A Fan With A Man

A Fan With A Man
Kesungguhan Sisil



James melihat pada jam tangannya yang menunjukkan jika sudah satu jam berlalu dua perempuan itu berbicara memisahkan diri.


"Sudah 1 jam. Apa mereka menyelesaikan masalahnya dengan cukup baik?"


Dimas mengangkat kedua bahunya. "Entahlah... kita mengharapkan hal yang sama, bukan?"


"That's true!" James berujar singkat sembari menyeruput kopinya yang sudah setengah mendingin.


Seolah tau jika sedang dibicarakan oleh para pria, kedua perempuan itu tiba-tiba saja muncul dengan ekspresi yang dapat bisa ditebak. Ekspresi wajah yang sudah mulai akrab, disertai situasi yang sudah mencair tergambar ketika Meila dan Sisil datang dari arah taman belakang dan berjalan bersisian sambil mengumbar senyum. Meila yang sumringah dan Sisil yang tampak ikut tersenyum tipis meski masih ada kecanggungan pada raut wajahnya, tetapi hal itu sudah menunjukkan adanya kemajuan yang cukup baik.


Dimas dan James yang melihatnya langsung melempar pandangan satu sama lain dengan kedua alis yang sama-sama mengernyit. Lalu sama-sama menyeringai seolah mengetahui hasil dari pembicaraan para perempuan itu tanpa harus bertanya lagi.


"Tampaknya kita tidak perlu bertanya lagi. Kalian sudah memperlihatkannya lebih dulu." James lah yang berujar lebih dulu.


Melihat Sisil yang langsung berjalan mendekat dan duduk di sebelahnya, serta menjawab dengan memberikan kode pada matanya yang langsung mengarah pada Meila.


Meila sendiri yang juga sama-sama langsung mendudukkan dirinya disamping Dimas, langsung menjawabnya dengan cengiran.


"Menurut kak James begitu?" ujar Meila.


Ujung bibir James menaik seketika. "Bagaimana menurutmu, Lex?" James kembali bertanya pada Dimas yang lebih memilih diam dan membaca situasi. Dengan memperhatikan gerak-gerik Sisil yang terlihat tidak nyaman karena ditatap dengan cara yang mengintimidasi.


"Kak, jangan kasih tatapan kayak gitu. Sisil takut liat kamu!" Meila lah yang berani memarahi Dimas dengan memberi sedikit sikutan ke lengannya.


Dimas otomatis langsung menoleh dengan tatapan yang tidak kalah aneh. Dengan alis yang menaik dan tatapan remeh, Dimas memberikan pertanyaan pada Sisil dengan kalimat yang menjelaskan ketidakyakinannya akan sikapnya itu.


"Apa kali ini kamu sungguh-sungguh? Atau karena James yang menyuruhmu kesini judi kamu nggak bisa mengelak?"


"Gue... kali ini gue beneran. Gak ada bohong-bohong lagi. L-lo bisa percaya sama gue."


Dimas masih menaikkan alisnya karena dia merasa masih harus mempertanyakan lagi kesungguhannya.


"Apa kamu bisa aku percaya kali ini?" Dimas bertanya dengan nada yang sedikit menaik. Tetapi dia tetap mengendalikan ketidakyakinannya di depan Meila yang tampak sedang memperhatikan sikapnya seakan sedang menyuruhnya untuk berhenti menyudutkan Sisil melalui matanya.


Dimas menghela napasnya kemudian sebelum akhirnya memberikan sebuah kalimat mengenakkan yang membuat Meila berubah senang.


"Baiklah. Kalau Meila udah mempercayaimu, aku nggak bisa berkata apa-apa lagi. Tapi, aku harap kesungguhanmu itu bisa kamu buktikan kedepannya. Dan ingat, aku nggak mau ada perkataan atau sikap mengintimidasi dari sifat kedengkianmu yang mendominasi itu untuk Meila."


Sisil terlihat mendengarkan dengan membatasi kontak mata pada Dimas. Dia tidak berani menatapnya karena menurutnya, tatapannya itu seperti membunuhnya karena menusuk sampai ke tulang. Itukah yang disebut dengan aura kuat yang terpancar dari orang yang berpengaruh? Atau karena Sisil baru mengetahui latar belakang Dimas sehingga dia merasa begitu terintimidasi? Jika saja dia tau lebih dulu tentang latar belakang Dimas, mungkin dia akan berpikir berulang kali untuk melakukan hal kotor itu pada Meila.


Tetapi meski begitu, nasi sudah menjadi bubur. Dia tidak bisa memutar atau membalikkan waktu seperti semula. Dia telah melakukannya dan sekarang mendapatkan balasannya. Sisil tetap bersyukur dia telah mengetahuinya meskipun terlambat. Dia masih bisa memperbaiki diri dan diberi kesempatan untuk mengakui dan meminta maaf dengan benar pada orang yang bersangkutan. Namun, di lubuk hati Sisil yang paling dalam, ada sebuah rasa yang jauh lebih membuatnya sangat lega. Membuatnya perasaannya aman, damai, tanpa rasa takut ataupun cemas. Yaitu, kehadiran James di waktu yang cukup tepat untuk bisa membimbing serta membantunya dengan sukarela dalam menyelesaikan masalah beratnya.


