
Seorang perawat baru saja memasangkan kembali selang infus ke tangan Meila. Setelah tadi sempat terlepas sehingga darah hampir merembes dari tangannya, sekarang jarum infus itu sudah tertanam kembali ke tangannya. Wajahnya sempat pucat dikarenakan efek cairan yang masuk ke tubuhnya terhenti.
Dimas sendiri hanya berdiri sambil bersedekap, mengawasi Meila yang sedang setengah berbaring di ranjang sambil sesekali meringis saat jarum yang ditusukkan ke kulitnya bergesekan dengan selang yang sedang dibenarkan posisinya.
"Jangan sampai lepas lagi, ya. Harusnya malam ini sudah bisa lepas infus, tapi karena tadi terlepas jadi besok baru bisa dilepas infusnya." Ucap perawat memberi peringatan dengan nada ramah, membuat Meila harus melirikkan matanya ke arah Dimas dengan sikap malu.
"Kali ini nggak akan lepas lagi, Sus. Akan saya pastikan."
Dimas lah yang menjawab sang perawat, terdengar seperti sebuah janji. Sedangkan Meila yang terdiam canggung hanya menganggukkan kepalanya pelan.
"Baik kalau begitu, saya permisi dulu. Selamat beristirahat," Sang perawat pamit sambil menghela tubuhnya keluar dari ruang rawat lalu menutup kembali pintu dibelakangnya.
"Terima kasih, Suster." Dimaslah yang mengucapkan ucapan terima kasihnya pada perawat yang langkahnya sudah berada diluar ruangan dan akan menutup pintu kembali.
Dimas berjalan menghampiri Meila, lalu duduk di pinggir ranjang tersebut dengan sebuah senyum dibibirnya. Meila sendiri terdiam menatap Dimas dengan masih malu-malu dengan apa yang baru saja terjadi. Dirinya sempat tidak percaya jika dia bisa secepat ini mengakui perasaannya terhadap Dimas.
Namun, hal ajaibnya adalah, perasaannya lebih melegakan dibanding sebelumnya. Seperti telah melepas beban berat dari pundaknya yang selama ini ia tanggung sendiri tanpa ada orang lain yang tahu.
Tangan Dimas menggenggam tangan Meila lalu meremasnya dengan lembut. Dirinya berpikir untuk sedikit menggoda Meila kali ini sebelum mengantarnya ke alam mimpi.
"Kenapa? Apa kamu menyesal setelah mengakui semuanya?" Ujar Dimas memancing.
Meila menggeleng dengan cepat, berusaha meyakinkan Dimas jika dia sama sekali tidak menyesal dengan pengakuan yang telah diakuinya. Alisnya dinaikkan sebelah, seperti sedang mencari tahu kebenaran dari wajah Dimas. Seketika senyuman jahil yang sedari tadi Dimas tahan, seketika tidak bisa disembunyikan lagi, senyuman itu berubah menjadi gelak tawa hingga membuat Meila menyipitkan matanya dengan kecurigaan.
"Kak Dimas....." sergah Meila setengah merajuk,
"Apa, Sayang...?" Jawab Dimas tak kalah gemas, jarinya mencolek ujung hidung Meila sekilas, menunjukkan sikap sayang yang syarat akan makna.
Meila yang ditertawakan Dimas saat itu seketika langsung memberengutkan bibirnya, semakin membuat Dimas tidak bisa menahan tangannya untuk mencubit gemas bibir gadisnya.
"Aku senang kamu manja kayak gini, bikin aku makin sayang." Dimas menimpali, seketika membuat pipi Meila merona dengan kegugupan yang nyata. Dipalingkannya wajah Meila untuk mengusir kegugupannya, namun dengan cepat Dimas langsung meraih dagu Meila untuk berbalik menatapnya.
"Nggak perlu merasa gugup. Toh, kamu udah mengakuinya, kan?"
Meila tak bergeming, hanya menatap Dimas dengan mata sayu karena sudah mulai merasa mengantuk. Mungkin juga dikarenakan efek dari cairan infus yang mulai bereaksi hingga mengantarnya untuk segera beristirahat.
