A Fan With A Man

A Fan With A Man
Fase Keegoisan Diri



James memasuki komplek perumahan mewah yang dikelilingi dengan rumah-rumah megah. Dia mengendarai mobilnya dengan berpakaian santai. Jaket comfy berwarna hitam dengan kacamata hitamnya yang senada tampak membuatnya sangat berbeda dibandingkan semalam.


Saat sudah di persimpangan jalan, tepatnya persimpangan empat arah yang terdapat bundaran taman memutar, dia membelokkan mobilnya ke kiri dan menghentikan lajunya setelah melewati tiga blok perumahan yang menjadi tempat tujuannya.


Rumah mewah itu dijaga oleh petugas keamanan yang selalu siap siaga. Dan James berhenti tepat di depan pos keamanan itu sebelum kemudian membuka kaca jendela mobilnya.


Sebelum James membuka mulutnya, dia telah lebih dulu dihampiri seorang petugas yang langsung berdiri di samping mobilnya dengan sikap sempurna.


"Tuan James?" Sapa petugas itu.


"Ah, kau masih mengingatku rupanya." James berkelakar. "Tuanmu ada di dalam?"


"Ada, tuan. Beliau sedang sarapan. Tuan mau langsung masuk atau saya hubungi dulu jika ada tuan James datang?"


"Tidak perlu. Biar aku langsung masuk saja. Aku ingin mengejutkannya."


"Baik, tuan. Silahkan.."


Petugas itupun langsung membukakan pintu gerbang besar dan James langsung memasuki halaman luas tersebut dengan membunyikan klakson mobilnya tanda terima kasih disertai lambaian tangan.


Begitu mobilnya sudah terparkir, James keluar dari mobil itu dan berjalan di jalanan setapak menuju pintu masuk utama. Dia menekan sebuah bel beberapa kali yang tak lama kemudian terdengar suara gagang pintu yang diputar dan dibuka kemudian.


James sempat terkejut dua detik dengan apa yang dilihatnya sebelum akhirnya dia menyadari kalimat yang terdengar dari dalam, yang terdengar begitu lembut.


"Siapa yang datang, sayang?"


Suara yang sampai ke telinga James membuatnya memulas senyum simpul hingga akhirnya dia berhasil menyimpulkan sebuah dugaan yang sudah pasti dan tidak akan salah.


"Mmm... i-itu..." Jawab Meila gugup.


James akhirnya menyandarkan dirinya ke dinding dengan kedua lengan bersedekap disertai helaan napas panjang.


"Haaahh...! sepertinya aku tau alasan seseorang meninggalkan sebuah pesta tadi malam dengan sangat terburu-buru!"


●●●


"Your popcorn,"


"Waaahh... thank you."


Keputusan yang mereka buat untuk bermalas-malasan di rumah adalah hal yang tepat. Menggunakan waktu di akhir pekan dengan menonton film dengan orang tersayang membuat waktu kebersamaan menjadi lebih berkualitas.


Rendy dan Vika akhirnya memilih untuk menonton film sebagai quality time mereka berdua. Setelah sarapan, mereka mencuci peralatan makan bersama dan meletakkannya ke tempat semula.


Setelah itu, Rendy menyuruh Vika untuk naik lebih dulu dan memilih film mana yang akan mereka tonton. Sementara dirinya menyiapkan snack berupa popcorn dan juga soda. Setelah menunggu hampir setengah jam, akhirnya Rendy datang dengan membawa nampan berisi semangkuk popcorn jumbo lengkap dengan soda.


Didukung suasana romantis dan film yang juga romantis telah di pilih Vika. Duduk bersandar berdampingan dan saling merangkul adalah salah satu cara yang romantis pula.


"Jangan begitu duduknya. Kemari!"


Rendy menarik Vika agar semakin dekat dan mulai merangkulkan lengannya ke bahu perempuan itu. Vika sendiri langsung bersandar nyaman ke bahu Rendy sambil memangku semangkuk popcorn.


"Sayang banget kalau nonton filmnya biasa-biasa aja. Bahkan di bioskop sekalipun, beberapa pasangan nggak akan melewati hal-hal romantis mereka sedetikpun."


"Kamu lagi mengambil kesempatan dalam kesempitan, kan?" Vika mendongak dengan ekspresi mata menyipit.


"Ruangan ini cukup luas, bukan kesempitan. Oh, atau kamu mau menjauh aja? Kamu duduk disini, dan aku di sofa seberang sana?" Ucap Rendy memancing.


"Ih, kamu nyebelin!" Vika memberikan pukulan ringan ke dada Rendy yang langsung disambut gelak tawa.


Rendy lalu mempererat rangkulannya. "Kamu tau, sebelum bertemu kamu lagi, aku nggak pernah memasuki ruangan ini."


Vika mendongak sambil memakan popcornnya, dan berbalik bertanya.


"Kenapa? Oh apa jangan-jangan kamu nggak suka nonton?"


Adapun pertama kali mereka akan berkencan saat Rendy mengajak Vika untuk makan malam dan berniat untuk melamarnya. Serius dengannya dengan sebuah perjanjian suci di antara keduanya. Namun hal itupun gagal dikarenakan musibah yang menimpa Ayah Vika yang mengharuskannya tidak menemui Rendy.


"Bukan. Bukan itu. Karena memang nggak ada seseorang yang aku pengen ajak ke ruangan ini. Dulu, aku selalu berpikiran kalau suatu saat nanti kita akan nonton film bersama sebagai sepasang kekasih seperti sekarang. Tapi hal itu belum pernah terjadi dan akhirnya baru sekarang bisa terwujud."


