
"Brengsek!" Rendy tampak memukul meja dengan keras hingga membuat keheningan di seluruh ruangan itu pecah. Dia baru saja melemparkan surat misterius yang dikirimkan oleh Beno sebagai teror untuk Meila yang dibawa oleh Dimas setelah dia membacanya.
Gerakannya itu membuat Meila tersentak kaget dengan tindakan Rendy yang tiba-tiba, dan hampir membuatnya terperanjat mundur kalau saja Dimas tidak sedang menggenggam tangannya. Kemudian dengan refleks pula Meila mengeratkan pegangan tangannya pada bahu Dimas. Dan Dimas pun segera menenangkannya dengan mengelus tangan Meila mengisyaratkan kalau semuanya akan baik-baik saja.
"Jadi si brengsek Beno itu udah mulai berani meneror kamu?"
Rendy bertanya pada Meila yang sedang menunduk takut dengan reaksi kemarahan yang ditunjukkannya. Meila sendiri hanya menganggukkan kepala tanpa berani menatap ke arah mata Rendy yang saat itu sedang dipenuhi amarah yang meluap-luap.
Dimas baru saja menceritakan mengenai teror itu sehingga membuatnya untuk menginap dirumah Meila tadi malam. Tanpa dijelaskan lagi pun, Dimas sudah memberitahu Rendy tentang kejadian itu namun tidak secara mendetail. Mengingat pembicaraan mereka yang hanya melalui pesan aplikasi, ditambah lagi dengan Meila yang sedang tidur nyenyak meringkuk dalam pelukan hangatnya.
Dimas menundukkan wajahnya, "ssshh... nggak apa-apa. Ada aku." Dia berbisik menenangkan tepat di telinga Meila sambil mengusap tangan gadis itu dengan lembut.
Meila mengangkat wajahnya untuk menatap Dimas, tidak bisa dipungkiri dirinya memang masih sangat takut untuk menceritakan tentang ini pada Rendy. Jika waktu dimundurkan kembali untuk sekedar mengingat kejadian mengerikan dimasa lalu, Rendy tidak akan segan-segan untuk menghajar Beno habis-habisan kalau saja Meila tidak menahannya.
Rendy tampak menumpukan kedua tangannya pada meja besar didepannya, mengamati keseluruhan diri Meila yang tampak ketakutan karena amarahnya. "Kenapa kamu nggak cerita sama kakak?" Suaranya merendah seketika.
"Ak-aku.... aku takut kak...." Meila menjawab dengan suara bergetar. "Aku... aku takut kalo kak Rendy akan melampiaskan amarah kakak sama Beno. Aku nggak mau kak Rendy celaka." Meila memberikan penjelasannya pada Rendy.
Mendengar alasan Meila membuat tatapan Rendy melembut. Dia melangkahkan kakinya untuk menghampiri Meila yang sedang menempel pada punggung lengan Dimas sebagai sandarannya.
"Untuk hal itu... udah pasti akan aku lakuin." Rendy berucap begitu sampai dihadapan Meila yang masih belum berani menatapnya. Dan seketika itu juga sontak Meila langsung mengangkat kepalanya secara refleks menatap ke arah Rendy dengan dahi mengerut.
"Jangan kak... jangan! Aku nggak mau kalian celaka. Kak Rendy tau kan kalo....."
"Kalo Beno itu pshyco?" Rendy langsung menyambar ucapan Meila dengan cepat. "Justru itu, Mei... kita harus bertindak tegas pada Beno. Bukan sekedar peringatan, tapi hukuman juga. Untuk dimasa lalu mungkin aku belum berhasil membuatnya menyerah, tapi kali ini kakak gak akan ngebiarin dia menghirup udara bebas lagi."
"Kamu nggak usah khawatir, Mei... kita tau apa yang harus kita lakuin." sambung Dimas, bersuara dengan kata-kata misterius.
Meila mengarahkan pandangannya pada kedua pria itu secara bergantian, berusaha menangkap maksud dari ucapan Dimas padanya. Namun, Meila masih belum bisa menelaah maksud ucapan itu. Otaknya sudah merasa lelah untuk sekedar berfikir, dia hanya menatap datar kedua pria itu sambil mendesahkan nafasnya perlahan, sedangkan Dimas mengeratkan genggamannya pada Meila dan tersenyum lembut padanya.