Dimas mempelajari wajah Meila, terutama pada bagian matanya lalu kemudian menguap hingga menimbulkan hidung gadis itu memerah. Dimas terkekeh pelan, tangannya mengelus pipi Meila dan memainkan jarinya dengan gerakan memutar.
"Kayaknya efek cairan infus itu udah mulai bereaksi, itu artinya udah saatnya kamu untuk tidur." Sergah Dimas dengan nada memerintah.
Dimas sendiri tanpa menunggu jawaban Meila, langsung menghela tubuh gadis itu agar segera berbaring, membenarkan posisi bantalnya agar lebih nyaman. Meila sendiri hanya mengikuti arahan yang Dimas berikan, dengan tatapan mata yang sedikit bingung serta kepala yang dipenuhi pertanyaan yang harus ditanyakannya.
"Kak Dimas, kamu.... kamu akan tidur dimana?" Tanya Meila dengan nada hati-hati,
"Aku akan tidur di sofa itu," jawab Dimas perlahan sambil menunjuk ke arah sofa yang ada di seberang ranjang. Mata Meila pun mengikuti arah sofa yang Dimas maksud, seketika alisnya mengernyit, membayangkan ukuran sofa yang tidak begitu besar dan pastinya akan membuat badan terasa pegal bahkan sakit.
"Sofa itu... keliatan kecil, nanti badan kakak... pasti pegal semua." Ucap Meila polos sambil melihat ekspresi Dimas yang masih membenarkan selimut untuknya. "Sedangkan... sedangkan ranjang rumah sakit ini cukup besar, dan... dan muat untuk dua orang, kalo kak Dimas mau... mmm... kakak boleh......"
"Apa kamu sedang meminta untuk aku temani?" Sentil Dimas tanpa basa-basi yang langsung membuat pipi Meila merona karena sanggahannya.
Memang benar! Setelah mengucapkan pengakuannya tentang perasaannya pada Dimas, Meila seperti merasa butuh untuk meyakinkan sekali lagi untuk memastikan. Dirinya ingin tidur dalam pelukan Dimas, dalam perlindungannya, memastikan bahwa dirinya tidaklah salah akan perasaannya. Tapi tidak mungkin Meila memintanya secara gamblang dan terang-terangan pada Dimas, bukan? atau nanti pria itu malah akan meledek dan menggodanya tanpa henti.
Dimas mengamati Meila dalam diam, mencoba menyusuri ke kedalaman hati gadis itu sampai ke dasar.
"Infus kamu baru aja dipasang lagi setelah tadi terlepas, kalo aku tidur disini, takutnya malah akan lepas lagi, dan janji aku ke perawat tadi seakan sia-sia." Ujar Dimas memperingati, terkesan lembut dan syarat akan perhatian tulus.
Meila sendiri hanya terdiam, tapi tak urung tubuhnya bergeser ke samping seolah memberi tempat untuk Dimas bisa berbaring disampingnya. Wajahnya memasang ekspresi penuh permohonan. Dimas pun terlihat mengernyitkan alisnya membuat ekpsresi tidak percaya sekaligus bertanya-tanya.
Gadis ini, kenapa hari ini begitu keras kepala? Tidak seperti biasanya yang tampak manis dan penurut.
Benarkah Meila sedang dalam keraguan? Sehingga meminta untuk ditemani dengan terang-terangan untuk memastikan perasaannya sekali lagi? Jika memang benar itu yang dimaksudkan, maka dengan senang hati Dimas akan menuruti permintaannya.
Tanpa berkata apapun dan sambil memasang senyum dibibirnya, Dimas langsung beranjak untuk mengambil posisi tepat disebelah Meila, membaringkan tubuhnya disana dengan gerakan hati-hati. Lalu menyelipkan lengannya ke belakang kepala Meila dengan perlahan,
"Kemarilah.... aku akan peluk kamu," Dimas berucap dengan nada memerintah, tak menghilangkan kelembutan dalam nada suaranya.
