
Sepanjang koridor rumah sakit itu mendadak penuh dengan perawat yang membawa Meila ke ruang operasi sebagai bentuk pertolongan paling efektif dan cepat pada luka tusukan. Dimas sendiri terlihat cemas, dia ingin sekali mendampingi gadisnya yang sedang berjuang sendirian untuk bertahan hidup.
Dimas merasa putus asa, perasaannya seketika kacau hanya dengan satu kali serangan yang membuatnya kalah telak dari pria memalukan seperti Beno. Dimas gelisah, dirinya mondar-mandir di depan pintu ruang operasi sambil sesekali menjambak dan meremas rambutnya sendiri sebagai ungkapan rasa bersalahnya.
Seorang dokter tampak keluar dengan terburu-buru, membuat Dimas dengan langkah cepat menahan dokter itu untuk menanyakan kondisi Meila didalam sana.
"Dokter, gimana keadaan Meila? Apa ada yang mengkhawatirkan?" Dimas tampak memegang bahu dokter itu sambil menunggu jawaban dengan tidak sabar. Tampak kerutan terlihat dikeningnya.
"Ya. Cukup mengkhawatirkan." ada sedikit penekanan dalam kalimatnya, "Karena kondisi pasien sedang dalam masa periode, dan luka tusukan yang cukup dalam sehingga mengeluarkan banyak darah, maka kami membutuhkan tambahan darah dari bank darah pusat untuk berjaga-jaga." Dokter itu mendesah perlahan, sedikit memijat keningnya.
Dimas sendiri semakin putus asa setelah mendengar keterangan dokter. Dia sempat merenung sejenak dengan keterkejutan yang membuatnya semakin lemas.
"Tolong lakukan apapun agar Meila selamat, Dokter. Lakukan perawatan terbaik. Kerahkan semua penanganan medis untuk menyelamatkannya," Sergah Dimas dengan sedikit nada intimidasi.
"Kami akan berusaha semampu kami. Anda cukup tenang dan optimis kalau teman Anda pasti akan selamat." Sang dokter berucap dengan penuh keyakinan sebelum kemudian langsung pergi meninggalkan Dimas dengan langkah terburu-buru. Hal itu membuat hati Dimas tergugah untuk bersikap optimis kalau Meila akan baik-baik saja. Gadisnya akan selamat.
"Kamu harus bertahan, Mei... setidaknya untuk aku..." Dimas berucap dengan penuh tekad dan tangan yang terkepal, seolah dirinya sedang memberi motivasi pada Meila dari jarak jauh, "Karena aku nggak akan ngebiarin kamu lepas gitu aja setelah pengakuan tentang perasaan kamu ke aku," Dimas bersuara lemah, setengah berbisik dengan nada sedikit mengancam, dibalut dengan keputusasaan yang tidak bisa ditutupi lagi.
●●●
Rendy berlari dengan cepat, membawa langkahnya agar segera menghampiri Dimas dan menanyakan kejadian yang sebenarnya terjadi pada Meila, hingga mengakibatkan gadis yang sudah dianggap sebagai adik perempuannya itu tertusuk oleh tangan Beno. Dimas telah menghubunginya ketika masih dalam perjalanan menuju rumah sakit. Dengan napas terengah, sampailah Rendy ke depan ruang operasi dimana sedang ada Dimas sedang bersandar ke dinding dengan kepala tertunduk dan mata terpejam. Tampak keputusasaan meruak dari tubuhnya.
"Dim, gimana keadaan Meila?" Suara hentakan dari napas yang terengah itu membangunkan Dimas dari perasaan kalut yang menerpa. Dimas sendiri sedang berlutut dengan kepala menunduk yang bertumpu pada kepalan kedua tangan didahinya.
Dimas mendongak, menatap wajah Rendy dengan kecemasan yang sama cemasnya, "Meila sedang menjalani operasi. Lukanya cukup fatal, sehingga mengharuskan untuk melakukan tranfusi dua kantung darah yang udah disiapkan oleh pihak rumah sakit." Dimas menjawab lemah, tampak keningnya berkerut menahan sakit.
"Sebenernya apa yang terjadi, Dim? Kenapa Meila bisa tertusuk oleh Beno? Dan ngapain lo ngajak Meila keluar?"
Rentetan pertanyaan itu ditodongkan dari Rendy kepada Dimas. Pertanyaan-pertanyaan yang semakin membuat Dimas merasa bersalah karena telah gagal melindunginya.
