A Fan With A Man

A Fan With A Man
Mencari Pasangan



"Wah, wah.. Yon, ternyata lo udah kalo kenal sama cewek itu?" Samuel bertanya dengan penasaran. Tentu saja setelah menyaksikan Dion yang baru selesai berbincang-bincang dengan Meila.


Mendengar pertanyaan Sam, Dion pun menarik sudut bibirnya ke atas.


"Pertemuan gak disengaja. Dan itupun di toilet." Sambil terkekeh geli membayangkan pertemuan pertamanya dengan Meila.


"Toilet?" Samuel membeo dengan nada terkejut. Dia berseloroh dengan lantang sampai Dion dan teman-teman lainnya tergelak. "Cinta pandangan pertama di toilet?"


"Terus, lo udah dapet nomor kontaknya belom?" Kali ini Andrew yang menyela karena tidak sabar untuk tidak ikut campur sejak tadi.


"Belom. Waktunya nggak tepat. Karena keliatannya dia lagi sakit."


"Ck! Harusnya lo minta, Yon. Kapan lagi lo akan ketemu dia? Kesempatan gak akan dateng dua kali, bro!" Samuel berucap dengan kalimat yang  mengandung provokasi. Tetapi, Dion rupanya tidak terpancing sedikitpun akan hal itu. Dikarenakan dia sedang membangun angan-angannya sendiri di dalam pikirannya.


"Bener tuh, Yon. Seandainya tadi lo tukeran kontak, mungkin lo bisa saling berhubungan lewat telepon. Dan lo bisa akrab sama dia. Dan mungkin... mulai nanti malam kalian udah bisa mengobrol?" Ucap Andrew tak kalah mengompori.


Benar juga! Kenapa gue gak kepikiran tadi?


Seolah membenarkan perkataan teman-temannya, Dion tampak sedikit menyesali tindakannya yang sangat lamban. Tetapi, sedetik kemudian dia langsung mematahkan pikirannya sendiri dan memilih untuk menyusun rencananya dengan mulus seperti tampak tidak disengaja dan dibuat-buat.


Tanpa menghiraukan gurauan teman-temannya, Dion malah asyik sendiri dengan imajinasinya. Dia tidak berhenti membayangkan pertemuannya kembali dengan Meila yang benar-benar sangat ia inginkan. Dan keberuntungan pun berpihak padanya.


Membayangkan pertemuannya kembali dengan Meila tadi, membuat Dion ingin segera pulang dan melanjutkan pesta minum-minum yang tadi ia tunda. Lalu, membayangkannya tanpa henti sepanjang malam sambil menikmati kepulan asap rokok yang membumbung terbang ke udara.


●●●


Setelah selesai mandi dan mengganti bajunya, Dimas akhirnya keluar dari toilet sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Saat melihat gadis mungilnya sudah tertidur pulas di atas ranjang, itu membuat dia merendahkan pergerakannya agar tak mengganggu Meila yang sedang terlelap.


Selimut yang tidak tertutup rapi, dan posisi tidur yang miring dengan rambut menutupi sebagian wajah, membuat Dimas geleng-geleng disertai dengan senyuman tipis. Ditaruhnya handuk itu ke atas sofa, lalu dia bergegas berjalan mendekati Meila. Dibenarkannya selimut hingga menutupi setengah tubuh Meila. Diusapnya dengan lembut sebagian kepala Meila dengan sayang sebelum kemudian merapikan rambutnya.


"Sleep well, sayang. Have a nice dream."


Kemudian Dimas berbisik di dekat telinga Meila. "Don't ever be afraid. 'Cause i'll be here with you no matter what happen."


Setelah memastikan gadisnya terlelap dengan nyaman, Dimas bergegas keluar dari kamar dan menutup pintu rapat-rapat dengan sangat pelan. Lalu Dimas berjalan menuju kamar sebelah yang ada di ujung tangga. Dia mulai memasukinya dan membiarkan pintu itu dengan setengah terbuka


Dimas kemudian menyalakan lampu dan duduk di kursi sofa yang empuk, yang di depannya sudah ada layar berbentuk kotak pipih yang disebut dengan laptop. Ya! Itu adalah ruangan kerja miliknya. Ruangan kerja yang sangat luas yang selalu dia gunakan untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan kantornya. Terkadang, dia juga membawa tugas kuliahnya dan menyelesaikannya disana. Tetapi, hal itu jarang dia lakukan akhir-akhir ini. Dimas selalu menyelesaikan tugasnya di kamar sambil menemani dan mengawasi Meila agar tetap pada jangkauannya.