Meila pun perlahan tersenyum, dengan gerakan hati-hati agar infus ditangannya tidak lepas kembali, Meila bergeser hingga merapat ke tubuh Dimas, meski bisa saling berhadapan tapi tidak leluasa karena tertahan oleh selang infus, namun tidak menghilangkan rasa nyaman dan menenangkan saat Dimas mulai memeluk dan merengkuhnya dengan posesif, lebih kepada sikap melindungi.
Memang benar, pelukan Dimas terasa lebih hangat dibanding selimut manapun. Mungkin juga karena Meila yang sudah terbiasa menerima pelukan Dimas untuknya, sehingga dengan mudah langsung menyerap kehangatan pria itu dengan sendirinya.
"Kamu tau, kak? Pelukan kamu lebih hangat dibanding selimut tebal sekalipun,"
Entah punya keberanian dari mana Meila bisa mengatakan kalimat seperti itu, Dimas sendiri tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Bahkan karena sempat terkejut, tangan Dimas yang sedang bergerak untuk membenarkan selimut untuk menutupi mereka, sampai harus menunduk untuk memastikan sendiri kalau kalimat itu benar-benar keluar dari mulut Meila.
"Oh ya? Darimana kamu punya keberanian untuk ngomong kayak gitu?" Dimas berucap cepat disertai seringaian lebar, sebelum gadis itu berubah sikapnya kembali menjadi malu-malu.
"Dari kamu." Jawab Meila singkat sambil mendongakkan wajahnya ke arah Dimas, "Karena kak Dimas selalu buat aku berani, dan kakak juga selalu jadi pilar buat aku." Meila sedikit menyelipkan tawanya disela-sela kalimatnya.
Ya, Pilar! Dimas teringat jika Meila telah memintanya untuk menjadi pilar untuknya, pilarnya yang kokoh, dimana tempatnya bersandar dan mengadu. Dimas tersenyum lembut, kali ini senyuman hangat yang terpampang dari bibirnya, menguarkan kehangatan hingga terasa sampai ke lubuk hati Meila. Dimas memajukan wajahnya, menggesek ujung hidungnya ke ujung hidung Meila dengan gerakan lembut. Lalu berbisik didepan wajah Meila.
"Aku senang kalo pelukan aku mampu menghangatkan kamu," Dimas berbisik serta menghembuskan napas hangatnya disana, "dan aku akan selalu..." Dimas memberi jeda dalam kalimatnya, lalu mengecup bibir gadisnya sekilas, "...dan aku akan selalu jadi pilar tempat kamu bersandar. Kapanpun dan dimanapun tanpa kenal waktu sekalipun." Sambung Dimas kemudian sekaligus menutup sesi diskusi diantara mereka.
Setelahnya Dimas menjauhkan sedikit wajahnya, menatap ke arah wajah Meila yang sangat dekat tanpa cela, memberikan senyuman menenangkan yang ditujukan kepada orang terkasih yang ada dipelukannya.
"Selamat malam.... Sayangku," Dimas berucap dengan kelembutan tak terkira, mengandung syarat akan kasih sayang yang tidak dapat ternilai.
Tangan Dimas mendorong kepala Meila perlahan untuk mendekat ke dadanya, mencium pucuk kepalanya, lalu merapatkannya hingga menempel, sampai-sampai Meila dapat mendengar suara detak jantung Dimas ditelinganya. Meila sendiri sedang tersenyum dalam dekapan Dimas, mendesakkan wajahnya ke kehangatan dekapan pria itu untuk menghirup aroma vanila menenangkan yang amat disukainya, bergelung manja dalam lengan kokohnya.
Kemudian Meila menarik napasnya dalam, lalu menghembuskannya perlahan sebelum kemudian berucap,
"Selamat malam, kak Dimas..."
Meila berucap pelan nyaris tak terdengar, mulai terbuai akan usapan tangan Dimas di kepalanya, mengantarkannya dalam lelap malam yang menggoda.
●●●
"Selamat pagi, adikku tersayang."
Rendy menyapa Meila begitu memasuki ruang rawat dimana Meila berada. Meila yang saat itu baru saja selesai membersihkan diri dengan dibantu seorang perawat, sangat terkejut ketika mendapati Rendy yang sudah berdiri dibalik pintu dengan membawa seikat bucket bunga berukuran besar dengan boneka beruang berukuran sama ditangannya.
