A Fan With A Man

A Fan With A Man
Persembunyian Bisnis Dion



"Jadi, dimana Dion menyembunyikan bisnis ilegal itu hingga sekarang? Tanpa ada seorangpun yang mengetahuinya selain dirimu?"


Dimas masih menginterogasi Simon yang tampak kooperatif. Setiap pertanyaan yang Dimas layangkan, selalu Simon jawab tanpa terbata. Itu menandakan jika dirinya memang sedang berkata jujur. Tetapi, saat Dimas menanyakam lokasi tempat penyimpanan bisnis ilegal sekaligus juga tempat bertransaksi, Simon tampak sedikit bingung dan ragu. Pasalnya, memang tidak ada siapapun yang mengetahuinya selain dirinya. Dan jika dia memberi tahu pada Dimas, sudah pasti dirinya akan segera diburu oleh Dion. Dan kemungkinan terburuknya adalah, dirinya mungkin akan dihabisi oleh Dion untuk menghilangkan jejak bisnisnya yang lama dan memindahkannya ke tempat yang baru.


"Aku... Aku tidak tau." Simon berkata bohong. Itu terlihat dari dirinya yang tampak mengalihkan pandangan.


Dimas langsung mendengus sebal. "Jangan katakan kamu tidak mengetahuinya, Simon. Aku tau hanya kamu lah yang mengetahui lokasinya. Jadi cepat katakan! Atau aku tarik kembali kata-kataku tadi." Dimas berbalik mengancam yang langsung membuat Simon gelisah dan cemas.


"Jika aku katakan, nyawaku adalah taruhannya. Apa kamu bisa menjamin akan diriku yang tidak akan diburu olehnya saat aku mengatakan padamu?"


Dimas menyeringai lebar. "Aku sudah bilang padamu tadi. Jika kamu kooperatif, aku akan mempertimbangkannya. Jadi bagaimana? Mau dilanjutkan atau berhenti sampai sini?" Dimas membuat penawaran yang membuat Simon semakin gelisah.


Haruskah dia sebutkan lokasinya? Apa benar pria ini bisa dipercaya bahwa dia akan menjamin keselamatannya?


"Itu.... lokasinya ada di Amerika. Di sebuah gedung perusahaan yang bergerak dibidang percetakan."


"Percetakan?" Dimas menyela karena sedikit bingung.


"Benar. Itu hanya sebuah kedok untuk menutupi transaksi ilegal itu. Sehingga pihak berwajib disana tidak mencurigainya jika didalamnya terdapat transaksi yang dijalankan oleh orang-orang berjas dan berdompet tebal."


Amerika? Jika aku bertindak sekarang, cepat atau lambat papa pasti akan mengetahuinya.


"Kamu tidak mengarang kata-kata hanya karena ingin segera keluar dari sini, kan?"


"Ti-tidak. Aku mengatakan apa yang aku ketahui. Hanya aku yang bebar-benar mengetahuinya."


Tok! Tok!


Suara ketukan dari arah pintu membuat keduanya menoleh bersamaan. Memecah ketegangan yang Simon rasakan sampai membuat jantungnya berdegup kencang karena ketakutan. Belum lagi keringat dingin yang langsung keluar membasahi dahinya begitu deras.


"Maaf, tuan. Saya mau mengingatkan, jika 30 menit lagi tuan ada jadwal meeting dengan perusahaan konstruksi." Suara Henry terdengar samar di balik pintu.


Dimas langsung melihat pada jam tangannya. Dan benar, tidak terasa 30 menit berlalu. Dan sisa 30 menit untuknya sampai tiba di kantor.


"Tunggu aku 5 menit lagi."


"Baik, tuan."


Kembali memusatkan perhatiannya pada Simon, Dimas menyipitkan matanya sambil menyapu pandagannya pada lelaki itu.


"Tetaplah disini sampai asistenku datang. Mengenai kamu akan bebas atau tidak, itu tergantung padaku setelah memastikan semuanya."