Dimas mendesah pelan, menampakkan wajah putus asa nan lemah. "Kejadiannya begitu cepat, Ren. Gue ajak Meila keluar itu ada alasannya, meskipun gue emang ada niat ngajak Meila jalan-jalan ketika kondisinya udah benar-benar pulih dan situasi aman. Tapi, niat yang sebelumnya gue simpan itu berubah dalam waktu semalam karena Meila merengek minta gue mengajaknya pergi ke taman untuk menghirup udara segar." Dimas memberi jeda, "dan lo tau, gue nggak tega, Ren!" Dimas memberi jeda, menelan ludahnya yang terasa pahit hingga tenggorokan, "dan juga... untuk sebuah es krim," sudut bibir Dimas terangkat, membentuk senyuman ironi, ada sebuah penyesalan disana. "Dan kenapa Meila bisa tertusuk sama Beno.... karena target Beno adalah gue. Sebenernya gue yang harusnya tertusuk oleh Beno, bukan Meila. Tapi, ketika gue nggak sadar kalo Beno sedang menjalankan rencananya untuk menikam gue, tiba-tiba Meila udah dateng dan... gue terdorong oleh tubuh mungilnya dan terjadilah semuanya." Dimas tampak lemas, tangannya mengusap wajahnya dengan kasar, membuat Rendy merasa serba salah untuk mengajukan pertanyaan lagi.
Sebab Rendy tahu, Dimas pasti sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menjaga dan melindungi Meila,
Jujur, Rendy tidak berniat menyalahkan Dimas. Tapi, siapa yang tidak cemas jika orang yang disayanginya terluka, terlebih lagi jika itu dilakukan oleh orang yang sudah kamu tandai sebagai makhluk paling berbahaya?
Rendy tampak menghembuskan napas pelan, tangannya terangkat meremas bahu Dimas seperti sedang menguatkannya.
"Nggak ada yang perlu disesali, Dim. Semuanya udah terjadi. Kita cuma bisa nunggu hasil operasi dari dalam. Dan lo juga harus yakin kalo Meila kita, akan bertahan dan selamat dari penderitaan melawan rasa sakit yang mendera." Rendy memberi pengertian pada Dimas, berusaha menguatkannya dari rasa bersalah yang menyelimuti dirinya.
"Harapan gue cuma satu, Ren... Gue pengen Meila selamat dan menang melawan rasa sakitnya." Dimas berucap dengan tatapan mata lurus ke depan, disertai harapan penuh tekad.
Beberapa saat kemudian, lampu operasi yang tadinya berwarna merah berubah menjadi hijau lalu mati. Menandakan bahwa proses operasi sudah selesai dilakukan. Dokter yang menangani Meila keluar dengan masih memakai baju khusus namun wajahnya berubah lebih tenang dibandingkan dengan sebelumnya.
"Dokter, gimana? Apa operasinya berjalan lancar? Apa Meila baik-baik aja?" Dimaslah yang lebih dulu berucap, mengeluarkan rasa penasarannya lewat pertanyaan.
Sang dokter mendesah pelan, tampak kelegaan terpancar dari raut wajahnya, "Syukurlah operasinya berjalan lancar."
Dimas dan Rendy pun ikut menghembuskan napas lega secara bersamaan begitu mendengar jawaban Dokter yang menurutnya cukup melegakan hati. Karena mereka harus menunggu beberapa jam kedepan lagi untuk melihat perkembangan mengenai kondisi Meila.
"Sejauh ini tidak ada komplikasi apapun dari reaksi tubuhnya. Setelah ini, pasien akan dipindahkan ke ruang perawatan. Kalian boleh melihatnya tapi jangan menimbulkan sesuatu yang membuat pasien tidak nyaman. Karena saat ini, pasien masih dalam pengaruh obat bius."
Setelah dokter selesai memberikan penjelasan, tampak Meila keluar dari ruang operasi dibantu oleh beberapa perawat menggunakan brankar rumah sakit yang membawanya ke ruang perawatan. Tampak wajah pucat yang ditutupi oleh selang oksigen begitu kontras dengan pakaian rumah sakit yang menutupi tubuhnya.
Tak ada kata apapun yang keluar dari kedua pria itu. Hanya kebisuan yang merayapi keduanya, menatap lurus ke arah Meila yang tampak lemah terbaring diatas ranjang rumah sakit sambil berdiri mengiringi di jarak sedekat mungkin tanpa niat menjauh.
