
"Gue juga kangen sama lo. Sahabat gue yang tomboy, yang sekarang udah sedikit feminim." Sahut Meila meledek saat dirinya sedang melakukan panggilan video dengan Airin yang disisipi dengan gelak tawa.
Sementara Meila mengobrol dengan sahabatnya, Dimas masih cukup memperhatikan saja dari dapur. Terkadang, dia melempar senyum yang disertai gelengan kepala saat melihat gadisnya berbicara. Dan hal itu sangatlah lucu baginya.
Mereka baru saja menyelesaikan sarapan. Dan saat Meila ingin membantu Dimas membereskan piring ke dapur, pria itu tidak memperbolehkannya. Alhasil, sambil menunggunya selesai, dengan iseng dia menghubungi Airin yang kebetulan sedang dalam perjalanan ke kampus.
Airin tertawa mendengar kalimat Meila. "Iya. Sedikit feminim. Step by step bakalan jadi girly gue." Kelakarnya yang disambut tawa bahak Meila. Pun hal itu tertular juga pada Dimas.
"Lo masih belum ngampus juga, Mei?"
"Belum. Hari ini gue masih harus check-up lagi buat buka perban dan pembersihan lukanya. Mungkin... besok gue udah mulai masuk." Lalu, dilirikkan kedua matanya ke arah Dimas sambil memulas senyum memohon seakan meminta izin. Dan Dimas langsung membalasnya dengan anggukan lembut.
Airin hanya ber-oh ria mendengar jawaban Meila. Namun tak urung dia menjawabnya, "semoga cepet pulih ya, sist. Biar kita bisa ngerumpi lagi." Imbuhnya.
"Ngerumpi? Gue nggak suka ngerumpi. Lo kali yang suka ngerumpiin cowok-cowok anak basket." Meila memberi ledekan kecil dalam kalimatnya.
"Yeee... enak aja! Lo bilang kayak gitu karena sekarang udah ada kak Dimas. Coba dulu waktu kita masih alay nontonin pertandingan basket, nyari spot nonton paling depan sambil teriak-teriak nggak jelas." Gelaknya disela jeda ucapannya. "Se-alay itu kita dulu."
Meila ikut tergelak sambil melirik pada Dimas. Dia setengah malu padanya karena Dimas mendengar ucapan Airin dengan sangat jelas.
Dia pun tak mau kehilangan kesempatan juga untuk menimpali ledekan sahabatnya. Meila akhirnya mengatakan hal-hal yang dulu pernah mereka lakukan.
"Bukannya lo yang duluan ngajakin gue buat nonton basket dan tiba-tiba jadi tim hore? Kan lo yang paling kenceng teriakannya tiap kali kapten basket cetak angka?"
"Ooh jadi si tomboy ini kelakuannya bisa alay juga?" Suara Bryant yang sedang menyetir terdengar dan menyahuti ucapan Meila dengan tiba-tiba.
"Eh, itu dulu ya! Waktu kita masih jadi junior." Airin menjawab dengan nada bantahan yang kental.
Meila hanya terkikik memandangi ponselnya sembari menimpali. "Iya tuh kak. Pacar kamu yang tomboy ngaku juga akhirnya."
Perlahan Dimas yang telah menyelesaikan sedikit pekerjaan di dapur langsung menghampiri Meila. Berdiri dibelakangnya dengan kedua lengan memerangkapnya dari belakang. Membuat Meila yang saat itu masih tertawa menengadahkan wajahnya pada Dimas.
"Oh, ya? Kayaknya aku juga baru tau kalo pacarku ini pernah alay." Dimas ikut menimbrung.
"Meila itu mantan cheerleader loh, kak. Bahkan dia itu jadi anggota cheers yang paling populer dulu." Sahut Airin menimpali.
"Itu dulu, yaaa...!" Meila ikut menjawab. Dimas pun menunduk, memberikan senyumnya sambil mengusak-usak kepala Meila dengan lembut.
Airin tertawa puas melihat Meila yang terlihat sedikit kesal.
"Rin, bisa tolong arahin kameranya ke Bryant?" Dimas meminta tolong.
"Bisa, kok. Wait..." kamera itupun akhirnya mengarah pada Bryant yang sedang fokus menyetir.
"Yes, bro?" Sapa Bryant sambil menoleh sekilas.
"Nanti jangan lupa kirimin ke gue materi projek dari dospem yang kemarin lo bilang itu. Biar gue bisa pelajaran dulu sebelum diselesai-in."