"Semua akan baik-baik aja. Jangan membebani pikiran kamu dengan hal-hal yang berat. Okay?" Rendy mengecup pucuk kepala Meila lembut untuk menenangkan layaknya seorang kakak laki-laki kepada adik perempuannya.
●●●
"Jadi bener, Beno udah mulai berulah lagi dengan meneror lo kayak gini?"
Airin mulai berucap, menyimpulkan dugaannya ketika membaca isi surat misterius yang dikirmkan Beno secara sengaja kepada Meila kemarin. Dia tampak meremas surat itu dengan tangan mengepal kuat menahan marah. Wajahnya tampak geram dengan sikap pengecut Beno yang hanya melakukan teror layaknya seorang banci yang tidak berani menampakkan diri.
Airin dan Meila sedang berada di ruang senat sambil mendiskusikan beberapa tugas yang diberikan pak Andre kepada Mereka. Sedangkan yang lainnya melakukan riset diluar kegiatan kampus untuk menambah beberapa laporan yang diperlukan.
Meila tampak menarik napas dalam, "Ya. Kayak yang lo liat, Rin. Bahkan gue gak bisa buat nyembunyiin ini lagi. Gue takut. Gue terlalu takut, Rin." Sambil memasang wajah murung, Meila mulai mengungkapkan perasaannya.
"Kenapa lo nggak cerita sama gue?" Airin memiringkan kepalanya.
"Gue bingung, Rin. Rasa takut gue seakan ngalahin keberanian gue. Bahkan buat sekedar ngasih tau lo aja gue gak berani." Meila membenarkan posisi duduknya untuk menatap Airin.
"Terus sekarang gimana?" Airin menatap Meila lekat-lekat, membaca raut wajah Meila yang tampak sangat lelah. "Gue gak bisa mgebayangin keadaannya pas lo nemuin ini dan baca surat ini langsung," Airin berhenti sejenak. "Pasti lo ketakutan banget, Mei."
Meila tersenyum kecut, berusaha membentuk senyuman dibibirnya. "Gue beruntung banget kak Dimas dateng di waktu yang tepat setelah gue membaca itu. Lo tau Rin? Bahkan untuk sekedar berpikir pun gue gak sanggup. Rasanya malam itu terasa panjang banget, Rin. Yang ada dipikiran gue gimana caranya waktu berubah cepat ke pagi hari dan gue buru-buru keluar dari rumah dan ketemu kalian semua disini." Meila menjelaskan dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Airin yang dengan setia mendengarkan curahan hati Meila ikut merasakan ketakutan yang sahabatnya rasakan itu. Matanya ikut berkaca-kaca, Airin bukanlah orang yang baru sehari atau dua hari mengenal Meila, dia sudah bertahun-tahun mengenal gadis ceria dan luga namun polos ini dengan baik.
Airin sudah mengetahui kalau untuk satu minggu kedepan Meila hanya tinggal sendirian dirumahnya, sang asisten rumah tangga telah meminta izin untuk pulang kampung karena urusan mendesak yang harus diselesaikan.
Airin memajukan tubuhnya, bibirnya membentuk senyuman haru untuk memberikan dukungan. Tangannya menggenggam tangan Meila dengan tegas, memberikan support systemnya pada sahabatnya itu.
"Lo gak perlu takut, Mei. Gue selalu support lo. Lo gak usah takut karena lo dikelilingi orang-orang yang sayang dan peduli sama lo." Airin mengucapkan kata-kata menguatkan untuk Meila.
"Lo liat kan, pas lo terpuruk bahkan sampe lo ada dititik terendah pun, kak Dimas dateng di waktu yang tepat buat menghibur lo, buat nemenin lo. Jadi lo gak usah takut lagi, Okay? Bahkan kalo gue tau sebelumnya, gue gak akan biarin lo sendirian, Mei." Airin menyambung kembali.
Meila membentukkan bibirnya menjadi sebuah senyuman, tangannya mengusap tangan Airin yang ada di atas permukaan kulitmya.
"Thanx ya, Rin. Lo selalu ada buat gue."
"Anytime, Sist!" Jawab Airin cepat dengan gaya centilnya yang dibuat-buat dengan mengedipkan matanya. Hal itu sontak menggelitik Meila sehingga membuatnya tertawa. Mereka tergelak bersama dengan suara lepas memenuhi seisi ruangan.
