya setelah sekian lama dia mampu mengatasinya, dan hampir tidak muncul lagi hingga membuat Meila tidak perlu mengkonsumsi obat penenang kecuali jika memang sangat dibutuhkan atau sangat mendesak.


"Tenangin diri lo, Meila...! tenang..." Meila menghirup napas dalam lalu menghembuskannya perlahan, "jangan lemah... jangan biarin serangan panik lo muncul lagi." Meila bergumam seolah menguatkan dirinya sendiri. Matanya terpejam dengan kening mengerut, dan tiba-tiba bayang-bayang sosok Beno yang sedang berdiri sangat dekat dengan wajahnya teringat kembali dan seakan begitu nyata.


Meila membuka matanya, menundukkan wajahnya dan menatap ke kolam kecil sehingga dia bisa melihat pantulan dirinya sendiri di air itu layaknya cermin. Wajahnya tersenyum lemah, menertawakan dirinya sendiri yang sangat begitu lemah hingga dengan mudahnya memberi celah pada Beno untuk bisa melecehkannya lagi dengan mudah.


"Cewek lemah! Gue emang cewek lemah yang cuma bisa nangis dan minta belas kasihan orang lain." Meila tertawa ironi sambil mengatai dirinya, dia memajukan tubuhnya sedikit sampai ke bibir kolam.


Meila mengangkat kepalanya, wajahnya menengadah ke atas untuk menatap matahari yang tertutup awan.


"Harusnya gue bisa kayak matahari itu. Meski tertutup awan, tapi dia tetap berusaha memperlihatkan cahayanya hingga menembus awan meski celah-celah itu kecil." Matanya menatap lurus ke atas.


Setelah beberapa detik mendongakkan kepalanya, dia akhirnya membalikkan tubuhnya, namun ketika kakinya akan berpijak, tiba-tiba saja langkahnya terselip oleh rerumputan basah yang licin hingga menyebabkan keseimbangannya goyah ketika diinjaknya.


"Ah!" Kaki Meila terpeleset hingga membuatnya memekik kaget dengan tubuh gontai seperti melayang kebelakang.


●●●


Sebuah tangan yang kuat berhasil menarik tangan Meila dan langsung menangkap tubuh gadis itu dengan cepat hingga jatuh ke dalam pelukan eratnya.


Meila terperanjat dengan napas terengah, dia mengangkat kepalanya sedikit agar bisa menjangkau sosok yang sedang memeluk dirinya saat ini.


"Hati-hati! Kamu gak apa-apa?" Dimas menyapu keseluruhan tubuh Meila untuk memastikan, "kamu bisa jatuh ke kolam itu." Dimas berucap dengan nada peringatan yang kental. Mata keduanya saling bertemu. "Lagian kamu ngapain berdiri didekat kolam?" Tangannya bergerak untuk merapikan rambut Meila yang menutupi wajahnya.


"Ak-aku... aku cuma lagi menghirup udara segar aja, kak." sambil menjauhkan tubuhnya sedikit, Meila menjawab dengan suara terbata, berusaha mencari jawaban meyakinkan agar Dimas mempercayainya.


Mata Dimas menyusuri Meila dengan lekat, mencoba menyelami ke kedalaman matanya. "Yakin, cuma itu aja?" Dimas bertanya memastikan. Pria itu merasa bahwa Meila bukan sekedar hanya menghirup udara segar saja, tetapi ingin mengalihkan perhatiannya dari sesuatu yang sedang membebaninya.


Hal itu terlihat jelas dengan adanya lingkaran hitam dibawah matanya, ditambah lagi dengan kelopak mata yang sedikit bengkak seperti habis menangis semalaman, dengan jelas menandakan gadis itu sedang tidak baik-baik saja.


Mungkinkah teror itu datang lagi?


"I-iya, kak... cuma itu kok." Meila memalingkan wajahnya dari tatapan Dimas yang begitu mengintimidasi.


Gadis ini sedang menyembunyikan sesuatu. Terlihat jelas dari caranya berbicara yang tidak mampu menatap lawan bicaranya.


Namun bukan Dimas namanya jika langsung mempercayai ucapan Meila jika tidak memastikannya sendiri. Yang dilakukan Dimas selanjutnya adalah, menarik tubuh Meila agar semakin mendekat, menguncinya, kemudian mengangkat dagu gadis itu menggunakan jarinya, "kenapa gugup?" ucapnya dengan kepala menunduk.