"Sip." Sambil memberikan jempolnya ke arah Dimas. "Anyway... kapan lo ngampus?"
"Besok, may be..." Dimas menyahuti dengan singkat.
"Okay. Serahin aja semuanya sama gue. Lo temenin Meila aja dulu buat check-up." Jawab Bryant dengan pengertian yang tentunya dia tujukan untuk Meila. "Cepet pulih, Mei. Biar bisa ngampus lagi. Semangat!" Imbuhnya memberikan kalimat motivasi untuk Meila.
Meila tersenyum tulus seraya menjawab, "makasih kak Bryant."
"Yaudah, sampai disini dulu saling ejeknya." Kalimat Dimas tertuju pada Airin dan Meila. Bahkan perkataannya itu langsung membuat keduanya tertawa. "Nanti disambung lagi karena kita juga harus berangkat sekarang." Kemudian Meila mendongak, pun dengan Dimas yang langsung menunduk.
"See you soon, Mei. Gue sama kak Vika menantikan lo di kampus."
"Thank you and Love you, sist. Sampein salam gue buat kak Vika juga. Daaahhhh..." tutup Meila sambil melambaikan tangannya pada Airin sebelum kemudian mengakhiri percakapan mereka.
Begitu Airin menutup ponselnya, dia tampak tersenyum senang. Bryant secara otomatis langsung menoleh dan senyumnya pun menular. Mereka saling memandang dan melempar senyum satu sama lain sambil menautkan telapak tangan dan bergandengan.
●●●
Dokter Yoga terlihat sedang membuka perban. Dengan perlahan, dia mulai membuka kain kasa yang menutupi area operasi perut Meila sambil sesekali mengompresnya dengan cairan antiseptik yang dibantu dengan seorang perawat. Disana juga ada Dimas yang sedang memperhatikan. Menemani sang kekasih yang tampak berbaring gugup namun berusaha untuk tetap tenang.
"Lukanya sudah mulai kering. Kondisinya juga sangat baik. Tidak meninggalkan komplikasi luka dalam." Ucap Yoga seketika tanpa menghentikan tangannya. "Kamu menjaganya dengan sangat baik, Dim." Imbuhnya kemudian disertai lirikan sesaat.
Dimas tersenyum. Namun tidak pada Meila yang tampak tersipu.
"Om akan berikan suntikan antibiotik untuk mempercepat proses penyembuhannya."
Mendengar kata 'suntikan', sontak membuat bola mata Meila membulat.
"Sun... suntik?" Ucap Meila terbata. Nada suaranya terdengar sedikit terkejut bercampur cemas. Hal itu memancing keingintahuan Dimas dengan pandangan lekat penuh duga.
Mungkinkah dia takut disuntik?
Seketika Dimas memulas senyum sampai tidak tahan untuk menggerakkan tangannya mengusap pucuk kepala Meila.
"Iya. Suntikan. Itu akan mempercepat pengeringan luka, juga sebagai antiseptik untuk mencegah terjadinya peradangan infeksi selain dari obat yang kamu konsumsi." Yoga menjelaskan dengan kalimat yang mudah dimengerti.
Yoga pun berjalan keluar untuk menyiapkan alat suntik. Meila yang masih terlihat gugup seketika menautkan jemarinya untuk mengusir kegelisahan dan ketakutannya akan jarum suntik.
Melihat gadisnya yang gelisah, Dimas berusaha menenangkannya dengan menggenggam tangannya yang terasa dingin dan berkeringat.
"Kamu bisa pegang tangan aku seerat mungkin untuk menghilangkan rasa takut kamu akan jarum suntik."
Ucapan Dimas sontak membuat Meila tersipu malu. "A-aku nggak takut, kok. Aku... cuma gugup aja." Sahutnya dengan suara pelan sambil menyembunyikan wajahnya.
Sesaat, Yoga kembali dengan jarum suntik di tangan sampai membuat Meila menelan ludahnya berkali-kali hingga tidak sadar telah menggenggam tangan Dimas dengan erat.
Yoga langsung mengarahkan jarum itu ke perut Meila, tepatnya di sekitar luka operasinya. Dengan mata terpejam, Meila menggenggam erat tangan Dimas, sementara Dimas mengusap-usap kepala Meila dengan lembut agar gadis itu sedikit lebih tenang.