Dan tiba-tiba, disaat bersamaan pintu ruangan terbuka. Menampilkan dua sosok pria yang masuk kedalam ruangan dengan Dimas yang masuk lebih dulu disusul dengan Rendy yang langsung menutup pintu dibelakangnya. Mereka menatap heran Airin dan Meila yang sedang sama-sama tergelak lepas.
Airin menyadari kehadiran kedua pria itu terlebih dulu, dia menghentikan tawanya perlahan lalu kemudian disusul dengan Meila yang masih menyisakan cengiran di bibirnya dengan menampilkan gigi-giginya yang rapi.
"Kayaknya ada hal lucu yang udah kita lewatin, Ren." Dimas berucap dengan nada mengejek sambil melangkahkan kakinya menghampiri sosok yang menarik perhatiannya.
Sosok yang membuatnya tertarik itu hanya tersipu malu bersamaan dengan langkah kaki Dimas yang mulai mendekat menghampirinya.
"Lagi ngetawain apa sih,? hm?" Dimas bertanya lembut. "Kayaknya seru banget."
Meila hanya terseyum malu sambil mengangkat bahunya, sedangkan Dimas langsung mengambil posisi berdiri disebelah Meila dan merapikan bukunya kedalam tasnya.
"Awas dek, jangan kelamaan deket Airin, nanti ketularan tomboy." Rendy bersuara dengan nada mengejek. Hal itu langsung ditanggapi Airin dengan menyipitkan matanya bercampur kesal.
"Sifat boleh tomboy. Tapi penampilan tetep feminim dong." Airin menjawab ejekan Rendy dengan nada sedikit jengkel. Rendy hanya menanggapinya acuh dengan menyunggingkan ujung bibirnya.
Sedangkan Dimas dan Meila yang hanya menjadi pendengar yang baik, hanya menggelengkan kepalanya sambil terkekeh pelan melihat dua manusia berlawanan jenis didepannya saling mengejek tanpa mau mengalah dari salah satunya.
"Oiya, Mei. Nanti gue nginep dirumah lo ya?"
"Serius? Asyik!" Meila melompat girang begitu mendengar Airin akan menginap dirumahnya. "Boleh banget, Rin. Kebetulan gue sendirian, bi inah lagi mudik soalnya."
Rendy mengangguk pelan mendengar pernyataan Airin yang akan menemani Meila. Dalam hatinya sedikit lega karena Meila tidak sendirian untuk sementara waktu, minimal ada Airin yang akan mendampinginya. Airin dengan sengaja melirik ke arah Rendy untuk memastikan reaksinya, dan sungguh mengejutkan Rendy langsung mengiyakan tawaran Airin dengan anggukan kepala tegasnya. Hal itu langsung ditangkap cepat oleh Airin dan mengedipkan matanya tanda mengerti.
"Oke kalo gitu.... Yuk! Aku anter kamu." Dimas memberikan tangannya kepada Meila untuk disambutnya.
Meila tersenyum, tanpa ragu dia menyambut uluran tangan Dimas.
"Ren, gue duluan. Mau anter tuan putri dulu. Nanti gue balik lagi." Dimas berucap sambil melirikkan matanya ke arah Meila.
"Okay! Urusan tugas biar gue yang lanjutin. Lo anter adek gue aja sampe rumah, dengan selamat." Rendy memberikan izinnya kepada Dimas.
Setelahnya Airin langsung meninggalkan mereka bertiga di dalam ruangan itu setelah Meila menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Yaudah kalian juga balik aja gak apa-apa." Rendy bersuara kembali melihat Dimas dan Meila yang masih belum juga beranjak.
Meila menatap Rendy dengan ekspresi bingung, seakan tidak enak membiarkan Rendy mengerjakan tugas sendirian tanpa mau dibantu oleh siapapun dan malah justru menyuruhnya pulang.
"Kenapa lagi, Mei..." Rendy bertanya untuk memastikan.
"Mmmm... kamu beneran nggak apa-apa kak disini? Tugas kamu gimana?"
"Nggak apa-apa, Mei. Kan tadi kakak udah bilang ke kamu." Rendy berucap menenangkan. Meila memperhatikan raut wajah Rendy untuk memastikannya sekali lagi. Namun mau dari sisi manapun Meila memperhatikan, ekspresi Rendy tidak berubah. Meila menyunggingkan senyumnya, memperlihatkan giginya yang rapi.
"Yaudah kalo gitu. Aku duluan ya, kak. Selamat mengerjakan tugas." Meila berucap seolah memberikan semangat untuk Rendy.