Tanpa memberikan Simon bersuara, Dimas langsung meninggalkannya sendiri dengan menutup pintu itu rapat-rapat. Sementara Henry yang masih menunggunya di luar, tampak menyapa hormat ketika tuannya keluar dari dalam tempat Simon berada.


"Henry, selidiki tentang perusahan percetakan yang ada di Amerika. Jika ucapannya terbukti benar, kamu tau apa yang harus kamu lakukan, bukan?"


Henry seketika mengangguk tanda mengerti. "Mengerti, tuan."


"Laporkan padaku perkembangan penyelidikanmu. Lalu, tetap pantau Simon dan tetap beri dia makan dengan teratur."


"Akan saya lakukan, tuan." Lagi, Henry menganggukkan kepalanya tanda mengerti.


"Dan... satu lagi, nanti kamu akan menjemput Meila sebelum jam makan siang, bukan? Pesankan dua porsi makan siang lengkap di restoran langgananku. Lalu, antar dia ke kantor."


Henry sempat terdiam dua detik sebelum akhirnya benar-benar mencerna kalimat yang Dimas ucapkan.


"Tuan... menyuruh saya mengantar nona ke kantor?"


"Ya. Antar dia langsung ke ruanganku. Aku ingin dia makan siang tepat waktu bersamaku sebelum aku menghadiri meeting selanjutnya. Kamu mengerti, kan?"


"Baik, saya mengerti, tuan."


Dimas mengangguk puas. "Bagus. Kamu bisa ke kantor setelah mengurus dia. Aku akan segera ke kantor sekarang. Kamu sudah meletakkan proposal nya ke mejaku?"


"Good Job!" Dimas sekali lagi memuji kinerja Henry yang sangat cepat dan juga cekatan. Dia bahkan sampai menepuk punggung Henry untuk menunjukkan kepuasannya. Kemudian pergi meninggalkannya seorang diri yang menyisakan senyuman di bibirnya.


Henry sempat tidak percaya saat Dimas memintanya untuk mengantar Meila ke kantor. Sebab, tuannya tidak pernah membawa apalagi mengajak orang lain ataupun perempuan khususnya. Tetapi, dengan memintanya untuk mengantar Meila ke kantor, itu sudah jelas menunjukkan jika Meila sangatlah berbeda. Perempuan itu sangat spesial dan berharga bagi tuannya. Dan Henry akan mengingat itu. Dia tidak akan pernah berbuat salah yang akan membuat tuannya marah. Apalagi jika itu menyangkut kekasihnya.


Sepintas, Henry mengingat intruksi Dimas yang menyuruhnya untuk memantau Simon. Dan dia langsung melaksanakannya tanpa membuang waktunya. Henry pun masuk ke tempat Simon berada. Dilihatnya Simon langsung terkesiap begitu pintu dibuka olehnya.


"Mana? Dimana orang itu? Kenapa dia belum juga membebaskanku?"


"Tuan Alex sedang kembali ke kantor. Beliau tidak pernah menarik ucapannya sendiri. Dia pasti akan menepati janjinya jika semuanya memang sudah terbukti. Kamu tunggu beberapa hari lagi disini. Kebutuhanmu selama itu akan tetap kami penuhi seperti sebelumnya. Jadi, jangan macam-macam selama kami melakukan penyelidikan."


Setelah memastikan semuanya aman, Henry yang baru berbalik dan akan melewati pintu, diberhentikan oleh Simon yang tiba-tiba memanggilnya.


"Tunggu. Sebenarnya.... siapa tuanmu itu? Kenapa dia bisa membawaku kemari bahkan setelah aku mengganti identitasku?"


Henry menoleh dengan sedikit memutar tubuhnya. Tersenyum simpul penuh bangga saat dirinya akan menyebutkan nama Dimas pada Simon yang sedang menunggu jawabannya.


