A Fan With A Man

A Fan With A Man
Pusat Perhatian



Di dalam kamar, Vika tampak sedang menghias diri. Dengan tubuh yang masih terbungkus jubah mandi dan rambut yang telah setengah mengering tentunya. Dia bersolek di depan meja rias sambil memoles wajahnya dengan bedak tipis sentuhan natural. Namun tetap tidak meninggalkan kesan manis dan sexy yang melekat pada seorang model sepertinya.


Setelah selesai merias diri, Vika langsung mengganti jubah mandinya dengan gaun yang akan ia pakai. Gaun berwarna merah marun dengan kristal swarovski di sekitar kerah leher yang memperlihatkan garis leher jenjangnya, tampak elegan dengan sedikit sentuhan pita kecil di sebelah kanan. Dengan panjang lengan sebatas siku, dan panjang gaun melebihi tumit hingga menjuntai ke lantai dengan belahan sebelah kiri hingga batas atas lutut. Semakin menampilkan kesan berani dengan karakter yang sexy.


Di bagian belakang, tepatnya dari batas pinggang hingga ujung bahu yang segaris dengan tulang tengkuk belakang, terdapat resleting panjang yang sedang berusaha ia gapai. Sambil memutar sedikit tubuhnya ke samping, tangan Vika meraih ujung resleting untuk ia tarik ke atas. Namun, entah mengapa dia tidak dapat meraihnya dan hal itu sedikit membuatnya kesal bercampur gemas. Pasalnya, hanya tinggal beberapa senti saja ujung resleting itu terkunci, rasanya jemarinya terasa jauh untuk menjangkau dan menariknya.


Sambil berdecak sebal, Vika akhirnya tidak sabar sampai tidak sadar bibirnya meneriakkan nama Rendy dan memanggilnya.


"Rendy..." suaranya lantang dan sedikit manja. "Bisa kesini sebentar? Aku butuh bantuan kamu," pintanya dari dalam kamar.


"Yes, baby..." terdengar suara Rendy yang jauh dari luar kamar. Dan itu masih dapat didengar Vika meski tersekat dinding dan pintu kamar.


Perlahan terdengar suara derap langkah kaki yang semakin dekat sampai setiap hentakannya dapat dijangkau hingga.....


Ceklak!


"Apa yang bisa aku ban........tu?" tertegun, Rendy nyaris tidak berkedip saat pandangannya memandang sempurna pada satu titik sosok yang membuatnya terpesona. Sementara Vika yang masih belum sadar akan reaksi Rendy, masih memasang raut gemas karena tangannya masih tidak bisa juga menjangkau ujung resleting dengan mudah.


"Bisa kamu bantu aku menarik resletingnya? Ini... susah banget, Rendy. Aku nggak nyampe!" Sahutnya bersungut manja.


Tanpa menjawab dan cepat tersadar dari lamunan, Rendy melangkah mendekati Vika tanpa membuang pandangannya. Dia berjalan pelan namun pasti untuk menghampiri sosok gadis yang begitu cantik nan memesona itu. Diambil alihnya ujung resleting itu dan mulai menariknya perlahan, berusaha sehati-hati mungkin takut-takut akan menyakiti dan melukai kulit mulusnya.


Setelah resleting itu mengunci sempurna, perlahan kedua lengan Rendy bergerak melingkari pinggang ramping Vika seraya menciumi lehernya dengan sensual sebelum kemudian menghirupnya dalam-dalam. Hal itu membuat tubuh Vika membeku dengan perlakuan Rendy yang tiba-tiba sampai-sampai dia memejamkan matanya sesaat dan berucap.


"Rendy,.... geli," Ucapnya tertahan sambil menggigit bibir bawahnya.


Bukannya melepaskan, Rendy malah menggodanya dengan memberikan tiupan-tiupan kecil ke belakang telinga Vika yang sensitif. Membuat Vika semakin kegelian hingga menggeliat tidak nyaman dalam pelukannya.


Sambil melihat pantulan mereka ke cermin. "Aku nggak bisa ngebayangin kalo seandainya kita nggak pernah bertemu lagi." Rendy berucap sembari mengusak-usakkan wajahnya ke lekukan leher Vika dan menaruh dagunya disana.


Vika tersenyum sambil meletakkan tangannya ke atas lengan Rendy yang melingkari perutnya.


"Jangankan kamu, setiap malam sebelum mata aku terpejam, aku selalu berharap kalau esok hari akan ada waktu buat kita ketemu. Sampai akhirnya doa aku didengar dan bisa memiliki kamu lagi disisiku." Jawab Vika.