Jemarinya mengusap lingkaran hitam dibawah mata Meila dengan lembut. "Kamu nggak tidur semalam?" Kemudian dia menggunakan ibu jarinya untuk mengusap pipi Meila dengan tatapan penuh perhatian. "Tapi kalau diliat dari mata kamu yang sedikit bengkak, sepertinya kamu abis menangis sampe bikin kamu nggak bisa tidur hingga akhirnya terbentuklah lingkaran hitam ini."


Dimas menatap lembut, "benar, kan?" Menunggu Meila menjawab pertanyaannya.


Bibir Meila terbuka, siap untuk mengeluarkan jawabannya dengan mata yang langsung menatap lurus ke mata Dimas. "Kenapa kamu bisa membuat kesimpulan kayak gitu, kak?" Tatapan Meila melembut, lebih kepada tatapan ingin tahu, "sedangkan aku belum bicara apa-apa sejak tadi."


Dimas tersenyum, tatapannya berubah sayang. "Buat aku, kamu itu mudah ditebak, Sayang! Kamu itu nggak pandai menyembunyikan sesuatu dibalik raut wajah kamu. Meskipun..." bola matanya memutar, "....meskipun kamu tetap memaksakan diri untuk memasang senyuman paling manis di bibir kamu ini." Jemari Dimas mengusap bibir Meila dengan lembut.


"Terlebih lagi.... jika sesuatu itu adalah hal yang paling mengerikan buat kamu." Gerakannya berhenti, matanya kembali menyorot mata Meila dengan mengintimidasi. "Jadi.... hal mengerikan apa yang udah mengganggu gadis mungil ini hingga membuatnya hampir kehilangan keseimbangannya?" Lengan Dimas menarik Meila agar semakin rapat dengannya, membuat Meila tidak memiliki kesempatan untuk bisa melarikan diri dari jangkauan pria itu.


●●●


Meila tergeragap, "n-nggak ada apa-apa kok. Aku cuma kurang tidur aja." Bibirnya memaksa untuk membentuk sebuah senyuman.


"Tuh, liat! Baru diomongin langsung dipraktekin sama kamu." Dimas terkekeh.


"Apanya?" Meila bertanya bingung,


"Senyuman kamu itu." Dimas mengadu hidung Meila dan hidungnya dengan gemas. "Senyuman yang dipaksakan." kemudian berbisik didepan wajah Meila. Wajahnya memerah seketika dengan menyemburat ditulang pipinya.


Meila menatap malu-malu, "apaan sih, kak. Nggak kok." Meila memalingkan wajahnya perlahan sambil menetralkan detak jantungnya yang berdegup kencang memukul-mukul rongga dadanya.


Dimas terkekeh, "Oke. Oke! Aku percaya sama kamu." Tangan Dimas membawa Meila ke dalam pelukannya, mengelus punggung Meila dengan lembut.


Namun bukan Dimas namanya jika dia langsung memercayainya, dia berjanji akan membahas masalah ini di waktu dan tempat yang tepat nanti.


"Kak Dimas! Kita masih di kampus!" Meila setengah tersentak dengan gerakan Dimas yang menariknya kedalam pelukan hangatnya.


"Emangnya kenapa?" Dimas bertanya meledek, dia meletakkan dagunya ke puncak kepala Meila. "Gak akan ada yang liat kita, Sayang. Kebun ini jarang dikunjungi." Dimas masih terus memeluk Meila dengan sengaja, membuat Meila semakin panik karena tingkahnya.


"Kak..." Meila memanggil nama pria itu dengan suara memelas manja. Dengan berat hati, membuat Dimas dengan terpaksa melepaskan pelukannya.


Memang! Tidak bisa dipungkiri, Meila sangat membutuhkan sebuah sandaran serta pelukan untuk bisa menenangkannya, membuatnya nyaman, merasakan rasa aman di bawah perlindungan pria itu. Tapi pikirannya masih dipenuhi dengan kewarasan sehingga alarm tanda bahaya seakan mengingatkannya untuk menolaknya.


Meila mendongakkan kepala, menyusuri wajah Dimas yang sedang menunduk padanya sambil tersenyum lembut.


"Boleh aku tanya sesuatu sama kamu, kak?" Meila berucap pada Dimas, menyampaikan rasa ingin tahunya melalui sebuah pertanyaan, dan dengan cepat Dimas menganggukkan kepalanya tanda mengiyakan.


