A Fan With A Man

A Fan With A Man
Sinar obsesif



Napasnya sudah mulai teratur, tangannya mencoba meraih pinggiran wastafel dan berjalan tersendat-sendat dengan kaki masih setengah gemetar untuk membasuh wajahnya disana. Meila menatap dirinya dicermin, sekuat tenaga dia mengatasi serangan paniknya seorang diri setelah beberapa waktu dia tidak mengalami hal menyesakkan itu lagi. Beruntung toilet sangat sepi, tidak ada seorangpun yang keluar masuk seolah memang diperuntukkan untuknya bersembunyi agar tidak ada dari mereka yang melihat keadaan terpuruknya.


Meila menarik nafas dalam, menatap wajahnya sendiri kemudian memejamkan matanya erat-erat. Tidak bisa dipungkiri bahwa, rasa takut dan traumanya masih sangat melekat dalam ingatannya.


Kenapa aku harus mendengar suara itu lagi? Kenapa?


Matanya kembali berkaca-kaca tatkala dahinya berkerut kencang menarik diri dari kecemasan. Meila membasuh wajahnya kembali untuk menghilangkan sisa-sisa air matanya yang merembes dipipinya, kemudian merapikan diri sebelum keluar dari toilet itu.


●●●


Dimas baru saja memasuki ruang senat. Dia melihat Rendy yang sedang memilah-milah buku yang akan ia susun di ruang perpustakaan nanti. Rendy yang menyadari kedatangan Dimas hanya melirikkan matanya dan menyunggingkan sudut bibirnya penuh ironi.


"Kemana adek gue? Lo nggak bareng sama dia hari ini?" Tanya Rendy pada Dimas tanpa mengalihkan matanya dari tumpukan buku-buku.


Dimas tersenyum ironi dan mendengus pelan, "lagi ke toilet dulu. Gue disuruh duluan," jawab Dimas sambil mendudukkan bokongnya pada kursi.


"Gue tawarin mau dianter apa nggak, eh malah gue dipelototin!" Dimas menyambung kembali sambil menarik ujung bibirnya ketika mengingat ekspresi Meila yang sedang memelototinya.


Rendy tergelak, hampir meledakkan tawanya. "Itu namanya cewek cerdas, Dim!" Rendy menggeleng dengan sedikit candaannya. Dan itu menular pada Dimas, mereka akhirnya tertawa bersama tanpa ada orang lain yang ikut serta. Sungguh, moment seperti ini sudah sangat lama terjadi sejak terakhir kali mereka kumpul bersama sebelum insiden balap liar itu hingga menyebabkan Dimas hampir di kirim ke Amerika oleh kedua orang tuanya. Tetapi saat ini, seolah rasa hangat antara persahabatan mereka tumbuh kembali seiring berjalannya waktu. Ditambah lagi, ada sosok Meila yang membuat mereka memiliki tujuan yang sama, yaitu melindungi dan menjaganya.


Tepat saat mereka masih tergelak, tertawa lepas tanpa merasa ada yang terganggu karena suara tawa keras mereka, saat itulah pintu ruangan terbuka hingga membuat tawa mereka terhenti seketika, membuat keduanya memalingkan wajah dan terfokus pada siapa yang datang. Kening mereka sama-sama berkerut ketika menangkap sosok mungil yang mereka sayangi memasuki ruangan dan sedang menutup pintu dibaliknya.


Wajahnya tampak sedikit pucat dengan tatapan kosong seperti habis mengalami hal mengejutkan. Pandangan Dimas beralih pada Rendy sambil menegakkan tubuhnya beranjak dari tempat duduknya saat itu. Rendy hanya mengangkat bahunya mengisyaratkan bahwa dirinya tidak tahu apa-apa.


"Are you okay?" Dimas menghampiri Meila ketika melihat langkahnya memelan dan sedikit lemas. Dimas memegang bahu Meila dan meremasnya lembut, kemudian menangkup wajah Meila dan mendongakkannya untuk menyusuri wajah Meila lekat-lekat.


"I'm okay..." Meila menjawab dengan suara serak sambil memaksakan senyum dibibirnya.


Dimas menghela tubuh Meila sambil merangkulnya erat dan membawanya duduk di kursi tempatnya tadi. Dimas langsung menuju tempat air minum yang ada disamping meja komputer kecil dan kembali lagi dengan membawa segelas air untuk Meila.


