
"Sebelumnya aku minta maaf karena telah mengganggu waktu kalian."
James mulai membuka percakapan dan menjelaskan tujuan kedatangannya bersama Sisil.
Setelah membuat kedatangan yang cukup mengejutkan, mereka berempat akhirnya berkumpul di ruang tamu dengan saling membisu. Saling duduk berseberangan dengan masing-masing saling bersisian. Meila disisi Dimas, dimana wajah Dimas sedang menatap Sisil dengan tajam berbanding terbalik dengan Meila yang tampak penasaran. Sedangkan Sisil yang duduk bersisian dengan James yang sedang memasang ekspresi gugup tak terbaca, tampak salah tingkah mendapqtkan tatapan tajam dari Dimas. Dan untuk mencairkan suasana, James lah yang akhirnya memulai pembicaraan lebih dulu.
"Tujuan kami datang kesini, ingin melakukan sesuatu yang belum terselesaikan dengan baik. Dan itu denganmu, Mei." James menyebut nama Meila hingga membuat gadis itu benar-benar bingung dan terkesiap. Dimas yang tampak waspada juga seketika menaikkan alisnya.
"Aku? Kenapa?" Meila menjawab polos tanpa tau apa-apa.
James menoleh ke arah Sisil. Lalu membawa pandangannya lagi pada Dimas dan Meila yang sedang menunggu jawaban.
"Sisil kemari ingin berbicara denganmu. Dari hati ke hati. Dan itupun jika kamu mengizinkannya, Lex." James menatap Meila, kemudian bergantian menatap Dimas.
"Maaf, James," Dimas mengangkat suaranya dengan nada dingin. Akan menjawab ucapan James dengan bijak. "Aku tidak bisa dengan mudah membiarkan Meila berdua saja dengannya. Dengan apa yang dia lakukan di masa lalu, itu udah cukup membuat Meila trauma dan terpuruk. Aku tidak mau hanya karena mengizinkannya berbicara dengan Meila, itu sama artinya aku memberikan peluang untuknya menyakiti Meila lagi. Maaf kalau aku mungkin tidak sopan padamu. Tapi, aku yakin kamu mengerti maksudku."
James tersenyum tanpa merasa tersinggung sedikitpun. Dia sedikit terkekeh sebelum kemudian menyahuti Dimas dengan candaan.
"Tidak usah merasa tidak enak padaku, Lex. Kita sudah saling mengenal satu sama lain, dan aku mengerti kecemasanmu. Tetapi, tidak ada salahnya jika kita membiarkan mereka berbicara, bukan? Aku menjamin keselamatan Meila padamu. Tidak akan terjadi apapun padanya."
Dimas tampak masih belum yakin dengan perkataan James sepenuhnya. Tidak! Bukan pada James, tetapi pada sikap Sisil yang sudah dinilai buruk olehnya di masa lalu. Dimas lalu memperhatikan Sisil dengan seksama. Memberi tatapan intimidasi untuk menelisik ke dalam sikapnya yang terlihat salah tingkah dan gelisah.
"Apa kali ini aku bisa percaya padamu?" Dimas bertanya langsung pada Sisil tanpa menyebut namanya.
Mendengar dirinya sedang diajak bicara, Sisil pun terkesiap dan langsung mengangkat wajahnya dengan gugup.
"Aku nggak ada niat buruk sama sekali. Kamu bisa percaya padaku kali ini." Sisil menjawab pelan. Tidak ada nada kesombongan yang terdengar dari kalimatnya.
"Tapi, jika kamu melanggar perkatanmu, aku nggak akan segan-segan untuk......"
"Kak,..." Meila akhirnya menyela pembicaraan Dimas dengan menyentuhkan tangannya ke lengannya. Sudah sejak tadi dia ingin berbicara, tetapi dia lebih memilih diam dan membaca situasi. "Biarkan aku berbicara dengan Sisil, ya. Aku percaya sama dia." Imbuhnya sambil melirikkan matanya pada Sisil.
Mendengar perkataan Meila yang mempercayainya, seketika perasaan Sisil tersentuh dan rasa bersalah yang merayapinya semakin kuat. Ada perasaan tidak enak yang menyesakkan yang tidak dapat digambarkan.
Ekspresi Dimas langsung berubah saat Meila yang menyela pembicaraannya seolah meminta izinnya. Tetapi, bukannya langsung mengizinkan, Dimas kembali menatap Sisil dengan tatapan mengintimidasi yang kental seperti seorang psikolog yang sedang membaca ekspresi pasiennya.
"Ayolah, Lex. Meila sedang meminta izinmu. Aku berjanji padamu tidak akan terjadi apapun padanya." James menimpali sekaligus juga membujuk.
"Baiklah. Kalian bisa bicara di halaman belakang." Dimas akhirnya memberi keputusan yang membuat Meila tersenyum tipis.
"Sisil, ayo, kita ke bicara disana." Tanpa membuang waktu lagi, Meila langsung bangkit dan berdiri.
Mendengar ajakan Meila lembut, Sisil langsung menatapnya dan kemudian melihat ke arah James yang langsung menganggukkan kepalanya memberi persetujuannya.
Dan perlahan namun pasti, Sisil mulai bangkit dan berdiri sebelum kemudian berujar pelan kepada Dimas.
"...permisi,"
Setelah mengucapkan kalimat itu, Sisil langsung berjalan mengikuti Meila yang akan membawanya menuju halaman belakang. Yang dimana masih dalam pengawasan Dimas hingga Meila mulai berjalan menjauh dan hilang dibalik pintu yang menghubungkan halaman dengan ruang tamu.
