
Meila mulai memilih dan mengambil barang-barang yang dibutuhkan. Dia hanya membeli seperlunya saja dan memang yang benar-benar diperlukan. Itu sudah lebih dari cukup dengan apa yang Dimas belikan untuknya beberapa waktu lalu.
"Kayaknya aku cuma butuh ini aja," gumamnya sendiri.
Sedangkan di koridor lain, Dimas masih mengecek barang-barang apa saja yang sudah diambilnya. Dan sekarang semuanya sudah sesuai dengan apa yang ia butuhkan, hanya tinggal menunggu Meila dan pergi menuju kasir di ujung dekat pintu masuk seperti yang sudah diucapkannya tadi.
Dimas mulai berjalan melewati sepanjang koridor. Tetapi, disaat sampai persimpangan ujung koridor seseorang tidak sengaja menabraknya. Hal itu membuatnya berhenti sesaat secara tiba-tiba. Pun dengan seseorang tersebut sambil terus mengucapkan kata maaf padanya.
"Sorry, sorry... gue nggak sengaja. Gue bener-bener nggak liat kalo......."
Rupanya itu adalah seorang wanita. Sambil mengucap kata 'maaf', kedua matanya tidak lepas dari pandangannya pada Dimas. Wanita itu terperangah, terkesima, sekaligus terpesona melihat ketampanan Dimas yang dibalut aura dingin nan acuh saat menyahutinya.
"It's okay. Nevermind." Diawali kibasan tangan, Dimas menyela tanpa ekspresi dan tanpa menunjukkan adanya ketertarikan sedikitpun. Dia malah merapikan barang-barangnya yang ada di trolly dan bergegas langsung berjalan menuju kasir tanpa menghiraukan wanita itu yang masih belum mau mengalihkan matanya dari Dimas.
Wanita itu menyeringai, memandangi punggung kokoh Dimas yang berjalan menjauhinya.
"Sikap dinginnya bahkan mengalahkan pendingin udara yang ada di sini." Lalu mendengus pelan sampai berucap kembali akhirnya. "Tapi.... gue jadi tertantang buat menaklukkannya."
Sambil masih memandangi Dimas, wanita itu memperhatikan sampai gerak-gerik terkecil darinya. Sampai sebuah pemandangan yang tidak mengenakkan baginya membuat tatapannya berubah sinis seakan tidak suka.
Rupanya wanita itu melihat Meila menghampiri Dimas. Dan yang semakin membuatnya tidak suka adalah sikap Dimas yang menyambutnya dengan hangat.
Melihat Meilanya tersenyum sumringah, hal itu menular pada Dimas. Dia ikut tersenyum sambil melihat pada keranjang barang yang ada di tangan Meila sambil mengeceknya satu persatu.
"Udah, pilih-pilihnya?"
Meila mengangguk dengan mantap.
Melihat barang-barang yang dipilih Meila hanya sedikit, membuat Dimas mengerutkan keningnya. "Cuma ini aja?" Tanya Dimas tidak percaya.
Kemudian mengambil alih keranjang belanjaan Meila dan meletakkannya pada trolly besar miliknya.
"Iya," diikuti dengan anggukan. "Aku cuma butuh yang perlu aja. Dan yang aku perlukan cuma ini." Sahutnya jujur namun dengan suara pelan.
Membuat Dimas terkekeh dengan kepala menggeleng.
Melihat Dimas dan Meila yang tampak akrab, membuat wanita itu sedikit kesal. Bahkan perlakuan Dimas pada Meila yang sangat lembut dan perhatian. Berbeda saat dia menyahutinya tadi, yang perbandingannya bagaikan langit dan bumi, sangatlah jauh berbeda.
Wanita itu sesekali memperhatikan Meila. Dan senyum tidak sukapun muncul di bibirnya.
"Oh, cuma anak kecil!" Desisnya sinis disertai nada meremehkan. Pun juga diselimuti tatapan cemburu.
Kembali ke Dimas, pria itu tidak menemukan barang yang Meila sukai pada keranjangnya.
"Tunggu sebentar," ucap Dimas tiba-tiba. Lalu, dia berjalan menuju outlet buah-buahan dan mengambilkan dua buah box strawberry segar yang sangat menggiurkan.
"Kamu melupakan ini, Sayang." Dengan suara lantang, Dimas berucap saat dia berjalan kembali mendekati Meila.
Apa? S-sayang?
Sontak kedua mata wanita itu membulat sempurna. Mendengar kata 'sayang' yang diucapkan Dimas untuk Meila, membuat wanita itu refleks mengepalkan kedua tangannya. Matanya pun seakan mengobarkan api cemburu nan iri.
Kedua mata Meila berbinar sempurna. "....Strawberry....?"
"Your favourite fruit,?"
Meila mengangguk, "....Thank you,...." ucapnya ceria yang dibalut dengan senyuman manis.
