A Fan With A Man

A Fan With A Man
Lelaki Brengsek



Sisil tampak berlari-lari di sepanjang koridor dan masuk ke dalam toilet. Dia menutup pintu toilet dengan kasar lalu menyandarkan tubuhnya di balik pintu. Napasnya terengah-engah seakan seluruh oksigen di muka bumi terampas semuanya hingga tak bersisa.


Tangannya mengepal kuat dan matanya pun terpejam dalam dengan kepala mendongak.


"Kenapa?" Lirihnya. "Kenapa laki-laki brengsek itu muncul lagi?"


Inikah perasaan yang Meila alami dulu? Inikah rasa ketakutan yang dia rasakan sampai-sampai membuatnya gemetar?


Tanpa disadari, air matanya merembes tanpa ampun tak terkendali. Membasahi pipinya dengan perasaan sesak yang tidak dapat didefinisikan olehnya. Perasaan jijik, sesal, juga marah bercampur jadi satu. Ingin Sisil berteriak. Tetapi dia tau, hal itu sangatlah mustahil.


"Harusnya dari awal gue nggak pernah berurusan sama lo, Beno!" Ujarnya dengan nada meninggi. "Harusnya kita nggak pernah ada kerja sama apapun!" Tubuhnya rubuh ke lantai seketika. Dan di detik itu juga dia benar-benar menangis sejadi-jadinya tanpa suara.


Sisil tidak pernah menangis seperti sekarang jika dipikir-pikir. Bahkan, saat dimana dia tahu kondisi tubuhnya sedang berbadan dua meski hal itu masih belum akurat, bahkan sampai calon bayi itu tidak bisa diselamatkan pun, dia masih merasa acuh tanpa adanya rasa emosional sekalipun. Tetapi sekarang, dia benar-benar merasakannya. Rasa dimana dirinya berada dalam titik terendah dan terhina.


Saat Sisil tenggelam dalam pikirannya sendiri, ponselnya berdering seketika. Rupanya itu adalah sebuah panggilan masuk. Tanpa melihat lagi siapa nama penelepon yang menghubunginya, dia langsung menjawab panggilan itu dengan sapaan kasar.


"Dasar brengsek! Lo mau apa lagi sekarang?"


Terkejut!


Itulah yang dirasakan James begitu menerima sapaan kasar dari Sisil. Dengan refleks dia menjauhkan ponselnya dari telinga sambil memasang ekspresi bingung.


"Siapa yang kamu maksud brengsek?"


Sisil ternganga mendengar suara yang dia kenali. Dia menjauhkan ponsel itu dan melihat nama penelepon yang menghubunginya.


Tukang obat?


"Bu-bukan siapa-siapa." Jawabnya cepat. "It wasn't your bussiness!" pungkas kemudian.


Dahi James mengerut dalam ketika mendengar suara Sisil yang berbeda dari saat dia mengantarnya tadi. Suaranya terdengar serak seperti habis menangis.


"Are you crying?"


"Bukan urusan kamu!" Lagi, Sisil hanya menjawab ketus. "Ada apa?"


"Aku cuma ingin memberitahumu kalau aku akan menjemputmu nanti. Jadi, jangan coba-coba untuk membuat alasan." Ucap James memberi ultimatum.


"Nggak perlu. Kamu bukan siapa-siapa aku. Dan kita nggak punya hubungan apapun. Jadi kamu nggak perlu merasa bertanggung jawab untuk mengantar atau menjemputku."


"Sekalipun jika papamu yang meminta?" Sela James dengan nada memancing.


Sisil terdiam beberapa detik. "Kamu bisa membuat alasan apapun untuk menolaknya, kan?"


James menarik sudut bibirnya. "Mungkin kamu bisa seperti itu. Tapi nggak dengan aku."


James pun menghela napas lagi sebelum akhirnya berujar dengan nada mengingatkan.


"Aku akan datang sebelum jam mata kuliahmu selesai. satu jam? dua jam? aku akan menunggumu. Jadi, jangan berniat untuk kabur." putus James kemudian.


Haa... apa pria ini gila?


Panggilan telepon akhirnya terputus tanpa membiarkan Sisil memberikan jawabannya. Sisil lagi-lagi melempar ponselnya hingga terpental jauh ke kolong wastafel. Lalu membiarkan dirinya terduduk lemas dengan sisa air mata yang mulai mengering.


●●●


Kegiatan perkuliahan berjalan lancar seperti biasa. Meila yang sudah diberi tahu Dimas jika Henry akan menjemputnya, tampak menunggu di ujung koridor dengan santai. Dia berfikir untuk menunggu Henry di depan pintu gerbang dekat pos keamanan agar mempermudahnya untuk tidak perlu masuk halaman dan memutar mobilnya lagi.


Meila berjalan santai dengan ponsel di tangannya. Dia mulai berkali-kali melihat ke arah ponsel untuk melihat jam analog yang dia pasang di layar beranda. Namun, sudah hampir setengah jam Henry belum juga datang untuk menjemputnya. Dia yakin jika Dimas pasti sudah memberitahunya dan mungkin saat ini dia tengah terjebak kemacetan di luar sana.