"Kak Rendy!" Balas Meila kemudian dengan wajah setengah terkejut sekaligus bahagia.
Rendy menghampiri Meila yang sedang bersandar ke kepala ranjang, kemudian duduk dengan nyaman dibarengi dengan dirinya yang langsung mengambil posisi duduk di tepi ranjang sambil memberikan hadiah yang dibawanya ke pangkuan Meila.
Sang perawat tampak merapikan nampan berisi piring dan gelas bekas Meila sarapan tadi, lalu kemudian pamit undur diri sebelum kemudian berucap sesuatu pada Meila.
"Infusnya kemungkinan hari ini sudah bisa dilepas, nanti akan ada dokter yang datang untuk mengecek kondisi nona,"
Meila tampak tersenyum sumringah, tak urung dia membalas ucapan sang perawat dengan ucapan terima kasihnya.
"Terima kasih, Suster." Ucap Meila kemudian, dibarengi dengan perawat yang keluar dan meninggalkan Meila dan Rendy disana.
Meila memegang hadiah yang diberikan Rendy dengan bahagia, lalu menghirup aroma bunga yang wangi menguar hingga menembus hidungnya. Rendy pun tersenyum melihat Meila yang tampak segar dengan senyum cerah mewarnai wajahnya.
"Terima kasih hadiahnya," Meila berucap dengan sangat antusias, terlihat dari pancaran matanya yang berbinar.
"Sama-sama," tangan Rendy terangkat untuk mengusap kepala Meila dengan lembut.
"Dimas kemana? Kakak nggak ngeliat dia disini?" Rendy bertanya tentang keberadaan Dimas yang tidak dilihatnya bersama Meila, karena biasanya pria itu akan selalu berada bersama Meila tanpa meninggalkannya sekalipun.
Memang benar, tadi pagi-pagi sekali Dimas pergi untuk membersihkan diri dan berganti baju di rumahnya. Dan tentunya setelah menunggui Meila sarapan sekaligus menyuapinya, kemudian sampai seorang perawat datang dan memastikan kalau Meila tidaklah sendirian. Bahkan jika tadi Rendy tidak datangpun, Dimas sudah berpesan dan meminta kepada salah satu perawat untuk menemani Meila sampai dirinya datang kembali.
"Tadi kak Dimas izin pulang dulu, mau bersih-bersih dan ganti baju," Meila menjawab dengan disertai cengiran, "mau ambil laptop juga katanya biar bisa sambil ngerjain tugas disini." Sambungnya kemudian dengan nada polos.
Rendy hanya ber-oh ria mendengar penjelasan Meila, dirinya memang sudah diberi tahu oleh Dimas ketika menghubunginya tadi pagi ketika sedang di perjalanan kalau dia akan pulang dulu sebentar dan akan balik lagi setelah membawa beberapa file dan laptop untuk mengerjakan tugas kampusnya.
Lalu mata Rendy mengamati tubuh Meila, terutama ke bagian perut yang terdapat luka tusuk dan telah menjalani operasi untuk menutup luka robek yang cukup dalam.
"Gimana keadaan kamu?" Tanya Rendy perlahan, sedikit ada nada kehati-hatian dalam suaranya.
"Kenapa kamu buat semua orang panik sih, Mei? Kenapa kamu harus berbuat itu kalau emang ada cara lain buat mencegah Beno? Kamu... kamu bisa aja teriak tanpa harus membiarkan diri kamu yang terluka, kan?"
Meila lagi-lagi tersenyum, berusaha agar Rendy tidak perlu merasa khawatir akan keadaannya yang memang sudah merasa baik-baik saja.
"Kak Rendy...." tangan Meila tampak memegang tangan Rendy, mengusapnya perlahan, mengusir rasa cemas yang menguar. "aku minta maaf kalo udah buat semua orang panik. Aku cuma melakukan sesuatu yang saat itu terlintas dipikiran aku, kak. Jika memang ada cara lain pasti aku akan memilihnya, tapi aku nggak melihat peluang itu kak, Rendy. Yang ada dibenak aku saat itu cuma gimana caranya biar pisau itu nggak sampai menembus ke tubuh kak Dimas." Meila memberi penjelasan secara perlahan, membuat Rendy secara tidak langsung dapat menangkap sesuatu yang terlintas dipikirannya.
