
Pengakuan Sisil yang terucap itu bagaikan tersambar petir di siang bolong. Sangat mengejutkan dan juga menyakitkan. Napas Sisil yang masih terengah-engah dengan muka memerah, membuatnya sadar akan ucapannya.
"Sekarang kamu udah tau alasannya, kan? Sekarang berikan kuncinya! Berikan padaku kuncinya. Cepat!"
Dengan tangan menengadah disertai kalimat paksaan, bibir Sisil masih saja terlihat gemetar ketika berbicara.
"Siapa yang melakukannya?" Bukannya menuruti permintaan Sisil, James justru bertanya dengan nada datar dan ekspresi penuh marah.
"Apa maksud kamu, sih? Itu nggak penting! Sekarang berikan kuncinya!"
"Jawab aku! Siapa yang melakukannya?!" Sekarang, berubah James yang seperti sedang menahan amarah.
Sisil tertawa getir melihat reaksi James. Tapi meski begitu, dia tetap pada pendiriannya.
"Untuk apa kamu tau? Toh, itu nggak ada hubungannya denganmu, kan?"
"Ada. Tentu ada. Aku mau itu ada hubungannya denganku." James menjawab dengan berteka-teki. Tentu saja itu membuat Sisil mengerutkan dahinya penuh tanya.
"Ada apa denganmu, James? Kenapa tiba-tiba banget. Aku nggak butuh belas kasihanmu!"
"Tidak." James membantah. Berusaha jujur akan perasaannya sendiri yang sudah berusaha ditahannya. "Ini bukan tiba-tiba. Aku sungguh-sungguh, Sisil."
Sesaat, Sisil sempat tercengang dan bingung. Namun tak urung dia kembali tersenyum getir sebelum kemudian menggeleng tidak percaya.
"Oke! Kamu berpikir aku mengasihanimu, kan? Sekarang aku tanya sama kamu. Apa kamu tidak pernah merasakan sedikitpun ketulusanku? Apa kamu juga tidak pernah menyadari perasaanmu padaku meski hanya sesaat?"
Sisil terdiam dan terpaku. Tanpa disadarinya, dia sedang menanyakan pada dirinya sendiri tentang perasaannya pada James. Jika mengingat mundur waktu ke belakang, Sisil memang telah merasakan perasaan membuncah yang tidak dapat didefinisikan olehnya. Perasaan bahagia yang rumit yang beberapa kali dirasakannya saat bersama James.
Dan jika Sisil tidak merasakannya, itu sama artinya dengan dia yang tidak mempunyai hati. Sisil adalah seorang manusia. Dan dia menyadari jika perasaan yang berkembang belakangan ini adalah perasaan suka terhadap lawan jenis antara wanita dewasa dengan pria dewasa.
Tetapi, untuk menepis perasaannya sendiri, Sisil langsung melangkah mundur dengan kalimat bantahan yang tak terelakkan.
"Nggak. Itu nggak benar. Ini semua salah, James. Kamu nggak seharusnya mempunyai perasaan itu. Kita nggak bisa bersama layaknya sepasang kekasih normal di luaran sana. Aku bukan perempuan suci yang pantas buat kamu! Aku kotor, James! Aku kotor!"
Perasaan Sisil menggebu-gebu dipenuhi emosi tertahan. Wajahnya kembali memerah karena marah. Tetapi, yang paling mengganggu adalah, adanya perasaan lain selain rasa marah yang paling mendominasi. Yaitu perasaan ingin menyerah pasrah dan kalah di bawah perlindungan seorang pria yang ada dihadapannya itu.
"Apanya yang salah? Kita hanya perlu merealisasikan perasaan kita. Aku tidak peduli bagaimana masa lalumu! Aku tidak peduli dengan reaksi orang-orang tentangmu. Aku hanya peduli padamu. Pada perasaan kita. Jadi, biarkan aku membantumu, Sisil. Biarkan aku menjadi tamengmu." Pinta James kemudian sambil terus berusaha meyakinkan Sisil.