Pelukan di sekitar perut Vika semakin erat seiring dengan kembali bergeraknya bibir Rendy dengan ciuman-ciuman sensual nan panas menggoda ke lehernya hingga tengkuk dan sebagian bahunya. Perlahan, Vika mulai terbuai dan terhanyut hingga nyaris saja, jika dirinya tidak mengeluarkan ******* dan lenguhan kecil, Rendy sudah pasti akan meninggalkan jejak kemerahan disana.


"Rendy....." ucapnya tertahan disertai wajah yang memerah padam.


Rendy pun menghentikan gerakannya meski tidak sepenuhnya menjauh. Dia membenamkan wajahnya ke bahu Vika yang terbuka sebelum kemudian berucap.


"Aku hampir lepas kendali kalo aja kamu nggak menghentikan aku." Sambil meletakkan dagunya disana. "Aku cinta banget sama kamu!" bisiknya kemudian.


Sedangkan Vika dengan wajah masih bersemu merah, berusaha mengatur napasnya yang tadi sempat tertahan karena ulah kekasihnya, menggerakkan tangannya ke atas dan menyentuh rambut kepala Rendy. Lalu mengusapnya lembut seraya memberikan kecupan ke pipi Rendy yang terlihat seperti anak kecil sedang nemplok manja di atas bahunya.


"....love you more...."


●●●


Rasa gatal bercampur perih yang muncul dari tenggorokannya semakin membuat Sisil tidak berhenti batuk-batuk. Sejak tadi pagi, dia merasa tubuhnya sedang tidak baik-baik saja dan sedikit demam. Dia sudah meminum obat batuk dan air perasan lemon hangat yang dicampur dengan madu yang dibuatkan oleh ibunya setelah sarapan. Dan itu sedikit mereda beberapa jam sesaat sebelum kemudian rasa gatal itu menyerang kembali.


"Kenapa rasanya tenggorokan gue kayak kebakar. Tapi juga gatel bikin pengen batuk-batuk terus." Gumamnya seorang diri.


Beberapa kali dia menelan ludahnya perlahan, dan rasa perih itu terasa hingga membuat alisnya mengernyit.


"Sebelumnya gue nggak pernah kayak gini." Sisil merasakan suaranya yang mulai serak dan berat. "Apa mungkin karena polusi kemarin?" Simpulnya cepat.


Mendadak, wajahnya berubah kesal saat mengingat dirinya yang berada satu mobil dengan James. Baginya, pria menyebalkan itu tidak tahu pentingnya kata maaf saat membuat kesalahan pada seorang wanita. Terlebih lagi, dia mengandalkan gaya sok kerennya itu untuk memikat para gadis agar bertekuk lutut padanya. Namun, bagi Sisil itu tidak mampu mempengaruhi kesan buruk yang disebabkan James padanya kemarin.


Melupakan kejadian menjengkelkan, Sisil mulai mengalihkan pikirannya pada acara nanti malam yang sudah papanya atur untuk mereka hadiri. Meski dia tau jika acara itu adalah acara penting dari orang tua pria yang membuatnya kesal, tetapi dia harus berusaha menahan diri demi papanya. Sisil sudah berjanji kepada papanya, dan kali ini dia tidak mau membuatnya kecewa. Bagaimanapun juga, dia sudah terlalu banyak berbuat kesalahan yang membuat orang tuanya malu. Dan sekarang, dia tidak mau mengulang kesalahan yang sama dan akan mengubur sifat buruknya dalam-dalam di masa lalu.


Sisil mulai berjalan menuju lemari walk in closet dengan pelan dan pandangan yang sedikit berkunang-kunang. Membukanya, dan menyiapkan gaun yang akan ia pakai malam nanti. Tepat saat dirinya sedang memilih gaun, suara lembut dari arah pintu terdengar memanggil. 


"Sisil, nak...."


"Iya, ma. Aku disini." Jawabnya cepat.


Mendengar sahutannya dibalas dan terdengar jauh, ibunya langsung bisa menebzk jika putrinya sedang berada di ruangan pakaian. Wanita cantik itu langsung berjalan menghampiri putrinya untuk mengecek keadaannya.


"Sisil, bagaimana keadaanmu?" Sambil membawa tangannya ke dahi Sisil untuk merasakan suhu tubuhnya. "Demamnya masih belum hilang. Kita ke rumah sakit, ya?"


Takut kondisi putrinya semakin parah, wanita itu meminta Sisil untuk ke rumah sakit agar sakitnya tidak berkelanjutan. Namun, dengan cepat Sisil menolak dan memastikan jika dirinya baik-baik saja.


"Atau kamu nggak usah ikut aja? Biar bisa istirahat dirumah? Nanti biar mama yang bilang ke papa kamu."


