
James datang sambil membawa senampan sarapan di tangannya. Seorang petugas pelayanan kamar baru saja datang dan memberikan satu paket sarapan American Breakfast yang beberapa menit lalu dipesannya.
Bersamaan dengan kedatangan James, Sisil tampak sedang menggeliatkan tubuhnya di balik selimut putih tebal yang sedikit tersingkap. Dia mengucek-ngucek kedua matanya yang berkabut sebelum akhirnya dia menyadari keberadaan dirinya di tempat asing yang dia tau bukan di kamarnya. Sisil pun langsung beringsut bangun bertepatan dengan sapaan James yang terlontar ke udara.
"Selamat pagi. Aku sudah memesankan sarapan untukmu. Makanlah.."
Kaget. Itulah yang Sisil rasakan. Secara refleks, dia langsung memeriksa kondisi tubuhnya yang masih setengah tertutup selimut sambil menunjukkan sikap kewaspadaannya.
Tubuhnya masih berbalut pakaian yang sama meski sangat berantakan.
Sontak, Sisil langsung mengalihkan pandangan pada James dengan tatapan membunuh dan menuduh.
"Kenapa aku bisa disini? Dan kenapa juga kamu..."
"Ini adalah apartemenku. Aku membawamu kesini setelah menemukanmu di sebuah klub malam dalam kondisi mabuk berat."
Mabuk?
Sisil seketika mengingat saat dirinya minum-minum di sebuah bar dengan di kelilingi banyak pria yang dengan terang-terangan menggodanya. Seketika, kepalanya berdentum hebat kala ingatan itu berputar. Dia rupanya mengalami hangover akibat mengkonsumsi alkohol yang cukup tinggi tadi malam.
"Ini, diminum dulu!" perintah James seketika. "Ini adalah air perasan lemon. Baik untuk meredakan mabuk." James menyodorkan segelas jus lemon untuk Sisil yang langsung ditolak dengan kasar.
"Nggak perlu! Aku akan pergi dari sini." Dengan sekali gerakan, Sisil beringsut bangun dan bergegas mengambil tasnya yang ada di meja nakas.
James meletakkan jus itu kembali ke atas meja. "Kamu harus sarapan dulu, nona. Minimal minumlah jus lemon ini. Kamu nggak mau orang tuamu curiga dengan penampilanmu yang berantakan ini, kan? Aku akan mengantarmu pulang setelah sarapan."
"Aku nggak mau. Dan nggak perlu untuk meminumnya. Siapa tau kamu udah menaruh sesuatu dalam minuman itu?!" Tuduh Sisil terang-terangan.
Mendengar tuduhan Sisil yang ditujukan untuknya, James hanya menyeringai ringan sambil memandangi Sisil dengan seksama. Memandanginya dari ujung kepala hingga kaki sampai membuat Sisil risih karenanya.
"Kalau aku mau, aku bisa melakukannya disaat kamu dalam kondisi tidak sadar seperti semalam, Sisil. Mungkin saat tadi kamu bangun, kamu mendapati kondisimu sudah........."
Kalimat James menggantung. Dan itu malah membuat Sisil menjadi terhina. Dia malah teringat kejadian saat dirinya mabuk dan Beno mengambil kesempatan darinya.
"Kamu!" Geram Sisil dengan tangan mengepal. "Kamu sengaja kan bawa aku kesini untuk mengambil kesempatan seperti lelaki hidung belang di luaran sana?"
"Maksudmu... lelaki hidung belang yang mengelilingimu dan juga menggodamu seperti semalam?" James terkekeh. "Aku nggak serendah itu, Sisil. Aku bukan seorang pria yang akan memanfaatkan seorang wanita yang tidak sadar dan meninggalkan tandanya dimana-mana lalu pergi begitu saja saat merasa puas."
Wajah Sisil memerah. Dia ingin membalas omongan James, namun rasa sakit kepala yang dia rasakan jauh lebih mengganggu saat ini. Akhirnya, mau tidak mau Sisil mengambil kembali jus lemon itu dan meminumnya. Dengan dipandangi James yang sedang menahan senyum padanya.
Dasar perempuan keras kepala!
●●●
"Haaahh... akhirnya selesai juga rapatnya. Pinggang gue rasanya kaku tau gak sih duduk hampir 2 jam." Gerutu Airin sambil lalu dengan posisi kedua tangan ke atas sebagai peregangan otot.