Dan sekarang, Dimas mulai menggunakan ruangan itu lagi dan membiarkan Meila yang sedang terlelap. Dan kalaupun memang terjadi sesuatu, Dimas akan segera tau mengingat ruangannya yang hanya bersebelahan ditambah dengan pintu yang dia biarkan tidak tertutup.


●●●


Masih di tengah-tengah pesta, Eliana tiba-tiba datang menghampiri James yang sedari tadi sibuk di meja bar mengatur para pekerja yang berlalu lalang. Tampak James yang masih bersemangat melihat waktu yang telah menunjukkan pukul dini hari ditambah dengan para tamu yang semakin antusias dan ramai sedang menikmati acara.


"James, kapan kamu akan istirahat? Mama lihat kamu selalu sibuk sejak tadi." Ucap Eliana protes.


James menolehkan kepalanya dengan senyuman. "I should, mom. Aku mau pesta ini lancar dari awal hingga akhir."


Melihat James yang tidak menghiraukannya, membuat Eliana menghela napas. "Oh ya, James. Tadi Alex datang. Apa kamu sudah bertemu dengannya?"


"Aku sudah bertemu dan mengobrol sedikit dengannya tadi." Dia pun tersenyum sumringah.


Kemudian Eliana menengok ke segala arah seperti sedang mencari seseorang. "Tapi kelihatannya dia nggak ada di tengah acara. Kamu tau dia kemana?"


"Ya... Di tengah perbincangan kita, tiba-tiba dia pergi begitu menerima panggilan telepon dari ponselnya. Sepertinya ada sesuatu yang penting."


Eliana berpikir sejenak, "mungkin... gadis itu sedikit tidak nyaman. Soalnya mama lihat, dia gadis yang sangat manis dan kalem." Ucapnya bersemangat.


James menaikkan sedikit alisnya penuh tanya. "Gadis? Mama melihatnya?"


"Iya, James. Dia gadis yang sangat cantik dan juga manis. Mama sangat suka dia. Kelihatannya, Alex sangat mencintainya." Eliana tersenyum.


Mendengar pernyatan sang mama, James membuat raut wajah sesalnya yang dibalut candaan. "Huuh... sepertinya aku yang kurang beruntung malam ini. Kalau mama bilang gadis itu cantik, sudah pasti gak ada yang meragukannya. Sayang sekali aku nggak melihatnya."


"Kamu ini!" Menepuk bahu James pelan. "Kamu juga harusnya membawa gandengan. Kenalkan pada kami. Terutama mama." Cengir Eliana yang tak mau kalah. "Jangan cuma sibuk dengan para pekerja saja. Kamu juga harus memanjakan diri kamu, James."


James terkekeh mendengar ucapan Eliana. "Iya, iya, mom. Aku belum mau terburu-buru. Jika memang ada, aku akan lebih dulu mengenalkannya pada mama."


Eliana tersenyum dengan lembut. "Mama bukan sedang memaksamu, nak. Mama cuma mau kamu tidak hanya memikirkan pekerjaanmu saja. Kamu juga harus memikirkan dirimu sendiri. Bahagiakan diri kamu dengan mencari pasangan. hm?"


James menipiskan bibirnya seraya berkata, "don't worry, mom. Aku akan memikirkan itu saat semuanya sudah tepat." James berucap janji dengan menjurus pada kata 'itu' yang dimaksudkan sebagai kekasih kepada ibunya.


Setelah mendengar perkataan James, Eliana tersenyum lembut seraya menepuk punggung James seolah bangga.


"Mama percaya sama kamu." Ucapnya dengan bangga. "Yasudah, mama kembali lagi kesana, ya. Papamu sedang menunggu. Jangan terlalu capek dan terlalu galak pada anak buahmu itu." Titahnya mengingatkan. 


Setelahnya, setelah mendapat jawaban berupa anggukan kepala dari James, Eliana pun beranjak pergi, bergegas kembali ke tengah-tengah pesta bersama sang suami tercinta.