A Fan With A Man

A Fan With A Man
Gelisah



Sambil duduk bersandar, Dion tampak tersenyum penuh arti dengan selembar kertas di tangan. Entah apa yang sedang ia lihat. Dirinya tampak begitu senang seperti habis menang lotre. Bahkan, mungkin ini melebihi dari itu. Ya, dia telah berhasil menemukan alamat Dimas sekaligus mengumpulkan informasi tentang Meila.


Berkat kegigihannya, dia telah mendapatkan informasi keberadaan Dimas. Dari mulai alamat kantor perusahaan, kampus, serta alamat rumah yang ditempati. Begitu Shila memberikannya ide untuk menyelidiki identitas perempuan yang menarik perhatiannya, dia langsung bergegas kembali ke pusat perbelanjaan tempat kejadian Meila disekap. Sebagai langkah awal, dia mulai menemui supervisor mall. Menanyakan alamat keberadaan Dimas dengan alasan ingin memberikan informasi tentang perkembangan penyelidikan dua penjahat yang telah menyekap Meila. Dan mungkin dikarenakan Dimas merupakan salah satu pemegang saham terbesar di mall tersebut, dengan mudahnya dia mendapatkan identitas beserta alamat Dimas dengan lengkap tanpa harus menyulitkan dirinya memakai jasa detektif.


Dan saat ini, dengan lengkungan senyum yang lebar dia mengibas-ngibaskan secarik kertas berbentuk sebuah kartu nama di tangannya.


"Tunggu aku, cantik! Kita akan segera bertemu lagi."


Ucapnya seketika begitu kertas di tangannya ia lihat. Ditatap lekat dengan senyuman penuh makna dan juga rencana.


Kemudian, dihelanya napas panjang. Menatap ke langit-langit ruangan sambil membayangkan kembali pertemuan tidak terduganya dengan Meila.


"Aku sungguh nggak sabar menantikan hari itu," kemudian senyuman itu berubah menjadi senyuman mengerikan yang tidak dapat diartikan.


●●●


Waktu sudah menunjukkan senja. Lampu-lampu penerang jalan pun mulai menyala. Bersiap menyambut datangnya malam yang sedikit menghembuskan udara dingin dari warna abu-abu langit yang mendung.


Berada sendiri di dalam rumah yang besar dan bisa dibilang megah cukup membuat Meila kebingungan.


Setelah Henry mengantarnya pulang tepat di dalam halaman rumah Dimas, dia langsung bergegas mandi. Membersihkan diri dan mengganti pakaian rumahan yang nyaman dan sedikit longgar tanpa polesan make-up. Rambutnya dibiarkan di gerai setelah disisir rapi dan dikeringkan. Lalu, memutuskan untuk berada di ruang utama sambil memanjakan diri di atas sofa empuk yang luas dengan secangkir teh dan camilan biskuit susu yang Dimas telah siapkan untuknya di dalam kotak snack dekat mini bar. Dan sekarang, dia memilih menyibukkan dirinya dengan membaca buku-buku pemberian dari Dimas yang belum sempat ia buka.


Rasa kantuk pun mulai menyerang begitu dia telah membaca lembar demi lembar buku. Berkali-kali menguap dengan mata memerah, meminta untuk diistirahatkan sejenak dari aktifitas membacanya.


Dan disinilah dia, berbaring di atas sofa. Meringkuk manja sambil mendekap sebuah buku di dada. Terlena dengan cuaca mendung nan sejuk di luaran sana, seolah menanti guyuran hujan yang turun ke bumi dengan suara merdu yang jatuh membasahi atap yang kokoh.


Ceklek!


Suara pintu dari kunci yang diputar terbuka. Menampilkan sosok Dimas yang mulai memasuki ruangan dengan langkah ringan. Rambutnya juga sedikit basah dikarenakan rintik-rintik gerimis halus yang mulai turun. Dirasakannya suasana rumah yang sepi, tidak ada pergerakan dari suara gadis yang disayanginya.


Begitu Dimas akan menuju anak tangga, mata tajamnya menangkap sosok mungil yang diyakininya adalah Meila, sedang meringkuk di sofa. Menghentikan langkahnya, perlahan kaki Dimas langsung berbelok arah, berjalan menghampiri sosok mungil tersebut sambil memasang senyum.


Kakinya terhenti tepat di depan Meila, memperhatikan gadisnya yang tampak damai dalam tidur cantiknya. Dengan penuh kehati-hatian, Dimas duduk di tepi sofa. Mengambil novel di dekapan Meila dengan perlahan sebelum kemudian ia letakkan ke atas meja. Digerakkan tangannya untuk mengusap pipi Meila, bergerak dengan lembut hingga berubah dengan elusan sayang.


