A Fan With A Man

A Fan With A Man
Takdir



Dengan terburu-buru, Vika memasukkan buku-bukunya dengan kesal ke dalam tasnya. Entah sudah berapa kali dia menghela napas sejak menerima telepon dari pihak kampus yang memberitahukannya jika dirinya terpilih menjadi mahasiswa perbantuan pada universitas lain.


Tanpa dibicarakan dengan baik dan hanya melalui telepon, Vika sangatlah kesal jika harus menjadi mahasiswa dadakan yang sama sekali belum mengerti sepenuhnya dengan tugas-tugasnya.


"Kenapa juga harus gue? Main mutusin sepihak gitu, lewat telepon lagi!" Cebiknya kesal sambil menarik resleting tasnya dengan kasar. "Nggak tau apa, gue bakalan sibuk buat ngatur jadwal pemotretan gue!" Sambungnya lagi sambil menghentakkan kakinya.


Diliriknya jam tangan yang ia pakai, matanya melebar saat melihat waktu sudah menunjukkan pukul 7.50 pagi. Dengan setengah berlari, Vika keluar kamar menuruni anak tangga dan menuju ruang garasi mobilnya sebelum kemudian mengunci pintunya kembali. Namun, rupanya waktu masih mau bermain-main padanya. Entah hal sial apa yang menimpanya kali ini, mobilnya tidak bisa dinyalakan sehingga memaksanya untuk menggunakan kendaraan lain seperti taksi atau kendaraan apapun untuk membantunya sampai ke kampus.


"Aargh! Sial banget sih, gue! Kenapa harus mogok disaat genting kayak gini?" Rutuknya penuh kegeraman sambil memukul-mukul stir mobilnya.


Dengan cepat dan tanpa berpikir panjang, dia langsung berlari ke depan pintu gerbang dan menguncinya. Lalu menunggu taksi yang lewat yang akan digunakannya sebagai kendaraan yang mengantarnya ke kampus yang ditugaskan untuknya.


Beruntung tak berapa lama, dari kejauhan tampak sebuah taksi datang menghampirinya, membuat raut wajah cantiknya berubah dengan cepat menjadi binar kesenangan.


Vika melambaikan tangannya segera. Dan tidak memerlukan tenaga ekstra untuk berusaha memanggil taksi itu, selang beberapa detik taksi yang diharapkan berhenti di depannya. Vika langsung memasuki taksi itu dan menginstruksikan kepada pengemudi untuk mengantarnya pada kampus yang telah diberitahunya.


●●●


Airin baru saja menyelesaikan sarapannya saat sebuah pesan dari ponselnya berbunyi. Pesan itu berasal dari seseorang yang sudah bisa disebut sebagai pacarnya, Bryant. Pesan itu berisi pemberitahuan jika pria itu telah sampai di depan pintu gerbang rumahnya dan sedang menunggunya.


Sambil menghabiskan segelas susunya, Airin berjalan menuju dapur untuk mengambil sebuah wadah tupperware yang akan diisi beberapa sandwich buatannya untuk diberikan pada Bryant sebagai bekal sarapan untuknya. Setelah memasukkan bekal sarapan itu, Airin membawanya ditangan dan berjalan menuju pintu keluar lalu menguncinya kembali.


Senyum gadis tomboy itu seketika memesona, saat berjalan menghampiri Bryant yang sedang berdiri bersedekap menunggunya sambil bersandar pada sebuah motor sport BMW S 1000 RR berwarna merah menyala. Bagaimana tidak, selain sebuah motor sport yang sangat mencuri perhatian, pria itu juga berpakaian sangat casual namun setengah formal.


Dengan kacamata hitam yang ditautkan pada belahan kancing berkerah bagian atas kaos polo shirt warna putih miliknya, yang dipadu padankan dengan celana denim hitam ditambah juga dengan jaket kulit yang sangat pas dengan porsi tubuhnya yang tegap.


"Selamat pagi," Airin menyapa saat dirinya sudah berhenti di depan Bryant.


