
"Ada yang ganggu pikiran lo, kan?"
Akhirnya kalimat itu keluar juga dari mulut Shila. Sejak tadi, dia tidak tahan untuk mengeluarkan kata-kata yang menumpuk di pikirannya pada Dion. Pria yang sekarang masih duduk bersandar dengan kedua mata setengah terpejam sambil memijit-mijit kepalanya perlahan.
Mendengar pertanyaan Shila, gerakan di kepalanya sempat terhenti hingga akhirnya bergerak kembali setelah beberapa detik.
"Nggak ada. Gue cuma sedikit jet-lag dari kemarin." Jawab Dion sekenanya.
Mendengar jawaban Dion yang tidak dipercayainya, justru semakin memantik rasa ingin tahu Shila untuk terus mengorek informasi darinya.
"Lo nggak usah bohong sama gue, Yon. Kita udah kenal lama. Gue tau kapan pikiran lo ngerasa terganggu karena cewek dan kapan pikiran lo mumet karena kerjaan."
Sejenak, Dion terdiam sesaat. Bayang-bayang akan wajah Meila dengan ekspresi ketakutannya yang bercampur manja menyeruak masuk ke dalam ingatannya. Bagaimana gadis itu gemetar, merasa takut sambil memeluk tubuhnya sendiri di sudut ruangan gelap yang ditopang dengan jari-jari mungil nan lentiknya. Dengan kepala tertunduk takut karena tidak berani menatap lawan bicaranya.
"Jadi, siapa dia?"
Tidak sabar mendengar jawaban Dion, Shila melontarkan pertanyaannya lagi dengan tidak menutupi rasa penasarannya.
Didahului dengan decakan ringan yang diikuti seringaian tipis, Dion menjawab enteng pertanyaan Shila namun dengan tidak menunjukkan kebohongan atas dirinya.
"Ternyata benar, ya. Kebanyakan cewek itu emang kepo. Insting sama perasaannya bekerja dengan baik." Kelakarnya renyah. Dion pun menghela napasnya, membenarkan duduknya dengan sedikit tegap dengan pandangan mata sayu menatap lurus ke arah Shila. "Bukan siapa-siapa. Hanya pertemuan yang nggak disengaja. Dan itupun dalam situasi mendesak."
"Mendesak?" Shila membeo.
Dion mengangguk. "Iya. Mendesak. Mungkin bisa dibilang gue yang beruntung karena bisa nolongin dia yang lagi ketakutan."
"Wait,..." Setengah terkejut, "nolongin dia? Ketakutan? Maksudnya apa sih, Yon? Emang lo ketemunya dimana?" Shila membeo lagi tanpa henti.
Dion menghembuskan napas singkat sebelum akhirnya memberikan penjelasan lagi pada Shila.
"Tepatnya kemarin sore, begitu gue mendarat, gue langsung pergi ke pusat perbelanjaan karena gue pikir bakal main-main dulu sebelum gue ngurus beberapa pekerjaan setelahnya. Begitu gue lewat toilet, nggak sengaja gue denger suara teriakan cewek dari dalam toilet wanita. Tanpa pikir panjang langsung gue dobrak pintu itu, dan gue liat dia lagi disandera sama dua orang petugas kebersihan yang sedang menyamar. Lalu....." dengan menegaskan kata 'dia' dengan penuh teka-teki.
"Lalu, sebagai pria sejati layaknya superhero lo menampakkan diri buat nolongin dia biar si dia terpukau ngeliat aksi lo? Iya, kan?" Shila menyela kalimat Dion yang masih menggantung. Lalu berujar dengan kalimat bernada meledek.
Dion mendengus ringan, mengusap-ngusap tengkuk lehernya sendiri sebelum kemudian menjawab. "Yaaa... ada sedikit pemikiran kayak gitu terbersit sesaat sebelum gue tau kalo ada seorang pria yang datang, dan ternyata pria itu datang bersama dia." Lalu mengambil cangkir kopinya dan menyeruputnya. Sementara Shila, membuat ekspresi tidak sabar di wajahnya menunggu kelanjutan dari jawaban Dion. "Gue nggak tau apa hubungan mereka. Tapi yang liat, mereka cukup dekat. Ah, bukan! Sangat dekat. Terlihat dari cara pria itu memperlakukannya. Dan dia, si cewek manis itu juga tampak nyaman ada di pelukannya." Ujarnya bernada getir.