Cukup sekali elusan di pipi, Meila mulai menggeliat layaknya bayi. Kedua matanya mulai mengerjap perlahan, menyerap cahaya yang masuk hingga akhirnya membuka sempurna dengan pandangan yang langsung menatap Dimas.


"Kak, Dimas.. kapan kamu pulang?" Suaranya parau.


Tersenyum, Dimas menyahuti dengan tangan yang belum berhenti mengelus-elus pipi Meila. "Baru aja. Kenapa tidur disini? Udaranya dingin. Nggak pake selimut juga."


"Iya, aku ketiduran. Karena tadi aku bingung mau ngapain, jadinya aku baca-baca buku sampe nggak sadar udah ketiduran." Sahutnya pelan dengan bibir yang mengerucut ditambah mata yang sayu. "...sorry,..." sambungnya seketika.


Lagi, Dimas hanya tersenyum. Kemudian mengulurkan tangannya untuk membantu Meila duduk lalu mendaratkan kecupan ke keningnya dengan lembut. Begitu kecupan itu terlepas, mereka saling bertatapan beberapa detik hingga Meila sadar bahwa rambut Dimas yang sedikit basah berhasil mengganggu penglihatannya.


Tanpa diduga, jemari mungilnya menyentuh rambut Dimas dengan tatapan cemas. "Kak, kamu kehujanan? Kenapa nggak langsung mandi dan ganti baju? Nanti kamu sakit giman.....na?"


"Sssttt...." Dimas menyela sambil menggenggam tangan Meila. "Ini cuma kena gerimis aja. Kebetulan pas sampe, hujan mulai turun tadi. Aku akan minum vitamin nanti. Hm?"


Dengan polosnya, Meila hanya mengangguk dengan tatapan yang masih ragu. Namun, suara kekehan Dimas yang akhirnya terdengar diikuti sebuah pertanyaan.


"Are you worrying to me?"


Tidak menjawab, Meila hanya menatap lekat Dimas. Namun, tak urung dirinya bergumam pelan dengan salah tingkah karena ditatap terlalu intens olehnya. Lalu, mengalihkan pandangannya dari Dimas demi menghilangkan kegugupannya.


"Kemari,...." lengannya terbentang lebar, meminta Meila untuk datang ke dalam pelukannya. Dan, tidak menunggu lama gadis itu langsung mendekat dan memeluk. Merapatkan dirinya ke dalam pelukan hangat Dimas, melingkarkan lengannya ke punggung kokoh Dimas sambil melengkungkan senyuman.


"Sayangnya aku," ucap Dimas berbisik sambil menghujani Meila dengan kecupan kecil ke pucuk kepalanya.


Setelah beberapa detik saling berpelukan, Dimas menjauhkan tubuhnya. Mengusap batang hidung Meila yang lancip seraya berkata,


"Aku mandi dulu, ya? Setelah itu kita makan malam. Okay?"


Sambil mengangguk, "okay.." kemudian memberikan senyuman manisnya pada Dimas yang langsung disambut elusan lembut yang mendarat ke rambut kepalanya.


●●●


Sisil juga sudah meminum air putih hangat seperti yang mamanya sarankan. Namun, rasanya malah semakin gatal dan tidak nyaman.


"Tenggorokan gue kenapa si? Badan juga kayak nggak enak gini." Ucapnya ditengah-tengah pijatan ke lehernya.


"Apa mungkin terkena polusi asap kemarin?" Sisil menduga-duga.


Disaat Sisil masih bergumam, suara ibunya sambil membuka pintu membuyarkan ingatannya.


"Sisil, mama bawakan air lemon hangat untuk kamu. Ini bisa membantu meredakan tenggorokan kamu yang sakit." Ibunya berjalan mendekati ranjang dan berdiri di samping Sisil sambil memberikan segelas air lemon untuknya. "Ini diminum selagi masih hangat."


Tanpa bertanya layaknya anak yang patuh, Sisil langsung meminumnya dengan perlahan.


"Makasi, ma." Ucap Sisil begitu dia selesai meminumnya.


Ibunya tersenyum sembari mengambil gelas yang ada di tangan Sisil.


"Setelah ini langsung istirahat, ya. Kamu ingat, kan, besok kita ada undangan pesta perjamuan makan malam dari kolega papa kamu?"


Seketika kedua matanya mendelik, mengingat jika undangan itu adalah dari pria menyebalkan yang sedang berseteru dengannya kemarin.


"Apa aku harus ikut juga? Nggak bisa mama sama papa aja gitu?"