Sebenarnya Meila ingin menelepon Dimas, menanyainya apakah Henry sudah di jalan menuju kampusnya atau belum. Tetapi mengingat akan ada rapat penting, dia akhirnya mengurungkannya. Kali ini dia ingin menelepon Henry, tapi dia takut mengganggu konsentrasinya dalam  mengemudi.


Tepat disaat Meila mulai gusar, sebuah mobil Honda HRV berwarna putih berhenti tepat di depannya. Meila berekspresi bingung sampai harus merasa waspada. Lalu seorang pria yang ada dibalik kursi kemudi akhirnya keluar dan membuat Meila terkejut.


Itu adalah Dion.


"Hai. Apa kabar? Kebetulan aku lewat sini. Dan dari jauh ngeliat kamu berdiri sendirian. Kamu lagi nunggu seseorang?"


Dengan gaya canggungnya yang khas disertai sikap waspada yang kentara, Meila menjawab dengan kikuk tanpa melakukan kontak mata dengan Dion.


"Aku... aku lagi nunggu Henry."


"Henry?"


Meila hampir lupa jika Dion belum pernah bertemu Henry sebelumnya. Dia akhirnya segera meralat ucapannya.


"Ah, emmm... dia yang akan jemput aku."


Dion tampak mengangguk paham.


Sementara Meila sedang berusaha mengontrol rasa takutnya, di tempat lain Henry sedang kwalahan dan berusaha agar cepat sampai ke kampus dimana Meila sedang menunggunya. Dia terjebak dalam kondisi dimana mobil yang dikendarainya mendadak mogok di tengah jalan tiba-tiba.


Berulang-ulang Henry mengecek bensinnya, tetapi tangki bensin masih terisi penuh. Air karburator pun tidak ada masalah. Bagian mesin pendukung lainnya pun tidak menunjukkan tanda-tanda kerusakan fatal.


Henry akhirnya menghentikan mobilnya di bahu jalan untuk mencoba menghubungi Meila. Memberitahunya, dan menyarankannya agar menaiki transportasi umum seperti taksi. Karena jika harus menunggu, itu tidak memungkinkan dan tidak ada yang tau kapan dia akan sampai.


"Gawat kalau-kalau nona terlalu lama menunggu. Tuan pasti akan sangat-sangat marah padaku." Gumam Henry dalam hati.


●●●


Lima belas menit kemudian, Henry tidak juga datang menjemputnya. Meila berpikiran mungkin terjadi sesuatu atau masalah dalam perjalanan. Dia sempat berpikir untuk memesan taksi melalui aplikasi. Tetapi, lagi-lagi suara Dion yang tiba-tiba memperngaruhi konsentrasinya dalam berfikir.


"Sorry sebelumnya." Dion berusaha sopan. "Gimana kalo kamu aku antar? Ini udah hampir sore. Kalaupun dia udah di jalan, minimal udah akan sampai atau telah sampai sejak 30 menit lalu."


Ada benarnya juga. Apa aku pesan taksi aja, ya?


"Ah, emm... nggak usah, kak. Aku... nunggu aja gak apa-apa."


Deg!


Dion terpaku. Nyaris terpukau karena Meila memanggilnya dengan sebutan 'kak' yang sangat enak didengar. Ini pertama kalinya ada seorang perempuan yang dengan santai memanggilnya dengan sebutan itu. Meskipun dalam nada bicaranya terbata-bata karena mungkin dia merasa gugup, tetapi Dion sangat-sangat menyukainya.


"Ayolah, mau sampai kapan kamu nunggu? Oh, atau kamu hubungi dia. Tanya udah sampai mana perjalanannya."


Kalau Meila menyimpan kontak Henry, sudah dari tadi dia lakukan itu. Dia pasti sudah mengubungi Henry untuk menanyakannya. Tapi sayangnya, entah itu Meila maupun Henry tidak menghubunginya sama sekali.


Meila semakin gelisah. Dia akhirnya mencari jawaban lain. "Aku... aku bisa naik taksi."


Dion terkekeh mendengar jawaban asal Meila.


"Kamu yakin mau naik taksi? Nyaris setengah jam kita berdiri disini, apa kamu liat ada taksi yang lewat?"


Benar juga! Meila tidak memperhatikan itu karena sibuk dengan pikirannya sendiri. Sibuk mengontrol rasa cemas dan gelisah yang dapat menimbulkan serangan panik tiba-tiba.


Meila tampak terdiam sejenak dan berpikir. Dengan refleks dia juga menautkan jari jemarinya yang hal itu tidak luput dari perhatian Dion.


Bolehkah seperti itu? Menerima ajakan orang yang belum dikenal dan belum tau sikap dan sifat aslinya sebenarnya? Terlebih lagi.. itu adalah seorang pria yang ada dalam mimpi buruk meski belum diketahui kebenarannya?


"Gimana?" Dion bertanya kembali dengan nada tidak sabar yang dia tahan. Dia tidak mungkin menunjukkan ke-aroganannya di depan perempuan yang menjadi targetnya.


Setelah berpikir panjang dan mempertimbangkan, Meila akhirnya memberi anggukan kepala tipis tanda dia menerimanya yang nyaris tidak bisa dilihat. Setelah mendapat jawaban 'ya' berupa anggukan, Dion membimbing Meila menuju kursi penumpang dan membukakan pintu untuknya.