Dimas memberikan segelas air putih itu pada Meila dan meminumkannya.


"Kamu kenapa, dek? Ada yang ganggu kamu?" Mulut Rendy tidak sabar untuk tidak bertanya pada Meila. Dia ingin tahu apa yang menyebabkan adiknya itu pucat tidak seperti biasanya.


"Aku nggak apa-apa kak. Aku cuma sedikit pusing aja, kok!" Meila menjawab pertanyaan Rendy setelah dia meneguk air yang diberikan oleh Dimas.


"Kamu udah minum obat? Atau... kita perlu ke UKM buat kamu istirahat disana?" Dimas berucap dengan nada cemas.


"Nggak perlu kak, nanti juga ilang sendiri. Udah biasa kok." Meila menyambar ucapan Dimas dengan cepat untuk membuat pria itu agar tidak terlalu mencemaskannya.


"Kamu yakin?" Dengan mata penuh selidik, Rendy menimpali untuk memastikan. Meila hanya menganggukkan kepalanya dengan sebuah senyuman dari bibirnya.


Dimas dan Rendy saling beradu tatap, mereka menyadari bahwa ada yang sudah disembunyikan Meila dari mereka. Siapapun akan tahu dengan wajah pucat dan tatapan mata yang penuh dengan kecemasan menandakan bahwa orang itu sedang tidak baik-baik saja. Namun mereka memilih diam agar tidak membuat Meila semakin tertekan oleh pertanyaan mendesak yang ditujukan padanya.


"Selamat Pagi...!"


Suara lantang itu langsung memecah suasana tegang antara Dimas dan Rendy yang masih saling beradu tatap. Airin yang baru saja memasuki ruang senat dengan dahi mengkerut dan sedikit bingung, melihat dua pria itu yang tampak terlihat tegang dan ada juga Meila yang terlihat lemas seperti sedang sakit.


"Mei... lo kenapa? Muka lo kenapa pucet kayak gitu?" Sapa Airin ketika langkahnya terhenti disamping Meila dan langsung memegang pundak Meila. Airin sedikit membungkuk untuk mensejajarkan tubuhnya agar sejajar dengan Meila.


"Gue gak apa-apa, Rin. Cuma sedikit pusing aja." Jawab Meila berusaha menjelaskan.


"Lo udah sarapan? Atau.. kita ke kantin aja gue temenin? Yuk.." Airin mencoba mengajak Meila dengan membujuknya untuk ikut ke kantin. Minimal jika dia sudah sarapan, mungkin segelas minuman hangat akan sedikit meringankan rasa pusingnya.


"Gue udah sarapan, kok. Ini cuma sebentar aja udah biasa. Nanti juga ilang sendiri."


Dimas menjadi berpikir, kenapa tidak terpikirkan olehnya Meila sudah sarapan atau belum? Mungkin karena dia kesiangan tadi jadi tidak sempat untuk sarapan, tapi dia lebih memilih bilang 'sudah' agar dirinya dan Rendy tidak cemas?


Rasa bersalah tumbuh di hatinya, jika saja Dimas lebih memperhatikan itu, pasti dia akan menyuruh serta mengajak Meila untuk mengisi perutnya terlebih dahulu di kantin.


"Kamu ke kantin aja sama Airin, ya? Beli minuman hangat. Kalo harus minum obat, jangan lupa perutnya diisi dulu." Dimas berbicara lembut didepan Meila sambil sedikit membungkuk.


"Gak ada penolakan!" Dimas menyambar dengan cepat sambil meletakkan ujung jarinya di bibir Meila yang akan terbuka untuk menyanggahnya.


Akhirnya Meila menurut, seperti biasa dia tidak bisa menolak permintaan Dimas padanya. Terlebih lagi jika Dimas meminta dengan kata-kata lembutnya. Dia mengangukkan kepalanya perlahan, tersenyum pada Dimas sebelum dia berdiri dari duduknya. Mungkin benar, dia juga butuh suasana yang lebih ramai dengan udara yang bebas berhembus tanpa terhalang apapun agar rasa sesak didadanya serta paniknya itu sedikit teratasi.


