A Fan With A Man

A Fan With A Man
Jalan-jalan



"Bagaimana perasaanmu?"


Suara itu berhasil membuat Vika menoleh dengan cepat. Dirinya yang sudah mengenakan piyama tidur milik Rendy terlihat sangat begitu lucu. Tampak kebesaran dan tubuhnya nyaris tenggelam. Dia mendesah lega karena telah selesai mengganti pakaian dengan cepat saat Rendy memasuki kamar.


"Jauh lebih baik." Sahutnya cepat, namun sesaat dia berkilah seakan mematahkan ucapannya sendiri. "Nggak, nggak. Lebih tepatnya.... sangat jauh lebih baik." Sambungnya manja sambil mengalungkan tangannya ke leher Rendy ketika pria itu sudah berdiri di hadapannya.


Sikap Vika itu disambut hangat oleh Rendy. Dia langsung meletakkan tangannya ke pinggang ramping Vika dan menariknya semakin merapat dengan posesif. Kemudian, menggesekkan hidungnya pada hidung Vika dengan menggoda.


"Semua itu terlihat dari wajah kamu. Apalagi saat Meila hampir curiga." Ucapnya meledek disertai kikikan geli. "Wajah kamu keliatan merah, Sayang." Sambungnya sambil mengelus pipi Vika dengan sayang.


Ucapan Rendy mengingatkannya pada kejadian memalukan tadi pagi. Dia sedikit kesal hingga dengan spontan memukul dada pria itu dengan pukulan ringan tidak terasa. Membuat Rendy tertawa karenanya.


"Kamu emang menyebalkan! Hampir aja Meila curiga, Rendy. Aku akan merasa bersalah sama dia karena aku udah memintanya untuk menyembunyikannya dulu dari kamu." Jawabnya dengan kesal yang diselimuti rasa bersalah.


"Aku sangat suka mengganggunya, Vika. Kamu tau kan, adik aku yang satu itu sangat polos. Cepat atau lambat dia pasti akan mengetahuinya, kan?"


Vika mencebik, "makanya berhenti mengganggunya, Rendy. Jangan menggodanya dengan mencemari hal-hal yang aneh pada pikiran polosnya itu." Pintanya disertai sebuah peringatan.


Sambil terkekeh, Rendy mendaratkan sebuah kecupan ringan ke bibir Vika seraya menjawab.


"Aku nggak mencemarinya, Sayang. Dimas pun tau itu. Menggoda Meila itu udah menjadi keseharianku sejak dulu. Dan kamu tau itu."


Jawab Rendy berkilah diikuti kekehan ringan.


Mendengar Rendy menyebut nama Dimas, membuatnya teringat jika


dia sangatlah penasaran dengan hubungannya pada Meila yang terlihat sangat kalem namun mampu membuat siapapun iri hanya karena melihatnya saja.


"Ah, iya, Rendy. Mengenai Dimas, tampaknya dia begitu menyayangi adik kamu, ya? Siapapun akan langsung tahu jika ada sebuah perasaan luar biasa diantara mereka. Mata mereka saling berbicara tanpa mengatakan apapun. Akupun langsung bisa menebaknya saat pertama kali aku bertemu dan menyaksikannya."


Sambil mendesah ringan, Rendy menjawab. "Kamu benar, Vika. Mereka saling memiliki perasaan satu sama lainnya." Sambil tersenyum dan menjelaskan, Rendy menjumput helaian rambut Vika untuk dililitkan di jemarinya. "Bahkan, saat pertama kali Dimas mengutarakan perasaannya tentang Meila, dia mengutarakannya sama aku lebih dulu seolah meminta izin dari aku."


"Oh ya?" Sergah Vika dengan nada tidak percaya.


Rendy mengangguk dan mendesah pelan, "kamu tau, Meila itu punya trauma mendalam sama seorang pria." Dengan wajah tidak terbaca dan membentuk senyuman getir, Rendy menahan amarahnya pada kejadian yang berkaitan dengan Beno kepada adiknya, Meila. "Bahkan untuk menceritakannya pun aku nggak sanggup. Dia itu nggak mudah untuk dekat dengan lawan jenis apalagi melakukan kontak fisik. Tapi hal itu dipatahkan oleh Dimas. Dimaslah pria pertama yang bisa membuat Meila menghilangkan rasa trauma dan ketakutannya. Dan didetik itulah aku yakin kalo Dimas bisa menjaga dan melindunginya dengan baik. Dan semuanya terbukti sampai sekarang." Pungkasnya disertai senyuman tulus.