Deg!
Tidak mungkin jika hati Sisil tidak tersentuh. Kata demi kata yang diucapkan James telah menggetarkan hatinya. Tetapi, dia masih belum yakin dan takut. Takut jika James hanya akan menjadi laki-laki hidung belang yang hanya akan memanfaatkannya saja. Dan Sisil tidak mau merasakan sakit hati karena ditolak. Lebih baik, dia menolaknya lebih dulu, lalu segera menepis perasaannya sendiri yang baru saja tumbuh dan membuangnya jauh-jauh. Sebelum perasaannya itu benar-benar tumbuh subur karena terus disirami dengan ketulusan James hingga akhirnya luluh.
●●●
Sisil masih terus menolak meski perasaannya tidak sejalan dengan pikirannya. Dia berusaha untuk tetap teguh meski James terus-terusan membujuknya.
"Nggak bisa, James! Lebih baik lupakan perasaanmu itu. Anggap kita nggak pernah membicarakan hal ini. Dan aku juga akan menganggap kita tidak pernah memiliki perasaan apapun. Sekarang berikan kuncinya padaku. Aku harus pergi!"
Rupanya kamu masih belum menyerah, Sisil? Oke! Kita lihat, siapa yang akan menyerah kali ini.
"Kenapa kamu selalu mengelaknya, Sisil? Apa laki-laki itu telah menerormu? Apa dia mengancammu dengan cara yang kotor?"
Kedua mata James menyipit saat berusaha meminta jawaban dari Sisil. Dia bahkan harus kembali memprovokasi Sisil agar perempuan itu mau buka suara meski dia harus sedikit menekannya.
"Jadi dugaanku benar jika laki-laki itu telah mengancammu? Katakan padaku. Dengan cara apa dia mengancammu?"
"Ka-kamu kenapa, sih? Kenapa selalu memaksaku untuk terus menjawab pertanyaan kamu?" Meski tergeragap di awal kalimat, tak urung Sisil terus melawan.
"Aku sudah bilang, kan, aku tidak akan memberikan kuncinya selama kamu belum menjawab pertanyaanku." James terus meledak Sisil hingga amarah Sisil kali ini tidak terbendung lagi.
Sambil mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga nampak dari ruas-ruas tulang jemarinya yang terlihat, Sisil membawa tangannya pada kerah dan menariknya dengan bar-bar. Seperti yang tadi dia lakukan pada James. Dan kali ini dia lakukan untuk melampiaskan sebagian amarahnya yang tertahan dan menumpuk sejak tadi.
Sisil merasa James sedang mempermainkannya. Dan dia benar-benar kesal dibuatnya.
"Kamu benar-benar, ya?!" Sisil mulai menarik kerah baju James dengan kencang dan napas yang tersengal. "Berikan kuncinya, James! Berikan kunci itu! Aku nggak mau disini! Aku harus pergi dari sini! Aku nggak mau berada satu atap sama kamu! Kamu membuatku kesal! Cepat buka pintunya,... Aku mohon, James.........!"
Amarah Sisil yang memuncak melemah seketika dengan sendirinya. Amarah dan teriakan penuh tenaga yang dikeluarkan berubah menjadi genangan air mata yang sudah terkumpul di sudut matanya.
"Berikan padaku kunci itu, James.... Aku mohon.... jangan buat aku semakin sulit dengan semua ini..."
Bukan suaranya saja yang melemah. Melainkan tubuhnya pun ikut melemah. Hal itu menyebabkan keseimbangan dirinya goyah hingga dia membenturkan sendiri kepalanya ke dada bidang James sambil menunduk putus asa. Dan isakan lah yang terdengar disana.
"Jangan membuatku semakin sulit, James.... Aku nggak mau melibatkanmu ke dalam masalahku. Biarkan aku menyelesaikannya sendiri,... jangan buat aku merasa bersalah padamu, James....."
