
Sisil terduduk di sofa dengan kepala yang menunduk dalam. Dengan masih menyisakan sedikit isakan kecil disertai wajah sembab dan hidung yang memerah. James menyuruhnya untuk duduk disana sambil menenangkan diri. Sementara dirinya mengambilkan air minum untuk Sisil di dapur yang tidak jauh dari tempatnya duduk.
Suara langkah kaki James yang terdengar semakin dekat menandakan jika lelaki itu sedang berjalan ke arahnya. Semakin mendekat hingga James membawa dirinya duduk di sebelah Sisil dengan nyaris tanpa jarak.
"Ini. Kamu minum dulu," James memberikan segelas air putih untuk Sisil yang langsung diterimanya.
Sisil lalu meminum air itu dengan perlahan. Meneguknya sedikit demi sedikit untuk membasahi tenggorokannya yang kering.
Setelah berhasil membasahi tenggorokannya, Sisil yang baru akan meletakkan gelas ke atas meja langsung diambil oleh James.
"Sudah?" Tanya James begitu gelas itu ditangannya.
Sisil mengangguk pelan. Kepalanya tertunduk kembali karena tidak berani menatap James yang menatapnya begitu intens.
"Sekarang, coba kamu ceritakan semuanya."
James kembali meminta Sisil untuk menceritakan awal mula permasalahannya terjadi. Namun melihat Sisil yang tampak bingung sambil meremas jemarinya sendiri, keingintahuan James yang begitu kuat seketika diurungkan karena tidak tega. James takut hanya karena keingintahuannya, Sisil malah merasa tertekan dan terpojokkan.
"Baiklah, kalau kamu belum siap, jangan ceritakan. Kamu bisa menceritakannya saat kamu sudah benar-benar siap." Ucap James saat berubah pikiran. Nada suaranya sama sekali tidak terdengar kecewa ataupun putus asa. Justru nada pengertianlah yang begitu kentara.
Disaat James akan bangkit dari sofa menuju dapur, lengannya ditarik tiba-tiba oleh tangan rapuh Sisil dengan penuh kehati-hatian. James terpaku melihatnya. Disadarinya wajah Sisil yang mulai mendongak dengan perlahan sambil memasang wajah sendu.
"Aku.... Aku akan menceritakan semuanya." Suaranya masih tergeragap dan juga serak. Tapi tak lama dia melanjutkannya lagi. "...Se-sekarang." Imbuhnya kemudian.
Sikap Sisil yang berubah tentu saja membuat James terpaku. Tetapi, dengan berubahnya sikap Sisil, sudah memberikan kemajuan yang pesat sebagai fondasi awal dari hubungannya.
James segera terduduk kembali di sebelah Sisil tanpa membuat jarak. Telapak tangannya yang besar dan hangat langsung menangkup tangan Sisil yang sangat begitu pas dalam cakupannya. Menggenggamnya lembut untuk menyalurkan kekuatan dari sana.
"Ayo, ceritakan. Aku akan mendengarkannya." Ucap James sambil menguatkan.
"Se-semua itu berawal dari......."
●●●
"Apa?! Jadi lo nyuruh gue kesini malam-malam cuma buat dengerin cerita patah hati lo doang?"
Shila tampak menggerutu ketika telah mengetahui alasan Dion yang memanggilnya ke restoran. Hanya untuk mendengarkan kekesalannya karena telah gagal mendekati perempuan incarannya.
"Ya terus? Gue harus cerita ke siapa lagi kalo bukan sama lo, Shil?"
"Ya paling nggak jangan kasih gue cerita patah hati lo ke orang yang lagi patah hati juga, dong.!" Jawab Shila dengan gerutuannya.
Mendengar pernyataan Shila, sontak membuat kedua alis Dion mengernyit. Tubuhnya yang tegap seketika dimajukan sedikit sambil memasang wajah serius.
"Kenapa bisa patah hati?"
Shila berdecak kesal ketika mengingat kejadian sore tadi yang disaksikannya langsung dengan mata kepalanya sendiri di sebuah cafe. Mengingat saat dimana Dimas memperlakukan seorang perempuan dengan lembut, memberikan tatapan penuh kasih dan sayang tanpa batas. Tapi, yang membuatnya kesal adalah, saat dimana tangan dari perempuan yang datang bersama Dimas bergelayut manja di lengannya yang kokoh dan Dimas terlihat seperti tidak keberatan ataupun risih. Tetapi ekspresi senanglah yang diperlihatkannya saat itu.