"Aku akan nyusul kamu setelah tugas ini selesai. Iya kan, Ren?" Dimas mengucap janji sambil melirik ke arah Rendy. Seolah meminta persetujuan darinya.


Rendy langsung mengangukkan kepalanya cepat sambil mengedipkan matanya dengan lembut kepada Meila. Meila pun langsung mengerti, dia langsung menegakkan tubuhnya dan membalikkan badannya dengan Airin yang langsung menggandeng lengan Meila dengan cepat.


Dimas dan Rendy masih memperhatikan Meila sampai tubuhnya hilang dibalik pintu. Kemudian kedua pria itu saling beradu tatap kembali, Dimas langsung mengepalkan tangannya sedangkan Rendy memasang wajah menahan marah dengan kilatan tajam dimatanya.


●●●


"Dimakan kali nasi gorengnya. Jangan cuma diaduk-aduk kayak gitu."


Airin mengucapkan kalimat dengan nada sedikit mengejek itu kepada Meila begitu dia melihatnya sedang mengaduk-aduk nasi goreng yang sudah dirinya pesankan untuknya.


Ya! Airin memesan dua porsi nasi goreng untuk Meila dan untuknya sendiri.


Meila tampak meletakkan sendok yang ia gunakan untuk mengaduk-aduk nasi goreng itu, kemudian menarik napas dalam sebelum berucap.


"Gue gak nafsu, Rin. Lagian... gue udah sarapan tadi." Jawab Meila dengan suara lemas.


Airin menaikkan sebelah alisnya, mengamati Meila dengan lekat.


"Lo sebenernya kenapa, Mei? Cerita sama gue. Muka lo pucet banget tadi. Kayak abis liat hantu tau gak?"


Meila tersentak, dirinya terkesiap begitu pertanyaan Airin begitu tepat sasaran. Dia sendiri bingung untuk menceritakannya pada Airin, mengingat Airin yang begitu agresif ingin membalaskan kekesalannya yang tertunda pada Beno.


Ini lebih mengerikan dari sekedar hantu, Rin... Tapi gue masih belum bisa cerita sama lo untuk sekarang. Sorry, Rin...


Meila bergumam dalam hati sambil memalingkan wajahnya, "g-gue cuma pusing sedikit aja, kok. Beneran!" Tidak lupa Meila menyelipkan senyumnya dalam kalimatnya.


Airin menyipitkan matanya, "serius? Cuma itu aja? Gak ada... yang lain?" Tanya Airin sekali lagi untuk memastikan sambil memajukan wajahnya tepat ke hadapan Meila.


"Iya." Meila langsung menjawab dengan cepat.


"Yaudah makan dong nasi gorengnya buat lo minum obat. Kasian nanti mereka nangis karena gak masuk ke perut lo."


Sontak kalimat Airin itu membuat Meila terkekeh geli mendengarnya. Suaranya yang diimut-imutkan itu seperti suara anak kecil yang sedang merajuk manja pada ibunya. Akhirnya mereka tertawa bersama, dengan Meila yang mulai menyuapkan sesendok nasi goreng ke dalam mulutnya.


Dari kejauhan tampak seseorang sedang memperhatikan interaksi antara Airin dan Meila dengan tatapan penuh amarah. Dia mulai melangkah perlahan dengan penampilan yang sama sekali tidak bisa dikenali oleh siapapun. Tampak orang itu menengokkan kepalanya sejenak dan berkedip seperti sedang meminta izin dari seseorang. Dan orang itu adalah Sisil, rupanya Sisil sedang merencanakan sesuatu untuk sedikit mengusik Meila. Oh jelas! Jika orang itu adalah Sisil, maka orang yang tadi menoleh ke arahnya adalah Beno Aryatama.


Beno mulai menjalankan rencananya dengan mencoba membaur di kampus itu dengan kedok sebagai pengunjung lain. Beno mulai memasuki area kantin, dengan langkah tenang seperti sudah terlatih, dia melemparkan sisa puntung rokok yang masih menyala dekat dengan kompor gas pada salah satu bilik kantin. Setelahnya dia keluar kembali tanpa rasa ragu dan langsung bersembunyi ke tempat dimana dia berada tadi.


"Udah beres?" Tanya Sisil antusias pada Beno begitu pria itu sampai menghampirinya.