Mendengar pernyataan Rendy membuat Vika merasa bersalah. Dia menyadari kalau itu menjadi kesalahannya juga di masa lalu.


Ekspresi Vika berubah sendu.


"Aku minta maaf kalau saat itu tanpa sadar udah menyakiti hati kamu. Aku belum bisa berfikir panjang untuk segala sesuatu yang menyangkut tentang perasaan. Bahkan aku nggak punya keberanian untuk berkata terus terang sama kamu. Jangankan untuk terus terang, rasanya... untuk ketemu kamu pun aku merasa nggak percaya diri."


Rendy menunduk seraya mengelus-elus rambut Vika dengan lembut.


"Kamu nggak perlu minta maaf, Vika. Karena dari kesalahan itu, ada campur tangan aku juga yang saat itu terlalu egois untuk menerima semuanya. Aku sangat egois karena nggak pernah mau mendengarkan alasan kamu meski kamu memohon-mohon. Ya... mungkin karena aku yang terlalu berekspesktasi lebih dan berfikir kalau semuanya pasti berjalan sesuai keinginan. Tetapi nyatanya, nggak semua yang kita inginkan akan tercapai. Kita harus melewati tahap-tahap dimana segalanya tidak sesuai harapan."


Lalu Rendy tersenyum hangat saat dia menunduk lagi dan mencium pucuk kepala Vika dengan penuh perasaan.


"Tetapi sekarang, semuanya udah kita lewati bersama, kan? Kamu dan aku, udah berhasil melewati fase keegoisan masing-masing. Dan akhirnya kita bisa seperti ini."


Vika menatap Rendy sangat dalam. Menatap ke kedalaman mata Rendy yang meneduhkan.


"Aku selalu mencintai kamu, Rendy. Nggak pernah satu hari pun aku nggak mikirin kamu. Bahkan saat pertunanganku dengan James pun, seluruh pikiran dan perasaan aku selalu dipenuhi sama kamu tanpa terkecuali." Tangan Vika bergerak mengambil tangan Rendy dan menggenggamnya. "Bahkan pada saat pertemuan pertama kita di kampus, rasanya aku mau teriak. Teriak sekencang mungkin karena rasa bahagia yang aku rasa itu melebihi apapun. Aku sangat mengerti eskpresi kamu saat itu adalah ekpresi dingin yang jauh dari ekspresi hangat seorang Rendy yang aku sayang tiga tahun lalu. Tapi aku selalu yakin kalau suatu hari semuanya akan kembali seperti dulu cepat atau lambat. Dan aku bersyukur bisa menemukan sisi Rendy yang seperti itu lagi sekarang."


Rendy lalu mengusak-usakkan wajahnya ke kelembutan rambut Vika yang harum.


"Aku jauh lebih bersyukur kita bisa bersama lagi. Bisa saling mencintai lagi."


"Really?"


"Sure. Really sure."


Mereka saling menatap dan mendekat. Mendekatkan wajah masing-masing hingga hidung mereka saling bersentuhan sampai akhirnya Rendy memajukan wajahnya dan mencium bibir Vika dengan lembut. Mereka berciuman sampai beberapa detik dan melepaskannya saat Vika mulai tidak bisa mengatur nafas dan terengah.


Dengan bijak Rendy menghentikan aksinya itu dengan nafas yang sama-sama menderu. Dengan wajah yang masih menempel dan hidung yang saling menggesek hingga akhirnya saling memeluk dengan erat.


"Filmnya nggak jadi ditonton?"


"Nggak mau. Ini lebih menyenangkan dibandingkan itu," ucap Vika berseru manja dalam pelukan Rendy.


●●●


Dimas dan James tampak tertawa terbahak-bahak di ruang tamu. Di tengah-tengah itu, datanglah Meila dengan membawa sebuah nampan berisi teh dan camilan.


"Silahkan dinikmati teh dan camilannya,"


Meila menyuguhkan teh kepada James, lalu menyuguhkannya pada Dimas. Lalu meletakkan kue-kue di tengah-tengah mereka.


"Terima kasih, sayang." Ucap Dimas lembut yang membuat Meila menjadi malu.


"Haaahh... aku nggak nyangka. Padahal semalam kita ngobrol bareng sama Vika juga. Lalu akhirnya aku bertemu denganmu, Lex." menunjuk pada Dimas sambil menggeleng heran. "Benar-benar ajaib!"


Dimas terkekeh, "jadi kalian sempat ngobrol juga?"


Meila mengangguk malu-malu. "Iya. Semalam waktu aku lagi bareng-bareng kak Vika. Kak James mendatangi meja kami. Dan... dan secara pribadi, aku juga sekalian mau minta maaf ke kak James. Karena aku, kak Dimas jadi ninggalin pesta lebih cepat sebelum pestanya selesai."


"Gak apa-apa. Kamu nggak perlu minta maaf. Karena waktu itu aku lagi bersama Alex jadi tau gimana terburu-burunya dia."


Meila lalu melihat Dimas, dan pria itu melempar senyum lebih dulu padanya.


"Oke kalo gitu... kayaknya lebih enak kalo kalian ngobrol berdua aja. Aku akan ke kamar untuk melanjutkan tugas kampusku." Meila lalu beranjak dari sofa. "Kak James silahkan diminum tehnya."


"Kak, aku ke kamar, ya." lalu berbicara pada Dimas. Dan Dimas langsung mengerti apa maksudnya. Dia pun mengangguk paham.


Melihat interaksi antara Dimas dan Meila membuat James paham tentang begitu dalam perasaan Dimas pada gadis itu. Terlepas dari seerat apa hubungan mereka, yang pasti Dimas sangat ingin melindungi gadis itu entah apapun caranya.