"Kita ke kasir?"
Kemudian mereka pun berjalan menuju kasir. Mengikuti barisan antrian untuk menunggu giliran. Meila yang berjalan di belakang Dimas membuat Dimas mengeluarkan kalimat protesnya.
"Badan kamu itu udah mungil. Jadi, jangan berjalan dibelakang aku." Sambil menarik lembut lengan Meila ke depan dan berdiri sejajar dengannya. "Jangan jauh-jauh dari pandangan aku. Hm?" Ditundukkan kepalanya dan berbisik hingga membuat Meila tersipu.
Wanita yang masih memperhatikan Dimas tak henti-hentinya menggerutu dan mengeluarkan sumpah serapahnya untuk Meila. Sesekali dia berdecak sebal kala melihat perlakuan Dimas yang sangat lembut dengan tatapan sayang penuh cinta.
Perlahan satu tangan Dimas bergerak setengah merangkul, mendekatkan hidungnya ke belakang kepala Meila untuk menghirup aroma rambutnya yang harum.
Lalu, sebuah dering ponsel dari kantung celana Meila berbunyi. Menandakan adanya pesan masuk ke ponselnya.
Sesaat setelah Meila membuka pesan, tiba-tiba dia tertawa dengan kedua mata menatap ke layar ponsel. Hal itu memancing keingintahuan Dimas untuk langsung menunduk penuh heran padanya.
"Kenapa? Siapa yang mengirim pesan?"
"Ini, liat deh," sambil mengarahkan ponselnya ke arah Dimas. "Airin kirim foto kalo mereka lagi kencan."
"Kencan?" Dimas tertawa. "Mereka ngeledek kita?" Tebaknya. Dia sudah tahu, pasti Bryant lah yang telah menyuruh Airin untuk mengiriminya pesan. Karena Bryant hafal bahwa Meila sedang bersamanya dimanapun dan kapanpun. Dan dia pikir kalau Meila belumlah sembuh dan masih harus membutuhkan istirahat untuk lukanya.
"Maksudnya... selfie?" Wajah Meila menoleh dan menengadah. Dimas mengangguk mengiyakan.
Lalu beberapa detik kemudian, dengan polosnya Meila mengarahkan poselnya pada mode selfie, sedangkan Dimas mengatur posisi nyaman dengan sedikit membungkuk dan menempel pada Meila. Sampai terdengarlah bunyi 'cekrek' di ponselnya.
"Kayak gini?" Meila bertanya dengan polosnya sambil memperlihatkan hasil foto mereka.
Tanpa menjawab, Dimas menggerakkan tangannya untuk menekan tombol 'send' dengan jari telunjuknya untuk dikirikan kembali pada Airin.
"....send....!" Ujarnya.
Meila terkikik geli melihat hasil foto mereka. Kalau dipikir-pikir, ini adalah foto selfie pertama mereka setelah memutuskan untuk menjalin sebuah hubungan. Sementara Dimas, hanya mengawasinya sambil menyeringai lembut, merangkulnya, lalu menyentuhkan hidungnya ke belakang kepala Meila, menghirupnya sambil mencuri kecupan dengan sayang.
Sementara di sudut koridor, wanita yang masih saja memperhatikan perlakuan Dimas pada Meila tampak sedang berdiri dengan mata memicing yang dibalut api kecemburuan. Bahkan tatapannya itu seperti sedang menjelaskan kalau ada sebuah tekad dan niat jahat yang akan direncanakannya nanti.
●●●
Kekehan Airin yang tiba-tiba membuat Bryant merasa ingin tahu. Seketika, dia mencuri pandang pada layar ponsel Airin yang saat ini sedang dipandanginya.
"Meila balas pesan kamu? Apa katanya?" Seakan Bryant sudah dapat menebak jika Meila membalas pesan yang dikirim oleh pacarnya itu.
Airin mengangguk sambil masih tertawa.
"Liat deh, kak." Mengarahkan ponselnya pada Bryant. "Ternyata mereka lagi belanja di Supermarket. Tebakan kamu meleset kali ini." Kikiknya geli.
Bryant tertawa. Dia mengira dengan kondisi Meila yang baru saja keluar dari rumah sakit, akan membuatnya istirahat untuk memulihkan kondisinya. Tetapi, Dimas malah mengajaknya untuk berbelanja bahkan di saat menjelang malam.
"Bener-bener deh si Dimas. Bukannya suruh pacarnya istirahat malah bikin kencan dadakan ke Supermarket." Ujar Bryant dengan kepala menggeleng.
"Aku pikir sih, bukan kak Dimas yang dengan sengaja ngajak Meila keluar rumah. Aku kenal Meila banget, kak. Kayaknya sih Meila yang maksa ikut kak Dimas buat keluar rumah. Ya.... maklum sih, beberapa hari ini kan dia nggak bisa keluar ruangan buat menghirup udara segar. Mungkin dia sedikit bosen." Pungkas Airin.
