
"Lalu?" Jawab Dimas dari alat penghubung yang dinamai dengan earpod itu.
"Ada seorang pria yang mendatangi nona. Awalnya nona baik-baik saja. Tetapi beberapa saat kemudian, nona terlihat gelisah dan kebingungan setelah tanpa sengaja pria tersebut tertabrak oleh petugas kebersihan dan hampir menyentuh nona. Dan setelahnya nona langsung kebingunan dan cemas. Sepertinya... nona sedang mencari-cari anda, tuan."
Kedua mata Dimas setengah membelalak seakan perasaannya pun berubah tidak enak.
"Kamu awasi terus. Saya akan segera kesana." Dimas menutup pembicaraan itu.
"Wow! Kalau seorang Alex sudah membawa bodyguardnya, sudah pasti ada sesuatu yang harus dilindungi, bukan?" Suara James berkelakar yang sudah pasti dugaannya sangat tepat.
Sudut bibir Dimas menaik seiring dengan seulas senyum simpul.
"Lebih tepatnya seseorang. Seseorang yang sangat berharga." Jawabnya cepat dengan nada misterius yang kental.
James menghela napas seraya mempersilahkan Dimas untuk pergi meninggalkan acara sambil merentangkan lengannya tanda mengizinkan. Seakan dia tau, jika sedang ada masalah yang benar-benar tidak bisa dibiarkan begitu saja dan harus Dimas pastikan sendiri dengan segera.
"Baiklah. Kamu pergi saja. Jangan sampai kau terlambat dan seseorang yang berharga itu berada dalam bahaya." Perintahnya dengan nada pengertian.
"Kamu memang masih sama seperti dulu." Sahut Dimas sembari beranjak dari kursi bar. "Kamu bisa ke rumahku kapanpun kamu mau." Lalu mengangkat tangannya ke atas bahu James.
"Aku pergi dulu." Pungkas Dimas sambil berbalik dan berjalan menjauh membelakangi James. Sedangkan James hanya mengulas senyum dari kejauhan sambil menatap punggung Dimas yang semakin menjauh darinya.
●●●
"Wajah kamu keliatan pucat. Apa kamu sakit?" Tanya Dion cemas.
Melihat wajah Meila yang pucat, Dion sedikit khawatir. Tidak pantas jika dia hanya membiarkannya begitu saja tanpa berbuat sesuatu. Paling tidak dia bisa membantunya mendapatkan pemeriksaan medis untuk mengetahui kondisinya.
"A-aku nggak apa-apa. Cuma... sedikit pusing," jawab Meila sekenanya. Dia tidak mampu menatap bola mata Dion.
Wajahnya sesekali tertunduk dengan pandangan berubah-ubah. Mengawasi situasi sekitar sambil mengharapkan kedatangan Dimas.
"Kamu yakin? Aku bisa bantu panggilkan dokter untuk memeriksa kondisi kamu." Rupanya Dion masih belum menyerah. Dia bersikeras membujuk Meila agar gadis itu mau menurutinya. Tetapi, didetik Meila akan menjawab dan menolak ucapan Dion, saat itulah sang penyelamat yang Meila harapkan datang. Menghilangkan kecemasan dan kegelisahannya seketika.
"Sayang, kamu disini? Aku cari-cari kamu dari tadi." Dimas datang dan langsung merangkulkan lengannya ke bahu Meila. Memberikan usapan lembut dengan sedikit remasan ringan di bahu mungilnya. Seperti sedang menyalurkan rasa tenang untuk gadisnya yang sedang dilanda kegelisahan.
Seolah dapat menghirup udara segar, ketakutan Meila sedikit demi sedikit mulai sirna.
Kepala Meila refleks mendongak dengan bola mata penuh binar antara perasaan lega bercampur haru.
"Gak nyangka, ya. Kita bertemu lagi." Dion menyapa Dimas lebih dulu sebelum akhirnya dia menyadari kehadiran Dimas. Jika boleh jujur, kedatangan Dimas tadi sempat membuat Dion memasang raut kesal di wajahnya. Namun, dia langsung menepis rasa kesal itu karena tidak mau memperlihatkan sisi buruknya di depan gadis yang sedang dia incar.
"Kamu... Dion?" jawab Dimas dengan nada sedikit ragu namun tepat. Disaat itu juga kepala Meila mendongak cepat saat mendengar Dimas yang ternyata sudah mengenalinya lebih dulu.
Tangan Dion terulur seraya berjabatan tangan pada Dimas. "Apa kabar?" Tanya Dion kemudian. "Aku gak sengaja ngeliat dia disini. Aku pikir dia sendiri karena nggak ada yang menemaninya." Sambungnya sambil melepas jabatan tangan.
"Aku hanya ke belakang sebentar. Dan dia tadi sedang bersama dengan kakaknya saat aku meninggalkannya." Sahut Dimas santai sembari menundukkan kepala pada Meila dengan lengan yang masih merangkul. Tentu saja, 'kakak' yang Dimas maksud adalah Vika.
"...kak, ayo kita pulang,..." suara Meila memelas dengan tiba-tiba. Ada sedikit getaran samar dalam nada suaranya seperti sedang manahan tangis.
"Sepertinya dia sedang tidak enak badan. Wajahnya keliatan pucat." Dion berucap lagi dengan meyakinkan.
