
Dimas baru saja memarkirkan mobilnya di halaman kampus. Dia keluar dari kursi kemudi disusul dengan Meila dari kursi sampingnya. Seperti biasa, Dimas selalu mengulurkan tangannya pada Meila dan selalu disambut hangat oleh gadis itu.
"Mau langsung ke kelas atau....."
"Ke ruang senat dulu." Sahutnya cepat dengan penuh semangat.
"Masih ada waktu setengah jam lagi sebelum mata kuliah dimulai." Sambungnya kemudian disertai cengiran khasnya.
"Sesuai keinginanmu, Sayang." Jawabnya dengan berbisik. Karena Dimas tau, Meila tidak mau kalau dia memanggilnya dengan sebutan itu di tempat umum, terlebih lagi jika itu di lingkungan kampus.
Mereka berjalan menuju ruang senat. Sampai sebuah pemandangan yang berhasil mengusik penglihatan Meila membuatnya berhenti di persimpangan koridor menuju arah ruang senat berada.
Dengan segera, Dimas menautkan alisnya bingung. Memperhatikan Meila yang masih terdiam sambil menolehkan wajahnya ke arah parkiran kampus dengan tatapan terkejut dan juga kagum secara bersamaan.
"Kenapa, Mei?"
"Kak, i-itu... bukannya Sisil sama papanya?"
Dimas mengikuti ke arah yang Meila maksud, dan menjawab dengan nada santai sambil mengeratkan genggamannya dengan lembut pada Meila. Mengisyaratkan jika Meila tidak perlu merasa takut atau cemas dengan keberadaan Sisil. Di sana tampak jelas, Vika diantar oleh papanya. Tapi, bukan itu yang membuat Meila terkejut, melainkan sikap
Sisil yang sudah jauh lebih baik antara hubungannya dengan papanya.
Sedangkan terakhir mereka bertemu di malam itu, hubungan mereka tampak buruk antara seorang putri dan orang tuanya.
"Kayaknya hubungan mereka udah mulai membaik dari kejadian itu, ya?" Meila menyeru dengan wajah sumringah. "Kamu liat, kak, mereka tampak melakukan komunikasi dengan baik meski masih terlihat sikap dingin dari Sisil yang dominan. Tapi, itu udah merupakan kemajuan buat hubungan Sisil dengan orang tuanya yang udah lama nggak terjalin, kan? Aku bahagia ngeliatnya." Sambungnya jujur dengan kalimat tulus dan kepala yang mendongak pada Dimas.
Dimas bisa merasakan kalimat Meila yang begitu tulus itu. Sesaat Dimas begitu terpana sampai membentuk sebuah senyuman hangat di bibirnya.
"Hati kamu itu sangat lembut, Mei. Aku bangga memiliki kamu sebagai satu-satunya seseorang yang sangat aku sayangi." Wajahnya mendekat, "Karena kamu begitu berharga dari apapun."
Hati Meila membuncah diikuti dengan rona di pipinya yang mulai menyebar ke seluruh tulang pipi dan wajahnya. Sesaat mata mereka saling bertemu, saling melempar senyum sebelum akhirnya tangan mungil Meila menyentuh punggung lengan Dimas yang kekar untuk bergelayut manja di sana.
"Aku juga bangga punya kamu, kak." Sahutnya dengan suara pelan yang berbisik.
Dimas terkekeh ringan mendengarnya, lalu mengusap tangan mungil di lengannya itu dengan lembut. Menatapnya dengan penuh sayang hingga akhirnya menghela gadisnya kembali untuk menuju ruangan senat.
●●●
Vika keluar dari kamar dengan penampilan yang sudah rapi. Melangkahkan kakinya menuju meja makan dimana ada Rendy yang sedang menunggunya dengan sabar. Dan saat didengarnya suara pintu terbuka dari arah kamarnya, kepalanya langsung menoleh, mengawasi keseluruhan penampilan Vika dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan ekspresi terpesona.
"Perfect!" Ucapnya seketika. Kakinya tidak tahan jika hanya diam saja memperhatikan. Akhirnya dia membiarkan kakinya bergerak melangkah untuk menghampiri Vika dan mendaratkan kecupan ke pipi mulusnya.