Perlahan kedua tangan Rendy beralih menangkup sisi wajah Vika dan sedikit memaksanya agar menatapnya lekat-lekat. "Akupun sama halnya seperti Dimas, Vika. Aku ingin menjadi penyebab dari hilangnya rasa trauma kamu. Aku ingin membuat kamu melupakan rasa trauma yang menyesakkan itu. Izinkan aku melakukannya, Vika. Aku nggak mau kamu terus-terusan merasa bersalah dan gemetar ketakutan ketika mengingatnya." Suara Rendy sangat berat dan terdengar memohon.


Sampai disadarinya kedua mata Vika berkaca-kaca dengan air mata yang akan tumpah hanya dengan sekali kedipan saja. Dilihatnya Vika yang tersenyum haru sambil mengalihkan tangannya pada tangan Rendy yang ada di pipinya. Meresapi kehangatannya dengan seksama dengan cara lebih menempelkan lagi ke pipinya.


"Kamu tau, Rendy, setiap detik waktu yang berlalu tanpa kamu itu rasanya sangat hampa. Setiap saat aku selalu berharap kamulah yang akan menjadi tameng dari rasa traumaku di saat mimpi buruk itu datang. Memelukku kala rasa takut itu menghantuiku di tengah malam yang menyeramkan. Dan saat ini, rasanya... semuanya udah terjawab dengan kembalinya kamu bersama aku. Dengan kamu berada disisiku, itu udah menjadi kekuatan buat aku, Rendy. Aku sangat bersyukur karena kamu menerimaku lagi dengan segala keadaan yang mungkin membuat kamu bingung sebelumnya."


Rendy menatap Vika dengan lekat dan mendekatkan wajahnya hingga tanpa jarak.


"Vika, nggak ada alasan buat aku untuk nggak menerima kamu. Aku selalu mencintai kamu sampai kapanpun itu. Kamu yang paling bisa merasakannya, bukan?" Jemarinya bergerak, mengusap pipi mulus


Vika dengan gerakan lembut seirama. "Dan kamu juga selalu memenuhi ruang hati aku yang nggak akan pernah tergantikan oleh siapapun."


Satu tetes air mata akhirnya lolos juga. Diikuti dengan isakan ringan yang tidak tertahan di pangkal tenggorokannya yang mulai terasa panas.


"Aku juga mencintaimu, Rendy. Selalu. Dulu dan selamanya!" Ucap Vika sendu tanpa bisa berkata-kata lagi.


Satu kecupan berhasil mendarat ke bibir Vika. Kecupan lembut penuh cinta yang syarat akan kelembutan tak terkira. Terbalur dari rasa sayang yang semakin dalam. Lengan Rendy pun mengikuti, menarik Vika dengan posesif agar semakin menempel rapat padanya. Mereka saling mengecup dan membelai, menyesapi kehangatan dari kelembutan cecapan masing-masing yang tercipta diantara keduanya.


●●●


Hari ini adalah hari libur untuk berkuliah. Dan tadi, begitu Meila membuka mata, dia langsung disambut dengan sebuah kecupan hangat di pipinya dengan mesra oleh Dimas yang tampak sudah segar. Terlihat dari tampilan rambutnya yang masih basah dan acak-acakan yang sisa-sisa airnya menetes dari rambutnya. Ditambah dengan pantulan cahaya sinar mentari yang seolah mengecupi permukaan kulit wajahnya yang tampan. Lalu, tanpa memberitahu maksud dan tujuannya serta membiarkan Meila menyela untuk bertanya, Dimas langsung menyuruhnya untuk segera mandi dan bersiap-siap. Sedangkan dia, beralih ke dapur untuk menyiapkan sarapan mereka di meja makan.


Hanya membutuhkan waktu satu jam untuk Meila merapikan diri seperti yang sudah Dimas perintahkan. Sambil memoles bibir tipisnya menggunakan liptint berwarna natural yang beromakan strawberry, dirinya tampak tersenyum lebar melihat pantulan dirinya di cermin.


"Wow! Perfect, Mei. You looked pretty, now." Gumamnya seketika disertai kikikan geli memuji dirinya sendiri.


Hampir terbawa suasana, Meila tidak mau membuat Dimas menunggunya karena terlalu lama bersiap diri. Dan, bohong jika Meila tidak penasaran akan ajakan Dimas yang tiba-tiba. Pun pria itu juga tidak mengatakan apapun atau membicarakan apapun yang menyinggung jika mereka akan keluar di hari libur ini.