Mustahil jika hati James tidak terenyuh. Untuk meredam perasaannya pun dia harus memejamkan matanya dalam-dalam sambil ikut meresapi perasaan Sisil yang begitu sesak. Perlahan, James menyentuh bahu Sisil yang bergetar karena isakan dan menjauhkannya sedikit agar bisa ditatapnya. Dan setelah James dapat melihat wajah Sisil dengan benar, seperti dugaannya, wajah itu berubah menjadi sendu dengan tatapan kosong putus asa. Dan itu membuat hati James begitu sakit melihatnya.
"Aku mohon, James....."
Isakan Sisil pun tidak tertahan lagi. Dia menangis sejadi-jadinya di hadapan James. Tidak peduli akan pendapatnya nanti.
"Kenapa sulit banget buat kamu untuk tetap melibatkanku, Sisil? Aku sama sekali tidak merasa terbebani." James kembali berusaha untuk meyakinkan Sisil. "Apa selama ini kamu melihat aku terbebani karena masalahmu? Apa kamu merasa kalau aku tidak sungguh-sungguh membantumu selama ini?" James menelisik setiap perubahan ekspresi wajah Sisil yang masih terisak. Lalu dipandanginya lekat-lekat.
"Come on, Sisil. Biarkan aku menjadi tamengmu. Izinkan aku membantumu. Bersandarlah padaku. Percayakan semuanya padaku jika aku bisa mengurus semuanya."
Isakan Sisil semakin menjadi seiring dengan pengakuan James yang terdengar tulus. Tetapi, bolehkah dia menyerah dan bersandar padanya? Membiarkan James mencampuri masalahnya dan menyerah pasrah pada perlindungannya?
"...Ak-akuh, t-takut rekaman itu sa-sampai ke tangan papa dan mama. Aku bahkan nggak peduli pandangan orang-orang terhadapku. Aku cum-cuma takut papa dan mama mengetahui rekaman itu..." Sisil kembali terisak. Dan kali ini air matanya benar-benar membanjiri pipinya dengan deras.
Rekaman? Jadi laki-laki biadab itu menggunakan rekaman untuk mengancam Sisil?
Tanpa berkata apapun, James langsung membawa Sisil ke dalam pelukannya. Memberikan ruang untuk Sisil menumpahkan semua perasaan menyesakkan ke atas pundaknya. Membiarkan Sisil menyerahkan seluruh masalahnya padanya agar bisa diselesaikan olehnya.
Sambil memeluknya erat, James juga mengusapi punggung Sisil yang bergetar tak tertahan karena isakan dengan usapan lembut menenangkan.
"Percayakan padaku, Sisil. Aku bisa memberikan perlindunganku padamu. Kamu bisa bersandar padaku. Biarkan aku disisimu untuk tetap melindungimu." James berujar meyakinkan sebagai bentuk penenangan.
James tidak berharap banyak meski setelah permintaan serta pengakuan tulusnya barusan dianggap sebagai angin lalu. Tetapi, dia sangat berharap jika sedikit saja, Sisil dapat mempercayainya meski hanya untuk membantunya saja.
"Biarkan aku untuk tetap berada disisimu, Sisil. Izinkan aku untuk terus melindungimu." James menghentikan kalimatnya seiring dengan helaan napas pelan. "Percayalah padaku..." suara James yang lirih nyaris tertelan karena putus asa karena berpikir Sisil tetap tidak akan mempercayainya.
Tetapi, begitu merasakan tangan Sisil yang bergerak perlahan membalas pelukannya, itu menandakan jika usahanya tidaklah sia-sia. Paling tidak, dia telah berhasil membuat Sisil sedikit memercayainya.
Akhirnya James bisa bernapas lega. Rengkuhan lengannya yang kokoh semakin erat memeluk Sisil. James juga tidak lupa untuk memberikan kecupan ringan ke pundak Sisil yang bergetar. Lalu Menghirup aromanya yang telah lama melekat di otaknya sejak pertama kali menghirupnya.