"Pagi juga," balas Bryant menyapa.


"Aku buat beberapa sandwich buat sarapan. Karena aku pikir ini terlalu banyak, jadinya aku bawain buat kak Bryant sarapan juga." Ucapnya sambil menyodorkan tupperware itu ke arahnya. Lalu, dimiringkannya kepala dan bertanya seolah memastikan. "Karena aku tau, pasti kamu belom sarapan, kan?"


Bryant terkekeh mendengar ucapan Airin yang memang benar adanya. Pria itu mengangguk mengiyakan sebelum kemudian mengucap sebuah janji dengan memajukan wajahnya yang membuat gadis tomboy itu tersenyum malu-malu.


"Aku akan memakannya," ucapnya berbisik. "Kapan lagi aku bisa menikmati sarapan yang dibuatin sama pacar sendiri. Iya, kan?" Tanya Bryant menggoda sambil menekankan kata 'pacar' pada Airin yang efeknya langsung membuat pipi gadis itu merona seketika.


Bryant pun tersenyum, lalu tidak tahan untuk mencubit pipi gadis itu di tempat yang bersemu merah.


"Kita berangkat sekarang?" Suara Bryant memecah suasana yang Airin ciptakan. Lalu, gadis itu mengangguk sebelum kemudian melirik ke arah motor sport yang terpampang jelas sepenuhnya setelah tadi terhalang oleh pesona Bryant.


"Pakai.... ini?" Tanya Airin dengan wajah memastikan, namun juga disertai binar mata yang menggemaskan.


Bryant mengangguk pasti. Lalu mengambil sebuah helm dan memakaikannya langsung kepada Airin yang menerimanya tanpa menolak. Lalu tersenyum lembut seraya berujar.


"Aku nggak nyangka. Pacar aku yang tomboy ini bisa imut dan gemesin juga kalo pakai helm." Serunya meledek. Yang langsung disambut oleh cubitan dari Airin ke perut Bryant, diikuti dengan tawa bahak pria itu.


"Masih pagi, kak. Jangan pancing aku buat kasih pukulan ke kamu." Ujarnya memberi peringatan.


"Wow, sekarang malah berubah galak. Tapi... Aku akan menerimanya selama itu pukulan cinta!" Jawabnya dengan godaan yang semakin membuat Airin memerah malu.


Kemudian menarik tangan Airin untuk mengikutinya. Airin pun mengikuti, menaiki motor itu dengan berpegangan pada punggung Bryant yang kokoh. Dan ketika gadis itu telah duduk sempurna, Bryant langsung menarik tangan Airin dengan cepat dan dilingkarkan ke perutnya, membiarkan gadis itu memeluknya dari belakang dan sangat rapat hingga tak membiarkan Airin untuk bergerak sedikitpun.


●●●


"Terima kasih, pak. Kembaliannya ambil aja."


Ucap Vika saat dirinya baru saja tiba di kampus tempatnya ditugaskan. Hampir 20 menit ia terjebak macet dalam perjalanan yang sangat membuatnya penat. Jika dia mengendarai mobilnya sendiri, sudah pasti dia akan memainkan klakson dan membunyikannya di jalanan atau juga melaju dengan kecepatan diatas rata-rata agar cepat sampai tujuan.


Dengan tergesa-gesa, dia berlari memasuki halaman parkir sambil menarik napasnya berkali-kali. Lalu, dirinya merasa seperti tersesat ketika baru saja menapaki koridor kampus tanpa tau arah.


Sambil celingak-celinguk kebingungan, Vika berusaha mencari ruangan seperti yang diinstruksikan pembimbingnya lewat telepon tadi.


"Pak Rudy bilang, katanya gue harus ke ruangan Dekan dulu. Tapi... gue aja nggak tau ruangannya dimana?" Gumamnya sendiri sambil berhenti di persimpangan koridor.


Beruntung, saat kebingungan melanda diri Vika, seorang mahasiswa lewat di depannya begitu saja, membuat gadis itu dengan cepat menghentikan mahasiswa itu dan bertanya.