"Boleh. Kamu mau tanya apa?" Jawab Dimas dengan suara lembut nan rendah.


"Kenapa kamu selalu panggil aku dengan sebutan 'Sayang' ?" Meila bertanya dengan wajah polosnya tanpa dibuat-buat. "Aku mendengarnya bukan cuma hari ini, tapi juga di waktu-waktu sebelumnya kamu mengatakan itu." Meila memiringkan wajahnya sedikit, memasang tatapan polosnya, yang bagi siapa saja melihatnya, khususnya kamu adam, akan menumbuhkan perasaan sayang untuknya.


Dimas tergelak gemas, terdiam sejenak dengan tatapan sayang, kemudian mengadu hidungnya dengan hidung Meila sebelum jarinya terangkat untuk mencolek ujung hidung mungil Meila dengan gemas.


"Karena aku memang sayang kamu!" Jawab Dimas singkat tanpa dilebihkan, namun tidak juga dikurangkan. Terlihat jelas pria itu tidak seperti orang yang sedang kesulitan mencari jawaban, Dimas justru terang-terangan mengakuinya, malah terdengar sangat lantang mengucapkan kalimat itu tanpa ragu.


Dimas tersenyum melihat ekspresi Meila yang setengah terkejut karena ucapannya. Tangannya terangkat untuk mengusap rambut Meila. "Udah, nggak usah dipikirin. Belum saatnya." Dimas mengedipkan sebelah matanya.


"Yuk! Kita balik ke kampus." Dimas menggandeng tangan Meila dan menariknya dengan lembut. Namun, sebuah tangan mungil menghentikannya dan memegang tangannya, membuat Dimas menolehkan kepalanya kembali sambil memasang ekspresi bingung.


"Kenapa, Mei?" Dimas bertanya lembut sambil memajukan tubuhnya.


Tanpa disangka oleh Dimas, Meila memajukan tubuhnya hingga rapat kemudian langsung memeluk pria itu dengan perlahan, menenggelamkan wajahnya ke dada bidang pria itu, dan melingkarkan tangannya ke pinggang Dimas.


Hal itu membuat Dimas sedikit terkejut dengan tindakan gadis mungil yang tidak pernah diduganya. Namun dengan cepat Dimas merentangkan lengannya dan mendekap Meila dalam lingkupan hangatnya.


"Dek, kenapa....."


Dimas menyipitkan matanya dengan kepala masih tertunduk, kemudian tatapannya melembut begitu menemukan kegelisahan dalam bola mata gadis mungil itu. Dia mendaratkan kecupan di dahi Meila, dan menenggelamkan gadis itu kedalam dekapannya kembali tanpa mengeluarkan sepatah kata lagi.


"As you wish," Bibirnya mengecup singkat pucuk kepala Meila. Kemudian menenggelamkan wajahnya ke keharuman rambut gadis itu. "Kita akan terus begini..." tangannya mengencangkan dekapannya namun tidak menyakiti, "...dan tetap disini sampe kamu merasa bosan." Sambungnya lagi dengan nada nakal menggoda sambil terkekeh pelan.


Bersamaan dengan ucapan Dimas, didetik itulah Meila tersenyum dalam lingkupan hangat pria itu, menghirup aroma manis vanilla yang berpadu dengan aroma ekstrak green tea yang menyegarkan.


Ditengah adegan romantis tanpa rencana yang sedang dilakukan dua sejoli berlainan jenis itu, tanpa disadari ada sepasang mata dari kejauhan yang bersembunyi dibalik pohon besar sedang memperhatikan Dimas dan Meila dengan pandangan mata tidak suka sambil mengetatkan rahang. Dengan tangan terkepal menahan kesal, tampak sosok wanita itu memukul pelan batang pohon besar tempatnya menyembunyikan diri.


Ya! Wanita itu adalah Sisil. Melihat pemandangan yang tersaji dengan jelas didepan matanya, membuatnya semakin membenci Meila. Napasnya menggebu-gebu ingin segera merencanakan hal yang lebih ekstrim hingga belum pernah dibayangkan oleh Meila sebelumnya.


Bibirnya membentuk senyum licik, dia tidak sabar untuk segera melihat Meila memohon-mohon di kakinya sambil berurai air mata.