Bryant menghela napasnya, "ya... mungkin yang kamu bilang itu benar. Aku juga kenal seperti apa Dimas itu. Dia nggak mungkin ngebiarin orang yang dia sayang merasa nggak nyaman. Kecuali.... orang itu yang merengek dan memohon sama dia. Terlebih lagi orang itu Meila. Dia pasti nggak bisa nolak."
"Mmm.. bener juga sih. Apalagi kita juga tau hubungan mereka kayak apa." Kekehnya perlahan.
"Yang penting sekarang, kita nikmatin kencan kita malam ini." Suara Bryant berbisik sambil memeluk pinggang Airin dengan posesif.
"Oh ya?" Tiba-tiba Airin memasang ekspresi jenaka setengah memancing.
"Emang kita lagi kencan?"
Dengan dahi mengerut, Bryant menjawab. Jari-jari tangannya pun sudah bergerak, bersiap untuk mengelitiki perut Airin yang dia ketahui sedang mengerjainya.
"Oh, jadi gitu? Hm? Kita bukan lagi kencan? Iya?" Dengan gerakan cepat tanpa Airin bisa mengelak Bryant sudah mengelitiki perut Airin hingga membuat gadis itu refleks menggeliat dengan dipenuhi gelak tawa.
Tempat hiburan malam yang dikelilingi dengan lampu-lampu hias yang menyala-redup itu menambah kesan indah bagi mereka. Beruntung tidak begitu banyak pengunjung yang memenuhi. Hanya beberapa saja yang jaraknya cukup jauh dari tempat mereka berada.
"Cukup, kak. Cukup. Iya, iya, kita lagi kencan. Oke, aku ngalah. Please, stop!" Sambil memohon ditengah gelak tawanya, bukannya semakin menjauh dan membuat Bryant melepaskan aksinya, dia justru semakin merapat dan berakhir dalam pelukan Bryant.
Sesekali kecupan-kecupan ringan nan gemas mendarat ke pelipis dan pipi Airin secara bergantian. Mereka saling memeluk, menikmati keindahan malam yang membentang di bawah langit gelap nan cerah penuh bintang.
●●●
Setelah menunggu beberapa saat, Dimas dan Meila akhirnya mendapat giliran menuju kasir. Meila berjalan di depan Dimas, sementara sang pria dengan gentle berjalan dengan penuh perlindungan di belakangnya.
Disaat yang bersamaan saat Dimas sedang mengeluarkan barang belanjaannya ke atas meja kasir, dengan polosnya Meila mengambil sebuah permen lollipop yang berada di sudut meja kasir dekat dengan mesin scan otomatis.
Dengan polosnya Meila berkata sekaligus meminta,
"Aku boleh... ini?" Sambil mengangkat permen itu ke depan wajahnya kepada Dimas.
Dimas menghela napas, sekaligus memasang tatapan mata lembutnya yang disertai senyuman.
Dia mengambil sebuah permen lollipop lagi sambil kemudian menjawab, "nggak boleh lebih dari dua. Okay?" Lalu menaruh kedua permen itu ke atas meja kasir.
Kedua mata Meila membelalak kegirangan, lalu dia menghadiahkan senyuman paling manisnya untuk Dimas sebelum akhirnya berucap.
"...Thank you again,.." bisiknya setengah menjinjit. Dimas membalas dengan sebuah kedipan mata yang disertai elusan kepala sayang darinya.
Di sebelah barisan antrian kasir, tepatnya bagian sisi belakang dari posisi Dimas dan Meila berada, wanita yang masih saja penasaran akan kepribadian Dimas, rupanya belum mau memalingkan perhatiannya padanya. Meski berada di barisan belakang dan berbeda antrian meja kasir, wanita itu terlihat kesal dengan raut wajah muram penuh kecemburuan.
"Terima kasih," suara Dimas memecah lamunan wanita yang seakan tenggelam dalam pikirannya sendiri itu.
Semua barang belanjaan itu dibawa oleh Dimas. Tak satu kantung belanjaan pun Dimas membolehkan Meila untuk membawanya. Malahan, dengan menggunakan satu tangannya yang kokoh, dia menenteng semua kantung belanjaan. Sementara satu tangannya lagi dia manfaatkan untuk menggandeng tangan Meila dengan sengaja dan penuh rasa bangga sambil menebar senyum penuh cinta. Hal itu mengakibatkan semua mata pengunjung yang ada di supermarket itu tertuju pada mereka tanpa terkecuali. Pun dengan sepasang mata tajam dari wanita tadi yang semakin tersulut api cemburu, namun tidak mau memalingkan pandangannya bahkan sampai Dimas dan Meila masuk ke dalam mobil dan menghilang di ujung jalan.