Meila mengambil sling-bag berwarna peach miliknya di atas meja rias. Lalu, berjalan santai sambil merapikan sedikit penampilannya sekali lagi, untuk memastikan jika semuanya sudah benar-benar rapi.


Meila mulai berjalan menuju pintu dan tiba-tiba saja, rasa nyeri di bagian perutnya terasa begitu menusuk hingga dia harus berpegangan pada gagang pintu dengan erat.


Rasa sakitnya tepat di bagian luka jahitan bekas tusukan waktu itu. Refleks, Meila langsung memegangi perutnya sambil setengah membungkuk, lalu menarik napasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan hingga diulanginya berkali-kali.


"Kenapa... rasa sakitnya... datang lagi?" Ucapnya disertai desisan dan napas yang tertahan. "Tenang, Meila, tenang. Mm-mungkin.... karena kebanyakan gerak makanya terasa nyeri. Nanti pasti akan hilang rasa sakitnya." Sambungnya bernada menyemangati diri sendiri yang mulai mengeluarkan keringat dingin.


Perlahan, rasa nyeri menusuk itu berangsur mereda hingga akhirnya menghilang. Meila akhirnya dapat menghembuskan napas lega, dan mengangkat tangannya untuk mengusap peluh yang membasahi dahinya.


Terdengar suara langkah kaki, sudah pasti Dimas langsung tahu siapa sosok yang sedang melangkah menuruni anak tangga dan berjalan mendekat ke arahnya.


Dimas segera membalikkan tubuhnya, dan betapa terperangahnya dia begitu melihat penampilan Meila yang tampak sangat cantik dengan rambut teurai serta balutan dress sebatas lutut berwarna senada dengan sling-bag yang diselampirkan ke bahunya. Dilengkapi dengan flat-shoes berwarna krem yang dihiasi pita diatasnya. Semakin menambah kesan elegan pada kaki putih mulusnya yang jenjang.


Dimas berjalan mendekati Meila, berucap kata seraya menangkup sisi wajah gadis itu dan menghadiahkan kecupan ke pipinya.


"Wow! Ada bidadari yang datang ke rumahku!" Guraunya jujur tanpa ditutupi. "Kamu keliatan sangat cantik, Sayang."


Sontak pipi Meila merona, "...terima kasih,..."


"Aku baru akan menghampiri kamu ke kamar, tapi kamu udah lebih dulu datang." Ucap Dimas seraya mengusap pipi mulus yang memerah itu dengan lembut.


Meila tersenyum hangat, berusaha tidak menampilkan keanehan pada dirinya yang akan membuat Dimas curiga hingga akhirnya mencemaskannya.


Dimas terkekeh melihatnya, "oh! jadi, si mungil ini udah nggak sabar untuk sarapan? Kalo gitu.... ayo, kita sarapan!"


Dimas langsung menarik tangan Meila dan menghelanya ke meja makan. Menarikkan kursi untuknya sebelum kemudian mengusap rambut gadis itu dengan sayang. Lalu, beralih menarik kursi utama di samping Meila berada untuk menikmati sarapan mereka bersama.


Sementara Meila menikmati sarapannya, di tempat lain Vika masih belum berniat untuk bangun dari rasa kantuknya. Sedangkan Rendy, sudah bangun lebih dulu dan membawakan senampan sarapan untuk Vika.


Rendy meletakkan nampan itu ke atas meja nakas dekat kepala ranjang. Lalu, mengalihkan pandangannya pada Vika yang masih berbalut selimut dengan rambut yang menutupi sebagian wajahnya.


Dia pun tersenyum, membungkukkan tubuhnya untuk memberikan kecupan ke pelipis Vika.


"Bangun, Vika." Bisiknya lembut tepat di depan telinganya.


Vika sedikit merespon, namun dia hanya menggeliat. Melihat reaksi Vika, Rendy tersenyum geli dan berbisik kembali untuk menarik Vika dari rasa kantuknya.


"Bangun, Sayang. Ini udah pagi," ucap Rendy lagi. Dan kali ini bibirnya sampai menggesek ke daun telinga Vika.


Vika menggeliat dan refleks mengalungkan kedua lengannya pada


leher Rendy seraya menjawab.


"Aku masih ngantuk, Rendy. Ini kan hari libur." Rengeknya manja dengan mata yang masih terpejam.


"Justru karena ini hari libur, aku akan mengajak kamu kencan." Sambil tersenyum geli, Rendy masih berucap berbisik dengan nada merayu.