Yoga pun memberikan intruksi. "Tarik napas... rileks..." sambil mengoleskan dengan kapas yang telah dibasahi oleh alkohol sebelum kemudian memasukkan jarum itu ke lapisan kulit perutnya. Selang beberapa detik jarum itu terasa seperti ditarik dengan adanya sedikit rasa sakit seperti digigit semut yang hilang dalam satu detik. Menandakan jika suntikan itu selesai dan keluar dari lapisan kulitnya.
Meila menarik napas lega begitu jarum itu lepas dari lapisan kulitnya. Matanya melirik ke arah Yoga sambil tersipu sebelum kemudian menoleh pada Dimas yang masih tersenyum padanya.
Dimas membantu Meila berdiri sebelum kemudian merangkul pinggangnya dengan posesif. "Hati-hati," lalu berjalan menuju meja konsultasi dan duduk berhadapan dengan Yoga.
"Dalam satu jam kedepan, kamu akan sedikit demam." Sambil melepas stetoskop, Yoga berucap. "Dan kamu, dim, jangan berikan obat apapun untuk menurunkan demamnya. Karena itu adalah reaksi dari antibiotik yang om suntikkan. Cukup kompres dengan air hangat, dan jangan konsumsi minuman dingin dulu. Karena itu akan memicu kram perut terutama di sekitar luka. Mengerti?"
"Baik, om." Sahut Dimas. Sedangkan Meila hanya mengangguk mengiyakan.
"Om percaya kalau kamu pasti akan menjaganya dengan baik. Hal itu terbukti dengan lebih cepatnya pemulihan pasca operasi." Yoga memuji Dimas. Pun dengan pria itu yang langsung tersenyum menanggapinya.
"Untuk konsultasi selanjutnya, kamu hanya perlu check-up rutin selama tiga kali pertemuan dalam satu bulan kedepan." Imbuhnya lagi sambil memulas senyum.
"Iya. Terima kasih, om." Kali ini Meila yang menjawab. Terdengar rasa gugup dalam nada suaranya sudah menghilang. Terlihat dari cara bicaranya yang disertai senyuman khasnya.
"Kalau gitu, kita permisi dulu, om." Ucap Dimas berpamitan.
Yoga mengangguk, "kalau ada apa-apa jangan sungkan untuk menghubungi om, ya?."
"Pasti, om. Sekali lagi terima kasih karena udah mau aku repotin."
"It's okay. Kamu rawat saja kekasihmu dengan baik. Dan kamu, cepat pulih ya..." lalu mencuri pandangannya pada Meila.
"Iya. Terima kasih sekali lagi." Kali ini, Meila tampaknya mulai terbiasa mendengar kata 'kekasih' yang akan selalu Yoga sematkan untuknya.
Setelah berpamitan, mereka pun keluar dari ruangan itu. Berjalan berdampingan dengan tangan Dimas sambil setengah merangkul Meila. Tepat ketika mereka berada di ujung lorong, suara gemuruh beberapa perawat tampak berjalan tergesa-gesa membawa pasien yang penuh dengan luka bersimbah darah di atas kereta dorong rumah sakit.
Dengan sigap, Dimas langsung menghalangi pandangan Meila dan menarik fokusnya dari sana. Sebab Dimas tahu, gadis itu pasti akan mengalami syok begitu melihat banyak luka dan darah mengingat kondisinya yang masih baru pulih.
"Ssshh.. jangan diliat..." ucap Dimas seketika sambil menutupi kedua mata Meila dengan setengah memeluk. Mereka sempat berhenti sejenak, membiarkan beberapa perawat melewatinya lebih dulu. Lalu, mendekapnya lembut seraya mengusap punggungnya, "it's okay... it's okay..." bisiknya.
Begitu semua perawat telah hilang dari pandangan mereka, Dimas langsung melepaskan tangannya, menatapnya lekat sebelum kemudian mengusap pipi Meila sambil berkata, "kita pulang, ya. Sepertinya obatnya udah mulai bereaksi." Sambil merasakan suhu tubuh Meila yang mulai menaik. Dan gadis itu hanya mengangguk dengan tatapan matanya yang mulai sayu.
●●●
Dengan membawa mangkok kompres dan secangkir teh hangat, Dimas menjalani anak tangga menuju kamarnya. Tempat dimana Meila mengistirahatkan dirinya yang demam sejak pulang dari rumah sakit. Seperti yang Yoga ucapkan jika dirinya akan mengalami demam, benar saja, begitu mereka sampai rumah, suhu tubuhnya semakin menaik namun tidak lebih dari 38,5⁰C. Itu menunjukkan bahwa kondisinya masih dalam tahap wajar dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Begitu mereka sampai rumah, Dimas langsung membawa Meila ke kamar dan membaringkannya, menutupinya dengan selimut, lalu mengukur suhu tubuhnya dengan termometer sebelum kemudian meninggalkannya ke dapur untuk menyiapkan handuk kompres juga mangkuk air hangat dan juga secangkir teh.
