A Fan With A Man

A Fan With A Man
Undangan



Setelah tadi ada sedikit perdebatan, akhirnya Sisil menyetujui permintaan papanya agar dia diantar oleh James ke kampus. Dan saat ini, mereka sedang dalam perjalanan menuju kampus dengan suasana keheningan yang membentang diantara keduanya.


Demi untuk mengalihkan kekesalannya, Sisil sengaja membuka kaca jendela lebar-lebar agar udara dari luar masuk ke dalam dan menerpa wajahnya yang sengaja dia alihkan ke luar jendela. Dia tau, pasti pria bule sok ganteng yang sedang fokus menyetir itu sedang mengomel dalam hatinya karena kaca jendelanya yang dibuatnya terbuka lebar. Dan itu sedikit membuat Sisil tertawa dalam hati karena secara tidak langsung telah mengurangi kekesalan yang sedari tadi ditahannya.


"Jangan membuka jendelanya terlalu lebar. Itu akan menimbulkan polusi udara yang akan mencemari pendingin udara disini. Kamu nggak mau kan, paru-paru mu penuh dengan udara kotor karena ulahmu sendiri?"


Meskipun kalimatnya terdengar santai dan sopan, tetapi sangatlah terdengar menjengkelkan. Sisil memutar bola matanya dengan malas, lalu menjawab patah demi patah kata untuk menimpali kalimat yang terdengar seperti ejekan baginya.


"Itu bagian dari resiko karena bersikeras memaksa untuk mengantar seorang wanita yang belum dikenal. Apalagi udah membuat mood wanita itu berantakan sebelumnya. Aku lebih suka memalingkan wajahku ke jalanan daripada harus berdiam diri dengan kaku di samping pria bule sok ganteng yang menyebalkan kayak kamu!" Ketusnya.


Sisil berucap menohok. Pun disertai seringaian puas yang dia tunjukkan sebagai tanda kemenangan dalam berargumen.


Namun, meski begitu James tidak mengambil hati. Dia malah tersenyum geli disertai gelengan kepala karena Sisil secara tidak langsung telah mengakui ketampanannya.


"Well, lakukan apapun semau kamu. Tapi aku nggak akan tanggung jawab kalau setelah ini kamu batuk-batuk karena asap kendaraan yang kamu hirup sepanjang jalan ini." Timpalnya James.


Sisil berdecak kesal. Entah mengapa dia merasa pria bule ini lebih bawel dibanding kedua orang tuanya.


"Nggak perlu repot-repot mikirin aku. Fokus aja menyetir agar bisa sampai ke kampus tepat waktu. Aku nggak mau telat dan harus ngulang tugas hanya karena buang waktu berdebat nggak jelas."


James mengangkat ujung bibirnya sekilas. "Siap, nona. Sesuai permintaanmu." Ujarnya meledek sambil menancapkan gasnya. Sementara Sisil, langsung memberikan tatapan sinis pada James lalu memalingkan wajahnya lagi ke luar jendela.


Entah apa yang ada dipikiran James saat itu. Dengan mudahnya dia menyetujui begitu saja permintaan Adrian untuk mengantarkan putri tunggalnya yang sangat jauh dari kesan manis dan ramah ini. Namun meski begitu, tidak ada rasa keberatan dalam hati James saat menghadapi sikap Sisil yang sangat tidak mengenakkan. Justru yang ada, dia malah ingin membuat Sisil mengubah sikap dan pandangannya terhadap dirinya. Meskipun itu jauh dari kata mudah dan sangat kecil kemungkinannya untuk berhasil.


●●●


"Ponselmu berbunyi,"


Rendy mengingatkan Vika yang duduk disebelahnya. Mendengar ponsel gadis itu berbunyi, Rendy langsung melirik ke arah ponsel Vika yang diletakkan di atas pangkal pahanya.


Itu bukanlah sebuah penggilan telepon. Melainkan sebuah pengingat. Vika melihat adanya notif seperti alarm yang telah mengingatkannya akan sebuah acara besar di akhir pekan ini. Dan itu diadakan setiap tahun dan selalu dihadiri olehnya dalam tiga tahun belakangan ini. Matanya seketika membelalak, mengingat dirinya yang nyaris lupa jika saja alarmnya tidak terpasang.


"Astaga, Rendy! Minggu ini adalah pesta Anniversary orang tua James. Aku hampir aja lupa." Ucapnya dengan mata setengah membelalak.


Rendy tersenyum manis dengan pandangan tetap fokus menyetir.


"Kalau begitu kita akan datang kesana." Sahutnya santai.


Lalu tiba-tiba wajah Vika berubah murung dengan bibir yang setengah merengut.