Mendengar kata 'kencan', Vika langsung menarik diri dari rasa kantuknya.  Mengumpulkan kesadarannya dan sedikit mendorong tubuh Rendy agar mereka saling berhadapan. Namun, tidak melepaskan tangannya yang masih berkalung manja.


"Kencan?" Kesadaran Vika memang belum sepenuhnya, namun dia tetap memaksakan matanya mengerling dengan antusias.


"Ya. Kencan. Udah lama kita nggak kencan, kan? Jadi, ayo kita menghabiskan waktu bersama lagi."


Sambil menarik tangan Vika untuk duduk, "sekarang.... kamu sarapan dulu. Karena aku udah bawain kamu sandwich dan omelet hangat ini."


Lalu, mengambil nampan itu dan ditaruh ke pangkuan Vika.


Indra penciuman Vika langsung menyambut harum omelet yang masih menguarkan uap panas. Sontak membuat perutnya lapar dan segera ingin mencicipi sarapannya dengan lahap.


"Wanginya enak banget, Rendy. Pasti rasanya enak." Ucapnya pelan dengan penampilan rambut yang acak-acakan.


"Itu akan terwujud ketika kamu mencobanya," sambil membawa tangannya memegang garpu, dan sedikit memotongnya dengan pisau, Rendy menyuapi omelet itu ke mulut Vika.


Vika langsung menerimanya. Gadis itu mengerlingkan matanya dengan antusias saat potongan omelet itu mendarat ke lidahnya.


Matanya langsung membuka sempurna. Kunyahan demi kunyahan tercipta di atas lidahnya yang bersorak.


"Enak?" Tanya Rendy memastikan. Sementara Vika tampak mengangguk sambil menikmati.


"Kamu nggak sarapan?"


Melihat ada sedikit noda di sudut bibir Vika, tangan Rendy terangkat untuk menghapusnya, "ngeliat kamu makan dengan lahap kayak gini, aku ngerasa udah kenyang." Sahutnya pelan disertai senyuman nakal.


Vika mencebik, namun tak urung dia tertawa. Begitu dia akan mengambil sendok dan garpu yang ada di tangan Rendy, pria itu mencegahnya.


"Nggak, nggak." Sambil mengibaskan tangannya seolah melarang. "Aku yang akan suapin kamu sampai makanan ini habis. Hm?"


Vikapun tersenyum dengan senang, lalu menjawab dengan patuh. "baiklah. Dengan senang hati."


●●●


"Kak Dimas, sebenarnya kita mau kemana? Kenapa aku disuruh bersiap-siap?"


Mereka masih menikmati sarapannya, tidak terburu-buru dan terlihat santai. Mendengar Meila yang bertanya, membuat Dimas meletakkan sendok beserta garpu ke atas piring.


Dimas memajukan tubuhnya dan berkata, "Kita akan jalan-jalan."


"Jalan-jalan? Kemana?" Meila menyahuti dengan antusias. Bahkan matanya sampai memancarkan binar kesenangan yang nyata.


"Kamu ingat, aku pernah janji akan membelikan kamu buku-buku lagi saat kita libur? Dan hari ini aku akan mewujudkannya."


Ekspresi dan reaksi Meila tampak sangat senang. Dan Dimas sangat bahagia melihatnya. Layaknya anak kecil yang diajak berwisata oleh orang tuanya.


"Novel? Komik? Buku-buku...." Meila membeo seolah memastikan dengan raut wajah membayangkan. Diikuti dengan matanya yang membelalak senang sampai kedua tangannya refleks memegang lengan Dimas dan menggoyangkannya. Membuat Dimas terkekeh geli karenanya.


Tanpa diduga, Meila bangkit dari kursinya, dan.....


Cup!


Gadis itu menghadiahkan kecupan ke pipi Dimas. Membuat pria itu tertegun dua detik karena tindakan gadisnya yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.


"Terima kasih," ucapnya senang sambil memasang senyum manisnya begitu melepaskan bibirnya dari pipi Dimas. Namun, belum menjauhkan wajahnya dari sana, membuat mereka saling bertatapan dan beradu tatap. Tentu saja Dimas mengambil kesempatan dengan cepat, menarik pinggang gadis itu hingga jatuh terduduk ke atas pangkuannya.


"Sama-sama, Sayangku." Dan kali ini Dimaslah yang mengecup pipi Meila. Membuat gadis itu terdiam dengan pipi merona padam karena posisinya yang ada di atas pangkuan Dimas. Membuat jantungnya berdegup kencang saat kedua mata Dimas memandanginya dengan lekat sambil memasang senyum mempesona padanya.


Oh My..... jantungku!