
Dion tampak baru saja keluar dari kamar mandi. Dengan memakai jubah mandi dan rambut yang masih basah hingga berjatuhan ke lantai, dia berjalan menuju lemari pendingin. Mengambil sebotol minuman dan menuangkannya ke dalam gelas.
Dion pun membawa langkahnya ke sofa dan menaruh tubuhnya disana. Meneguk minumannya dengan sekali tegukan hingga tandas. Sekelebat ingatan tentang pertemuannya dengan Meila beberapa jam lalu muncul begitu saja. Membuat seringaian tipis bertengger di bibirnya yang masih basah karena minuman.
"Meila... Meila... Meila..."
Dion menggumamkan nama Meila dengan sensual. Membangkitkan hasrat yang mulai menaik setelah berusaha keras ia tahan hingga kepalanya terasa mau pecah. Dan ketika tadi dirinya sudah sampai di apartemennya, dia tak segan-segan untuk berendam air dingin berjam-jam demi meredakan hawa panas yang menjalar dari ujung kepala sampai kaki.
Dan saat ini, dia baru berhasil meredakannya setelah dua jam dengan tubuh hampir membeku.
"Sepertinya kita adalah takdir. Itu sebabnya Tuhan mempertemukan kita kembali."
Diambilnya pemantik elektrik yang akan dia gunakan untuk menyalakan sebatang rokok untuk dihisapnya. Lalu Dion menghisapnya, menghembuskan kepulan asap tebalnya ke atas langit-langit kamar hingga memenuhi hampir seluruhnya. Menciptakan suasana berkabut bercampur aroma pahit nan tajam yang akan membuat siapa saja terbatuk-batuk bagi yang tidak terbiasa menghirupnya.
"Rasanya aku ingin sekali menyentuhmu. Membelaimu dengan lembut, memelukmu, menciumimu, merasakan hangatnya suhu tubuhmu, menghirup aromamu dalam-dalam, menggenggam jari jemarimu yang terasa begitu kecil dan juga pas dalam genggamanku." Lalu mengangkat tangannya ke udara sembari menciptakan angan-angannya sendiri.
Dan saat dirinya mulai tenggelem dengan imajinasinya sendiri, seketika aroma tubuh Meila yang menyentuh indra penciumannya tadi seakan tercium kembali. Membuat Dion mengeluarkan geraman hasrat tak tertahan yang dia alihkan dengan memijat kepalanya sendiri.
"Aargh! Aku bisa gila!" Geramnya tertahan. "Aku yakin kita pasti akan bertemu lagi cepat atau lambat. Dan saat kesempatan itu datang, aku nggak akan menyia-nyiakannya." Imbuhnya dengan kilatan mata tajam yang membuat bulu kuduk merinding.
●●●
Suara pelannya itu memang terdengar ragu, tetapi sekilas nada memohon yang sangat tipis membuat Dimas tertegun disertai alis yang menaik karena rasa tak percaya.
"Aku gak apa-apa kok. Kakak jadi bisa menyelesaikan kerjaan juga, kan?" ucapnya pelan bercampur malu. "Aku bisa tidur di sofa... itu," sambungnya lagi dengan nada sangat pelan hingga nyaris tidak terdengar. Tak lupa juga dia ikut menyertakan jari telunjuknya lagi ke arah sofa.
Mengikuti arah pandangan Meila yang ke sekian kalinya, Dimas menatap ragu.
"Kamu yakin? Di kamar lebih luas. Badan kamu yang mungil ini akan terasa sakit nanti."
"Makanya, karena badan aku mungil, itu akan cukup." Dengan cepat Meila menyanggah kalimat Dimas.
Seketika Dimas terkekeh sembari mengusak-usak kepala Meila dengan gemas.
"Udah pintar ngejawab, ya," Kekehannya pun menular pada Meila. "Ayo!" Lalu menarik tangan Meila dengan lembut dan membawanya ke sofa. Membiarkannya berbaring disana sebelum kemudian ikut merebahkan tubuhnya di pinggir sofa dengan posisi memiring saling berhadapan. Dikarenakan ukuran sofa yang terbilang cukup sempit. Hal itu sontak membuat Meila kaget bercampur bingung.
"Kak Dimas... tidur disini juga? Lalu, kerjaan kamu?" Tanyanya bingung.