"Lo liat aja.. sebentar lagi bakal ada kehebohan disana." Jawab Beno sambil mengurai senyum licik dan kilatan tajam dimatanya. Begitupun dengan Sisil yang tidak bisa menyembunyikan wajah bahagia bercampur kilatan rasa dengki dimatanya.


●●●


"Mei, lo ngendus bau-bau aneh gak sih? Kayak bau kabel kebakar gitu?


Airin bertanya pada Meila yang sudah menyelesaikan makanannya yang tidak ia habiskan. Meila mengerutkan dahinya, mengikuti arah ucapan Airin yang langsung ikut mengaktifkan indera penciumannya.


"Iya ya, Rin.. gue juga nyium bau aneh." Sambil mengendus-mengenduskan hidungnya, Meila mulai merasa tidak nyaman dengan udara yang mulai menyesakkan dadanya.


Selang beberapa detik kemudian, muncul kepulan asap tebal dari salah satu bilik kantin yang tidak jauh dari tempat mereka duduk. Suasana menjadi riuh dan ramai seketika oleh teriakan-teriakan orang yang ada dikantin itu, tak sedikit juga mahasiswa yang berlalu lalang juga ikut meneriakkan suaranya agar terdengar oleh penjuru kampus supaya menjauh dari area kantin secepat mungkin.


Sulit bagi Airin dan Meila untuk segera keluar dari tempat itu, mengingat asap yang sudah mulai memenuhi ruangan sehingga menutupi pandangan mereka menuju keluar.


Airin dan Meila terbatuk-batuk, mereka berusaha untuk mengatasi rasa sesak didadanya untuk mencegah agar mereka tidak terlalu banyak menghirup asap itu.


"Rin, uhuk... uhukk... kita... kita gak bisa keluar. Disini.. hahh... uhuk... gelap banget, pandangan gue kabur. Hahh... hahh... napas gue juga... uhukk... mulai sesak,"


Meila berucap pada Airin sambil berusaha memegang dadanya yang sangat berat ketika bernapas.


"Uhukk-uhukk.. bertahan, Mei. Gue yakin bakal ada yang nolongin kita. Uhukk... lo jangan sampe pingsan, Mei. Gue gak kuat buat gendong lo."


Sungguh, Airin itu ajaib. Dalam suasana genting seperti itu dirinya masih berusaha melawak agar Meila tetap tersadar dan tetap terjaga.


Dimas tampak berlari tergesa-gesa begitu mendengar ada kepulan asap yang sudah mengelilingi kantin. Dia langsung mengingat bahwa Meila sedang berada disana. "Meila.. Meila.. kamu dimana?" Suara Dimas tampak begitu kencang ketika menerobos kepulan asap itu. Diterobosnya asap yang membumbung tinggi memenuhi area kantin, lalu dia mulai menyusuri tiap ruangan dengan meraba-raba dan sebelah tangannya lagi menutup mulut dan hidungnya agar tidak terlalu banyak menghirup asap.


"Meila..!"


Meila mendengar suara Dimas seperti samar-samar. Dia tidak begitu yakin dengan pendengarannya sendiri, mengingat dia terlalu sibuk untuk mengatur nafasnya.


Saat Dimas masih mencari-cari dengan menerobos asap, dia melihat dua sosok bayangan yang sedang berusaha berjalan dengan susah payah sambil terbatuk-batuk.


"Itu mereka!" Ucap Dimas antusias begitu melihat sosok Airin dan Meila yang hampir tidak terlihat dari kepulan asap. Dia langsung berlari tanpa menghiraukan betapa tebalnya asap itu, yang dia pikirkan adalah secepat mungkin mendekat dan menyelamatkan Meila dari sana.


"Hahh... Kak syukurlah kamu dateng. Uhukk-uhukk... hahh.. hahh.." Ucap Airin dengan suara serak.


Airin menyadari kedatangan Dimas begitu pria itu sudah mendekat pada mereka.


Meila tidak sanggup lagi untuk mengeluarkan sepatah kata dari mulutnya. Dia hanya fokus pada dirinya untuk menghirup udara tanpa diikuti oleh asap yang semakin menebal.


