A Fan With A Man

A Fan With A Man
Pengakuan



Mata indah dan polos itu akhirnya terbuka, mengerjap perlahan sambil berusaha menembus cahaya agar masuk ke matanya yang masih berkabut. Kepalanya tertunduk, memperhatikan tubuhnya yang tertutup selimut tebal. Seketika ingatan samar saat dirinya setengah sadar muncul di kepala, dimana rasa dingin menghampiri hingga menusuk tulang. Tapi sekarang tidak lagi, tubuhnya sudah merasa tidak kedinginan lagi,  hanya rasa nyeri menusuk dibagian perut hingga mengakibatkan ringisan kecil berhasil keluar dari bibirnya.


Tenggorokannya begitu kering, Meila berdehem ketika merasakan rasa perih ditenggorokan muncul ingin segera membasahinya dengan air.


Didetik itulah Dimas menyadari bahwa Meila sudah siuman dan tersadar total dari pengaruh obat bius. Dimas mengerjap dan matanya langsung terbuka sempurna ketika menangkap wajah Meila yang tadi sempat pucat, perlahan memudar berganti dengan warna kemerahan hangat miliknya.


"Kak Dimas...." suara rengekan lemah dari gadis mungil yang Dimas rindukan akhirnya terdengar kembali, membuat perasaannya membuncah bahagia.


"Ya. Ini aku. Kamu butuh apa? Kamu mau minum?" Dimas menawarkan minum untuk Meila, berusaha memberikan apapun agar gadis itu merasa nyaman.


Meila menggangguk lemah, "ha-haus..." setengah merengek, Meila mulai mengeluarkan ciri khasnya. Membuat perasaan Dimas diselimuti kelegaan.


Dengan segera, Dimas mengambilkan segelas air minum yang diletakkan diatas meja dekat ranjang. Tentu gadisnya merasa haus, karena setelah tadi sempat sadar hingga akhirnya terlelap kembali, dan sekarang baru tersadar total setelah lima jam kemudian.


Dengan sabar dan telaten, Dimas memberikan Meila minum dengan membantunya mengangkat kepala gadis itu perlahan dan menyanggahnya dengan tangannya. Lalu mendekatkan bibir gelas ke bibir Meila yang tampak masih sedikit pucat dan kering pecah-pecah karena dehidrasi ringan.


Meila melepaskan bibirnya dari bibir gelas, mendorongnya perlahan dan membiarkan Dimas meletakkan gelas itu segera, baru kemudian membantunya berbaring kembali dengan posisi nyaman, meninggikan bantalnya sedikit agar memudahkan gadisnya untuk berinteraksi.


Meila terdiam, bersandar di kepala ranjang dengan lemas sambil sesekali menarik napas untuk meredakan rasa sakit dibagian perutnya.


Dimas duduk di pinggir ranjang, memposisikan dirinya agar berada sedekat mungkin dari Meila. Matanya mulai mengawasi, memindai wajah gadis itu yang tampak mulai merona kembali setelah tadi warna pucat mendominasi. Kemudian matanya berhenti di bibir merah muda tipis yang tampak kering pecah-pecah karena dehidrasi. Dimas menyambar bibir itu sekilas, mengecupnya singkat dan menggesekkan bibirnya disana seolah sedang menyalurkan kehangatan pada gadisnya.


Dimas menjauh, mengawasi Meila dalam diam. Kemudian jarinya mengusap bibir Meila yang basah karena kecupannya.


"Aku hampir mati karena memikirkan kamu. Memikirkan gimana caranya agar kamu segera sadar." Tangannya menangkup pipi Meila, mengelusnya dengan lembut. "Pasti rasanya sangat sakit dan nggak sebanding dengan tubuh kamu yang mungil ini," ucap Dimas lirih.


Justru aku yang akan merasa sakit jika Beno berhasil nyakitin kamu, kak. Aku nggak mungkin diem aja ngebiarin Beno melakukan itu.


Meila terdiam, mengamati Dimas lekat-lekat. "Aku... aku baik-baik aja, kak." Tampak Meila memaksakan senyumnya sambil setengah meringis, merasakan perutnya yang terasa perih akibat gerakannya.