"Tunggu kesengsaraan lo sebentar lagi, cewek sok lugu! Gue pastiin, lo akan ngemis-ngemis di kaki gue sampe bertekuk lutut di bawah kuasa gue!" Sisil tersenyum licik dengan mata berkilat tajam, diselimuti dengan kilatan iri dan dengki yang kental.


●●●


"Jadi lo gak bisa nginep lagi malam ini, Rin?" Terlihat Meila yang sedang menyeruput jus strawberrynya.


"Iya, Mei! Big Sorry... gue harus nemenin nyokap gue ke Bandung karena ada seminar dan juga sedikit urusan bisnis yang harus diselesaiin disana."


Sebenarnya Airin sangat tidak enak pada sahabatnya itu yang sudah berjanji akan menginap dan menemaninya sampai sang asisten rumah tangga Meila kembali lagi bekerja. Namun, Airin baru saja di hubungi oleh Ibunya, Windy, untuk menemaninya ke Bandung dalam beberapa hari ke depan untuk acara seminar bisnis butiknya.


"It's okay, Rin. Gak apa-apa, kok. Lo temenin tante Windy aja ke Bandung. Kasian kalo nyokap lo yang harus ngatur semuanya sendirian. Gue bisa jaga diri, kok." Meila memberikan pengertiannya pada Airin yang merasa tidak enak padanya, terlihat jelas dari wajahnya yang sedikit kecewa.


"Bener ya, lo bisa jaga diri! Jangan sungkan-sungkan buat hubungin gue. Kalo ada apa-apa lo langsung kabarin dua bodyguard lo aja. Gue yakin mereka akan sigap dan langsung nyamperin lo." Airin tertawa meledek sambil menyindir, membuat Meila memelototkan matanya pada Airin hingga membuatnya tertawa bersama.


"Sip. Sampein salam gue ke nyokap lo, ya." sambung Meila kembali.


"Iya. pasti gue sampein." jawab Airin cepat dengan mengacungkan jempolnya.


Ditengah-tengah tawa mereka, Airin teringat akan sesuatu hampir ia lupakan untuk ditanyakan pada Meila. Sebenarnya Airin akan bertanya saat sarapan tadi pagi ketika berada di meja makan. Namun, tiba-tiba saja ingatannya hilang begitu saja karena membicarakan hal-hal lucu hingga mampu mengocok perut.


"Eh, Mei. Semalem lo kemana? Pas gue raba-raba tempat tidur lo, lo gak ada. Tadinya gue pengen turun buat nyari lo tapi gue pikir paling lo ke toilet jadi gue tidur lagi. Hehe." Airin bertanya untuk memastikan.


Meila tersentak, dirinya yang sedang menyuruput jus miliknya berhenti ketika kalimat pertama dari pertanyaan Airin melayang di udara hingga masuk ke telinga. Meila mengaduk-aduk jusnya dengan sedotan sambil berusaha mengalihkan wajahnya, mencari-cari jawaban pasti untuk meyakinkan Airin.


"O-ooh.. itu, i-iya. Gue ke toilet. Biasa... kebelet, Rin! Hehe." Meila menjawab asal dengan cengiran di bibirnya. Membuat Airin hanya ber-oh ria mendengar jawaban sahabatnya itu.


Hati Meila merasakan rasa bersalah karena kebohongannya. Tapi dia sendiri pun bingung untuk mengatakan yang sebenarnya, dia pun setengah tertunduk lemah sambil menggumamkan rasa bersalahnya didalam hati.


"Sorry, Rin..!"


●●●


"Udah?" Dimas memiringkan kepalanya, memperhatikan, serta menunggu Meila dengan sabar yang sedang memasukkan bukunya ke dalam tas.


Meila mendongak, membalas Dimas dengan tersenyum, "udah."


"Airin tau kan kalo kamu aku yang anter pulang?" Dimas berbicara sambil berjalan santai.


"Iya. Dia udah tau, kok." Meila menjawab.


"Nanti Airin nyusul kan?" Tanya Dimas lagi untuk memastikan.


"Nggak, kak" Meila menoleh sejenak, "Airin harus nemenin mamanya ke Bandung untuk beberapa hari kedepan, ada seminar katanya." Sambungnya lagi dengan santai.


Dimas mengerutkan kening, langkahnya terhenti untuk memastikan pendegarannya. "Jadi untuk beberapa hari kedepan dia nggak bisa nginep dan kamu sendirian lagi?"