"Apa lo bilang? Cewek manis?" Ucapnya mengulang sambil membentuk tanda kutip dengan jari telunjuk dan jari tengahnya ke udara. Lalu menyeringai tipis. "Baru pertama liat udah bilang manis. Terus... lo cemburu gitu?"
"Nggak pantes kalo gue menggambarkan perasaan gue dengan kata cemburu. Mungkin lebih tepatnya kepada rasa iri. Andaikan gue yang lebih dulu kenal, bukan pria itu." Sudut bibirnya terangkat dan menyeringai. "Mungkin bisa dibilang gue yang akan jadi pria paling bahagia berada di sisi cewek semanis dan sepolos itu."
Sekarang Shila mengerti. Kenapa Dion sampai bertingkah aneh bahkan minum-minuman sampai mabuk semalaman. Ternyata ada seseorang yang merupakan tipenya yang telah membangkitkan perasaannya. Lalu, sebuah saran dari pikiran nakalnya muncul begitu saja sampai dia tidak sabar mengeluarkan dari mulutnya. Sampai-sampai menimbulkan reaksi setengah tercengang dari ekspresi wajah Dion.
"Itu emang tipe lo kan? Yang manis dan polos." Kekehnya meledek. "Eh, tapi... kenapa nggak lo cari tau aja keberadaannya? Ya... siapa tau lo bisa kenal dia lebih dekat, dan akhirnya kalian........."
Kalimat yang menggantung itu terputus bersamaan dengan saling berpandangannya dua pasang mata. Mengisyaratkan sebuah maksud yang masih terpendam namun terlihat jelas apa tujuan dari kalimat itu.
●●●
"Apa nggak bisa besok?"
Suara Dimas bertanya pada seseorang di seberang telepon. Dia saat ini sedang melakukan panggilan suara dengan Henry, asistennya. Suasana sempat hening sejenak sebelum akhirnya Dimas menjawab lagi pembicaraannya dengan Henry.
"Okay. Saya akan ke sana sekarang."
Kalimat itu terdengar bersamaan dengan ditutupnya sambungan telepon antara Dimas dan Henry. Sambil meletakkan ponselnya ke atas meja, perhatian Dimas tak luput dari tatapan ingin tahu Meila yang masih asyik menyeruput jusnya. Seolah gadis itu ingin tahu namun tidak berani untuk bertanya lebih dulu.
Sambil menghela napas ringan. "Aku harus ke kantor sekarang," Dimas akhirnya bersuara. Menjawab rasa ingin tahu Meila. "Ada sedikit masalah pekerjaan dan aku yang harus menanganinya langsung."
Seolah menjadi gadis yang pengertian juga polos tanpa menuntut ataupun membantah, Meila mengangguk seraya berucap. "Okay,"
Alis Dimas sedikit mengernyit, "kamu nggak apa-apa?"
Dengan polosnya Meila menggeleng, "it's okay... toh nanti kita akan ketemu di rumah, kan?" Ucapnya disertai cengiran, namun mampu menyejukkan hati Dimas.
Ya! Rumah. Kata itu mampu membuat perasaan Dimas damai. Dia pun menatap Meila dengan lekat sebelum akhirnya dia benar-benar terhanyut dan ingin melakukan sesuatu di luar kendalinya. Mengingat mereka masih berada di sekitar kampus tepatnya di kantin.
"Kenapa, kak? Apa aku salah ngomong?" Melihat dirinya hanya ditatap oleh Dimas tanpa suara, membuat Meila salah tingkah penuh tanya.
"Kamu beruntung karena kita masih di kampus." Lalu memajukan wajahnya hingga semakin dekat. "Kalo nggak, kamu pasti udah aku cium sampai muka kamu merah." Bisiknya yang mampu membuat Meila membelalakkan matanya dengan pipi yang memanas.
"Kak.....!"
Dimas tidak bisa menahan tawanya. Tangan jahilnya mencuil ujung hidung Meila yang lancip sebelum kemudian berucap kembali.
"Okay. Kita ketemu di rumah, ya. Aku akan suruh Henry buat jemput kamu nanti. Hmm?"
"Okay," Meila menyahuti dengan suara lembut.
Perlahan, Dimas beranjak bangun dari kursi, mencubit lembut dagu Meila sambil berkata, "Aku akan kembali sebelum jam makan malam. Hubungi aku kalo ada apa-apa. Mengerti?"
Meila mengangguk dengan wajah menengadah. Sambil menyatukan jari telunjuk dan ibu jarinya membentuk huruf 'o' disertai kedipan sebelah mata.