"Jangan memaksakan senyuman hanya untuk membuat orang didepan kamu merasa lega, tapi kenyataannya malah sebaliknya." Dimas rupanya memperhatikan perubahan wajah Meila dengan cepat. Membuat Meila tersipu malu dengan wajah memerah.


"Pasti sakit, kan?" Sekali lagi Dimas bertanya, menyiratkan sikap perhatian yang kental sampai harus menyentuh ke bagian perut Meila yang terluka, tentunya dengan sentuhan lembut tak terkira.


Meila sempat terdiam sebelum kemudian menganggukkan kepalanya dengan pelan disertai tatapan mata sayu. Air mata yang sejak tadi ditahan kuat-kuat agar tidak tumpah akhirnya meminta untuk dikeluarkan, diluapkan melalui isakan dari rasa sakit yang mendera. Jika diizinkan, Meila akan berteriak sekencang mungkin untuk meredakan rasa sakitnya. Tapi Meila lebih memilih menangis saja guna membersihkan rasa sesak yang belum sempat dikeluarkannya. Sekarang bukan saatnya untuk pura-pura kuat, percuma jika harus menyembunyikan rasa sakit pada seseorang yang sangat mengerti diri kamu luar dan dalam tanpa cela.


Dimas memajukan tubuhnya, merengkuh Meila kedalam pelukannya, dan tentunya dengan gerakan yang sangat hati-hati. Tangan Dimas bergerak mengusap kepala Meila, menyalurkan ketenangan pada gadisnya. Meski  tangan Meila hanya sebelah saja memeluk Dimas karena sebelah tangannya lagi harus tertahan oleh selang infus, dapat dirasakannya Meila langsung bersandar ke bahu Dimas dengan mengambil posisi ternyamannya.


"Tenangkan diri kamu, Mei.. luka jahitan kamu masih basah, jangan terlalu banyak tekanan," Dimas berucap lembut, sesekali memberikan kecupan ke pelipis Meila, tangannya tak tinggal diam, sambil merengkuh dengan hati-hati, dengan lihai tangannya mengusap punggung Meila, menyalurkan ketenangan disana.


"Maaf... karena udah buat kamu cemas, kak..." Meila terisak dengan suara serak, tampak sedang menahan rasa sakit, "...aku bingung harus berbuat apa ketika sadar kalo Beno sedang menghampiri kamu dengan membawa pisau ditangannya."


Dimas terdiam, namun tidak menghentikan tangannya bergerak untuk terus mengusap kepala Meila dengan sayang. Dijauhkannya kepala Meila sedikit  dari pelukannya sebelum kemudian mendaratkan sebuah kecupan lagi ke pelipis gadisnya dan berbisik disana.


"Ssshh... nggak perlu merasa bersalah, Sayang. Harusnya aku yang minta maaf ke kamu karena harusnya aku yang terbaring disini, bukan kamu."


Kalimat penyesalan yang terlontar dari mulut Dimas itu sontak membuat Meila menjauhkan dirinya dari pelukan Dimas, berusaha menahan kalimat Dimas dengan memegang tangan pria itu erat-erat, "nggak kak... nggak... ja-jangan bilang gitu, Aku mohon..." dengan air mata yang masih bercucuran, Meila berucap dengan terbata.


Dimas mendesah pelan sambil menyusuri tiap inci wajah Meila yang masih menatapnya, kemudian tatapannya berubah sayang. "Kenapa kamu mendorong aku dan ngebiarin diri kamu yang terluka? Padahal jelas-jelas target Beno adalah aku." Sebelah tangan Dimas berbalik menggenggam tangan Meila, berusaha mengusir rasa gelisah yang terpancar dimatanya. Sedangkan tangan yang lainnya mengusap air mata yang mengalir ke pipi mulus Meila.


Meila tergeragap disertai kepala yang tertunduk, ingatan akan pengakuan perasaannya pada Dimas sebelum dirinya tak sadarkan diri terlintas kembali dibenaknya.