Mungkinkah Meila mencintai Dimas? Mungkinkah tindakannya itu adalah bentuk suatu perwujudan dari rasa takut akan kehilangan?
Jika memang benar Meila mencintai Dimas, dia akan sangat bahagia kalau adik perempuannya ini mendapatkan pria yang tepat untuknya. Yang rela melakukan apapun untuk melindunginya, yang selalu ada dibarisan terdepan untuk menjaganya.
"Tindakan yang kamu lakukan itu.... karena kamu mencintai Dimas, kan?"
Meila tergeragap, ingin rasanya memalingkan wajah dan memgutuk dirinya sendiri karena jawaban yang dia berikan telah memancing pengertian orang lain. Tapi, buat apa disembunyikan lagi jika semuanya memang benar adanya? Toh, dia juga sudah mengakuinya dengan lantang dan sadar, bukan?
Meila tampak diam dan bingung untuk menjawab, namun keterdiamannya itu sudah mewakilkan jawaban yang Rendy harapkan.
"Mei, diamnya kamu itu udah bisa menjawab semuanya. Nggak perlu merasa nggak enak atau sungkan untuk cerita sama aku, aku adalah kakak laki-laki kamu, dan kamu itu adik perempuan aku. Aku dan Dimas punya tujuan yang sama, yaitu melindungi kamu, membahagiakan kamu. Jadi nggak perlu merasa nggak enak, okay?"
Pernyataan Rendy yang menyentuh itu seketika telah membuat Meila terharu dan berkaca-kaca, dia sungguh bersyukur memiliki dua orang pria yang sangat menyayanginya dan akan selalu melindunginya.
Sambil tersenyum haru dengan tangan gemetar memegang tangan Rendy, Meila berucap dengan suara paraunya, berusaha mengeluarkan suaranya yang hampir tersekat menahan haru karena dikelilingi orang-orang yang mencintainya.
"Terima kasih karena selalu menyayangi aku, selalu menjaga aku, melindungi aku, selalu sabar dengan sikap aku yang kadang berubah-ubah ini..." Meila berhenti sejenak, menghapus air mata yang hampir terjatuh ke pipi. "...dan terkadang polos juga," Meila menyengir disertai tawa haru, "aku bangga punya kalian, aku bahagia dikelilingin sama dua pria seperti kalian."
Rendy tersenyum melihat tingkah Meila yang asli kembali, tingkah polos dan ceria menyenangkan sebagai ciri khasnya. Tangannya terangkat untuk mengusap kepala Meila dengan lembut sebelum kemudian mengusap air mata adik perempuannya yang menetes ke pipi.
"Everything for you, little girl!"
Saking lamanya mereka bercengkrama diselingi dengan canda dan tawa, tidak terasa sudah memakan waktu hampir satu jam lamanya. Jika Rendy boleh memilih, dia akan lebih menemani Meila tanpa batas waktu yang diinginkannya. Tapi sayangnya dia tidak bisa melakukan itu, dia adalah ketua senat, seorang pemimpin yang memiliki banyak tanggung jawab dipundaknya dan harus diselesaikan dengan segera. Matanya melihat ke arah jam tangan yang dipakainya, tampak raut wajah lemas mewarnainya.
"Kayaknya aku harus segera ke kampus, Mei." Ucap Rendy kemudian,
"Oh, yaudah nggak apa-apa, kak. Paling sebentar lagi kak Dimas dateng kok." Jawab Meila cepat disertai nada perhatiannya.
"Kamu nggak apa-apa kalo aku tinggal sendirian? Atau aku panggil suster aja biar nemenin kamu disini sampe Dimas dateng?" Sergah Rendy kemudian dengan nada penawaran dibalut dengan kecemasan dalam suaranya.
Meila terkekeh, menertawai sikap Rendy yang menurutnya cukup berlebihan.
"Ih, kak Rendy, kamu tuh kayak kak Dimas aja. Aku nggak apa-apa, kak. Aku akan baik-baik aja kok. Kak Rendy ke kampus aja nanti keburu telat." Jawab Meila dengan lembut disertai nada peringatan yang kental.