"Ya." Dimas mengiyakan ucapan Dion tanpa melepaskan pandangan matanya dari Meila. "Dia mungkin hanya sedikit pusing." Dan tanpa sadar mengusap-usap bahu mungil Meila dengan lembut disertai tatapan dalam yang langsung dapat dia tangkap. Jika gadisnya sedang tidak baik-baik saja.
Melihat perlakuan Dimas pada Meila yang begitu tidak biasa, memantik rasa ingin tahu sekaligus juga cemburu. Kedua mata Dion pun menyipit. Dibubuhi dengan kilatan mata tajam penuh kekesalan yang berusaha disamarkannya.
Sebenarnya apa hubungan mereka? adik-kakak? atau... kekasih?
"Sepertinya kami harus segera kembali ke rumah." Ucapan Dimas akhirnya menarik Dion dari lamunannya.
Sembari mengangguk, "oh, aku juga harus pergi. Teman-temanku menunggu disana." Dion menengok ke arah dimana teman-temannya berkumpul.
"Thanks." ucap Dimas sebelum kemudian Dion membalikkan badannya pergi menjauh meninggalkan mereka.
Meski pantas atau tidak, Dimas merasa penting untuk mengucapkan kata terima kasih meski dia juga sedikit ragu akan sikap Dion pada Meila sebelumnya. Apalagi Dimas juga merasa ada sesuatu yang terjadi pada mereka hingga membuat Meila merasa gelisah dan takut.
Sepeninggal Dion, kembali Dimas menunduk, menatap Meila dalam-dalam yang masih memasang tatapan memohon dengan sangat. Tangan Dimas tak henti-hentinya memberikan usapan lembut ke bahu Meila agar gadis itu merasa sedikit tenang. Sampai akhirnya, Dimas pun memutuskan untuk menuruti permintaan Meila agar gadis itu tidak merasa semakin tertekan.
"Ayo," Dimas berucap lembut berbisik sambil memberikan senyuman hangatnya. Dan itu membuat Meila lebih tenang. "Kita pulang, ya?" Imbuhnya sembari membubuhkan kecupan kecil ke pelipis Meila disertai dekapan ringan.
●●●
Tidak ada percakapan atau perdebatan selama perjalanan. Sunyi dan tenang. Itulah suasana yang tergambar. Meila yang lebih memilih diam sambil bersandar, membawa pandangannya ke luar jendela sambil memperhatikan kendaraan yang berlalu lalang. Dikarenakan waktu yang nyaris tengah malam, kendaraan yang melintas tergolong jarang. Hanya satu atau dua yang terhitung karena sebagian sudah memilih meringkuk di bawah selimut tebal nan hangat. Bersiap membangun stamina kembali untuk memulai kegiatan di esok hari.
Dimas yang fokus menyetir, sesekali melirik ke arah samping untuk memastikan kondisi Meila. Dia juga menyalakan alunan musik klasik dengan volume sedang yang bertujuan memberikan ketenangan untuk Meila yang sampai saat ini masih belum Dimas ketahui apa menyebabkannya merasa gelisah dan takut.
Meilhat Meila yang tiba-tiba gusar dengan kedua tangan saling bertautan tidak nyaman, Dimas langsung menggenggamnya lembut. Pandangan mereka seketika bertemu dan saat itulah Dimas memberikan senyuman sambil memberikan isyarat jika ada dirinya bersamanya. Dirinya yang bisa diandalkan. Dirinya yang selalu siap menjadi sandarannya. Dan berhasil, genggaman hangat dari tangannya itu mampu membuat Meila kembali tenang meski masih ada sedikit rasa gugup yang memberati.
Beberapa menit kemudian mereka pun akhirnya sampai. Diawali dengan Dimas yang keluar lebih dulu diikuti dengan Meila yang berjalan berdampingan.
"Kamu ke kamar duluan, ya." Dimas berucap tiba-tiba. "Ganti baju dan bersih-bersih. Kalo mau mandi, gunakan air hangat dan jangan terlalu lama. Mengerti?" Kemudian mengusap kepala Meila dengan lembut sembari berucap dengan sikap perhatian.
Meila hanya terdiam menatap dengan seksama. Ada sedikit rasa bersalah di hatinya karena telah membuat Dimas meninggalkan acara dengan tiba-tiba.
"Aku akan menyusul setelah memastikan sesuatu," imbuh Dimas saat dilihatnya Meila yang masih menatapnya dalam diam.
"...Maaf..." kata itulah yang pertama kali terucap dari mulut kecilnya. Dengan mata berkaca-kaca dan hidung yang mulai memerah. "...maaf karena kak Dimas harus ninggalin acara penting itu," serunya dengan nada bergetar.
Bukannya menjawab atau menunjukkan sikap kecewa, Dimas malah tersenyum. Senyuman hangat yang tulus dan juga lembut. Setulus rasa sayangnya pada Meila. Dan selembut perlakuannya.
Untuk menenangkan, Dimas pun mengelus lembut pipi Meila dengan elusan sayang.
"It's okay. Kita bicarakan itu nanti." Sahutnya sambil mencium kening Meila. "Ayo, sana! Ganti baju kamu dengan baju hangat."
Dan tidak membantah lagi, Meila langsung melakukan apa yang Dimas perintahkan. Dia mulai berjalan menaiki anak tangga sebelum kemudian memberikan anggukan kepala sebagai jawaban dari apa yang Dimas perintahkan.