"Ah, udahlah nggak penting!" Shila tampak mengelak. Dan kembali mengalihkan pembicaraan. "Sekarang apa yang mau lo lakuin sama perempuan incaran lo itu?"
Shila terkejut. "Apa? Jangan bilang lo akan menggunakan cara itu kayak korban-korban lo sebelumnya?"
Dion menyeringai penuh arti. Hingga siapapun yang melihatnya mampu membuat bulu kuduk berdiri.
"Dengan sangat terpaksa, Shil. Tapi kali ini gue akan bermain halus. Karena target incaran gue itu adalah perempuan manis dan lembut yang udah berhasil bikin gue gila. Jadi gue harus memperlakukannya dengan cara yang berbeda. Dengan cara yang lembut juga." Ujarnya menyeringai.
"Gue rasa lo mulai gila karena cewek itu. Seperti apa sih perempuan yang lo bilang manis itu?"
"Lo benar. Gue tergila-gila sama perempuan itu. Sampai rasanya gue pengen membawanya dan menyembunyikannya di dalam kamar tanpa ada seorangpun yang boleh memandanginya. Kecuali gue. Cuma gue!"
Shila menggelengkan kepalanya karena merasa heran.
Sebenarnya wanita mana yang bikin Dion sampai segitunya? Apa masih ada wanita manis dan lembut di zaman sekarang seperti yang dia maksud itu?
●●●
"Sejak kejadian itu aku baru sadar jika dulu Meila benar-benar kesulitan seperti yang aku rasain sekarang. Dan aku sadar, kejahatan aku itu nggak bisa dimaafkan begitu aja. Dan apa yang aku alami sekarang itu seperti karma dari kejahatanku yang lalu."
Dengan wajah sendu dan rasa bersalah yang terlihat, Sisil menceritakan awal mula terjadi permasalahannya hingga sekarang menimpanya. Dengan penuh gelisah, serta keberanian yang masih tersisa, Sisil berusaha mengumpulkan keberaniannya demi keselamatan dirinya. Sebab, jika dia masih saja merasa takut, tidak akan ada yang bisa membantunya karena dia sendiri tidak mampu untuk mengatakannya.
Sementara James, yang tampak mendengarkan dengan wajah serius dan tidak terbaca, tampak setia menunggui Sisil menceritakan segalanya dengan tuntas sampai ke akar. Dan itu dengan kekuatan genggaman tangannya pada Sisil yang sangat erat.
"Aku sadar, James. Apa yang aku lakukan itu adalah kesalahan besar. Meskipun aku merasa bersalah dengan apa yang aku perbuat, nyatanya itu belum mampu untuk menutupi penyesalanku. Sampai sekarang. Bahkan, saat aku berhadapan dengan mama dan papa, aku nggak berani untuk menatapnya. Aku merasa, kalau aku melakukan itu, rasanya aku sedang melempar kotoran ke depan muka orang tuaku." Sisil kembali merasa bersalah hingga air matanya menggenang kembali. Dia bergegas untuk menyeka air matanya agar tidak jatuh. Tetapi James telah melakukannya lebih dulu.
"Lanjutkan," Ucap James seketika sambil menyeka air mata Sisil yang hampir jatuh.
"Selang beberapa bulan setelah kejadian itu, aku mendengar kabar kalau Beno tertangkap atas campur tangan Dimas. Tentu saja aku ikut senang mendengarnya. Tetapi, rasa senang itu berubah menjadi rasa jijik pada diriku sendiri. Bahkan disaat seperti itupun pikiran jahat aku masih bermain. Berpikir, tentu aja Dimas mau melakukan itu. Melakukan apapun demi perempuan yang dicintainya. Sedangkan aku, nggak ada seorangpun yang peduli bahkan ketika aku kehilangan kehormatanku sebagai wanita. Kamu tau, James, akibat dari rasa iri dan kedengkianku itulah aku telah menceburkan diriku sendiri ke dalam lubang hitam. Seolah aku tenggelam disana tanpa ada seorangpun yang mau menolong karena merasa jijik." Sisil kembali terisak. Air matanya tumpah ruah membasahi wajahnya.
