
Sisil tampak sedang menikmati makan siangnya di sebuah taman dekat kantin. Dia sengaja memilih menyendiri dari siswa yang lain untuk menjaga interaksi diri yang masih belum bisa dibangunnya dengan baik. Oleh karena itulah saat ini dia tampak menikmati kesendiriannya di bawah pohon pada sebuah bangku dan meja kayu. Ditemani dengan hembusan angin sejuk yang berhembus menerpa wajahnya. Membuat anak-anak rambutnya berantakan hingga dirinya harus merapikannya sebentar.
Setelah menghabiskan makan siangnya, Sisil menikmati jus buah jeruk segar dengan sedikit gula yang dipesannya. Sampai kemudian suara pesan masuk dari ponselnya membuatnya menegang kaku disusul dengan jantung yang berdetak kencang.
Jika mengingat yang lalu, sudah dua kali Sisil mengalami hal tidak mengenakkan dengan pesan yang masuk ke ponselnya. Dan ketika ponselnya berbunyi, dia berpikiran akan hal sama jika yang mengiriminya tidak lain dan tidak bukan pastilah Beno.
Perlahan, Sisil membuka pesan tanpa nama itu dengan tangan gemetar. Dan benar saja, beberapa foto muncul beraturan secara bergantian ke dalam ruang percakapan. Sontak, Sisil langsung membekas mulutnya sendiri karena refleks. Sudah bagus jika dia tidak memekik atau berteriak. Mungkin orang-orang disana akan menganggapnya sebagai perempuan aneh dan gila.
Foto-foto itu menampakan dirinya yang sedang tertidur pulas setengah telanjang di atas kasur apartemennya. Dari berbagai pose yang Beno kirimkan, semuanya begitu mencolok dan memalukan. Rambut acak-acakan dengan sebagian kulit tubuhnya yang terekspose memperlihatkan jejak tanda-tanda Beno yang ditinggalkan di tubuhnya secara liar. Hal itu menyebabkan pergolakan dari dalam perut Sisil hingga menimbulkan rasa mual. Dirinya mendadak ingin muntah dan tidak tertahankan lagi.
Sisil pun langsung berlari sekencang mungkin mencari toilet terdekat. Dan ketika dirinya telah menemukan toilet di ujung koridor dekat kantin, Sisil segera masuk tanpa ragu dan mengeluarkan isi perutnya ke dalam closet termasuk makanan yang baru saja disantapnya beberapa menit lalu. Napasnya terengah disusul dengan keringat dingin yang mulai membanjiri kening. Matanya pun mendadak pedih hingga memerah. Sisil langsung membilas mulutnya ke wastafel sambil melihat pantulan dirinya di cermin.
Tangannya gemetar ketakutan. Tubuhnya pun lemas dan lunglai hingga harus berpegangan kuat pada sisi wastafel karena energi yang telah dikeluarkannya dalam bentuk muntahan. Sisil kembali membilas wajahnya dengan air sebelum kemudian membuka ponselnya kembali yang kali ini ada seseorang yang akan dihubunginya.
Tepat suara dering kedua, panggilan itu langsung terangkat oleh satu-satunya orang yang menjadi tumpuannya saat ini. Yaitu, James.
"Halo?"
Air mata Sisil pecah saat mendengar suara lawan bicaranya. Dan seketika rasa lega dan haru pun bercampur menjadi satu. Menyebabkan hawa panas dari pangkal hidung ke tenggorokannya membuat suaranya bergetar hebat saat akan berkata-kata.
"J-James.... James...." Sisil mulai terisak namun masih tertahan. Dia berusaha mengatur napasnya lebih dulu sebelum akhirnya menyelesaikan kalimatnya. "Di-dia! Dia....."
●●●
Meila pun mendorong pintu berbahan kayu jati tebal itu dengan pelan. Membawa dirinya masuk ke dalam ruangan Dimas dimana pria itu sedang benar-benar berdiri menunggunya dengan menyandarkan pinggulnya ke meja. Perlahan namun pasti, Meila masuk ke ruangan Dimas tanpa harus repot-repot menutup pintunya kembali. Sebab, pintu itu akan otomatis menutup dengan sendirinya tanpa di dorong sekalipun.
"Selamat datang." Sapa Dimas dengan sumringah. "Ayo, kemari!" Dia lalu menjulurkan tangannya menyuruh Meila untuk mendekat padanya.
Meila pun melangkah mendekati Dimas seperti yang Dimas minta. Langkah Meila yang pelan menandakan jika dia masih merasa asing datang ke tempat itu. Dimas langsung memeluk Meila dan menghirup aromanya dalam-dalam. Bau aroma bayi yang melekat serasa membuatnya melupakan kepenatan yang sejak pagi ditanggungnya.
"Kakak, kenapa nggak bilang kalau kamu minta aku kesini?" Meila berkata dalam pelukan Dimas. Yang dimana suaranya sempat teredam di dadanya.
"Kalau aku bilang, itu nggak akan seru, kan?" Jawab Dimas sekenanya. Dan itupun sambil tersenyum santai.
Dimas pun menjauhkan pelukannya dari Meila tanpa melepaskannya. Masih tetap memeluk pinggangnya, lalu mengusapi pipinya dengan usapan paling lembut.
"Kamu tau, pas aku datang tadi dan ketika Henry menyuruh aku buat masuk kesini, rasanya kayak mau interview pekerjaan tau, gak? Deg-deg banget, kak!" ucap Meila antusias.