●●●


"Dimana aku? Kenapa tangan dan kakiku diikat begini? Seseorang, siapapun! tolong lepaskan aku! Kenapa kalian membawaku kesini? Apa yang kalian inginkan?"


Sambil berteriak, Simon juga berusaha keras melepaskan ikatan yang menjerat kedua kaki dan tangannya dengan sisa kekuatannya. Tetapi dengan tubuhnya yang lemah, kalah dengan ikatan yang terlalu kuat. Simon tidak mampu bergerak lagi barang sedikitpun meski untuk sekedar mengangkat kepalanya saja. Pandangannya juga terasa berkunang-kunang dan terasa berat efek pukulan yang diterimanya.


Hingga beberapa lama tak kunjung adanya seseorang yang datang ataupun bantuan, Simon akhirnya memilih diam dan pasrah sambil menunggu hal apa yang akan terjadi padanya selanjutnya.


●●●


"Baiklah, karena semuanya sudah beres, sepertinya kita harus pamit. Ayo, Sisil."


James menengok pada Sisil sembari mengajaknya pulang dengan isyarat anggukan tipisnya.


Sisil ikut mengangguk pertanda setuju. Membiarkan James bangkit dari duduknya dan berdiri lebih dulu diikuti oleh Sisil yang juga berdiri berdampingan. Dimas dan Meila pun ikut berdiri dan membuat senyuman di bibir mereka dengan kompak.


"Terima kasih, kak James, Sisil, udah mau dateng kesini. Kapan-kapan kita bisa ngobrol lagi seperti yang kamu bilang tadi, kan? Aku tunggu, loh, Sil!" Meila menyela dengan senyum sumringah. Senyum merekah dari wajah yang ceria.


Seketika alis Dimas langsung mengernyit mendengar kalimat Meila. Tak kalah bingungnya dengan James yang juga langsung menatap Sisil dengan ekspresi heran penuh tanya.


Sebenarnya apa saja yang mereka bicarakan tadi?


Dengan sikap canggung karena dua pasang mata yang sedang menatapnya dengan intens, Sisil langsung menjawab dengan salah tingkah.


"I-iya,"


"Lex, kami pamit dulu. Thank you for having us in your home." Kemudian James mengarahkan pandangannya pada Meila setelah bertatapan dengan Dimas. "Terima kasih juga untukmu, dugaanku memang tidak salah. Kalau kamu perempuan lembut dan berhati baik. Pantas Alex sangat menyayangimu." Puji James pada Meila yang langsung membuat gadis itu tersipu.


"Terima kasih, kak." Jawab Meila malu-malu. Yang langsung disambut dengan usapan lembut tangan Dimas ke atas kepalanya.


"Udah, James... jangan bikin dia tersipu. Pipinya akan semakin merona nanti." Dimas meledek Meila dengan sengaja. Yang saat itu langsung mendaratkan sebuah sikutan kecil ke perutnya.


"Sisil, ayo...!" Kemudian James langsung mengajak Sisil untuk segera berpamitan pada Meila yang setelahnya langsung berjalan menuju pintu utama yang dibarengi oleh Dimas dan Meila.


Sampailah mereka di halaman depan pintu utama tempat dimana James memarkirkan mobilnya disana. Dia langsung menuju mobilnya dan membantu Sisil masuk ke dalam mobil. Setelahnya, giliran James yang langsung masuk ke kursi kemudi dan mengemudikannya dengan pelan sembari membalas lambaian tangan dari sang tuan rumah. Dimas dan Meila yang memperhatikan mereka dari pintu utama, terlihat memberikan senyuman ramah dan bersahabat hingga mobil itu keluar dan berbelok disusul dengan lampu yang berpendar dan tak terlihat.


Kembali pada Dimas dan Meila, keduanya lalu saling melempar senyum dan menoleh. Dimas yang menunduk dengan sedikit memiringkan kepalanya serta Meila yang mendongak manja, membuat Dimas ingin merangkulkan lengannya ke bahu Meila yang mungil sambil bertanya tentang perasaannya.


"Kamu senang hari ini?"


"Iya." Sahut Meila dengan raut wajah senang dan tidak ditutup-tutupi.


Dimas pun ikut tersenyum lembut. "Itu memang terlihat jelas di wajah kamu." Ucap Dimas sambil memberikan usapan sayang ke batang hidung Meila. "Ayo, kita masuk!" Kemudian menghela Meila untuk kembali masuk ke dalam rumahnya dengan sebuah rangkulan manis untuk kekasihnya yang sangat dia kasihi.