Meila tersenyum mendengarnya. "Sama. Apalagi kita baru mengadakan rapat lagi setelah 3 bulan, kan?" Serunya mengiyakan.
Rendy yang selaku pemimpin rapat, yang masih duduk di tempatnya, tampak menyeringai mendengar percakapan adik dan temannya itu. Dia masih memeriksa proposal laporan tahunan dengan dibantu oleh Vika disampingnya.
Airin mengangguk setuju. Seiring berjalannya waktu, satu persatu anggota rapat mulai meninggalkan ruangan secara bergiliran. Dan tinggalah hanya mereka berempat.
"Dia lagi nganter mamanya ke luar kota selama 3 hari ini. Katanya sih ada seminar tahunan sekaligus launching produk terbaru."
Meila ber-oh ria sambil mengangguk. Lalu membenarkan posisi duduknya dengan bersandar ke kepala kursi.
"Hari ini jadwal kelas kita lengang kan, ya? Tiap hari aja kayak gini. Biar bisa santai" Seru Meila tiba-tiba.
Mendengar Meila yang tiba-tiba senang dengan jadwal mata kuliah yang santai, membuat Airin keheranan. Sebab, baru kali ini dia mendengar Meila terlihat senang saat mata kuliah banyak yang kosong.
"Ada angin apa nih? Tumben banget lo keliatan males. Biasanya lo yang paling semangat buat kuliah. Sampe-sampe gue diceramahin supaya jangan telat. Hah?"
Meila terkekeh sendiri. "Nggak tau, rin. Gue lagi males aja hari ini. Pengennya santai, jalan-jalan." Cengirnya kemudian.
"Kenapa nggak minta ke kak Dimas aja, sih? Gue yakin, dia akan ngabulin permintaan lo."
"Sebenernya... tadi pagi sih dia udah nawarin ke gue setelah kuliah nanti. Tapi gue belum jawab karena....."
Hampir aja Meila keceplosan. Dia langsung menghentikan kalimatnya sebelum Airin dan yang lainnya mendengar dan meledeknya karena penasaran.
"Jadi ada yang mau kencan nih ceritanya?"
Suara sindiran Rendy terdengar tiba-tiba.
"Apaan sih, kak. Bukan kencan. Cuma jalan-jalan biasa aja." Sahut Meila mengelak.
"Iya, deh. Iyain aja. Biar nggak ngambek." Jawab Rendy mengalah.
Tanpa ada yang tau, Vika tiba-tiba memperhatikan adanya tanda di leher Meila yang hampir tertutupi kerah baju. Untuk memastikannya sekali lagi, dia sampai menyipitkan kedua matanya dari jarak 2 meter dari tempat Meila duduk. Karena rasa keingintahuannya itu, akhirnya Vika bertanya dengan nada penasaran yang kental. Tetapi, sebelum itu Vika sudah lebih dulu menduganya jika itu adalah hal yang pernah dialaminya dulu.
"Eh, Mei. Leher kamu kenapa? Kok kayak memar gitu?"
Kaget! Itu yang Meila rasakan.
Meila cukup tersentak mendengar pertanyaan Vika. Dengan salah tingkah, Meila langsung refleks menutupi lehernya dengan telapak tangan sembari memberi jawaban dengan terbata.
"Ah! Eh, itu... digigit nyamuk."
"Nyamuk?" Airin menyambar dan membeo. "Coba mana liat?" Gerakannya sangat cepat. Membuat Meila kwalahan dan akhirnya mengalah pasrah.
Kedua mata Airin membelalak dibalut dengan senyuman nakal. Dia lalu berfikir untuk menggoda temannya kali ini.
"Ya ampun, Mei. Nyamuknya segede apa sampai merah banget kayak gini?" Ledeknya. "Sakit nggak?"
"Ap-apaan, sih rin. Ini beneran digigit nyamuk, kok."
"Masa sih...." Airin terus saja meledek Meila yang wajahnya sudah merah padam dan panas. Belum lagi Rendy yang ikut meledekinya meski dia sudah merasa sangat malu.
"Waahh! Kamu udah nakal, ya, sekarang." Ujar Rendy.
Meila tidak bisa membela diri lagi kali ini melihat mereka yang terlihat kompak meledekinya hingga membuat wajahnya panas bukan kepalang. Dia akhirnya menutupi wajahnya sendiri dengan telapak tangannya sambil menahan malu luar biasa.