Perasaan itu memang ada. Dan mulai tumbuh dengan sendirinya. Dan mengenai pengakuannya itu.... adalah wujud dari rasa takut akan kehilangan yang Meila rasakan.


"Kenapa...?" Dimas meraih dagu Meila, mengangkat wajah gadisnya agar menatapnya.


"Itu.... karena...." Meila berusaha menjawab, ada rasa gugup dalam suaranya.


"Karena kamu menyayangiku. Iya?" Dimas menyambar ucapan Meila, mencoba menyelesaikan kalimat yang belum sempurna.


Deg! 


Seolah kalimat Dimas itu tepat sasaran, mata Meila langsung membelalak seperti perwujudan keterkejutannya, disertai degup jantungnya yang tak beraturan. Menandakan bahwa perasaan itu memanglah benar. Tidak berkurang, justru malah lebih dari yang diucapkan sebelumnya. Meila sendiri tidak sadar kapan perasaan itu tumbuh hingga akhirnya terlontar begitu saja dari mulutnya.


Hingga akhirnya tidak ada lagi kalimat yang keluar dari mulut Meila, Dimas lah yang langsung mengambil kesimpulan jika tebakannya adalah benar. Dimas tersenyum lembut, mengusap kepala Meila dengan usapan sayang.


"Kamu pun tau tentang bagaimana perasaan aku ke kamu, jauh sebelum kamu mengakuinya. Dan perasaan itu adalah hal mutlak yang tidak akan pernah berubah meski berkali-kali kamu menyangkalnya."


●●●


Semenjak pertemuan mereka di lift hotel waktu, rupanya semakin mendekatkan Airin dan Bryant. Seringnya pertemuan yang mereka lakukan, seringnya komunikasi, seiring berjalannya waktu telah membuat keduanya semakin akrab satu sama lainnya. Tidak ada lagi rasa canggung seperti pertama mereka bersama kedua ibu mereka yang ternyata sudah saling mengenal.


Seperti saat ini misalnya, Airin dan Bryant akan mengunjungi sebuah pantai yang masih berada disekitaran hotel tempat mereka menginap. Bryant sudah berjanji dan akan mengajaknya menikmati deburan ombak serta pasir halus berwarna putih menyenangkan.


Mereka telah sampai, keduanya keluar dari mobil didahului oleh Airin yang tidak sabar untuk menapakkan kakinya ke atas pasir. Dengan senyum penuh dari bibirnya, setengah melompat sebagai perwujudan rasa bahagianya, Airin tampak seperti anak kecil yang baru pertama kali rekreasi ke pantai bersama orang tuanya.


Bryant menghampiri Airin sambil melepas kacamata hitam miliknya yang ia selipkan ke kerah bajunya. Bryant tersenyum melihat tingkah Airin yang tampak kegirangan sambil berucap kata yang terdengar seperti tantangan.


"Are you ready...?" Ucap Bryant dengan santai,


"So much ready!" Jawab Airin tak kalah bersemangat, dan tanpa aba-aba gadis itu langsung mengacir berlari hingga ke bibir pantai. Sebelumnya Airin telah melepas sepatunya ketika didalam mobil tadi sebelum mereka sampai. Sensasi menyenangkan saat deburan ombak kecil menyentuh hingga mata kaki, lalu berkecipak dengan melompat-lompat membuat Airin sangat gembira.


Setelah beberapa hari, mungkin hampir seminggu lamanya ia mendampingi Windy melakukan seminar sana-sini hingga tidak ada waktu untuk menghibur diri, hanya bisa menikmati pemandangan pantai dari balkon kamarnya, tapi kali ini semuanya nyata. Pemandangan indah yang ia lihat dari atas balkon tampak lebih indah ketika dinikmati secara langsung.


Mulai dari deburan ombak, pasir putih halus yang terasa lembut menyentuh telapak kaki, hingga kerang-kerang kecil yang menghiasi sepanjang bibir pantai semakin menambah kesan indah pantai itu.