Rendy terkekeh pelan, begitupun dengan Dimas yang ikut terkekeh karena tingkah gadis itu.
"Terima kasih adik kecil." Rendy berucap sambil mengusap kepala Meila dengan gemas. Dirinya terdiam sejenak, "Maaf ya, kakak tadi udah bentak kamu."
"It's okay, kak. Aku ngerti kok." Meila menjawab ucapan Rendy dengan respon yang baik. Hal itu membuat Rendy tersenyum penuh perhatian.
"Yaudah sana nanti semakin sore." Rendy berucap dengan nada memerintah yang rendah.
Meila menengadahkan kepalanya menatap Dimas yang dengan setia mendengarkan percakapan kakak beradik itu dengan sabar. Dia tersenyum dan Dimas pun juga ikut tersenyum begitu menundukkan kepalanya.
Dimas melirik Rendy sejenak, dan Rendy pun mengedipkan matanya tanda mengiyakan. Dengan tangan masih saling menggenggam, mereka mulai melangkahkan kakinya dengan ringan hingga akhirnya mereka sampai diujung pintu dan keluar dari ruangan itu.
Dimas dan Meila berjalan melewati sepanjang koridor dengan tangan mereka yang saling bertautan, bergandengan tangan sambil saling beradu tatap menyunggingkan senyuman. Mereka sudah mulai terbiasa dengan tatapan mata yang menyaksikan, begitupun dengan Meila yang mulai membiasakan diri.
Tatapan-tatapan rasa iri karena ingin berada di posisi masing-masing membuat mereka menjadi sorotan sepanjang berjalan hingga menuju lapangan parkir tempat Dimas memarkirkan kendaraannya.
●●●
Mereka sudah sampai didepan rumah Meila. Dimas memarkirkan mobilnya di bawah pepohonan rindang nan teduh sebelum kemudian dia keluar dan membukakan pintu untuk Meila. Mereka mulai memasuki halaman dan menuju pintu utama.
"Kamu yakin nggak mau aku temenin dulu?" Dimas bertanya untuk memastikan.
"Nggak apa-apa, kak. Kamu kan harus balik ke kampus buat nyelesaiin laporan yang tadi. Lagian... sebentar lagi Airin sampe kok." Meila menjawab dengan lembut dengan senyumannya yang khas.
Dimas memperhatikan wajah Meila sambil tersenyum lembut, menimbulkan lesung pipinya yang tersembunyi dibalik pipi. Lesung pipi itu menarik perhatian Meila, matanya langsung tertuju pada wajah Dimas di titik lesung pipinya yang menambah kesan manis padanya. Didetik itu tiba-tiba pipinya memanas begitu menyadari Dimas yang sedang memperhatikannya dengan lekat.
Aduhh, Mei! Mikir apaan sih lo?
Dimas mendekatkan tubuhnya, menundukkan wajahnya untuk menangkup wajah Meila agar tetap menatapnya.
"Kenapa wajah kamu selalu memerah tiba-tiba?" Dimas bertanya, pura-pura tidak menyadari perubahan sikap Meila yang sedang sangat canggung didekatnya.
Meila ingin melepaskan tangkupan tangan Dimas dipipinya, namun tangkupan itu sangat kencang tapi tidak menyakiti, terkesan lebih terasa lembut dan hangat dipipinya.
"I-itu... mungkin... mungkin karena cuacanya yang......"
Belum sempat Meila melanjutkan ucapannya, Dimas sudah menyambar bibir mungil itu dengan kecupan lembut bibirnya. Meila sempat kaget dengan tindakan Dimas yang secara tiba-tiba mendaratkan bibirnya tanpa bisa di halangi oleh Meila.
Dimas masih terus mengecup bibir mungil dan manis itu dengan lembut, sedangkan Meila yang sempat tersentak kaget mulai menerima perlakuan Dimas dengan memejamkan matanya perlahan dengan tangannya yang mulai bergerak memegang tangan Dimas yang sedang menangkup wajahnya.
Dimas dapat merasakan bibir Meila yang bergetar karena tindakannya, namun yang membuatnya senang adalah Meila tidak melawan bahkan berusaha menerimanya.
Dimas melepaskan kecupan itu dengan wajah yang masih sangat dekat dan dahi yang saling menempel. Mereka berusaha menetralkan nafas masing-masing dengan mata Meila yang masih terpejam dan alis mengkerut.