"Rin, kamu keluar duluan lewat pintu itu," Dimas berucap dengan suara beratnya, menyarankan sambil menunjuk ke arah pintu yang ia maksud. "Biar Meila sama aku."


Tanpa banyak bertanya lagi, Airin langsung mengangguk paham lalu berlari secepat yang ia bisa sambil menutup sebagian mulut dan hidungnya.


Setelah Airin beranjak pergi, Dimas langsung memfokuskan dirinya pada Meila yang saat itu masih berusaha mengatur nafasnya yang tersengal karena terlalu banyak mengirup asap. Dimas menangkup wajah Meila, sambil berusaha menenangkan gadis itu agar tidak semakin panik karena justru akan semakin membuatnya lebih sesak. Meila sendiri langsung menatap Dimas meski dengan kondisi matanya yang mulai berkaca-kaca karena terasa pedih.


"Dengerin aku," Dimas bersuara sambil berusaha membuat Meila menatapnya. "Tarik nafas... hembuskan... tarik nafas lagi... hembuskan lagi... ulangi terus perlahan-lahan, okay?" Dimas memberi instruksi dengan perlahan. "Kamu bisa kan? Jangan panik, okay?"


Dengan sedikit lemas, Meila menganggukkan kepalanya lemah atas instruksi Dimas untuknya. Kemudian, dengan cepat Dimas menggenggam erat tangan Meila sambil menutup mulut serta hidungnya namun juga tidak terlalu kencang sehingga masih ada ruang untuk Meila bernafas. Kemudian Dimas membawanya keluar dari kepulan asap yang sudah mulai memenuhi seluruh sudut area kantin dengan cepat.


Mereka akhirnya berhasil keluar dengan selamat tanpa luka sedikitpun setelah melalui beberapa penghalang seperti meja dan kursi. Kembali Dimas terfokus pada Meila yang kini ada dalam rangkulannya. Suasana diluar sudah semakin riuh dengan kejadian itu, sehingga mereka telah sibuk masing-masing dengan kondisi mereka sendiri.


Dimas masih menutup mulut serta hidung Meila dengan sebelah tangannya sambil menginstruksikan apa yang tadi ia ucapkan ketika masih didalam. Sedangkan sebelah tangannya lagi mengelus belakang punggung Meila dengan lembut.


Meila terus melakukan instruksi yang Dimas berikan, meski masih sempat terbatuk-batuk, rupanya sudah memberikan rasa lega pada dadanya yang tadi sangat terasa menyesakkan.


"Terus lakukan itu.. Tarik nafas.. hembuskan... ulangi terus sampe dada kamu tidak terasa sesak lagi." Dimas kembali mengingatkan Meila akan intruksinya.


Ketika dirasakannya nafasnya sudah tidak sesak lagi dan tidak terasa sakit, Meila memegang tangan Dimas yang menutupi mulut dan hidungnya untuk memberitahunya kalau dia sudah baik-baik saja.


"Sudah lebih baik?" Dimas berucap dengan tidak menyembunyikan kecemasannya.


Meila menarik nafas dalam, kemudian menganggukkan kepalanya lemah sambil menatap Dimas. Dimas mengamati keseluruhan wajah Meila dengan lekat, kemudian membawa gadis itu kedalam pelukannya, mengelus punggungnya lembut dan mendaratkan sebuah kecupan singkat di puncak kepalanya.


Secara otomatis Meila langsung menyandarkan kepalanya pada dada Dimas, mencium aroma menenangkan dari pria itu, aroma vanila yang manis berpadu dengan green tea yang menyegarkan hingga membuat nafasnya terasa semakin ringan.


"Aku cemas banget sama kamu begitu dengar kejadian ini, sedangkan kamu ada di kantin itu karena aku memaksa kamu untuk pergi kesana." Dimas berbisik sambil menggesekkan bibirnya pada kelembutan rambut Meila.


Meila hanya tersenyum lemah dalam dekapan Dimas sambil sesekali memejamkan matanya. Begitupun dengan Dimas, seolah dia tau Meila sedang mengulas senyumnya yang ia sembunyikan di dalam dekapannya, Dimas menghadiahkan sekali lagi kecupan hangat di pelipisnya lalu menjauhkannya sedikit dari dekapannya.