"Aku suka pantai ini, kak. Rasanya udah lama banget aku nggak pergi ke pantai," sergah Airin setengah berteriak, meminimalisir suara tiupan angin laut yang begitu kencang.


"Aku seneng kalo kamu suka pantai ini." Bryant berdiri beriringan sambil memasukkan tangannya ke saku celananya. "But, sorry.. kalo aku baru bisa ajak kamu menjelang sore kayak gini, ada hal penting yang harus aku urus dan baru bisa selesai tadi siang." Bryant menjelaskan alasan mengapa dirinya baru bisa mengajak Airin ke pantai itu diwaktu sore.


"It's okay, kak Bry. Never mind. Yang penting kita udah sampe di pantai ini." Kekeh Airin menimpali, disertai tawa renyah yang keluar dari bibirnya.


Tanpa ada percakapan lagi, Airin membawa dirinya ke bibir pantai mengikuti deburan ombak yang pasang dan surut. Tertawa sendiri sambil melompat-lompat penuh antusias, membiarkan celana jeans motif robeknya basah terkena cipratan air laut.


Bryant sendiri hanya mengamati, tersenyum melihat gadis tomboy dihadapannya yang terlihat senang bukan main. Ketika Airin menceburkan kakinya, hingga menimbulkan teriakan kegembiraan, Bryant juga merasakannya. Tampak kekaguman terpancar dari tatapan mata Bryant.


Diam-diam Bryant telah mengagumi Airin, mengagumi tawanya, sifat tomboy dan cueknya, bahkan sampai gaya berpakaian yang jauh dari sifat feminim dari kebanyakan wanita diluar sana.


Cantik!


Saat Bryant masih belum berhenti memperhatikan Airin, belum beranjak dari lamunannya atas penilaiannya tentang Airin, tiba-tiba...


"Aww..."


Suara pekikan itu memecahkan lamunan Bryant yang tadi hampir tenggelam. Dengan cepat Bryant berlari menghampiri Airin untuk mencari tahu tentang keadaannya dan penyebab kenapa gadis itu memekik kesakitan.


"Awwh... aduuh..." sekali lagi Airin terdengar mengaduh kesakitan,


"Kenapa, Rin?" Tanya Bryant dengan suara cemas, matanya mengikuti arah kemana wajah Airin tertuju.


Airin setengah mengangkat kakinya dan menyanggahnya dengan lututnya, dilihatnya telapak kaki gadis itu mengeluarkan darah hingga membuat Bryant membelalakkan matanya terkejut.


"Astaga, Rin. Kaki kamu.... kaki kamu terluka," tangan Bryant memegang bahu Airin, membantu gadis itu untuk menjaga keseimbangannya.


"I-iya, kak..." Setengah meringis dan memberi jeda, "barusan kayaknya kena karang deh," ucap Airin memastikan sambil membersihkan kakinya dari pasir-pasir yang menempel.


"Yaudah kita kesana dulu, kita obatin luka kamu dulu," Bryant menghela Airin untuk mengikutinya, membantunya berjalan dengan memeluk pinggang gadis itu posesif.


Bryant mendudukan Airin di tempat yang teduh, lebih mirip seperti gubuk sederhana yang memang diperuntukkan untuk para turis atau pengunjung beristirahat sebelum melanjutkan kembali bermain atau berenang di pantai.


"Tahan sebentar, ya." Dimas mengambil sapu tangan dari saku celananya, lalu membebat kaki Airin yang terluka dengan gerakan memutar. Tampak Airin sedikit meringis ketika Bryant mengikat lukanya, seketika Bryant pun ikut membuat ekspresi tampak kesakitan seperti yang Airin keluarkan.


Sepertinya mereka harus menunggu di gubuk itu hingga senja datang, karena tidak mungkin untuk Bryant membiarkan Airin kesakitan dengan berdiri dibawah langit yang menggelap tanpa alas kaki hanya untuk menyaksikan matahari terbenam. Tentu! Bryant memang mengajak Airin untuk menikmati sunset di ufuk barat ditengah pantai, tapi melihat keadaan Airin dengan luka telapak kaki yang tidak memungkinkan, Bryant memutuskan untuk tetap di gubuk itu. Toh, rasanya sama saja, di gubuk pun sepertinya akan terasa lebih nyaman dibanding berdiri dengan kaki telanjang apalagi sambil menahan rasa sakit dan perih karena tekanan yang ditimbulkan.