Astaga, ada yang salah sama diri gue! Gue mulai merasa nyaman dengan perlakuan Dimas. Gawat! Dan... gue merasa ciuman ini sedikit lebih lama jika dibandingkan dengan sebelumnya. Sadar, Meila! Sadar...
Batin Meila mulai bergejolak dalam dirinya, sampai akhirnya Meila menarik napas panjang, mendesahkan napasnya perlahan ketika dirasakannya sirkulasi udara ke paru-parunya telah normal kembali.
Meila membuka matanya perlahan, dan benar saja Dimas sedang mengawasinya lekat-lekat sambil tersenyum puas. Pipi Meila langsung merona kembali hingga terasa panas, dia memberengutkan bibirnya sambil menatap Dimas yang sedang tersenyum puas seakan meledeknya.
"Kenapa?" Dimas bertanya lembut dengan wajah tanpa merasa bersalah.
"Kamu tuh..... kenapa....." mata Meila memutarkan pandangannya ke segala arah, berusaha berpaling dari tatapan Dimas hingga tertunduk malu.
Dimas tidak bisa lagi menahan tawanya, dia terkekeh pelan sambil membawa gadis itu kedalam pelukannya, menenggelamkan wajah Meila yang merona menahan malu ke dadanya. Meila dapat merasakan tubuh Dimas yang bergetar karena tertawa sambil sesekali mengecup puncak kepala Meila.
"Kita udah hampir sering melakukannya. Tapi kenapa wajah kamu selalu memerah?" Sambil mengusap punggung Meila dengan lembut.
Meila tidak menjawab, dia malah semakin menenggelamkan wajahnya agar Dimas tidak bisa melihatnya. Mengeratkan tangannya ke pinggang pria itu yang kalau di sejajarkan saja, tubuh Meila yang mungil hanya kurang sedikit sampai pada bahu Dimas yang kokoh.
Dimas melepaskan pelukannya, namun lengan kokohnya masih belum melepaskan gadis itu.
"Aku pengen banget mengungkapkan perasaan aku ke kamu." Dimas memainkan anak rambut Meila sambil melilitkannya pada jarinya. "Tapi belum saatnya buat kamu mendengarkan semua itu. Aku pengen kamu merasa nyaman tanpa ada paksaan sedikitpun ketika bersama aku. Biarin semuanya mengalir apa adanya seperti seharusnya." Tangan Dimas bergerak turun menunjuk ke dada sebelah kiri Meila. "Karena aku yakin... tanpa paksaan, hati ini akan menerima dengan sendirinya."
Meila terus menatap Dimas dengan lekat tanpa berkedip, membuatnya menahan haru dengan sedikit pengakuan Dimas yang baru saja dilontarkan dari mulutnya. Rupanya dengan sedikit pengakuan saja, hati gadis itu sudah tersentuh, Meila dapat merasakan ketulusan Dimas untuknya tanpa harus ditanya lagi.
"Aku nggak minta kamu untuk merespon pernyataan aku, kamu cukup menelaah diri kamu sendiri dan merasakannya."
Mata Meila berkaca-kaca, satu tetes air mata haru lolos dipipinya. Dimas terkekeh, jarinya bergerak mengusap air mata itu dengan lembut.
"Hei, aku belum mengungkapkan sepenuhnya, Sayang. Kenapa kamu nggak bisa menahan air mata kamu dulu?" Dimas tergelak sambil berucap rendah hingga membuat Meila ikut tertawa haru karena ucapannya.
Dimas menghembuskan nafasnya, "Yaudah, aku balik ke kampus dulu. Kamu bersih-bersih sambil nunggu Airin dateng. Jangan lupa kunci pintunya."
Meila mengangguk perlahan, membalas perintah Dimas dengan sebuah senyuman.
"Kabarin aku kalo ada apa-apa. Okay?!" Sekali lagi Dimas memberikan ultimatumnya sambil mengusap pipi Meila dengan lembut.
"Hati-hati, kak." Meila berujar lembut.
Dimas membalikkan tubuhnya begitu sudah mendapatkan izin dari Meila. Meila tersenyum sambil menatap Dimas melangkahkan kaki membelakanginya sampai pria itu memasuki mobil hingga melajukannya. Setelah mobil itu hilang dan jauh dari jangkauan pandangannya, Meila baru memasuki rumahnya dan langsung mengunci pintu sesuai yang diinstruksikan Dimas padanya.