"Mungkin kamu pernah mendengar nama Alfero Alexsander?" Mendengar nama Alfero Alexsander disebutkan, perubahan eskpresi di wajah Simon seketika tampak jelas. Mendengar nama yang sangat berpengaruh di penjuru negeri, tidak mungkin Simon tidak mengenalinya. "Tuanku adalah putra beliau. Dimas Alexsander Saoza."


Begitu nama Dimas selesai disebutkan dengan lantang dan bangga, bulu kuduk di seluruh tubuh Simon meremang bersamaan. Disusul dengan suara langkah kaki Henry yang terdengar hingga menjauh seketika. Lalu kemudian menghilang di balik pintu ruangan hingga menyisakan keterkejutan yang nyata baginya.


Simon masih ternganga karena merasa tidak percaya. Pantas saja persembunyiannya dengan mudah ditemukan olehnya. Hal tu sudah tentu bukan hal yang sulit bagi pemilik kerajaan bisnis terbesar di negara ini.


"Ini benar-benar gila! Dengan dia tidak menghabisiku, itu sudah pilihan yang paling baik untukku." Gumam Simon sambil sesekali menghembuskan napasnya.


●●●


Pelaksanaan kuis di hari pertama dilewati Meila dengan lancar. Tanpa ada hambatan atau gangguan kecil sekalipun. Semua yang dipelajarinya kemarin hampir semua muncul dalam pertanyaan. Dan Meila puas bisa menjawab semuanya. Senyum merekah pun dia tampilkan saat mulai menyematkan tasnya ke bahu. Lalu berjalan ke luar kelas sambil menebar senyum ramah kepada semua orang yang ditemuinya.


Kali ini dia tidak keluar bersama Airin. Beberapa menit sebelumnya, sahabat tomboy nya itu dipanggil ke ruang dosen untuk membantu menyusun beberapa file dokumen terkait soal-soal yang baru saja dibahas hari ini. Dan sebelumnya Airin telah pamit lebih dulu dan meminta maaf pada Meila kalau dia tidak bisa bersamanya.


Ditengah perjalanannya menuju tempat Henry, Meila dihentikan oleh seseorang yang menawarinya sesuatu.


"Halo, Mei... perlu tumpangan?" Sapa salah satu siswa pria yang menawarkan tumpangannya pada Meila. Laki-laki itu berhenti tepat di samping Meila sambil menyamai langkahnya.


"Oh, nggak perlu. Terima kasih. Aku udah ada yang jemput." Jawab Meila dengan ramah yang diselipi senyuman.


"Yaaaahhh... kalah cepet dong gue." Siswa laki-laki itu lalu membuat ekspresi sedihnya yang membuat Meila tersenyum.


Meila memberikan cengiran khasnya. "Maaf, ya..."


"It's okay. Cukup dibalas senyum kayak gitu juga gue udah seneng." Pungkas laki-laki itu. "Yaudah kalau gitu gue duluan, ya. Sampai ketemu besok." imbuhnya lagi dengan kalimat sopan dan juga ramah.


"Iya. See you!"


Tidak sampai satu menit, Meila pun tiba di depan gerbang dimana telah ada Henry yang sedang menunggunya. Perkataan Dimas yang mengatakan jika dirinya akan menyuruh Henry untuk datang sebelum jam makan siang, rupanya benar-benar terjadi. Mungkin sudah satu jam yang lalu laki-laki ini menunggunya.


Dengan sigap dan cepat, Henry langsung menyapa dan membukakan pintu untuk Meila dengan sikap sopan.


"Silahkan, nona."


"Terima kasih."


Meila pun masuk ke kursi penumpang di belakang. Disusul dengan Henry yang ikut masuk dan duduk di balik kemudi.


"Maaf karena aku terlalu lama."


"Oh, tidak apa-apa nona. Saya memang sengaja sampai lebih dulu supaya nona tidak terlalu lama menunggu."


Meila menjawab dengan senyuman. Lalu kemudian membiarkan Henry melajukan mobilnya dengan kecepatan rata-rata dan membawanya menembus jalanan ibu kota yang tampak terik karena sengatan cahaya matahari yang telah memuncak.