"Jangan, ma...." Sisil menyela dengan cepat. Terdiam sesaat sebelum kemudian menyambungkan kalimatnya lagi yang terdengar seperti sebuah kalimat penyesalan. "...aku udah janji sama papa. Dan aku nggak mau membuatnya kecewa. Aku udah pernah buat kalian kecewa karena kesalahan aku di masa lalu. Dan aku mau memperbaiki semuanya. Mama percaya kan, sama aku?"


Ibu Sisil tersenyun haru mendengar pengakuan putrinya. Dengan gerakan perlahan tangannya menyentuh wajah Sisil dan menepuk pelan pipinya.


"Mama percaya sama putri mama. Yaudah, mama bantuin pilih-pilih bajunya ya?"


"Nggak usah, ma. Aku bisa sendiri kok. Mama juga harus nyiapin keperluan kalian nanti kan?"


"Baiklah kalo itu mau kamu. Panggil mama kalo butuh sesuatu ya?"


Seketika Sisil menganggukkan kepalanya tanda mengerti sambil berdiri tersenyum memperhatikan ibunya yang berjalan keluar dari kamarnya.


●●●


Sambil berjalan mondar-mandir di depan pintu kamar, Dimas tampak gelisah dengan wajah yang tidak bisa menyembunyikan kesabarannya. Hampir satu jam dia berdiri disana dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana yang senada dengan warna tuxedo yang ia kenakan.


Berkali-kali matanya tertuju ke arah pintu. Sambil berharap-harap cemas menunggu pintu terbuka dengan menampilkan sosok gadis cantik yang dicintainya sedang bersiap diri. Entah sudah berapa kali dia melihat jam tangan menunggu kehadiran Meila yang sedang merias diri di dalam kamar.


Ceklak! 


Suara yang dinantikan akhirnya terdengar. Setelah menunggu lama, pintu pun akhirnya terbuka. Terbuka perlahan hingga memperlihatkan sosok cantik nan anggun yang sedang berdiri menunduk malu di balik pintu. Tidak berani menatap Dimas yang sedari tadi menunggunya dengan tidak sabar.


Seakan begitu sempurna, Dimas sampai tidak berkedip saat melihat Meila yang berdiri di hadapannya sedang memasang wajah malu dan canggung. Dimas seakan terhipnotis, terpana, sekaligus terperangah melihat gadisnya yang tampak cantik nan anggun. Sudah ia duga, gaun yang Meila kenakan sangat cocok dan pas ditubuhnya.


Meila mengenakan gaun malam formal berwarna peach dengan sentuhan glitter yang memenuhi sisi depan dan belakangnya. Bahkan, tampilannya itu semakin memukau dengan adanya pita besar yang melingkari pinggang rampingnya. Sehingga menambah kesan imut dan manis padanya. Rambutnya dibiarkan tergerai. Dengan sisi kanan dan kiri yang dibiarkan di kepang kecil yang saling menyatu di ujung, dengan sedikit sentuhan poni renggang dengan anak rambut yang dibiarkan menjuntai hingga pelipis. Serta rambut panjangnya yang dibiarkan jatuh bergelombang. Hal itu juga semakin menambah sisi manis dan lembut begitu mata Dimas memperhatikannya dari ujung rambut hingga ujung kaki yang dibalut dengan high heels berwarna beige dengan hak yang tidak terlalu tinggi.


Perlahan, Dimas menghampiri Meila yang masih berdiri diam membeku. Sedangkan Meila, yang sedikit penasaran karena tidak mendengar tanggapan apapun dari Dimas, dengan hati-hati mulai menganggkat pandangannya.


"Ke-kenapa? Aneh, ya? Atau aku kurang cocok memakainya?"


"Ssstt...." Dimas menyela, meletakkan jarinya ke bibir Meila. "Jangan bicara. Biarkan aku mengagumi keindahan ini sebelum nanti semua orang memusatkan perhatiannya ke kamu." Lalu menggenggam tangan Meila, "You look so beautiful!" imbuhnya sambil menyelipkan helaian rambutnya ke belakang telinga yang diakhiri dengan usapan lembut di pipi yang berwarna pink menggemaskan itu.


Dengan pipi merona Meila berusaha menjawab, "apa... nggak apa-apa kalo aku ikut? Ini kan acara kak Dimas yang dipenuhi dengan kolega bisnis. Aku merasa nggak enak. Gimana kalo nanti aku cuma ganggu kamu? Atau malah bikin suasananya gak enak dan membosankan?" Sambarnya dengan tidak percaya diri.


"Siapa bilang itu akan membosankan? Gimana kalo sebaliknya?" Dimas berbalik berucap dengan kalimat tanya penuh teka teki. Hal itu membuat Meila semakin bingung sampai membuat Dimas tergelak melihat tingkah Meila yang polos.