●●●


"Udah, kak... cukup..."


Meila mendorong sendok yang Dimas sodorkan ke mulutnya. Pria itu berusaha membujuk Meila agar menghabiskan makan malamnya yang tinggal beberapa suap lagi.


"Sedikit lagi, ya?" Tawar Dimas pada Meila, terdengar seperti sedang melakukan negosiasi.


"Nggak mau.. rasanya aneh. Hambar. Nggak enak." Meila merengek sambil menutup mulutnya. Mencegah sendok yang akan masuk ke mulutnya, sekaligus menahan rasa mual yang timbul karena makanan yang masuk ke perutnya. Meila yakin, jika makanan itu masuk lagi, pasti didetik itu juga ia akan memuntahkannya dan mengeluarkan semua isi perutnya ke lantai.


Dimas terkekeh, menertawakan sikap Meila yang kekanak-kanakan dan manja padanya. "Makanan rumah sakit mana ada yang enak, Sayang? Kamu mau pulih dengan cepat, kan?"


Meila mengangguk kuat-kuat, namun tidak melepaskan tangannya dari menutup mulutnya. Lalu matanya melirik ke arah sendok yang masih di udara, menunggu untuk didaratkan segera kedalam mulut Meila. Dan seketika, disertai gelengan lemah sekaligus memasang tatapan mata polos nan sendu layaknya seekor anak kucing malang yang minta diajak ke rumah ditengah hujan lebat. Hal yang sudah pasti membuat Dimas tidak mampu menolaknya.


Karena tidak tega melihat Meila yang menahan mual, yang jika dipaksakan untuk menelan lagi malah akan memuntahkan isi perutnya, akhirnya Dimas mengalah, setidaknya beberapa suapan tadi sudah berhasil mengganjal perutnya yang kosong.


Dimas meletakkan piring makan Meila ke nampan diatas meja, lalu mengambil air minumnya dan membantu Meila meminumnya dengan masih memeganginya.


Setelah selesai, Dimas meletakkan kembali gelas air minum itu disamping piring diatas nampan yang akan diambil oleh perawat pada jam yang telah ditentukan.


"Sekarang..." jemari Dimas mengelap bibir sudut bibir Meila yang basah, "...karena kamu udah kenyang, aku mau menagih sesuatu ke kamu." Dimas berbicara seperti sedang berteka-teki, membuat Meila memasang wajah bingung.


"Menagih... sesuatu? Menagih apa?" Seolah Meila benar-benar tidak mengerti apa yang Dimas bicarakan, gadis itu hanya menjawab dengan nada polos dengan alis setengah mengernyit.


Dimas tersenyum penuh arti, dia membenarkan posisi duduknya, menciptakan jarak sedekat mungkin agar gadis itu tidak bisa menyangkal atau berpaling jika Dimas mengintimidasinya dengan sebuah pertanyaan.


"Pada saat penusukan itu terjadi, ketika kamu berbaring dipangkuan aku, sebelum kamu nggak sadarkan diri kamu membisikkan sesuatu ke aku, dan setelah... itu kamu pingsan," Dimas mengamati perubahan wajah Meila, ada semburat merah yang muncul di tulang pipi gadis itu. "apa... kamu ingat apa itu?"


Pertanyaan itu membuat Meila terpaku, berkali-kali berusaha menelan ludahnya untuk menghalau detak jantung yang berkejaran. Pipinya pun mulai terasa panas, ingin segera melarikan diri dan bersembunyi dari pertanyaan yang terasa mengintimidasi.


Inikah waktunya? Inikah waktunya untuk aku berkata jujur?