"Maaf, Permisi. Mau tanya sebentar. Kalo boleh tau, ruangan dekan dimana, ya?"


"Oh! Ruang dekan. Dari sini lurus aja sampe ketemu persimpangan koridor lagi. Terus ambil kanan, jalan sedikit, nah disitu ada ruang dekan sebelah kiri." Jelas sang mahasiswa dengan ramah, yang didengarkan Vika dengan serius mengikuti gerakan tangan mahasiswa itu.


"Oooh.. sebelah kiri, ya? Terima kasih infonya." Jawab Vika tak kalah ramah.


Setelah mendapatkan informasi letak ruangan dekan, tanpa buang waktu lagi, Vika langsung menuju ruangan tersebut sambil setengah berlari. Sesekali dia melihat ke arah jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 8.20. Itu menandakan ia harus lebih cepat lagi untuk sampai ke ruangan tersebut.


Sebab dia mengingat perkataan pak Rudy, jika dia harus ke ruangan dekan sebelum pukul 8.30. Jika tidak, dia akan dicap buruk sebagai pelajar perbantuan yang tidak berkualitas dan bertanggung jawab. Dan Vika tidak mau jika itu sampai terjadi.


●●●


Setelah meminum obat yang diberikan oleh dokter Yoga, Meila tertidur saat merasakan rasa kantuk memberatkan menghampirinya. Dimas juga menyempatkan dirinya untuk menemani Meila terlebih dulu sambil menjaga gadis itu agar kembali terlelap.


Dan sekarang, disinilah dia. Tidur berbaring miring dengan tangan terlipat yang menyangga kepalanya. Memandangi gadisnya yang sedang tertidur dengan napas teratur yang terdengar merdu di telinganya. Tadi, setelah memastikan Meilanya benar-benar terlelap, Dimas beranjak bangun dan menyempatkan diri untuk mandi sembari membiarkan gadis itu tertidur, sebelum kemudian membenarkan selimut yang menutupi tubuh mungilnya agar terasa hangat.


Sungguh! Tidak pernah terbayangkan oleh Dimas, jika akan ada seorang gadis yang memasuki kamarnya yang sangat privasi baginya, dan tidur di atas ranjangnya sambil bergelung manja di dalam pelukannya. Tapi sekarang, tanpa membayangkannya pun sudah sangat nyata baginya. Di depannya, di atas tempat tidurnya, sudah ada seorang gadis yang sangat disayanginya, dicintainya, sedang terlelap dengan wajah polos dan damai. Berbeda seperti semalam, saat gadis itu tertidur dalam kegelisahan menahan hawa panas tubuhnya.


Sekali lagi, tangan Dimas bergerak mengusap pipi Meila yang tertutupi sebagian rambutnya. Kemudian, mengusapnya dengan gerakan sangat lembut agar gadis itu semakin terlena dalam rasa kantuk yang mendera. Sebab, dokter Yoga bilang, Meilanya harus istirahat total dan usahakan agar tidak memikirkan sesuatu yang akan membebani pikirannya.


Dan tanpa diduga, Meila menggeliat saat dirasakannya pancaran sinar mentari yang memasuki kamar sedikit mengusiknya. Perlahan, dengan mata yang masih sedikit berat dan lengket, Meila menggerakkan tubuhnya yang lemas, mengerjapkan matanya, berusaha menyerap cahaya yang masuk ke matanya.


Saat kedua matanya mulai membuka sempurna, pandangannya langsung bertemu dengan mata Dimas yang sedang menunduk kepadanya, memandanginya dengan lekat dengan tatapan mata teduhnya.


"Selamat pagi," sapa Dimas lebih dulu, sambil menggerakkan tangannya mengusap pipi Meila dengan lembut.


Meila berusaha tersenyum meski wajahnya masih sedikit pucat. Namun, tidak lebih pucat dibandingkan semalam saat gadis itu dilanda demam tinggi.