●●●
Kegiatan perkuliahan pun berjalan lancar. Pun dengan beberapa tugas yang sempat tertinggal berhasil Meila selesaikan dengan baik dan terkumpul tepat waktu. Waktu pun sudah menunjukkan pukul tiga sore. Satu persatu mahasiswa lalu lalang pergi meninggalkan kelas. Tak terkecuali dirinya dan Airin yang tampak sedang beres-beres merapikan buku dan peralatan tulis ke dalam tas masing-masing.
"Lo yakin nggak mau bareng gue, Mei? Gue bisa anter lo dulu, kok."
Airin berucap sambil berjalan mendekati meja Meila.
"Gak apa-apa, Rin. Ada Henry yang bakal jemput." Jawabnya santai yang dibubuhi senyuman. "Mungkin dia sekarang udah di depan nunggu gue."
Airin mengangguk paham. "Okay kalo gitu."
Mereka pun keluar kelas bersama. Namun ketika sampai di persimpangan koridor, keduanya bertemu dengan Vika dan Rendy yang diikuti oleh Bryant di belakangnya.
"Kamu pulang sama siapa, dek? Aku anter aja, ya?" Rendy bertanya layaknya seorang kakak yang baik. Memastikan jika adiknya kembali ke rumah dengan aman.
"Thank you sebelumnya. Tapi ada Henry yang udah jemput aku. Mungkin dia udah di depan sekarang." Sahut Meila dengan tingkah khasnya.
Sebelah alis Rendy mengernyit begitu mendengar nama Henry. "Henry? Asisten pribadi Dimas yang setia itu?"
Rupanya Rendy sedikit mengenal Henry. Mendengar namanya saja, dia langsung bisa membayangkan bagaiman sikap patuh seorang asisten terhadap tuannya.
Meila mengangguk. Memberikan senyuman manisnya pada Rendy.
Perlahan, dengan ekspresi jahil lengan Rendy terangkat merangkul bahu Meila dan berbisik. "Dimas tau cara memperlakukan kamu dengan baik, ya? Meski sesibuk apapun dia, selalu mengutamakan kamu. Nggak salah aku mempercayakan kamu ke dia." Kekehnya yang dibalut ledekan.
"Kak Rendy!" Setengah memekik, Meila memanggil nama Rendy sambil menahan wajahnya yang merona. Sementara Rendy asyik tertawa geli karena telah berhasil menggoda adiknya.
"Sayang banget Dimas nggak liat wajah kamu yang merona ini." Pungkasnya yang langsung mendapat sikutan ringan ke otot perutnya.
"Rendy, jangan cemari pikiran Meila yang polos itu." Suara Vika tiba-tiba memecah pembicaraan mereka.
"Aku nggak mencemari, Vika. Cuma mengatakan kebenarannya." Lagi, Rendy hanya menjawab dengan teka-teki. Sedangkan Vika, hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Mei, jangan dengerin omongannya. Dia itu cuma mau menggoda kamu." Melihat ucapannya dianggap candaan oleh Rendy, Vika akhirnya berucap langsung pada Meila.
Meila hanya memberikan senyumannya sambil menoleh. Sampai tidak terasa mereka akhirnya sampai di lapangan parkir yang sudah tidak begitu penuh dengan kendaraan.
Seorang pria berseragam rapi dengan tubuh tegap berjalan setengah berlari menghampiri Meila. Hal itu menarik perhatian semua orang yang bersamanya.
"Nona, tuan meminta saya untuk menjemput nona. Silahkan,..." sambil merentangkan sebelah lengannya dengan isyarat memberikan jalan.
"Oh, iya... terima kasih." Sebelum Meila melangkah, dia berpamitan pada teman-temannya sejenak sebelum kemudian berjalan mendahului Henry. Tetapi, baru saja Henry ingin melangkah, suara Rendy menghentikannya tiba-tiba.
"Henry, titip adik saya. Kendarai mobilnya dengan hati-hati. Jangan sampai lecet apalagi sampai terluka." Suara Rendy dengan sedikit lantang namun dengan ledekan yang kental. Hal itu membuat Meila salah tingkah hingga tidak bisa menahan malunya di depan Henry.
Seolah tidak mau membuat Meila semakin malu, Henry pun langsung menoleh sejenak sebelum kemudian mengangguk dengan kepala tertunduk penuh hormat.
"Baik, tuan." Ucapnya menyahuti kalimat Rendy.