Ibunya menggeleng, "nggak bisa, Sisil. Lagian kamu udah janji di depan papa kamu kemarin. Masa kamu mau batalin gitu aja?"


Nggak ada yang bisa Sisil bantah, dia hanya bisa menghela napas lesu. Memang benar, dia sudah terlanjur berjanji dengan Adrian dan itu terjadi di depan James karena Sisil tidak mau mengecewakan papanya. Dan esok, dia harus bertanggung jawab akan janjinya.


".....iya,...." akhirnya Sisil menjawab dengan suara malas yang nyaris tidak terdengar.


Kini ibunya tersenyum lembut, "yaudah, istirahat, ya. Good night, sayang." Lalu memasangkan selimut tebal ke tubuh Sisil sambil mengusap lembut dahinya. Setelahnya meninggalkan Sisil tertidur lelap seorang diri sebelum kemudian mematikan lampu kamarnya yang ada di ujung pintu masuk sambil memasang senyuman teduh khas seorang ibu.


●●●


Meila terlihat sedang menggulingkan tubuhnya dengan tidak nyaman. Sudah berulang kali dia membalikkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri. Mengubah posisi tidurnya yang gelisah dengan mata yang tidak mau terpejam. Malam sudah hampir larut, dilihatnya Dimas yang sedang tertidur di sampingnya sudah terlelap sejak satu jam yang lalu dengan dengkuran halus yang menyenangkan.


".....Nggak bisa tidur,...." rengeknya sendiri dengan pelan yang dibalut sedikit kesal.


Dia berbaring ke kiri, menghadap pada Dimas dan memandangi wajahnya sebelum kemudian berusaha terpejam. Namun, tetap tidak bisa. Dia pun berpindah posisi berbaring ke kanan, membelakangi Dimas menggunakan sebelah tangannya sebagai bantalan kepala yang ia selipkan ke bawah bantal. Tapi lagi-lagi bukannya terpejam, justru gerakannya itu malah membangunkan Dimas.


"Kamu belum tidur?" Dengan sedikit serak, suara Dimas terjeda sejenak, hingga beberapa detik berucap lagi. "Kenapa....?" Kali ini terdengar begitu lembut bercampur parau.


Sedikit kaget dan bersalah karena telah membangunkan Dimas dari tidurnya, Meila membalikkan tubuhnya dengan pelan. "Aku... nggak bisa tidur, kak." jawabnya dengan perasaan tidak enak.


Kali ini kedua mata Dimas sudah terbuka sempurna. Kedua alisnya mengernyit sedikit sambil menyahuti dengan penuh perhatian. "Mau dibuatkan hot coklat?"


Dimas menawarkan Meila coklat panas karena dia melihat jam yang baru menunjukkan pukul sebelas malam.


Sambil menatap Dimas, Meila menggeleng.


Dimas memperhatikan Meila beberapa detik sebelum kemudian dia beranjak bangun dan mengambil segelas air putih yang ada di atas meja nakas samping ranjang.


"Ayo, bangun." Ajaknya perlahan. "Diminum dulu."


Meski sempat merasa bingung, akan tetapi Meila tidak membantah ataupun menolak. Dengan patuh dia beranjak bangun untuk duduk dan meminum dua teguk air yang Dimas berikan demi membasahi kerongkongannya. Setelahnya, Dimas menyuruh Meila berbaring kembali dengan dia yang merentangkan lengannya pada Meila untuk digunakannya sebagai bantalan kepalanya.


Tubuh Dimas merapat. Menarik selimut tebal hingga membungkus keduanya. Lalu menggerakkan tangannya untuk memeluk pinggang ramping Meila dan menariknya perlahan agar semakin rapat. Lalu menepuk-nepuk punggung Meila dengan gerakan lembut seirama.


"Sekarang, tidurlah..." Bisiknya dengan wajah menunduk dengan bibir setengah menggesek ke pucuk rambut Meila.


Meila pun mendongak, "maaf, karena udah ganggu tidur kamu dan buat kamu kebangun." Ucapnya dengan kalimat rasa bersalah.


Dimas tersenyum, "asalkan bisa buat kamu nyaman, aku nggak akan pernah ngerasa terganggu." Sahutnya. Lalu memberikan kecupan lembut ke kening Meila.


Seperti sudah terbiasa, Meila langsung bersandar manja. Mengusak-usak wajahnya ke dada bidang Dimas sebelum akhirnya menelusup ke lekukan antara leher Dimas yang hangat dengan aroma parfum khasnya yang menenangkan. Mulai terpejam dalam tepukan-tepukan lembut penghantar tidur di punggungnya. Terhanyut dalam irama detak jantung Dimas yang begitu dekat memenuhi indra pendengarannya.