Rendy tampak berpikir, dirinya sedang menimbang-nimbang perkataan Meila. Memang benar jika dia harus menunggu sampai Dimas datang, sudah pasti dirinya akan terlambat untuk kuliah, tapi jika dia meninggalkan Meila sendirian tanpa ada yang menjaganya, dia takut hal buruk lainnya akan terjadi lagi.
Mungkin benar yang Meila katakan barusan, mungkin dirinya harus mempercayai Meila dan memberi kesempatan untuk adiknya itu pada janjinya bahwa dirinya pasti baik-baik saja. Akan ada banyak perawat dan keamanan diluar sana yang akan sigap jika ada sesuatu yang mencurigakan. Toh, Meila bukan gadis bodoh yang akan pasrah begitu saja jika dirinya tertindas dan sangat terdesak, Meila pasti akan melakukan sesuatu untuk memancing kedatangan orang minimal dengan berteriak.
"Yaudah kalo gitu... kakak ke kampus, ya. Kalo ada sesuatu yang kira-kira janggal kamu bisa teriak sekencang-kencangnya sampe seluruh isi rumah sakit ini menghampiri kamu, okay?"
Lagi-lagi Meila hanya tertawa, menertawai perkataan Rendy yang terdengar lucu, "Siap bos!" Meila berujar sambil mengangkat tangannya dan membentuk sikap hormat, membuat Rendy yang saat ini menatap Meila seketika menaikkan sudut bibirnya ironi dengan tingkah Meila. Tak urung tangannya terangkat untuk mengusap kepala Meila dengan sayang.
"Gadis pintar! Istirahat, ya... Ingat! jangan jalan-jalan keluar dulu tanpa ada yang temenin kamu, okay? sambil berucap, Rendy beranjak dari tepi ranjang sebelum kemudian mengecup pucuk kepala Meila dan setelah itu langsung menuju pintu keluar dan meninggalkan Meila sendiri yang sedang mengantarkan sebuah senyuman hangat sebagai penyemangat untuk Rendy.
●●●
"Jadi boneka beruang dan bunga itu dari Rendy?"
"Iya." Kepala Meila terdongak menatap Dimas, "tadinya dia mau nunggu kak Dimas dateng dulu biar aku nggak sendirian katanya. Tapi karena udah keburu telat jadinya aku paksa aja," sambungnya kembali dengan kekehan kecilnya.
Dimas pun ikut terkekeh dengan penjelasan yang Meila berikan. Sambil meraih Meila untuk turun dari ranjang dan merengkuh pinggangnya dengan hati-hati, mengingat luka jahitan di perut Meila yang belum begitu kering.
"Yap! Hati-hati."
Pria itu sedang membantu Meila untuk mendudukkannya ke kursi roda. Ketika tadi Dimas datang dan mendapatkan gadis itu sedang menatap ke arah jendela kamar rawat dan seketika langsung merengek dan memintanya untuk mengajak Dimas mengelilingi taman di sekitar rumah sakit.
Dimas memaklumi keinginan Meila yang mungkin merasa jenuh didalam ruang rawat, dengan segala kemungkinan yang ada dan setelah mempertimbangkan segala resiko yang mungkin akan membuat jahitan diperutnya terbuka lagi, akhirnya Dimas memutuskan untuk menggunakan kursi roda agar Meila tidak terlalu banyak bergerak dan banyak tekanan. Dan tentunya juga agar gadis itu merasa nyaman.
Dimas mulai mendorong Meila dengan kursi rodanya, lalu mulai keluar kamar dan akhinya melewati lorong-lorong rumah sakit yang di tiap sisi-sisinya terdapat pasien yang seperti dirinya yang kemungkinan juga merasa bosan didalam ruang rawat.
"Merasa lebih baik?" Dimas berucap dengan kepala tertunduk, mencoba memastikan kondisi Meila.
Meila mendongak, bibirnya tampak melengkungkan senyum di wajahnya, membuat gadis itu terlihat cantik karena pancaran yang ditimbulkannya.