Dengan ekspresi lucu, Meila menjelaskan perasaannya pada Dimas. Dimas pun terkekeh menanggapinya. Sambil memainkan rambut Meila yang harum, Dimas pun menjawab.
"Anggap aja itu latihan kalau kamu nanti benar-benar interview kerja. Tapi, interview nya harus langsung ke aku. Bukan ke hrd atau yang lain."
"Ih, mana bisa kayak gitu?!" Meila mendesis. "Dimana-mana harus ke hrd baru ke yang lain."
Sambil tersipu, Meila pun terperangah mendengar kalimat Dimas. Dimas menyuruhnya untuk mengurus rumah dan menunggunya pulang kerja? Apa itu sama artinya dengan sebuah lamaran?
Dimas pun menatapnya lekat-lekat sebelum kemudian mengecup bibir Meila sekilas hingga membuat Meila meringis dengan penuh peringatan.
"Kakak! Nanti ada yang masuk," sambil menahan bibir Dimas, Meila berucap tegas dengan nada mengayun manja. Lalu membawa pandangannya ke arah pintu dengan memasang ekspresi ngeri ketika membayangkan jika benar-benar ada seseorang yang masuk ke ruangan itu dan melihat mereka sedang........ ah, sudahlah~~
Dan bukannya mendengarkan, Dimas malah mengecup telapak tangan Meila yang menutupi mulutnya. Hingga membuat wajah Meila merona.
"Nggak ada yang bisa masuk kesini sampai dua jam kedepan. Kecuali aku sendiri yang memanggilnya."
Kedua mata Meila membelalak tidak percaya. Jika benar dugaannya, berarti Dimas telah merencanakannya tanpa meminta persetujuannya. Tetapi mau bagaimanapun juga, tetap Meila tidak bisa marah pada pria ini. Sebab energinya untuk marah sudah terkuras habis oleh degupan jantungnya selama perjalanan hingga sampai di ruangan ini.
"Jadi, mana ciumanku yang tadi pagi itu?" Dimas bertanya dengan nada menggoda yang kental.
Meila kembali tergeragap mengingat kejadian tadi pagi saat dia mengerjai Dimas.
"Kamu masih menagihnya?" Tanya Meila tesungut-sungut. Mengalihkan kegugupannya dari tatapan Dimas. "Itu kan...."
Sambil memulas senyum nakal, Dimas menarik dagu Meila dan mengarahkannya padanya. Hingga membuatnya mendongak dengan kilasan rona merah di pipi yang begitu kentara.
"Itu apa? Hm?" Sambil menggodanya, Dimas mulai memajukan wajahnya pada Meila. Mendekat padanya hingga tanpa jarak dimana hidung mereka sudah saling bersentuhan. Dan sama-sama bisa merasakan napas hangat secara bergantian. Dimas tidak membuang-buang waktunya lagi. Dia lalu menempelkan bibirnya pada bibir Meila yang lembut beraromakan strawberry itu. Merasakan kelembutannya dengan mengecupinya kecil-kecil, serta menggodanya agar Meila mau membuka bibirnya.
Dan perlahan, usaha Dimas pun berhasil. Meila mulai membuka mulutnya. Dan disitulah Dimas langsung mengambil kesempatan untuk menyesapnya lembut. Memagutnya dengan pelan tanpa menyakiti sedikitpun. Memperlakukannya dengan sangat hati-hati dan gentle. Sampai ditengah-tengah ciuman mereka, terdengar suara erangan kecil yang keluar dari mulut Meila disusul dengan deru napas yang mulai berkejaran.
Seketika Dimas langsung menyudahi ciumannya dan menempelkan keningnya pada kening Meila. Mereka sama-sama terpejam sambil mengatur napasnya perlahan tanpa kata sekalipun. Yang terdengar hanya deru napas saja yang memenuhi ruangan itu.
Seketika Meila menjauhkan wajahnya dari Dimas lalu menatapnya dengan tatapan menyelidik sekaligus menuduh. Lalu mengatakan hal yang tak terduga sambil bersungut mengatur napasnya.
"Kak Dimas menyuruh aku kesini karena ini, kan? Bukan untuk makan siang, kan?" Ujarnya menuduh.
Dimas pun langsung tergelak mendengarnya. Karena terlalu gemas dengan pipi Meila yang mengembang dan mengempis, Dimas lalu mencubit-cubit gemas kedua pipi itu dengan rasa sayang.
"Mana mungkin kayak gitu?! Tapi... kalau kamu mengiranya seperti itu ya.. nggak masalah juga." Kelakarnya spontan tanpa membantah sedikitpun.
"Ish! Kakak!"
Dimas pun mendapatkan pukulan kecil ke dadanya dari tangan Meila yang mungil. Dan ditengah-tengah waktu mereka yang singkat itu, tiba-tiba saja dikagetkan dengan suara gemuruh dari perut Meila yang menandakan jika dirinya mulai lapar. Hal itu menimbulkan gelak tawa keras dari Dimas. Sementara Meila tampak malu dan membeku.
"Ayo! Kita makan siang disana."
Tanpa berlama-lama lagi Dimas langsung menarik tangan Meila menuju sofa yang terletak di seberang meja kerjanya. Dimana sudah ada dua porsi makan siang lengkap yang telah disiapkannya tanpa cela.