"Ya... Jika kata-kata itu keluar dari mulutmu, aku masih bisa mempercayainya." Ujar Dimas sambil menghela napasnya.
"Oke. Sekarang katakan, sudah sampai mana penyelidikanmu tentang Dion? Aku mau mendengar perkembangannya."
Mendengar nama Dion yang terucap dari bibir James benar-benar membuat perubahan di wajah Dimas begitu cepat. Wajah yang tadinya santai seketika menjadi tegang disertai kemarahan. Belum lagi dengan rahangnya yang mengetat hingga menimbulkan bunyi suara gemeletuk yang James langsung bisa tangkap jika kali ini telah terjadi sesuatu diluar pemikirannya.
●●●
"Kita duduk disana."
Meila menunjuk pada kursi panjang yang berada tepat di bawah pohon. Tidak jauh dari sana, ada sebuah ayunan kayu yang menjadi tempat favorit Meila. Tempat dimana dia meluangkan waktu santainya ketika menikmati waktu luang atau saat setelah menyelesaikan tugas kuliahnya.
Tidak memberikan kalimat persetujuan, Sisil hanya mengikuti kemana Meila akan membawanya. Karena baginya, tidak penting apakah tempat itu nyaman atau tidak, karena yang penting sekarang adalah niat kedatangannya yang benar-benar ingin menyelesaikan masalah yang mengganjal perasaannya.
Seperti biasa, memang sudah menjadi sifat Meila yang tidak mudah menuduh dan selalu berpikiran positif, dia terlihat memasang wajah ceria dan ramah. Tidak ada rasa takut atau cemas saat bersama Sisil. Justru sebaliknya, Meila berusaha membangun suasana yang baik agar tidak ada yang merasa canggung di antara mereka.
"Nah, disini sejuk, kan, udaranya? Aku cukup sering menghabiskan waktu disini. Apalagi kalau tugas kuliah lagi banyak-banyaknya. Aku akan datang kesini, bermain di ayunan itu sambil memejamkan mata. Menikmati angin sejuk yang langsung membuat pikiranku jernih lagi." Meila tersenyum sambil menghirup udara sejuk yang berhembus. "Haaahh... rasanya ringan banget. Iya, kan?"
Meila tau jika Sisil pasti merasa gugup untuk memulai pembicaraan. Maka dari itu dia sengaja mencairkan suasana agar mereka bisa berbicara tanpa ada rasa canggung.
"Oh, iya. Gimana kuliah kamu? Apa kamu nyaman dengan jurusan yang baru?"
"Hmmm... cu-cukup nyaman. Gue... gue ngerasa nyaman dengan itu." Meski gugup, Sisil berusaha untuk mengatasi kegugupannya.
"Syukurlah," Meila berujar senang. "Aku ikut senang kalau kamu nyaman dengan jurusan yang baru."
"I-iya."
"Eh, gimana kabar om dan tante? Udah lama banget aku nggak ketemu mereka. Tolong sampaikan ke tante, ya, aku suka banget sama cheese cake buatannya."
"I...iya, nanti gue sampein ke mama."
Meila memulas senyum pada bibirnya yang tipis. Lalu menatap Sisil sambil membuka inti pembicaraan.
"Kak James bilang, ada yang mau kamu bicarakan sama aku. Apa itu?"
Sambil memilin-milin jemarinya yang mulai basah berkeringat, Sisil tergeragap bingung ketika akan menjawab pertanyaan Meila. Tetapi untuk mengatasi kegugupannya, dia terus merapalkan kalimat dalam hati jika dia benar-benar harus menyelesaikan masalahnya dengan baik, dengan tenang, dengan cara meminta maaf yang benar. Karena dengan cara itulah perasaannya yang sesak akan menjadi lega. Dan beban yang menumpuk akan lebih ringan.
"Gue... kedatangan gue kesini sebenarnya mau minta maaf sama lo." Meila terkejut mendengarnya. Kedua matanya hampir membelalak karena tidak bisa mengontrol rasa terkejutnya. "Gue mau minta maaf buat semua kesalahan gue sama lo di masa lalu. Gue udah merugikan semua pihak terutama sama lo. Gue tau, permintaan maaf gue ini udah terlambat. Tapi gue benar-benar merasa bersalah sampai dada gue terasa sesak kayak ada sesuatu yang mengganjal. Gue sadar, keegoisan yang timbul dari rasa iri dan dengki gue udah membutakan segalanya." Sisil terdiam sesaat sambil memberanikan diri membalas tatapan Meila. "Lo mau maafin gue, kan? Lo mau maafin orang yang udah jahat dan merugikan lo ini, kan?"
Meila diam tak bergeming mendengar pengakuan Sisil yang diluar dugaan. Dia sempat berpikir jika Sisil mungkin akan membicarakan masalah lain diluar pembicaraan soal masa lalu atas keterlibatannya. Tetapi, Sisil malah datang untuk meminta maaf dan memohon untuk dimaafkan.
Jika boleh diulang kembali, kejadian itu memang cukup menimbulkan trauma yang membekas untuk Meila. Tetapi dengan adanya trauma itu, bukan berarti dia tidak memaafkan Sisil. Justru sebaliknya. Meila sudah memaafkan Sisil jauh sebelum perempuan itu meminta maaf padanya.
"Mei? Lo mau maafin gue kan?"
Sisil mulai gusar dan kembali memanggil nama Meila yang belum merespon. Sampai-sampai, tanda kecemasan di wajahnya langsung terlihat begitu perkataannya belum mendapatkan respon apapun dari lawan bicaranya.