"Iya. Tapi... aku belum menyiapkan baju apa yang harus aku pakai nanti." Ujarnya dengan suara merendah yang dibalut dengan nada merajuk.


Rendy mendengus ringan. "Ngapain bingung-bingung sih, Sayang. Kita bisa menyiapkan itu nanti. Atau... kalo kamu mau, kita bisa langsung berbelanja dan memilih gaun yang kamu suka setelah pulang dari kampus nanti?" 


Seketika wajah Vika berubah riang. Memang dasar naluri wanita jika mendengar kata 'berbelanja', pasti langsung bersemangat. Dan tanpa diduga, Vika sudah memajukan tubuhnya dan mengecup pipi Rendy.


"Thank you. Kalo begitu, kita akan berbelanja sore nanti." Ujarnya penuh semangat. Sedangkan Rendy, hanya menggeleng geli disertai kekehan tawa ringan.


"As you wish, my lady!"


●●●


Waktu jam makan siang akan segera tiba. Dimas telah memimpin meeting dan menyelesaikan beberapa tugas proyek perusahaan tepat waktu tanpa ada cela sedikitpun. Alhasil, dia langsung merapikan mejanya dan memastikan sekali lagi jika semuanya memang benar-benar telah rapi dan terkendali.


Bergegas, Dimas merapikan file-file yang ada dihadapannya ke sudut meja. Dan menutup layar laptop di depannya sebelum kemudian mengambil kunci mobilnya dan berjalan menuju pintu keluar dengan wajah cerah.


Begitu berjalan di sepanjang koridor dan membalas semua sapaan para pegawai dengan ramah, langkah Dimas dihentikan oleh suara Henry yang memanggilnya dengan nada mendesak sebelum Dimas melangkah masuk menuju lift.


"Maaf, tuan. Ada sebuah undangan pesta di akhir pekan ini untuk anda." Henry memberikan undangan itu pada Dimas dengan sopan.


"Oh, pesta dari tuan dan nyonya Anderson?" Ucap Dimas saat melihat tema acara yang tertera di undangan tersebut.


Henry mengangguk pelan. "Benar, tuan. Apa saya perlu mengkonfirmasi untuk kedatangan anda?"


"Baik, tuan. Saya mohon izin kembali ke ruangan. Jika memerlukan sesuatu, tuan bisa hubungi saya." Ucap Henry sambil memberi salam hormat.


Dengan anggukan yang disamarkan, Dimas menjawab. "Terima kasih, Henry. Kamu lanjutkan saja pekerjaanmu. Jika ada sesuatu mengenai pekerjaan, segera hubungi saya."


Di dalam lift, Dimas melihat kembali undangan tersebut sambil melengkungkan sebuah senyum. Dia berpikir akan mengajak Meila keluar untuk makan siang dan membelikan gaun bergaya manis yang pas dengan ukuran tubuhnya yang mungil. Karena tidak lain dan tidak bukan, sudah pasti dia akan mengajak Meila agar ikut mendampinginya ke acara pesta di akhir pekan nanti.


Sementara Dimas begitu antusias ingin segera sampai dan mengajak gadisnya berbelanja, Meila yang terlihat masih santai di ruang utama dengan membaca novel yang diberikan Dimas melalui Henry ditemani dengan lollipop yang dia beli kemarin. Wajah cerianya tidak pernah berhenti menebar senyum. Begitu antusias saat membaca lembar demi lembar halaman.


Tidak sampai tiga puluh menit terdengar suara pintu yang terbuka. Menandakan dengan datangnya seseorang yang Meila yakini itu adalah Dimas. Karena tidak mungkin orang lain akan bisa memasukinya dengan mudah karena pintu yang telah dia kunci ganda seperti pesan Dimas padanya. Dan itupun hanya Dimas yang bisa membukanya.


Meila langsung berdiri dan bergegas menghampiri. Dan benarlah, dia adalah Dimas. Pria itu menepati janjinya akan tiba di rumah saat jam makan siang.


"Selamat datang," suara Meila yang ceria menyambut kedatangan Dimas.


Tidak menjawab, Dimas malah tersenyum sambil berjalan mendekat. Memeluk dan menciumi puncak kepala Meila dengan penuh perasaan. Menghirup aroma rambutnya yang harum menenangkan sambil berbisik disana.


"Hanya setengah hari. Tapi kayak seharian penuh aku nggak ngeliat kamu." Memberi jeda pada kalimatnya, "Obatnya udah diminum, kan?"


Meila tersenyum dalam pelukan Dimas, lalu mendongakkan kepalanya sebelum kemudian mengangguk dan bertanya,


"Gimana meetingnya? Lancar?"