Mengingat mereka masih berada dalam ruang lingkup kampus yang siapa saja dapat melihat kedekatan mereka seperti itu. Dimas sama sekali tidak mempedulikan pendapat orang-orang terhadapnya, tapi dia tidak mau Meila mendapatkan cibiran dari mereka yang melihat sehingga akan membuat image gadis itu rusak karena sikapnya.


"Mei... Mei..." tampak Airin berlari-lari menghampiri Meila sambil menerobos kerumunan orang yang ingin melihat kejadian di kantin itu secara langsung.


Suara Airin yang melengking begitu kencang hingga membuat Meila langsung menolehkan kepalanya cepat. Meila hanya tersenyum lega melihat Airin yang tampak baik-baik saja sedang berlari menghampirinya.


"Syukurlah... lo gak apa-apa kan? Lo baik-baik aja kan? Napas lo gimana, masih sesak? Atau kita....."


"Gue gak apa-apa, Rin.. nafas gue udah lebih ringan kok." Meila langsung menyambar pertanyaan Airin dengan cepat. Membuat Airin terdiam karena sanggahan Meila.


Airin tampak lega mendengar jawaban sahabatnya itu, "gue mikirin lo begitu gue berhasil keluar dari sana. Sorry, Mei.. gue sempet egois begitu kak Dimas nyuruh gue buat keluar duluan." Kemudian rasa bersalah memenuhi perasaannya.


"Gak usah merasa bersalah gitu. Yang terpenting sekarang, lo selamat dan gue juga selamat. Kita semua berhasil keluar dari sana." Meila menjawab dengan tenang.


"Thank you kak, udah dateng tepat waktu buat nyelametin kita dari sana." Airin berucap tulus pada Dimas. Dimas hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Tak lupa juga dia menoleh ke arah Meila yang juga ikut tersenyum padanya, kemudian Dimas mengangkat tangannya untuk mengusap kepala Meila dengan lembut.


Terdengar suara langkah kaki yang terburu-buru menghampiri mereka. Mulai dari suara yang terdengar jauh hingga lama-lama mendekat dan akhirnya berhenti tepat di hadapan mereka yang sedang memisahkan diri dari kerumunan.


"Kamu gak apa-apa, dek? Ada yang luka?" Rendy terlihat menghampiri Meila sambil mengamati seluruh tubuh gadis itu dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Maaf kakak lama. Aku harus ke ruang dosen buat ngasih tugas secepatnya."


"Aku gak masalah, kak.. Yang penting aku sekarang baik-baik aja." Jawab Meila dengan senyumannya.


"Ngeliat kamu yang baik-baik aja kayak gini aku yakin Dimas pasti udah ngelakuin yang terbaik tadi." Rendy berucap sambil melirik pada Dimas.


"Thanks bro," Rendy mengalihkan pandangannya pada Dimas yang langsung ditanggapi oleh kedipan mata dan sikap tenangnya.


●●●


"Sial! Lagi-lagi cewek sok polos itu lolos lagi. Aargh!"


Sisil tampak marah begitu mengetahui Meila telah berhasil keluar dan diselamatkan oleh Dimas.


"Sebenernya apa sih kelebihan cewek itu sampe cowok kayak Dimas mau berkorban buat nyelametin dia?" Sisil memukul-mukul meja didepannya sambil mengeluarkan kekesalannya. Sedangkan Beno hanya terdiam dengan kilatan tajam di matanya.


Ada sebuah kilatan sinar obsesif di matanya yang menyalang tajam. Kemarahan Beno bukan pada Meila yang berhasil lolos, tentu didalam hati kecilnya dia merasa sedikit lega karena Meila bisa selamat dari sana. Yang menyebabkan kemarahannya adalah melihat kedekatan antara Dimas dan Meila didepan matanya sendiri sambil beradu tatap dan Meila yang terlihat nyaman dalam pelukan pria itu.


Apalagi Beno yang bisa merasakan tatapan Dimas yang tulus dan penuh sayang, dan Meila yang membalas tatapan Dimas dengan seyuman hangatnya yang tidak pernah ia tunjukkan padanya.


Seketika itu juga perasaan iri menguar didadanya, Beno mengepalkan kedua tangannya erat-erat. Tekadnya sudah bulat untuk mendapatkan gadis itu seperti keinginannya dulu yang belum sempat tercapai.