"Sangat! Terima kasih, kak..." jawab gadis itu sumringah dan dengan kilauan binar dari mata beningnya.
Kepala Dimas tertunduk untuk memberikan kecupan ke pucuk kepala Meila, lalu mendorongnya kembali hingga taman dan berdiam disana sejenak demi mengibur gadisnya.
●●●
Mereka memutuskan berhenti di sebuah batu besar berbentuk persegi dibawah pohon rindang dengan terpaan angin yang berhembus dengan sejuk. Dimas duduk di batu itu, sedangkan Meila berhadap-hadapan dengannya dan tak lupa juga pria itu mengunci bagian roda bawah kursi agar tidak bergerak dan membahayakan Meila nantinya.
Meila tampak menghirup udara sekitar dengan mata terpejam lalu membuka matanya kembali dengan senyum sumringah, menandakan bahwa gadis itu sedang dipenuhi dengan kebahagiaan.
"Disini sejuk ya, kak. Banyak bunga-bunga juga. Nggak kayak di kamar yang diliat cuma itu-itu aja. Bosen."
Dimas terkekeh sedikit menggelengkan kepalanya, "masa sih di kamar yang diliat itu-itu aja? Berarti aku ngebosenin juga?" Tanya Dimas kemudian dengan nada meledek.
Meila hampir tercengang, mulutnya setengah terbuka karena tergeragap akan ucapan Dimas. "Mmmm... itu.... kalo itu sih beda," jawabnya kemudian dengan suara rendah dan malu-malu, disertai pipi memerah karena merasa gugup.
Tangan Dimas terangkat untuk mengusap kepala Meila dengan gemas, "lucu banget, sih.... boleh cium gak?" Tanyanya memancing, membuat Meila membelalakkan matanya karena terkejut.
"Kak Dimas!" Sergah Meila dengan cepat, tangan mungilnya tanpa sengaja menepuk paha Dimas, "Disini... disini banyak orang, nggak boleh mengumbar kemesraan di tempat umum," sanggah Meila kemudian dengan kegugupan yang nyata.
Dimas memajukan wajahnya, berniat untuk menggoda Meila sekali lagi.
"Berarti.... kalau di tempat sepi, dan cuma ada kita berdua aja.... boleh?" Dimas berbisik dengan nada menggoda, membuat Meila merasakan rasa panas menjalari pipinya hingga ke leher.
Dan benar saja, gadis itu tergeragap. Mencoba memalingkan wajahnya agar tidak beradu kontak langsung dengan mata Dimas yang tajam. Dimas sendiri tidak bisa menahan tawanya, dia pun akhirnya tergelak lepas hingga membuat Meila memberengutkan bibirnya karena ditertawai oleh Dimas.
"Kayaknya kak Dimas suka banget ngetawain aku," ucap Meila kemudian dengan sedikit merajuk.
"Karena kamu itu langka, Sayang. Nggak ada duanya. Bikin aku gemes. Dan juga polos." Tangan Dimas mencubit pipi Meila dengan gemas, lalu mengelus pipi itu dengan elusan sayang.
"Cukup polosnya sama aku aja, ya. Jangan ke yang lain." Sambil memainkan jarinya memutar di pipi Meila, Dimas berucap seperti ultimatum yang harus dipatuhi. Hingga akhirnya tak ada jawaban dari Meila, gadis itu hanya tersenyum malu-malu disertai tangannya yang terangkat memegang tangan Dimas yang masih menangkup pipinya.
Beberapa detik kemudian senyuman di wajah Meila berubah menjadi murung, seperti sedang mengingat sesuatu dan menyimpan sebuah penyesalan didalamnya. Dia menautkan jemarinya dengan kepala tertunduk, seolah sedang mengusir rasa bersalah yang muncul bagitu saja.
Dimas pun ternyata memperhatikan, mencoba menelusuri ke kedalaman hati Meila. Tapi Dimas tidak menemukan itu, dia pun akhirnya lebih memilih untuk menanyakannya secara langsung pada gadisnya.
Tangannya meraih dagu Meila, mencoba menatap langsung ke bola mata beningnya, "ada apa lagi? Apa yang mengganggu pikiran kamu?"