●●●


Sebelumnya Meila tidak pernah menduga jika Dimas akan membahas masalah itu secepatnya. Tapi semuanya sudah kepalang basah, semua sudah terjadi, pengakuan itu sudah keluar dari bibir Meila dengan sendirinya, seolah memang diperuntukkan di waktu yang tepat bahkan mendesak.


Sebenarnya Meila juga mengakui jika perasaan itu memang ada. Bahkan dirinya sangat sadar jika perlahan rasa sayang itu tumbuh seiring berjalannya waktu dan kedekatan mereka. Apakah ini saatnya bagi Meila untuk jujur pada dirinya sendiri? Berapa kali pun Meila menyangkal dan berpura-pura menganggap perasaan itu bukan karena perasaan suka dan sayang semata, tapi tetap saja hati dan pikirannya tidak selaras dengan apa yang diinginkan. Mau cepat atau lambat, sekarang atau nanti, Meila pasti akan lebih memilih untuk menyerah dan membiarkan perasaan ini seperti yang seharusnya. Dan jika ini memang waktunya untuk jujur dan menyerah pada perasaannya sendiri, Meila akan membiarkannya, dia tidak akan menyangkalnya lagi.


"Itu...." Meila menelan ludahnya sekali lagi, mengusir rasa gugup yang mendera. Jemarinya saling bertautan satu sama lainnya. Disaat dirinya sudah siap untuk berucap, Meila menarik napas sejenak dan matanya berusaha menatap ke arah bola mata Dimas yang tajam, tidak seperti biasanya, yang tidak pernah sanggup untuk menatap langsung ke bola mata Dimas.


"....a-aku mengakuinya...." Meski dengan suara rendah namun pasti dan tekanan lambat dalam intonasinya, disertai bibir yang bergetar dan tangan basah karena berkeringat, Meila berhasil mengucap dua kata yang terasa sulit baginya.


Hembusan napas tipis keluar dari bibir Dimas saat Meila berusaha berkata jujur, lebih menggambarkan seperti hembusan napas lega yang selama ini Dimas nantikan.


"Ak-aku... aku sebenernya bingung seperti apa rasa sayang itu. Seperti apa bentuk dari rasa cinta. Tapi... yang aku tau, rasa sayang itu adalah rasa dimana aku merasa bahagia," Meila meremas jemarinya sendiri, berusaha menghalau rasa gugupnya, "rasa dimana... aku merasa nyaman, rasa dimana tempat berbagi suka dan duka, dan juga... rasa akan takut kehilangan."


Meila memutar bola matanya lalu menarik napas berkali-kali, "aku... aku belum pernah merasakan hal kayak gini sebelumnya. Aku bingung untuk mengartikan setiap rasa yang muncul ketika aku lagi sama kak Dimas. Tapi yang aku tau, kakak selalu buat aku nyaman, selalu buat aku tenang, selalu mengusir rasa takut yang diganti dengan kelegaan." Meila memainkan jari-jemarinya bergantian, mengusap tangannya yang basah penuh berkeringat, "pada saat... aku liat Beno menghampiri kamu dengan pisau ditangannya, aku nggak tau harus berbuat apa... aku takut kak Dimas terluka... aku.... aku takut kak Dimas nggak disamping aku lagi..." raut wajahnya berubah cemas disertai bayangan hal-hal buruk seakan ada didepan mata, "aku sampai membayangkan hal-hal buruk kedepannya kalo itu benar-benar terjadi. Aku... aku... takut kak Dimas ninggalin aku... " suaranya tersekat dan merendah, disertai mata yang berkaca-kaca, "aku nggak sanggup ngebayangin hal buruk yang akan terjadi kalo pada saat itu aku........"


Dimas yang setia menjadi pendengar, tiba-tiba saja dengan gerakan tidak sabar langsung bergerak maju untuk mendaratkan sebuah ciuman ke atas bibir Meila. Mengecupnya dengan lembut dibalut dengan perasaan kasih dan sayang. Mencecapnya dengan dibalut perasaan lega dan bahagia, menggeseknya lembut sambil menghembuskan napas hangatnya disana. Lalu menciptakan irama menenangkan hingga berhasil membuat mata Meila terpejam karena terbuai.