"Kak,!"


Seolah tidak mau membuat gadisnya semakin canggung, Dimas akhirnya menarik dagu Meila dengan lembut. Membuat pandangannya tertuju padanya sambil berkata.


"Lihat aku,.." Pintanya. "...sebelum undangan ini sampai ke kamu, aku memang berniat untuk selalu mengajak kamu di pertemuan-pertemuan bisnis aku yang lagi berjalan. Bahkan kedepannya, kamu yang akan selalu menjadi pendamping aku. Bukan Henry, para pengawal, apalagi wanita lain." Imbuhnya dengan menekankan dua kata di akhir ucapannya. "Itu mustahil, Sayang." Sambil memberikan kecupan ke telapak tangan Meila dengan sangat lembut.


"Dan, ya, ada satu lagi." Lalu mengambil sesuatu dari kantung tuxedo bagian dalam miliknya.


Itu adalah sebuah kotak beludru kecil berwarna biru tua. Didalamnya terdapat gelang berlian indah yang sangat berkilauan dengan sambungan rantai tipis namun terlihat kuat. Sangat cocok dengan warna kulit Meila yang putih.


Sekejap, Meila dibuat terpana tanpa membuka suara karena bentuknya. Karena baginya, gelang tersebut sangatlah mewah jika dilihat dengan seksama. Di tiap rantainya terdapat kristal swarovski berwarna pink kecil yang berjajar rapi.


"Tadinya aku mau membelikan sebuah kalung dengan tema yang sama persis seperti gelang ini." Dimas mulai memakaikannya ke tangan Meila. "Tapi aku langsung mengurungkannya. Karena aku ingat, udah ada kalung itu yang membuatnya manis tanpa perlu apapun lagi untuk melingkari leher kamu. Jadi aku hanya perlu menyamai desainnya supaya bentuk rantai sama dengan kalungnya." Celoteh Dimas tanpa henti. "Lihat! Cantik, bukan? Sangat pas dengan tangan kamu yang mungil." Serunya ketika selesai memasangkan gelang.


"Kak, i-ini...."


"Aku udah menduga kalau kamu pasti akan keberatan. Tapi aku secara khusus mendesainnya agar dibuat persis seperti kalung itu. Jadi... kemungkinan kamu marah akan sangat kecil karena aku yakin rasa marah kamu gak akan lebih besar dari rasa suka kamu. Dan aku benar. Kamu terlihat sangat menyukainya." Pungkas Dimas sambil belum melepaskan genggaman tangannya pada Meila.


"....Kapan?" Akhirnya Meila bertanya.


"Beberapa hari yang lalu. Tepatnya saat undangan ini aku terima dan berniat akan mengajak kamu. Aku meminta Henry untuk mengambilnya kemarin karena akan aku pakaikan langsung hari ini." Dimas menjelaskan. Sementara pandangan Meila jatuh pada gelang tersebut sambil mendengarkan Dimas berbicara.


Secepat itu? Normalnya akan memakan waktu satu minggu kalau ingin memesan secara eksklusif. Dan itupun waktu yang paling cepat. Tetapi ini hanya perlu waktu tiga hari?


Dimas sangat tahu jika pilihannya sangatlah tepat. Meila sangat menyukainya. Terlihat dari cara gadis itu memandangi gelang yang melingkari pergelangan tangannya dengan mata berbinar dan wajah berseri-seri. Dimas sepertinya sudah mengenal Meila luar dan dalam. Gadisnya tidak menyukai hal-hal yang berbau mencolok dan menarik perhatian. Sama halnya seperti perhiasan. Meila lebih menyukai bentuk yang sederhana dan simpel. Terlepas dari kesan mewah atau tidaknya benda tersebut, dia akan menyukainya langsung meski bagi sebagian wanita lain itu adalah benda yang jauh dari kata mewah.


Dimas tersenyum melihat Meila yang masih belum berhenti memandangi gelang itu dengan takjub tak berkedip. Seolah dia baru saja mendapatkan harta paling berharga dalam hidupnya sampai-sampai tidak memerhatikan hal disekelilingnya termasuk Dimas yang ada dihadapannya.


"Kamu bisa memandanginya lagi nanti sepuas yang kamu mau." Lalu menggenggam tangan mungil Meila sambil menariknya dengan lembut. "Tapi sekarang, kita harus pergi karena udah hampir telat datang ke tempat acara."


Tanpa membantah, Meila mengikuti Dimas yang sudah menuntunnya dengan genggaman tangan lembut sambil menuruni anak tangga dengan hati-hati disertai senyuman manis. Lalu berusaha menyamai langkahnya pada Dimas sambil mengeratkan genggaman tangan Dimas padanya.