Meila mengangguk pelan, "iya," dia tersenyum begitu menyadari perubahan ekspresi Dimas yang begitu cemas. "Aku nggak apa-apa, kak. Aku bisa jaga diri, kok." Jelasnya lagi sambil tertawa pelan.


"Aku percaya kamu bisa jaga diri, tapi aku yang gak bisa biarin kamu sendirian." Dimas berpikir sejenak, menimbang-nimbang perkataannya apakah pantas untuk diutarakan atau malah sebaliknya. "gimana.... gimana kalo kamu tinggal dirumah aku dulu untuk sementara?" Dia menatap Meila, menilai ekspresi gadis itu. "Seenggaknya.... sampe asisten rumah tangga kamu kembali bekerja lagi. Gimana?" Dimas menaikkan kedua alinya, menunggu jawaban Meila.


"Nggak usah, kak. Aku gak mau ngerepotin kamu."


Sebenarnya, kalau boleh jujur, dia juga sangat membutuhkan perlindungan dari seseorang minimal hanya untuk menemaninya saja. Tapi Meila sendiri pun tahu, dia merasa tidak enak hati kalau harus merepotkan Dimas lagi karena masalahnya.


"Ini bukan masalah merepotkan atau nggak, Mei. Ini masalah keselamatan kamu. Aku gak pengen kalo tiba-tiba si pria gila itu datengin kamu saat kamu lagi sendirian, dan melakukan hal-hal yang membuat aku sendiri nggak sanggup untuk sekedar membayangkannya." Dimas meyakinkan Meila sekali lagi agar gadis itu mau menerimanya.


Meila terdiam, seketika sepintas ingatan saat Beno menemuinya semalam dan berbicara padanya dengan jarak yang sangat dekat, hingga membuatnya gemetaran, secara refleks mengangkat tangannya lalu memeluk tubuhnya sendiri sambil memasang wajah kengerian.


Dimas mengamati dalam diam, sorot mata tajamnya memperhatikan perubahan ekspresi gadis dihadapannya dari ceria hingga berubah ngeri seperti sedang dikejar pemburu.


"Mei, kenapa?" Dimas mengajukan pertanyaan dengan mengangkat tangan tepat ketika kengerian dalam ingatan Meila seperti nyata, tubuhnya tersentak hampir saja melangkah mundur, namun dengan cepat Meila segera terbangun dari lamunan sesaatnya itu.


Apa mungkin dia harus menerima tawaran Dimas? Tidak ada salahnya bukan kalau Meila berlindung dalam pengawasan pria itu untuk sebentar saja?


Pandangannya kembali menatap Dimas yang masih menunggu jawaban darinya.


"Apa nggak ngerepotin kamu, kak?" Meila menanyakan hal sama yang sudah Dimas jawab sebelumnya.


Dimas terkekeh, tatapannya melembut, dan tangannya terangkat lalu meremas bahu Meila dengan lembut, membuat Meila terdongak untuk menatapnya.


"Nggak, Mei. Justru aku akan merasa lega karena kamu berada dibawah pengawasan aku." Dimas menunduk, mensejajarkan wajahnya dengan Meila. "Jadi.......?" Tanya Dimas sekali lagi dengan menaikkan alisnya.


Meila mengamati Dimas sejenak sebelum akhirnya dia menganggukkan kepala, memutuskan untuk mengiyakan tawaran Dimas padanya. "Iya. Aku...mau!" Jawab Meila dengan senyum dibibirnya.


"Tapi... aku harus ambil baju ganti dulu ke rumah," sambung Meila menimpali.


Mendengar perkataan polos Meila, Dimas tersenyum sambil menggelengkan kepala dengan memasang wajah gemas sambil menahan dirinya untuk tidak menjatuhkan kecupan singkat ke bibir Meila yang terlihat manis di matanya.


"Tentu. Kita akan ambil dulu barang-barang kamu sekarang, ya?"


Seruan kalimat Dimas itu membuat Meila bersemangat dengan menganggukkan kepalanya kuat ditambah dengan senyuman manis dan cerianya yang khas.


Setelah akhirnya memutuskan, Dimas dan Meila melanjutkan berjalan kembali setelah sempat berhenti tadi, dengan tangan yang saling bergandengan dan senyuman merekah dari keduanya yang mampu membuat siapa saja merasa iri melihatnya.