"Udah aku bilang, pakaian ini nggak seburuk yang kamu pikir. Sangat pas dan juga cantik! Dan pastinya.... ampuh untuk menutupi jejak kissmark itu." Sergahnya jahil sambil membawa kedua lengannya memeluk pinggang ramping Vika dengan rapat.
Vika tersenyum, lalu mengangkat tangannya ke dada bidang Rendy dan sedikit memberikan usapan ringan di sana.
"Yaaa... aku akui, kamu emang bisa mencocokkan segala hal. Mungkin, aku akan meminta pendapat kamu untuk membantu memilihkan kostum aku saat pemotretan nanti?" Sahutnya santai diselipi seringaian lebar.
Mereka tertawa. Tergelak bersama, tenggelam dalam kebahagiaan yang nyata. Menyelami perasaan masing-masing dengan tatapan lekat yang seolah tidak akan pernah cukup jika hanya untuk menghabiskan waktu saja tanpa melakukan apapun.
Ditengah-tengah kebahagiaan yang melingkupi, tiba-tiba ponsel Vika berbunyi dari dalam tasnya. Memaksanya untuk melepaskan tangannya dari dada Rendy untuk mengambil ponselnya dan mengecek siapa yang telah menghubunginya.
Tertera nama 'Satya' di layar ponselnya. Dan seketika itu Vika baru ingat jika dia belum menghubunginya agar tidak datang mengantarnya kuliah. Ada sedikit rasa bersalah dalam diri Vika. Sementara Rendy, tampak diam dan dengan setia hanya mengawasi tingkah Vika.
Perlahan, Vika menggeser tombol berwarna hijau untuk menjawab panggilan itu.
"Halo, Satya...?"
"Ah! Ya. Nona, apa saya perlu datang mengantar anda hari ini? Saya baru akan datang ke rumah nona. Tapi saya berinisiatif menghubungi dulu. Takut-takut nona Vika libur."
Itu adalah suara Satya dari seberang telepon. Pengawal pribadi yang merangkap jadi supir kepercayaan James yang ditugaskan khusus mengantar dan mengawal Vika itu tampak sedang meminta izinnya untuk tugasnya.
"Satya, maaf aku lupa mengabarimu. Kamu nggak perlu mengantar dan menjemputku lagi. Aku akan berangkat ke kampus sendiri. Kamu bisa mengerjakan tugasmu dengan santai." Sahut Vika dengan ramah.
"Apa nona yakin?""
"Ya. Satya. Kamu bisa mengerjakan tugas-tugasmu yang lain dengan santai tanpa harus membagi waktumu. Dan.... ya," Vika berhenti sejenak sambil membawa tangannya menggenggam erat tangan Rendy diikuti tatapannya yang tidak terbaca. "Sampaikan juga pada
James jika aku sudah menyelesaikan semuanya. Semuanya baik-baik saja. Oh! Satu lagi. Aku akan menghubunginya, nanti." Ucapnya kemudian dengan tatapan jujur penuh makna. Sementara Rendy, hanya diam dan tersenyum sambil memainkan kedua alisnya bergantian.
"Baik, nona. Saya akan sampaikan pada tuan. Jangan sungkan jika memerlukan bantuan pada saya. Semoga harimu menyenangkan, nona." Jawab Satya sebagai kalimat penutup panggilannya.
"Terima kasih, Satya."
Sementara Vika, setelah menutup panggilan, wajahnya tampak sumringah dengan senyuman yang tidak hilang dari wajahnya, terlihat menatap Rendy dengan tatapan tidak terbaca disertai kedua alis saling bertaut.
"Kamu kenapa, Rendy? Ada yang salah sama kata-kata aku?"
Rendy menghembuskan napasnya perlahan, lalu mengangkat sedikit bahunya, "sepertinya... aku harus berbicara dengan James. Karena dia juga turut andil atas hubungan kita."
