
Setelah selesai melakukan pemeriksaan dari rumah sakit, Dimas dan Meila tidak langsung pulang ke rumah. Dia membawa Meila untuk berjalan-jalan sebentar agar gadis itu tidak merasa bosan meski Dimas tau, Meila tidak akan mungkin memberitahukan tentang kejenuhannya yang lebih banyak dihabiskan di rumah dan kampus.
Mobil itu memasuki area parkir basement sebuah gedung mall dengan jalan meliuk-liuk dan minim pencahayaan.
"Kita ke mall, kak?" Tanya Meila tiba-tiba yang sedari tadi menahan rasa penasarannya selama perjalanan.
"Iya. Sekalian kita manfaatkan waktu luang kita sambil berkencan." Dimas menjawab dengan posisi tangan masih di setir kemudi. Tidak lupa juga dia sempat mengedipkan sebelah matanya dengan isyarat menggoda.
"Kencan?" Meila membeo karena tidak percaya.
Dimas hanya mengangguk sekali sebagai sebuah jawaban. Namun, tak urung dia tersenyum dengan memperlihatkan lesung pipinya.
Setelah menarik rem tangan, Dimas lalu meraih tangan Meila dan menggenggamnya. Menatap Meila lekat-lekat dengan sebuah jawaban yang membuat gadis itu sumringah.
"Aku tau kamu pasti merasa jenuh. Kalau nggak di kampus, ya di rumah. Aku juga tau kalau kamu ngerasa nggak enak hati kalau bilang ingin sekali pergi jalan-jalan hanya untuk sekedar menghilangkan rasa bosan. Aku juga merasa akhir-akhir ini terlalu sibuk sama urusan kantor. Dan sekarang, karena kita bebas dan kebetulan udah izin, kita akan jalan-jalan sepuasnya mengelilingi mall ini sampai kamu puas."
Mata jernih Meila membelalak lebar. "Benarkah?"
Dimas mengangguk sebagai bentuk jawaban. "Tentu. Kamu mau belanja, nonton, makan, atau sekedar cuma jalan-jalan juga, ayo, aku turuti." Lalu menyambungnya dengan kalimat menantang yang dipelankan.
Dimas bisa melihat wajah Meila yang berubah sumringah dan antusias. Seolah tidak sabar ingin segera keluar dari mobil dan melihat-lihat seluruh isi di dalam mall yang terlihat begitu megah.
"Jadi, bisa kita mulai jalan-jalannya sekarang?" Dimas mengalihkan Meila dari segala angan-angan menyenangkannya. Lalu, tanpa berpikir panjang lagi, Meila langsung bersemangat mengiyakan dengan menganggukkan kepalanya kuat-kuat sambil melebarkan senyum manisnya pada Dimas.
"Sure. I'm ready! Ayo, ayo!" Ajaknya dengan ekspresi yang begitu bersemangat dan juga menggemaskan.
●●●
"Jadi bagaimana? Apa yang kamu dapat?"
Sambil duduk di sebuah bangku di dalam ruangannya, Dion tampak sedang menunggu sebuah informasi dari seseorang yang baru saja masuk ke dalam ruang kerjanya.
"Sudah, tuan. Saya sudah menyelidiki dan memata-matai area lingkungan kampus seperti yang tuan minta. Perempuan bernama Meila benar tidak masuk hari ini. Menurut informasi yang saya dapat, perempuan itu meminta izin tidak masuk karena ingin melakukan pemeriksaan rutin di rumah sakit."
Dion setengah terkejut mendengar penjelasan laki-laki itu. Terutama dengan kata 'pemeriksaan' yang sangat ingin diketahuinya.
"Pemeriksaan?"
Apa dia sedang mengalami kondisi dimana harus melakukan pemeriksaan rutin? Atau dia sedang sakit?
"Benar, tuan. Menurut informasi yang saya dapat, pemeriksaan ini adalah yang kedua kalinya setelah beberapa waktu lalu dia pernah mengalami kecelakaan kecil di kampusnya hingga menyebabkan luka. Dan kabarnya juga, sekarang dia sedang memulihkan luka itu."
"Luka apa yang kamu maksud?" Saking penasarannya, Dion sampai tidak sadar kalau pertanyaannya itu mulai mendalam.
"Kalau soal itu, saya tidak tau, tuan. Tapi yang pasti, perempuan itu meminta izin melalui seseorang bernama Henry. Dialah yang mengabarkan pada pihak kampus tentang perizinannya."