Didahului dengan helaan napas, Dimas menyahuti tanpa melepaskan pelukannya.


"Semuanya lancar dan terkendali." Lalu menjauhkan tubuhnya sedikit dan menatap Meila dengan lembut sambil mengelus pipinya. "Kamu sendiri? Apa merasa bosan di rumah?"


Dengan senyuman manis, Meila menjawab disertai gelengan kepala. "Aku langsung baca novel yang kamu kasih ditemani dengan camilan itu," wajahnya menoleh ke meja tempat camilan itu ia letakkan. "dan juga lollipop ini." Lalu mengangkat lollipopnya ke hadapan Dimas. "Kak Dimas mau?" Dan menawarkan lollipop itu pada Dimas yang masih belum dimakan dan terbungkus rapi."


Dimas menatap Meila dengan tatapan penuh arti. Kemudian tersenyum, dan tanpa peringatan langsung mendaratkan sebuah kecupan lembut ke atas bibir Meila yang berwarna merah muda nan menggoda.


"Dibandingkan dengan itu, ini jauh lebih manis." Bisiknya begitu kecupan itu terlepas. Jemarinya pun mengikuti, bergerak mengusap bibir bawah Meila yang terasa lembut menyentuh jarinya.


Wajah Meila dibuat merona olehnya. Pun dengan sikap malu-malu yang tidak berlangsung lama, pandangannya tertuju pada sebuah kartu undangan yang Dimas pegang.


"Itu... apa?" Tanyanya polos.


Pandangan Dimas mengarah pada undangan yang dipegangnya. "Ini undangan jamuan makan malam pesta ulang tahun pernikahan dari salah satu kolega teman papa aku. Mereka mengundangku untuk menghadirinya di akhir pekan ini."


Meila hanya ber-oh ria mendengar jawaban Dimas. Dia sama sekali tidak pernah memikirkan jika Dimas akan mengajaknya untuk mendampinginya.


"Dan aku mau kamu menemani aku. Mendampingi aku untuk menghadiri pestanya." Sambungnya kemudian.


Kedua mata Meila setengah membelalak. "Aku...? Tapi... kenapa? Aku bahkan belum menyiapkan baju apa yang cocok dan harus aku pakai. Lagi pula, aku merasa nggak enak hati untuk menghadirinya." Suaranya merendah di akhir kalimat.


"Kenapa nggak enak? Aku sengaja mengajak kamu, karena kamu memang orang yang pantas untuk mendampingi aku. Aku udah memikirkannya matang-matang sejak undangan ini sampai di tanganku." Tangan Dimas bergerak mengusap batang hidung Meila dengan lembut. "Maka dari itu, aku mau mengajak kamu makan siang di luar sekaligus memilihkan gaun apa yang akan kamu pakai nanti."


"Gaun? Tapi aku masih ada beberapa baju yang kamu belikan waktu itu, kan? Nggak perlu beli lagi, kak." Meila sedikit merajuk. Karena dia tidak mau Dimas mengeluarkan banyak uang lagi hanya untuk dirinya.


Dimas terkekeh dibuatnya. "Berhubung ini acara semi formal, akan lebih baik jika kamu memilih gaun yang anggun, Sayang. Jika perlu, aku akan pilihkan gaun spesial yang sesuai dengan ukuran tubuh mungil kamu dari desainer terkenal agar dibuatkan secara khusus dalam waktu singkat ini. Aku yakin kamu akan terlihat semakin cantik saat memakainya nanti."


Melihat wajah Meila yang seperti menimbang-nimbang kalimatnya, Dimas tampak sabar menunggu gadis itu mengeluarkan kata setuju, yang tidak memakan waktu lama langsung dijawab dengan balutan kalimat persyaratan.


".......okay......." suaranya terdengar kecil namun masih dapat didengar oleh Dimas. Tetapi sedetik kemudian menyambung kembali. "Tapi, tapi.... nggak perlu sampai pesan gaun ke desainer. Aku bisa pakai gaun manapun, kok."


Melihat tingkah malu-malunya membuat Dimas gemas sampai tidak tahan untuk menangkup sisi wajah Meila dan mengecup ujung hidungnya sekilas, yang setelahnya ia gesekkan ke hidungnya dengan gemas.


"Sesuai permintaanmu, Sayang." Jawabnya hingga berhasil membuat Meila tersenyum. "Kalo gitu, ayo kita siap-siap sekarang."


Dimas langsung menggandeng tangan Meila untuk mengikutinya bersiap-siap. Sementara Meila, tanpa protes langsung berjalan mengekori Dimas menaiki anak tangga sambil menikmati lollipopnya yang belum ia habiskan.