●●●
Tangannya gemetar sehingga harus menghentikan mobilnya ke pinggir jalan ketika membayangkan kejadian yang baru saja dilakukannya. Tentu, Beno merasa shock begitu mendapati Meila lah yang terkena pisaunya, bukan Dimas.
"Kenapa Meila malah nyelametin pria itu? Aargh! Sial!" Beno memukul setir mobil dengan gerakan kencang, ada rasa kesal yang amat dalam.
Seketika darahnya mendidih, jiwa psikopat dalam dirinya muncul begitu saja. Jika tadi tidak dalam keramaian pengunjung, sudah pasti Beno akan membawa kabur Meila dan turun tangan mengobati dan merawatnya sendiri dengan caranya. Tapi, hal itu tidak mungkin, mengingat dirinya yang sudah kepalang basah memperlihatkan wajahnya yang berhasil dia sembunyikan, dan rasa takut jika dikeroyok oleh puluhan bahkan ratusan orang banyaknya.
Bayangan akan darah yang mengalir dari tubuh Meila, seketika menyiratkan tawa licik dari wajahnya, sekaligus menciptakan suasana mencekam di dalam kabin mobil tersbut.
"Untuk saat ini gue harus cari tempat persembunyian paling aman biar nggak terlacak. Karena gue tau, mereka saat ini pasti lagi menempuh segala cara untuk menemukan gue," Beno bergumam, tatapannya tampak tajam, menyiratkan kekejaman luar biasa yang tidak ditutup-tutupi.
Tanpa membuang waktu lagi, Beno langsung tancap gas dan pergi melaju dengan kencang, mencari persembunyian paling aman. Jika mengharuskannya untuk sembunyi ke pelosok yang didalamnya tanpa ada penduduk satupun, dia akan melakukannya. Karena yang terpenting saat ini adalah, pergi menjauh dari jangkauan orang-orang yang berada dalam ruang lingkup kehidupan Meila. Jika memang situasi sudah memungkinkan, barulah ia akan memikirkan cara lain untuk membalaskan dendam yang belum terlunaskan.
●●●
"Dingin..."
Suara rintihan rendah nan lemah yang masuk ke telinga Dimas berhasil membangunkannya dari tidur ayamnya di samping ranjang Meila tempat Meila dibaringkan. Dimas langsung menegakkan tubuh, memastikan bahwa pendengarannya tidaklah salah. Dirasakannya jemari mungil yang digenggamnya bergerak perlahan, disertai kerutan didahi Meila, ditambah lagi dengan gerakan tubuh Meila yang terlihat gelisah.
"Di....ngin...." suara Meila tersekat ditenggorokan dengan mata terpejam, membuat Dimas segera mengambil langkah antisipasi.
Dilihatnya monitor detak jantung yang ada disamping ranjang dengan seksama, tapi tidak menunjukkan tanda-tanda mengkhawatirkan seperti yang Dimas takutkan, justru malah gerakan statistik detak jantungnya normal. Diambilnya selimut tebal diujung ranjang, lalu diselimutkannya Meila menutupi seluruh tubuhnya, mengusahakan agar gadis itu tidak merasakan dingin lagi.
"Ssshh..." Dimas mengelus kepala Meila dengan lembut, menarik gadis itu agar terlelap kembali kedalam tidurnya. "Tidurlah, Sayang... rasa dingin ini adalah reaksi kimia karena tubuh kamu masih terpengaruh oleh obat bius." Dimas menunduk, mengamati wajah Meila lekat-lekat yang masih terpejam dengan kening mengkerut dalam, "Aku disini.... Aku disini..." seolah bisikan itu adalah mantra, dirasakannya Meila kembali tenang, kerutan dalam yang muncul dikeningnya pun hilang seketika, terdengar dengkuran halus dengan napas yang naik turun dengan teratur bagai irama menenangkan hingga membuat Dimas melepaskan senyuman lega bercampur haru.
"Kamu harus segera pulih, Mei..." tangan Dimas mengelus rambut Meila dengan gerakan sangat lembut agar gadis itu semakin terbuai, "...aku akan melakukan apapun untuk membuat kamu pulih," Dimas menunduk kembali sampai jarak yang paling dekat dengan wajah Meila, "karena aku nggak akan segan-segan untuk menagih kalimat pengakuan tentang perasaan itu...."
Dimas semakin menunduk lagi, kali ini berhenti tepat diantara pelipis dan telinga, dia berbisik disana. "Karena aku juga menyayangi kamu.... Bahkan sebelum kamu mengakuinya."