"Itu bisa nanti. Kamu nggak mau aku temani?" Dimas balik bertanya.
"Bukan itu. Tapi... nanti badan kakak bisa sakit juga karena..."
"Ssstt! Aku udah terbiasa tidur di sofa yang sempit ini. Yang aku khawatirin itu kamu."
"Aku takut kamu jatuh di tengah malam. Dan di saat itu aku gak ada untuk menangkap kamu." Jawab Dimas dengan begitu santai dan terdengar enteng. Yang dia yakini telah membuat pipi Meila bersemu merah tentunya. "Yaaa... seenggaknya saat kamu jatuh nanti, kamu akan jatuh di atas tubuh aku dan......"
"Kakak!" Karena saking merasa malu dan wajahnya yang terasa semakin panas, Meila tidak bisa untuk tidak memukul pelan dada Dimas yang begitu dekat dengannya.
Dimas tergelak lepas dengan suara yang cukup kencang memenuhi ruangan. Membuat Meila semakin malu di waktu tengah malam yang sunyi.
"Memang apa yang kamu pikirkan? Apa yang salah sama ucapan aku? Aku cuma mau bilang, kalo pun kita jatuh, tubuh kamu gak akan terasa sakit. Karena ada tubuh aku yang akan menopangnya. Benar, kan?" Dimas berucap dengan jelas sambil manahan tawanya. Dan kali ini dia benar-benar berhasil membuat wajah Meila merah padam hingga gugup.
"O-oh..." sahut Meila singkat sekenanya.
"Ayo, kita sudahi percakapan malam ini. Sekarang saatnya tidur." Ucapnya memberi perintah.
Lalu Dimas menarikkan selimut hingga menutupi sebagian tubuh mereka. Dan sebelum itu, dia tak lupa membiarkan lengan kokohnya memeluk Meila dan mendekapnya hangat. Dan dalam dekapan hangat Dimas, Meila sempat tersenyum beberapa saat sebelum kemudian akhirnya memejamkan matanya dan terlelap nyaman.
●●●
"Tahanan dengan nomor 118, silahkan masuk."
Seorang petugas berpakaian seragam cokelat tampak sedang memanggil seorang pria. Petugas sipir itu memiliki aura gelap dengan tatapan sinis yang siap menerkam mangsa. Seorang pria yang memiliki nomor punggung tersebut berjalan mendekat dengan kepala tertunduk.
"Besok, kamu bisa keluar dari tahanan ini dengan syarat. Bukan berarti kamu bisa bebas sepenuhnya. Tingkah dan prilakumu masih kami awas. Jadi, kamu tetap harus berkelakuan baik seperti saat kamu masih di dalam Sel."
Pria itu tampak mengangguk. Dengan kepala yang masih tertunduk dalam.
"Baik kalau begitu. Ini surat pernyataan yang menyatakan kalau kamu bebas bersyarat dan tetap harus lapor selama 1x24 jam setiap harinya. Dilarang bepergian jauh sampai ke luar negeri. Kamu mengerti?"
Pria itu mengangguk kembali namun kali ini dengan sebuah kata dengan suara rendah.
"Saya mengerti. Saya berjanji akan berkelakuan baik di luar sana."
Sebuah kalimat janji yang keluar dari mulutnya itu ternyata mengandung makna lain. Dalam kilatan matanya yang samar, ada sekelebat rencana jahat yang sudah dia rencanakan ketika menghirup udara bebas besok.
"Beno Aryatama, Selamat! Gunakan masa bebasmu dengan baik. Dan kalau kamu melakukan tindak kejahatan lagi, apapun itu, kami nggak akan segan-segan untuk menangkap kamu kembali."
Sipir itu kemudian memberikan sebuah dokumen yang langsung diterima pria itu. Mereka berjabat tangan sebagai tanda kesepakatan.
Ya! Pria itu adalah Beno. Sang penjahat yang berhasil ditangkap karena kecerobohannya sendiri. Dan itu semua terjadi jika bukan ada campur tangan Dimas didalam penangkapan dirinya beberapa bulan lalu.
Entah apa yang akan dia rencanakan kali ini. Tapi satu yang pasti, itu adalah rencana jahat yang sudah dia susun dengan rapi dan tanpa cela.