"Ada yang terasa sakit? Kamu masih merasa pusing? Atau... masih merasa mual?" Tanya Dimas memastikan dibalut dengan perhatian.


Meila menggelengkan kepalanya lemah, lalu dirasakannya tenggorokannya yang sakit saat menelan, seperti rasa perih yang menusuk disertai suara serak. Membuatnya dengan cepat menunjuk ke arah tenggorokannya disertai alis yang berkerut seraya berkata.


".....p-perih....." ucapnya dengan suara serak yang hampir hilang.


Dimas tersenyum lembut, lalu menghadiahkan sebuah kecupan ke dahi Meila.


"Itu wajar, Sayang. Itu namanya radang tenggorokan. Termasuk dalam gejala flu. Nanti akan sembuh saat gejala flu itu hilang seiring berjalannya waktu. Kamu harus banyak minum air putih, jangan sampai dehidrasi. Juga konsumsi vitamin C, dan yang pasti jangan makan-makanan manis yang mengandung banyak gula. Makanan berminyak juga nggak boleh. Karena itu akan memicu radang tenggorokan kamu semakin lama untuk sembuh. Mengerti?" Dimas memberikan penjelasan terperinci sebagai peringatan. Dengan tangan menangkup kedua pipi Meila yang didongakkan ke arahnya.


Dengan polos, Meila mengangguk paham atas apa yang diucapkan Dimas padanya. Sikap polosnya itu semakin membuat Dimas terkekeh renyah sambil membawa Meila ke dalam dekapan hangatnya tanpa melepaskan selimut yang menutupi tubuh gadisnya.


"Suhu tubuh kamu juga nggak sepanas semalam, udah lebih hangat dan mendekati normal. Untuk sementara, jangan keluar rumah dulu, ya? Harus istirahat total dulu sampai kamu benar-benar sembuh." Ucap Dimas seraya mengusap punggung Meila dan mencium pucuk kepalanya. Meila sendiri tidak menjawab, hanya anggukan kepala tipis yang bisa Dimas rasakan di dalam rengkuhannya. Dan seperti sudah menjadi kebiasaannya, Meila langsung menempelkan pipinya pada dada Dimas, memejamkan matanya sesaat sambil menghirup aroma menenangkan dari pria itu yang sangat disukainya.


Dimas sangat menyukai Meilanya yang manja, Meilanya yang penurut yang sikapnya selalu membuatnya semakin menumbuhkan rasa cinta dan sayang padanya. Meilanya yang selalu membuatnya ingin selalu melindunginya, menjaganya, serta mengasihinya tanpa kenal batas dan waktu. Sebab, rasa cinta dan sayangnya tak pernah terbatas dan tak terdefinisikan oleh apapun.


●●●


"Jadi kamu mengerti kan, tugas kamu apa aja?"


Tanya pak kepala dekan pada Vika setelah menjelaskan tugasnya secara terperinci sebagai mahasiswi perbantuan kampusnya. 10 menit di dalam ruangan itu sudah cukup membuatnya terintimidasi akan suasana menegangkan yang dirasakannya.


"Mengerti, pak. Saya akan berusaha sebaik mungkin, sebisa saya." Jawab Vika dengan sikap sopannya.


"Jangan hanya sebatas 'sebisa saya', tapi harus bisa dan buktikan." Ucap kepala dekan dengan sedikit penekanan yang tidak mau menerima penolakan.


"Baik, pak."


"Baiklah kalo begitu. Setelah ini kamu pergi ke ruangan senat, temui ketuanya. Dia yang akan memberitahu kamu apa yang harus kamu kerjakan."


Kepala dekan memberi perintah pada Vika untuk mendatangi ruang senat sebagai salah satu tugas lain dari keberadaannya di kampus itu. Setelah mengerti dan memahami, Vika bergegas mengundurkan diri dengan sikap sopan untuk keluar dari ruangan itu dan berbalik mendatangi ruang senat.