Vika terkekeh, "kamu tau? Harusnya aku nggak langsung percaya saat James bilang kamu mengancamnya. Tapi, karena aku tersulut emosi dan terlalu kesal sama kamu, aku pergi ninggalin dia gitu aja. Padahal, aku yakin pasti masih ada sebagian dari lanjutan kalimatnya yang belum selesai."
"Oh ya?" Sahut Rendy dengan menampakkan wajah pura-pura tidak percaya. Disambut anggukan cepat dari kepala Vika. Tangan Rendy pun tidak tinggal diam, meraih pinggang ramping Vika dan menariknya dengan posesif. "Sepertinya, bukan cuma bicara aja, aku juga harus berterima kasih pada James karena ucapannya itu telah membawa kamu kembali bersama aku, Sayang." Sambungnya penuh makna.
Lagi, mereka tergelak bersama dengan Rendy yang langsung menempelkan keningnya ke kening Vika seraya berucap.
"Aku bahagia memilikimu, Vika. Sangat!" Ucap Rendy seketika.
Keduanya saling terpejam. Merasakan hembusan napas masing-masing dengan tubuh yang saling merapat. Menciptakan suasana damai menyenangkan yang sudah lama tidak mereka rasakan.
●●●
"Bagaimana? Kau sudah menghubungi Vika?"
"Sudah, tuan. Nona Vika bilang, dia sudah menyelesaikan semuanya. Dan dia baik-baik saja. Nona juga berpesan, kalau dia akan menghubungi tuan secepatnya."
Setelah Satya menghubungi Vika, pria itu langsung menuju apartemen tempat James tinggali. Mendengar informasi yang Satya berikan, James yang sedang memakai dasinya tampak tersenyum sumringah di depan cermin. Menandakan jika dia ikut lega mendengarnya. Dan itu berarti hubungannya dengan Rendy sudah baik-baik saja.
"Baiklah. Kau boleh kembali mengerjakan tugasmu." James menyahuti dengan sikap tenang.
Setelahnya, Satya keluar dari apartemen itu sambil membungkuk hormat pada James. Tinggallah James seorang diri di apartemennya, menghembuskan napas lega seraya bergumam seorang diri.
"Akhirnya, Vika, akhirnya. Akhirnya kamu menemukan kembali kebahagiaanmu. Aku ikut bahagia mendengarnya."
Setelah mengucapkan kalimat itu, James langsung menyambar jasnya dan menyeruput macchiatto miliknya. Kemudian, melenggang pergi begitu saja sambil bersiul disertai senyum yang merekah.
●●●
Begitu Rendy memasuki ruang senat, sudah ada dua pasang sejoli yang sedang berkutat dengan kesibukan masing-masing. Airin dan Bryant yang duduk bersebelahan sambil mengerjakan beberapa tugas, sementara Meila yang duduk hanya berselisih dua kursi dari posisi Airin. Yang dihalangi oleh tubuh kekar Dimas yang berdiri di belakangnya, memerangkapnya menggunakan kedua lengannya sambil menuntun Meila menyusun sebuah rancangan kerja.
Diikuti dengan Vika yang masuk berseling tiga langkah dari Rendy, memaksa Meila untuk menolehkan kepalanya dengan cepat, mencari tahu siapa yang datang.
"Kak Rendy," panggilnya dengan penuh semangat. "Selamat pagi. Eh! Ada kak Vika juga. Selamat pagi, kak Vika." Sapanya dengan hangat layaknya adik junior yang baik menyapa kakak seniornya.
"Selamat pagi adik manis," balas Rendy dengan ramah,
"Pagi juga, Mei. Pagi semuanya." Jawab Vika hampir bersamaan dengan Rendy.
"Pagi juga." Sahut Airin menimpali.
Bohong jika Meila tidak menyadari kedatangan Vika dan Rendy bersama. Dia tampak terkejut namun juga senang secara bersamaan.
Begitu juga dengan Dimas, yang melihat perubahan pada wajah Rendy yang jauh berbeda dari sebelumnya. Rendy tampak mudah tersenyum dan sumringah pagi ini.
"K-kalian.... berangkat barengan?" Tanya Meila tiba-tiba sampai membuat Vika sedikit tertegun dan akhirnya berdehem.