Henry? Apa mungkin Henry yang dimaksud adalah seorang supir yang sedang ditunggunya saat itu?
"Permisi, tuan." Laki-laki itupun pergi meninggalkan Dion seorang diri sambil membungkuk hormat.
Memikirkan itu semua, membuat Dion semakin ingin menggali informasi tentang Meila. Dia tidak akan tanggung-tanggung untuk mendapatkan kesempatan langka seperti kemarin meski dia harus merasakan sedikit saja rasa sakit dan beribu-ribu kebohongan demi mewujudkan keinginannya.
●●●
Meila terlihat senang ketika mencicipi berbagai macam kue yang berjejer rapi dengan berbagai macam rasa di sebuah etalase besar tembus pandang. Mata bulatnya tak henti berbinar saat tiap suapan dari macam-macam kue berbagai rasa itu bergantian masuk ke dalam mulutnya.
Mereka saat ini sedang mendatangi pameran booth cake yang memamerkan berbagai macam cake, cookies, dan juga pastry. Bukan Dimas jika dia tidak tau apa kesukaan pacarnya. Sejak memasuki pintu mall yang sudah penuh dengan hiruk pikuk pengunjung, secara tidak sengaja Dimas melihat adanya pameran cake and pastry yang sedang dikelilingi para penyuka makanan manis. Sudah pasti Dimas membawa Meila kesana. Karena dia tau, pacarnya itu sangat menyukai makanan manis.
"Kak, aku boleh mencicipi yang itu juga?"
Dengan penuh antusias, Meila menunjuk pada sebuah cake yang menurutnya sangat menggoda. Cake berwarna pink susu dengan hiasan strawberry compound dengan strawberry slices di atasnya, yang dibubuhi dengan peanut crumble yang bertaburan dimana-dimana.
Dimas lalu mengikuti arah jari telunjuk Meila pada sebuah cake yang memang cukup menggoda itu. Lalu, dengan sangat bijaksana Dimas mengiyakan keinginan Meila namun tetap mengingatkan.
"Iya. Tapi tetap secukupnya."
Karena terlalu senang, Meila langsung mengangguk dan meminta salah satu dari pelayan toko untuk memberinya satu sendok untuk mencobanya juga.
"Hmmm... Enak!" Serunya senang dengan tidak sengaja meninggalkan sedikit krim berwarna putih di sudut bibirnya.
Melihat hal itu, membuat Dimas bergerak untuk mengusap sisa krim yang menempel di bibir Meila menggunakan ibu jarinya. Lalu menjilatnya dengan gaya menggoda yang membuat pipi Meila bersemu merah.
"Iya, enak!" Ucap Dimas menggoda. Lalu mengusak-usak rambut kepala Meila dengan sayang sebelum kemudian bertanya apakah sudah memutuskan akan membeli yang mana dari macam-macam cake yang telah dia coba.
"Jadi, kamu mau beli yang mana?"
"Hmmm....." pandangannya melihat satu-persatu cake yang menurutnya sangat enak dilidah. Dan juga terlihat cantik memanjakan mata. ".....yang ini, sama yang itu."
Keputusannya jatuh pada cake strawberry yang baru saja dicobanya, dan juga pada tiramissu cake dengan krim frappuccino yang sangat harum.
"Tolong bungkus cake yang tadi dia tunjuk, dan juga tambah strawberry cheese cake yang paling enak."
"Tambah strawberry cheese cake?" Meila mengulang ucapan Dimas untuk memastikan indera pendengarannya kalau dia memang tidak salah dengar.
Dimas tersenyum. "Karena aku tau, meski semua cake yang kamu coba itu enak semuanya, tapi tetap strawberry cheese cake yang paling kamu suka. Iya, kan?"
Meila menyunggingkan sebuah senyuman yang memperlihatkan gigi-giginya yang rapi. Lalu meraih lengan Dimas untuk bergelayut manja padanya.
"Thank you," bisiknya pelan dengan wajah senang.
Dimas membalas ucapan Meila dengan tatapan sayang. Sambil membelai-belai rambut gadis itu dengan lembut. Mereka pun lalu pergi dari tempat itu dengan perasaan Meila yang sangat riang. Dengan Dimas yang langsung mengambil alih untuk menenteng sekantung tas besar yang berisi 3 box kue di tangannya. Dan dengan tangan satunya lagi yang tetap menggandeng tangan mungil Meila tentunya.