"Sekarang, tolong katakan, James... Apa yang harus aku lakukan untuk menebus semuanya? Meskipun aku tau itu nggak akan membuat semuanya kembali seperti semula. Aku cuma mau tenang, James... Aku cuma mau berdamai dengan keadaan. Aku lelah selalu dibayang-bayangi oleh kejahatanku sendiri yang sekarang malah berbalik menyerangku."
"Ssshh... tenang, Sisil... Aku akan membantumu. Kamu ingat kata-kataku, kan? Mau bagaimanapun masa lalumu, aku tidak peduli." James berusaha menenangkan Sisil. Membawa pandangan Sisil untuk menatapnya.
"Tapi aku nggak pantas menerima bantuanmu, James. Aku ini kotor. Aku wanita hina yang telah dengan sukarela menyerahkan kehormatanku pada laki-laki lain dalam kondisi menjijikkan. Aku nggak bisa menerima........."
"Aku tidak peduli!" James menyela kalimat Sisil. "Aku tidak peduli kondisimu. Yang aku tau, aku merasakan perasaan yang dalam padamu. Dan perasaan ini bukanlah perasaan biasa. Melainkan perasaan antara pria dewasa yang menginginkan seorang wanita. Biarkan aku membantumu....." James kembali meyakinkan Sisil agar perempuan itu tidak kembali goyah. Tangannya kembali menggenggam erat tangan Sisil dengan penuh keyakinan. "Oke?! Mulai sekarang jangan pernah sungkan dan menganggapku orang lain. Karena aku bukanlah orang lain untukmu mulai sekarang. Aku adalah sandaranmu. Pelindungmu sekaligus tameng untukmu."
Pernyataan James membuat Sisil terpaku sekaligus merasa dicintai. Baru sekarang dia merasa begitu amat diinginkan oleh seseorang. Pasalnya, dia pernah memimpikan jika suatu saat ada seseorang yang akan benar-benar menerima kekurangannya seperti yang dulu pernah dia saksikan melalui Meila dan Dimas. Hingga pada saatnya tiba, disaat dirinya benar-benar putus asa, James lah yang dengan sukarela mengulurkan tangannya dan menariknya ke atas agar tidak tenggelam lebih dalam lagi.
"Kenapa kamu mau membantuku? Aku nggak pantas buat kamu, James. Kenapa harus aku?" Sisil menatap James dalam-dalam. Menelisik ke kedalaman bola matanya.
"Karena aku yang memilihmu, Sisil. Aku sudah mengatakan padamu tentang perasaanku, kan? Bahkan aku tau, kamu pun merasakan hal yang sama sepertiku. Jangan berusaha mengelaknya, Sisil. Karena mau sekeras apapun kamu mendorongku, sekeras itulah aku akan menarikmu agar semakin mendekat padaku."
James dan Sisil saling bertatapan. Saling menelisik lebih dalam melalui tatapan masing-masing hingga akhirnya James lah yang mengambil inisiatif untuk mencium Sisil. Menangkup wajahnya dengan lembut sambil memberikan ciumannya yang hangat. Penuh perasaan sebagai pembuktian kesungguhan perasaannya padanya.
Seketika, Sisil seperti terkunci dalam ciuman James yang menghanyutkan. Kedua matanya ikut terpejam sesaat setelah air matanya jatuh membasahi pipinya. Dia merasakan kehangatan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Seketika, tangan Sisil bergerak untuk melingkari punggung James yang kokoh. Ciuman itu terus berlanjut hingga akhirnya James melepaskan pagutannya untuk beralih ke pipi yang menjurus ke bagian tulang rahang Sisil. Mencecapnya kecil-kecil hingga turun ke leher jenjang Sisil untuk dikecupnya. James pun dengan sengaja memberikan tandanya disana hingga membuat Sisil terkejut sampai mengencangkan rangkulannya ke leher James.
Mereka sama-sama terhanyut pada perasaan masing-masing. Napas yang saling berkejaran, debaran jantung yang saling bersahutan, serta suhu tubuh yang mulai panas melingkupi keduanya. Di detik inilah Sisil benar-benar merasa dihargai. Merasakan rasa tulus dari seorang pria yang benar-benar menginginkannya. Di saat itulah air matanya jatuh bercampur dengan rasa lega yang melingkupi seluruh tubuhnya.