Meski Vika adalah seorang model freelance, dia termasuk dalam kategori mahasiswi terbaik yang mampu mempertahankan nilainya selama 4 semester berturut-turut.


Dan sekarang, sesuai yang diinstruksikan kepala dekan, menemukan ruangan senat sangatlah mudah bagi Vika. Berbeda dengan sebelumnya yang kesulitan mencari ruangan dekan, menemukan ruang senat sangatlah cepat karena jaraknya yang cukup dekat dari ruangan yang dikunjungin sebelumnya.


Tinggal beberapa langkah lagi dirinya akan sampai ke ruangan tersebut. Tapi entah kenapa ada perasaan asing yang sudah lama tidak pernah dirasakannya lagi. Dan sekarang, dia bingung kenapa perasaan asing itu muncul lagi dan seolah sedang menariknya untuk segera memasuki ruangan tersebut.


Sementara di suatu ruangan, Rendy terlihat sedang memilah-milah buku yang nantinya akan ia gunakan untuk referensi keanggotaan senat yang telah dipilihnya. Mengumpulkan beberapa buku yang telah disiapkan dengan teliti sehingga dia tidak perlu repot-repot lagi mencarinya.


Sebuah suara ketukan terdengar dari balik pintu, yang dengan refleks membuatnya bersuara memerintah mempersilahkan orang yang ada dibalik pintu itu untuk segera masuk.


"Masuk!" Perintah Rendy tanpa menoleh sedikitpun.


Mendengar perintah dari dalam ruangan, dengan cepat Vila segera memasuki ruang senat namun berhenti di depan pintu, berdiri meragu sambil mengutarakan maksud kedatangannya.


"Permisi," ucap Vika memulai pembicaraannya.


*deg...


Suara sapaan halus dan juga tenang itu telah membuat Rendy sedikit tersentak. Namun, sedetik kemudian dirinya langsung menghalau segala prasangka yang muncul dipikirannya saat itu juga.


"Maaf. Saya adalah mahasiswi perbantuan yang akan mengukuti kegiatan disini. Saya diperintahkan kepala dekan untuk datang kesini dan bertemu dengan ketua senat. Apa... kamu ketua senat itu?"


"Ya. Aku ketua senat disini. Ada yang bisa saya ban.........tu?"


Jawaban tenang yang Rendy ucapkan seketika menjadi menegang dan suaranya menghilang di akhir kalimatnya saat pria itu memutar tubuhnya untuk melihat ke arah yang datang.


Rendy terkejut. Sangat terkejut. Seseorang yang pernah mengisi ruang hatinya, yang disebut sebagai kekasih hatinya, sekaligus orang yang juga telah menorehkan luka dihatinya, hingga rasa sakitnya masih terasa dan belum hilang. Begitupun dengan Vika. Gadis itu tertegun setengah mati dan hampir kehilangan napasnya. Kedua pasang mata itu bertemu, membangkitkan bulu-bulu halus yang tadi ia rasakan saat akan memasuki ruangan itu. Dan sekarang, Vika mengerti. Perasaan apa yang dirasakannya saat ini hingga membuat otaknya membeku dan tubuhnya menegang sampai harus berpegangan pada gagang pintu untuk menopang tubuhnya.


Bahagia, haru, tapi juga sesak. Itulah perasaan yang bisa Vika rasakan saat ini. Ingin rasanya ia menghambur ke dalam pelukan pria yang sangat dirindukannya, mengirup aroma dari pria yang dicintainya. Tetapi, nyalinya sangatlah kecil hingga berhasil menahannya seperti orang bodoh yang tidak memiliki akal sehat.


Baru saja semalam ia memikirkan pria yang sangat dirindukannya itu. Dan sekarang, seolah takdir sedang mempermainkannya, mereka dipertemukan kembali dengan cara berbeda, yang akan menentukan akhir dari penderitaan yang dirasakannya selama ini. Penderitaan karena sebuah penyesalan yang belum sempat ia utarakan pada pria yang masih sangat dicintainya.