Meila menatap Dimas tak bergeming, lalu kemudian dia menarik napas untuk mencoba berucap.
"Tentang... yang di taman waktu itu. Karena aku... ki-kita nggak jadi makan es krim. Ak-aku udah nungguin kak Dimas dengan membawa es krim di tangan kakak tapi akhirnya malah berakhir di rumah sakit. Ma-maaf karena aku udah bikin rencana kita batal, andai aja aku nggak merengek untuk minta kakak ngajak aku ke taman pasti kita nggak akan di rumah sakit kayak gini." Tangannya bertautan, tampak telapak tangannya mulai basah dan berkeringat. "Andai waktu itu kita di rumah aja dan menikmati es krim tanpa harus keluar rumah pasti ini semua nggak akan terjadi, kan?" Matanya mulai berkaca-kaca, membayangkan ingatan yang telah dialaminya hingga akhirnya sampai dirawat di rumah sakit.
"Ssshhh... jangan menyalahkan diri kamu," jemari Dimas mengusap air mata Meila yang hampir menetes, lalu menangkup wajah Meila agar gadis itu tidak dapat memalingkan wajahnya dan lari dari pandangannya, "mungkin ini semua memang harus terjadi. Harusnya aku yang merasa bersalah karena udah lalai melindungi kamu. Nggak ada yang perlu disesali, Sayang. Nggak perlu minta maaf untuk semua yang bukan kehendak kamu." Sudut bibir Dimas terangkat, membentuk senyum ironi. "Bahkan dengan adanya kejadian ini, aku jadi bisa tau perasaan kamu ke aku, kamu jadi mengakui semua isi hati kamu tentang aku," Dimas tersenyum, setengah mendengus pelan. "Dan... tadi kamu bilang apa, rencana makan es krim kita batal?" Dimas memutar bola matanya, membuat wajah ekpsresi berpikir, "siapa bilang rencana kita batal? Malah aku akan ajak kamu lagi ke suatu tempat yang akan membuat kamu senang dan pastinya untuk mengganti acara makan es krim kita yang batal kemarin."
Wajah Meila yang tadinya murung seketika berubah cerah saat mendengar Dimas akan mengajaknya kembali berjalan-jalan. Ekspresi wajahnya berubah bersemangat, sampai-sampai Meila lupa kalau ada luka jahitan yang menempel di perutnya hingga akhirnya gadis itu sedikit meringis kesakitan karena gerakan tiba-tiba yang ditimbulkannya.
"Hati-hati, Sayang. Luka kamu masih belum kering," dengan rasa cemas, tangan Dimas menyentuh perut Meila, memperingatinya dengan suara lembutnya, "atau aku akan batalkan rencana kita nanti,"
"Jangan, kak..." tangan Meila sampai meraih tangan Dimas untuk meyakinkan pria itu, "Maaf... aku terlalu bersemangat. Tapi... tapi jangan dibatalin, kak. Aku mohon...." pinta Meila dengan manja penuh permohonan, disertai tatapan mata sayu.
Kalau Meila sudah mengeluarkan sikap seperti itu, jangankan Dimas, siapapun akan tidak tega untuk menolaknya. Sikap Dimas pun melembut, tatapannya berubah sayang, sebelah tangannya menggenggam tangan Meila dan meremasnya dengan lembut, lalu sebelah tangannya lagi menangkup pipi Meila dan mengelusnya.
"Sikap kamu yang kayak gini bikin aku nggak bisa menolaknya." Dimas berhenti sejenak, "kamu tenang aja, aku nggak akan membatalkannya. Kita akan melunasi rencana kita saat kamu sudah kembali pulih. Aku janji."
Dimas berucap penuh janji, membuat Meila merasa senang sekaligus lega dengan perkataannya. Meila beruntung memiliki Dimas, dan dia sama sekali tidak menyesali atas semua pengakuannya, justru dirinya telah meyakini bahwa keputusannya sudah tepat untuk mengakui perasaannya tentang Dimas. Dan Meila telah berjanji, dia akan belajar lagi untuk tidak menyangkal semua perasaannya yang ditujukan pada pria dihadapannya itu.