Setelah menyalurkan rasa bahagia melalui ciuman, Dimas melepaskan bibirnya namun belum menjauh dari sana. Sambil berusaha mengatur napas masing-masing dan menyatukan dahi mereka, dan dibalut dengan perasaan lega, Dimas menggesekkan bibirnya lagi ke atas bibir Meila, menghembuskan napas hangatnya ke permukaan wajah Meila.


"Jangan katakan apapun lagi. Semuanya udah cukup untuk mewakilkan perasaan kamu." Dimas berucap sambil menggesekkan bibirnya, "aku udah mendapatkan jawabannya, dan kamu udah berusaha memberikan jawaban meski aku tau itu sangat sulit buat kamu." Sekarang giliran hidung mereka yang saling bergesekan, dengan tangan Dimas menangkup kedua pipi Meila.


Didetik itulah air mata Meila jatuh, menetes ke pipinya. Menandakan perasaan lega dan haru yang bercampur jadi satu, luapan rasa bahagia yang belum pernah Meila rasakan sebelumnya.


Dimas menjauhkan wajahnya dari Meila untuk menatap wajah gadisnya. Jemari Dimas mengusap air mata yang jatuh ke pipi Meila dengan usapan lembut, bibirnya pun mengikuti, mengecup kedua mata gadisnya bergantian dengan gerakan lembut tak terkira. Kedua matanya menatap kembali ke wajah Meila, mengamatinya dalam-dalam, sedangkan ekspresi Meila hanya diam tak bergeming, hanya tampak warna kemerahan di wajahnya yang tampak samar dibawah sinar cahaya lampu putih yang memudar.


"I Love You..."


Dimas berbisik didepan wajah Meila yang sangat dekat tanpa jarak,


"I Love You...." sekali lagi, seakan ingin menegaskan dan sedikit menekankan intonasi kalimatnya, Dimas berbisik dengan nada suara rendah seolah hanya membiarkan Meila saja yang mendengarnya.


Didetik itulah air mata Meila bercucuran disertai dengan isakan, tangis haru bahagia yang menyelimutinya seakan tidak bisa ditoleril lagi. Rasa bahagia yang mutlak dan pasti seolah suasana yang tercipta, memang diciptakan hanya untuk mereka saja. Milik sejoli yang baru saja mengungkapkan perasaan masing-masing dalam keheningan ruang rawat rumah sakit.


"A-aku tau...." tanpa bisa menahan isakannya lagi, Meila menghambur kedalam pelukan Dimas dan memeluknya erat. "Aku tau, kak... aku tau..." isakannya teredam dalam dekapan hangat pria itu, tenggelam di kehangatan lengan-lengannya yang kokoh, menghirup aroma vanila menenangkan yang hampir saja tidak bisa dirasakannya lagi.


Karena tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya, Dimas menjauhkan sedikit wajah gadisnya, dengan tatapan penuh haru disertai senyuman bahagia, Dimas menciumi wajah Meila, menyusuri tiap inci wajahnya menggunakan bibirnya. Mulai dari mengecup kening, lalu turun ke kedua mata indah Meila secara bergantian, lalu turun sedikit ke kedua pipi mulus Meila, kemudian bibir dan terakhir dagu sebagai penutup. Setelah semua kecupan itu diberikannya, Dimas menarik kembali Meila kedalam dekapannya, lalu menenggelamkan gadisnya ke dadanya. Isakan Meila semakin tak terbendung lagi, tangannya yang tersambung ke selang infus terlepas begitu saja hingga tidak menghiraukan rasa sakit menusuk efek dari jarum yang tadi tertanam menembus kulitnya.


Dimas sendiri juga merasakan hal yang sama, sambil tersenyum haru, matanya ikut berkaca-kaca disertai usapan tangannya ke kepala Meila. Mengusap punggungnya dengan gerakan lembut berirama, mengecup berkali-kali pucuk kepala gadisnya, menempelkan wajahnya ke kelembutan rambut Meila, sambil menghembuskan napas lega, serta menghirup aroma bayi yang begitu menyenangkan baginya.