Dan sekarang, Dimas sudah hampir sampai. Dia masuk ke kamar itu dan bergegas duduk di samping Meila yang sedang setengah terpejam dengan dahi yang mengerut.
Dengan cepat, Dimas memasukkan handuk kecil kompres ke dalam mangkuk air hangat. Lalu, mengompres dahi Meila dengan perlahan sambil menekannya dengan lembut agar kehangatannya meresap. Dilakukannya oleh Dimas berulang-ulang sampai setelah dia rasa cukup, Dimas membantu Meila untuk duduk bersandar dan memintanya meminum teh hangat yang ia bawa.
"Diminum dulu tehnya,"
Tercium aroma teh peppermint yang menguar dari uap hangat yang masih mengepul.
"....Peppermint tea....?" Ucap Meila seketika dengan wajah menoleh.
Dimas tersenyum dan mengangguk, "pelan-pelan," dan berucap sambil membantu Meila memegangi gagang cangkir.
Beberapa saat kemudian, Meila menyudahi minumnya dengan mendorong perlahan cangkir itu pada Dimas. Sedangkan Dimas, mengusap bibir bawah Meila yang basah dengan teh sebelum kemudian meletakkan cangkir ke atas meja nakas.
"Apa ada lagi yang kamu butuhkan?" Sambil mengusap-usap pelan dahi Meila dengan ibu jari. "Atau kamu merasa pusing?"
Sambil menyandarkan kepalanya ke kepala ranjang, Meila menggeleng.
"Aku cuma perlu istirahat sebentar aja, kok. Nanti juga ilang demamnya." Lalu tersenyum sejenak dan berucap lagi, "it's okay..." imbuhnya pelan disertai senyuman lembut.
Ditatapnya Meila dengan lekat, dan diperhatikan kedua matanya yang sayu.
Menyadari dirinya sedang ditatap tanpa suara, membuat Meila bertanya.
"Kenapa?" Tanyanya dengan suara parau.
Tatapan Dimas berubah sayang disertai gerakan lengannya yang bergerak ke belakang kepala Meila sebagai sandaran. Lalu, sebelah tangannya lagi bergerak mencolek ujung hidung Meila seraya berkata,
"Aku cuma lagi perhatiin, kamu itu kalo sakit langsung bisa ditebak." Ucapnya. Kemudian mengusap matanya dengan gerakan lembut seirama. "Mata kamu yang indah ini langsung sayu, dan bibir kecil juga imut yang cepat kering kayak gini." Kemudian jarinya turun pada bibir tipis berwarna pink pucat milik Meila. Dan tanpa meminta izin, Dimas langsung menarik dagu Meila perlahan dan mendaratkan ciuman lembutnya di sana. Sedikit membasahinya, juga mencecapnya dengan penuh perasaan dan hangat.
Beberapa saat ciuman itu terlepas, Dimas menempelkan keningnya dengan kening Meila sambil terpejam. Namun tak urung dia mendaratkan kecupannya ke pelipis Meila sebelum kemudian mendekapnya hangat. Tulang pipi yang tadi sedikit pucat itu kini memancarkan rona merah karena ulah Dimas. Dan untuk mengalihkan rasa malunya, Meila bertanya dengan pertanyaan sama seperti malam sebelumnya.
"Apa aku udah bisa ke kampus, besok?" Suara Meila yang tiba-tiba membuat Dimas terdiam beberapa detik sampai akhirnya tertawa lepas.
"Kenapa kamu nggak sabar banget buat ke kampus sih, Sayang? Hm?"
"Karena emang aku punya kewajiban untuk kuliah, kan?" Jawabnya polos.
Dimas mendengus dengan senyuman sambil mengeratkan pelukannya pada Meila. Namun tetap dengan kehati-hatian begitu melingkari perut ratanya.
"Iya, kita ke kampus besok. Kamu senang?" Sahutnya dengan nada penghiburan yang kental.
Dan seolah melupakan demamnya, dengan wajah yang menengadah ke atas, Meila tersenyum sumringah seraya mengangguk penuh kesenangan sambil memeluk Dimas dalam kenyamanan.