Sambil tergeragap, Vika mencoba menjawab, "Ah! Eeee... i-itu,"
"Kita ketemu di parkiran tadi." Sanggah Rendy menutupi.
Dikarenakan memang Meila yang polos, gadis itu tampak mengiyakan dengan ber-oh ria saja. Namun berbeda dengan Dimas yang tidak mudah percaya begitu saja. Pria itu tampak mengawasi dengan mata menyipit dan alis yang mengernyit diselipi dengan senyum ironi yang kental.
"Kak Vika, apa cuacanya dingin? Bukannya hari ini begitu cerah?"
Vika semakin dibuat salah tingkah hingga panas dingin. Pertanyaan Meila yang tiba-tiba itu berhasil membuat semuanya mengalihkan pandangannya pada Vika.
"Oh! I-itu.... a-aku kurang enak badan hari ini. Aku merasa kedinginan dan sedikit demam."
"Demam? Kenapa nggak izin aja, kak? Kan bisa istirahat."
"Nggak, nggak apa-apa kok, Mei. Aku udah minum obat sebelum berangkat."
Alangkah menyebalkannya Rendy yang dengan tanpa dosa menertawainya tanpa suara. Tangan Vika mengepal, menggeram tertahan tanpa suara disertai tatapan menjengkelkan.
"Kalo masih nggak enak badan, kak Vika bisa istirahat di sini atau di ruang kesehatan, ya? Jangan sungkan-sungkan." Meila menimpali dengan ramah.
"Iya. Terima kasih, Mei." Sahut Vika disertai helaan napas lega yang disamarkan.
Saat Meila membalasnya dengan senyuman, tanpa sengaja matanya menangkap ke arah leher Vika. Dan seketika matanya dipenuhi keingintahuan yang dengan sengaja bertanya tanpa dosa.
"Loh, kak. Leher kamu kenapa merah gitu? Apa kamu alergi? Makanya kamu demam?"
Meila yang polos!
Dan kali ini pertanyaan Meila berhasil membuat Vika membeku.
Dengan cepat memutar otaknya mencari jawaban yang masuk akal agar Meila percaya. Tetapi, melihat Rendy yang tampak menahan tawa dan hampir menyemburkan tawanya, membuat Dimas curiga dengan mata menyipit dan beralih melirik ke arah leher Vika yang Meila maksud tadi.
Saat Dimas sudah mengerti apa yang dimaksud, dia langsung menyeringai sambil membawa pandangannya pada Rendy yang masih menahan tawanya tanpa dosa.
"Ini pasti ulahnya!" Bathin Dimas bersuara.
"Eeee.... i-ini...." sambil memegangi lehernya dengan gugup, Vika sibuk mencari jawaban yang pas dan meyakinkan. "Oh! Digigit nyamuk t-tadi. I-iya."
"Wah, kak. Pakai obat anti serangga aja yang aman di dalam ruangan.
Akhir-akhir ini cuaca emang lagi nggak menentu. Jadi banyak nyamuk atau serangga lainnya bermunculan." Dengan polos, Meila memberikan solusi yang menurutnya tepat untuk mengatasi masalah yang Vika alami. Lalu, menengadahkan kepalanya pada Dimas yang sedang sibuk mengawasi Rendy. "Iya kan, kak?"
Dengan cepat Dimas langsung menunduk dan tersenyum, mengangkat tangannya untuk mengusap rambut Meila seraya menyahutinya dengan suara lembut. "Iya, sayang."
"Kamu betul, Mei. Malah aku berpikir untuk menyemprotkan cairan disinfektan agar serangganya kabur dan kapok!" Serunya mantap, dengan menekankan kata 'disinfektan' sambil melirik ke arah Rendy dengan tatapan sengit yang masih menertawainya tanpa suara dan tanpa dosa.
Menarik perhatian Bryant dan Dimas, mereka tampak beradu pandang sambil memberi kode dengan memainkan mata mereka ke arah Rendy. Dan seketika Bryant langsung mengerti akar dari masalah yang dihadapi Vika saat ini.