
"Meila, tolong bawakan buku-buku ini ke perpustakaan, ya. Dan rapikan juga sesuai dengan judulnya."
"Baik, pak.
Meila yang baru saja menyelesaikan kuis di jam pertama perkuliahannya, tiba-tiba saja dimintai tolong oleh seorang dosen pengajar setelah selesai mengumpulkan lembar jawaban. Dia diperintahkan untuk membawa beberapa buku ke perpustakaan oleh dosen pengajar mata kuliah bidang bahasa. Dan tentunya, sebagai siswi yang baik, sudah tentu Meila mematuhinya.
Dengan patuh, Meila mulai menumpukkan beberapa buku ke atas tangannya dengan rapih. Dan tiba-tiba saja Airin menghampirinya dan menawarkan bantuan.
"Mei, perlu bantuan?"
"Nggak usah, Rin. Biar gue aja. Sekalian gue mau ke toilet." Meila menolak tawaran Airin dengan halus.
"Oke." Airin menjawabnya dengan gaya tomboynya yang khas. "kalau gitu gue balik ke bantuan gue lagi, ya. Semangat!"
Meila langsung membawa buku-buku itu keluar dan berjalan menuju perpustakaan. Dia mulai melewati lorong panjang yang tidak begitu ramai oleh mahasiswa yang sebagaian sedang asyik mengobrol. Tidak sedikit dari mereka ada yang menawarkan bantuan untuknya. Tetapi lagi-lagi Meila menolaknya dengan halus. Tanpa menyinggung sedikitpun perasaan mereka.
Ditengah-tengah perjalanan, karena pandangannya sedikit terhalang oleh tumpukan buku, tiba-tiba saja dirinya menabrak seseorang hingga sempat terhuyung dan nyaris menjatuhkan buku-buku di tangannya.
"Ma-maaf. Aku nggak sengaja. Pandanganku tertutup sama buku-buku ini."
"Ng-nggak apa-apa." jawabnya cepat.
"Sisil?"
Dan ternyata itu adalah Sisil. Meila langsung mengenali suara yang dtabraknya tadi tanpa melihat sosoknya sekalipun. Dan baru bisa langsung jelas melihat sosoknya setelah dibantu oleh Sisil membenarkan posisi buku-bukunya yang memiring. Juga dengan wajah Sisil yang memerah padam dan tampak gugup. Sontak Meila langsung bisa menangkapnya dengan mudah.
"Muka kamu kenapa? Kenapa merah?"
"Ah, nggak kenapa-napa. Cuma ada orang aneh yang lagi tebar pesona."
Meila mengulas senyumnya jahil dan menebaknya. "Kak James, ya?"
Sisil membelalak. "Ah, bu-bukan. Cuma orang gak jelas, kok."
"Oh. Oke." Meila hanya mengangguk-angguk mengiyakan. Tetapi dirinya yakin, pasti Sisil seperti itu karena James. Dan Meila memilih untuk tidak membahasnya lagi.
"Eh, lo ngapain bawa buku sebanyak ini? Badan lo terlalu kecil buat bawa buku-buku ini. Sini, gue bantuin!"
"Eh, nggak usah, Sisil... Aku bisa, kok. Cuma harus bawa ini ke perpus. Tuh, sebentar lagi sampe. Lagian kamu juga harus masuk, kan?"
"I-iya, sih... tapi beneran nih gak mau dibantuin? Jangan bilang nanti kalau gue gak tergerak buat bantu lo, ya. Padahal lo sendiri yang nolak bantuan gue." sungut Sisil.
Meila tertawa kecil. "Iya, iya.. Yaudah sana, kamu masuk aja. Bentar lagi telat, loh."
"Ya-yaudah gue masuk dulu. Eh, tunggu! Bawanya yang bener, dong.! Buku yang paling besar harusnya dibawah. Dan yang kecil ditaruh paling atas. Biar seimbang." Sisil lalu kembali membenarkan posisi buku-buku Meila sebelum kemudian benar-benar meninggalkannya.
"Oh, terima kasih." Meila berujar ramah yang hanya dijawab gumaman oleh Sisil. Tetapi meski terkesan masih jutek, Sisil tampak memperhatikan dirinya yang sedang kesusahan membawa tumpukan buku. Dan itu sudah membuat hati Meila senang. Karena ini adalah pertama kalinya dia berpapasan sambil membuka pembicaraan dengan respon yang cukup baik.
Beberapa langkah Meila berjalan, tumpukan buku-buku itu kembali merosot hingga benar-benar terjatuh ke lantai.
Brak!
Buku itupun berserakan kemana-mana sampai Meila refleks berjongkok karena akan mengambilnya kembali. Tetapi, saat Meila mulai meraih buku satu persatu di lantai, tiba-tiba saja ada seorang pria berpakaian rapi semi formal yang ikut membungkuk dan berjongkok membantunya.
"Hati-hati, nona." Seru pria itu dengan sopan.
"Ah, terima kasih." Meila mengucap tanpa melihat lawan bicaranya. "Mungkin aku yang sedikit ceroboh."
Tidak membutuhkan waktu yang lama, buku-buku itu kembali tersusun rapi. Bahkan jauh lebih rapi dari sebelumnya. Orang itu langsung berpamitan dengan sopan dan tidak berkata apapun lagi tanpa meninggalkan kecurigaan. Dan ketika Meila juga akan membalikkan badan, dia baru sadar jika ada yang aneh dengan sikap orang tadi yang terlihat penuh hormat padanya.
Ya! sapaan orang itu dengan menyelipkan kata 'nona' dalam bicaranya membuat Meila tersadar akan sesuatu.
Tadi orang itu bilang..... 'nona'? Apa jangan-jangan.....
●●●
Meila langsung menoleh dengan setengah membalikkan badannya. Memandang aneh pria itu yang tampak berjalan dengan tegap. Jika dugaannya benar, mungkinkah itu adalah satu dari orang-orang yang Dimas maksudkan? Para pengawal yang diletakkan secara berpencar olehnya untuk menjaganya? Dan kalau memang benar, pasalnya hanya orang-orang Dimas lah yang memanggilnya dengan sebutan seperti itu. Dan untuk memastikannya, Meila harus bertanya, bukan?
"Tunggu....."
Mengetahui langkahnya dihentikan oleh Meila, pria itu otomatis langsung berhenti. Kemudian membalikkan badannya dengan gaya penuh hormat tetap masih dalam posisi tegap.
"Ya,? Anda memanggil saya?"
"Oh! I-iya. Aku cuma mau bertanya. Apa.... Kamu salah satu dari mereka?"
Meila sengaja tidak menyebutkan kata pengawal karena takut akan didengar oleh orang lain. Dia sengaja menekankan kata 'mereka' dengan nada penuh arti yang langsung dapat ditangkap oleh pria itu. Dan pria itupun langsung mengerti apa yang sedang Meila maksudkan padanya.
Pria itu tersenyum ramah sebelum kemudian mengangguk tegas. "Benar, nona."
"Oh, terima kasih."
Meila tersenyum tulus sambil mengatakan rasa terima kasihnya pada orang itu. Yang langsung dibalas oleh anggukan tegas nan lugas khas seorang pengawal yang sudah terlatih.
"Dan... tolong jangan panggil aku dengan sebutan nona kalau sedang banyak orang. Aku nggak mau mereka salah faham." Imbuh Meila dengan sebuah permintaan.
"Baik. Saya akan mengingatnya."
"Sekali lagi terima kasih sudah membantuku tadi." Ucap Meila lagi ketika dirinya akan benar-benar melanjutkan langkahnya menuju perpustakaan.
Dan tanpa berlama-lama langsung berjalan kembali menuju perpustakaan yang sudah di depan mata. Sebelumnya Meila meletakkan buku-buku itu ke atas meja dan mulai merapikan buku-buku itu sesuai dengan katalog yang tercantum disana. Sambil mendendangkan sebuah alunan nada, disertai senyuman tipis sebagai bentuk penghiburan diri di tempat yang sunyi, Meila akhirnya selesai menyusun buku-buku itu dalam waktu kurang dari lima menit saja.
Dan setelahnya, seperti ucapannya tadi yang mengatakan akan pergi ke toilet, Meila langsung menuju toilet saat keluar dari perpustakaan. Ditengah-tengah perjalanannya, ada bunyi tanda pesan masuk saat Meila baru akan melangkah ke dalam toilet wanita yang kebetulan tidak ada siapapun disana. Seketika Meila membuka pesan itu sambil berdiri di depan wastafel toilet dan terlihat ulasan senyum di depan cermin.
"Good luck untuk kuismu. Kita bertemu lagi nanti. ♡"
Itulah isi pesan yang ditulis Dimas untuknya. Dan sebagai bentuk balasan perhatiannya, Meila langsung membalas pesan untuk Dimas dan juga memberikan kalimat berisi semangat untuk pria itu yang juga sedang dipenuhi dengan jadwal meeting yang dibubuhi dengan karakter emoji di belakangnya.
"Terima kasih.. semangat juga buat meetingnya. Sampai bertemu 🥰"