
Meila terlihat melamun dengan posisi masih berbaring dipangkuan Dimas, juga pria itu yang belum menghentikan gerakannya dari mengelus kepala Meila juga mengusap perut gadis itu dengan gerakan seirama. Tampak Dimas mengerutkan keningnya ketika sepasang matanya menangkap Meila yang sedangk memikirkan sesuatu yang memberatkan pikirannya.
"Jangan memikirkan hal yang hanya akan memberatkan pikiranmu,"
Suara itu membuat Meila sedikit terkesiap, lalu menolehkan wajahnya ke arah sang pemilik suara.
Bibirnya membentuk sebuah senyuman, "cuma hal kecil aja, kak. Bukan apa-apa, kok." Lalu membenarkan posisinya menghadap Dimas.
"Emang apa yang lagi kamu pikirin?"
Meila terdiam sejenak dengan ekspresi sambil menilai wajah Dimas, "aku cuma lagi mikirin Sisil, kak. Kira-kira... dia sekarang dimana ya?"
Dimas tersenyum sedikit mendengus pelan, sedikit terkejut karena tidak menyangka Meila akan membicarakan hal yang menurutnya sensitif karena mengingat wanita itulah yang menjadi dalang penculikannya.
"Kenapa kamu mikirin itu? Mungkin aja dia sekarang lagi disuatu tempat untuk menyembunyikan diri dari kita karena dia tau kita nggak akan tinggal diam untuk semua perbuatannya ke kamu."
Meila terdiam mendengarkan ucapan Dimas, matanya tertunduk ke arah permukaan perutnya dengan tangan yang saling bertautan. Dimas memang benar. Bagi wanita normal, perbuatan yang Sisil lakukan padanya itu sudah dikategorikan sebagai hal yang memalukan untuk sesama wanita.
"Jujur, aku kasian sama Sisil, kak. Dia menahan rasa kesepian selama bertahun-tahun lamanya tanpa ada seorangpun yang tahu. Andai aja aku menyadarinya lebih awal, aku nggak akan ngebiarin Sisil merasakan rasa kesepiannya lagi, kak."
Penjelasan Meila itu membuat Dimas terkesima. Jika orang lain yang mengalami hal mengerikan sepertinya, sudah pasti akan kembali membalasnya minimal melapor polisi agar korban mendapatkan keadilan. Tapi gadis ini, jangankan membuat laporan ke polisi, dia malah memikirkan kondisi dari pelaku sebagai dalang yang sudah dengan tega berbuat buruk padanya.
"Kamu tau, sifat kamu yang seperti ini yang semakin membuat aku menyukai kamu. Sifat kepedulian yang tumbuh dari hati kamu, itu membuat semua orang ingin mendekati kamu. Entah itu menjadi teman, sahabat, bahkan kekasih. Dan aku bangga bisa menyayangi kamu." Tangan Dimas mengelus rambut Meila, memainkannya memutar menggunakan jari telunjuk. "Sifat kamu yang seperti ini yang membuat semua orang menyukai kamu. Seharusnya Sisil nggak bisa menyalahkan dan melimpahkan semua kesalahan sama kamu, Mei. Seharusnya Sisil meng-introspeksi diri gimana caranya dia bisa mendapatkan perhatian dari orang-orang sekelilingnya tanpa harus berbuat culas dan licik dan juga tanpa menyakiti orang lain." Suara Dimas berubah tegas setengah merendah, menyelipkan sebuah nasihat dalam ucapannya.
Meila tersenyum mendengar pengakuan Dimas tentangnya, hatinya senang karena Dimas menilai positif tentangnya, sejenak kepalanya terdongak sebelum kemudian berucap, "terima kasih untuk penilaian kakak ke aku." Meila tersenyum sejanak, lalu mendesah pelan, "tapi aku nggak menyesali sikap aku ini, kak. Aku bersyukur bisa mengenal Sisil dari sudut pandang aku. Jauh sebelum aku menyadari sifatnya, aku bersyukur selalu memandangnya sebagai teman meski kita nggak pernah dekat, hanya sebatas teman kampus biasa yang cuma bisa tegur sapa meski hanya dibales dengan sikap acuh sama dia," kemudian senyuman itu berubah menjadi sebuah senyuman getir seakan mewakili perasaannya saat ini.
Dimas terkekeh pelan sambil menyelipkan anak rambut ke belakang telinga Meila yang tadi dimainkannya, "nggak semua yang menurut kamu positif, sama dengan apa yang orang lain pikir, Mei. Kita nggak bisa memaksa orang lain untuk berpandangan seperti kamu. Mereka punya sudut pandang masing-masing untuk menilai seseorang, dengan cara mereka sendiri." Dimas memberikan senyum manis disertai lesung pipi yang muncul di pipinya. Senyuman yang mampu menghangatkan setiap hati seseorang yang melihatnya.
Meila mendesah perlahan, "kamu bener, kak. Tapi yang membuat aku bangga sama diri aku sendiri adalah, aku nggak pernah merasa Sisil sebagai musuh aku. Dia tetep teman aku sampe kapanpun, terlepas dari sikapnya yang terkadang bikin sakit kepala," lalu tergelak sendiri mendengar pengakuannya,
"Dan aku lebih bangga sama kamu, Sayang..." jemarinya mecolek ujung hidung Meila dengan gemas hingga membuat mata Meila berkedip karena sedikit terkejut, "...melebihi apapun." Lalu setengah berbisik dengan kepala tertunduk dan hidung yang saling bersentuhan.
●●●
Beno tampak duduk disebuah teras yang hampir usang termakan usia yang dipenuhi jaring laba-laba disekelilingnya. Sambil mengepulkan asap rokok yang ia hembuskan ke udara, tampak wajahnya menyeringai dengan kepala terdongak ke atas. Ya!
Dia baru saja sampai ke tempat persembunyian yang ia temukan ketika dalam perjalanan tadi. Melihat tak ada tanda-tanda kehidupan dan tampak tidak berpenghuni, dia memutuskan untuk singgah sejenak sambil memikirkan rencana yang akan ia lakukan selanjutnya.
Meski rencana untuk menyingkirkan Dimas tetaplah menjadi hal yang utama, namun entah mengapa sisa-sisa kebersamaannya dengan Sisil masih membekas dalam ingatan. Beno sendiri tidak pernah menyangka akan melakukan hal diluar kendali bersama seorang wanita yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Bahkan, untuk dekat dengan Sisil saja, dirinya harus menjaga jarak dan lebih terfokus pada tujuan utamanya yaitu menculik Meila, menyekapnya, lalu mencicipinya. Tapi, dengan terjadinya kejadian menyenangkan semalam, bukan berarti dia akan melupakan rencana awal begitu saja, dirinya masih berhasrat dan akan melanjutkan niatnya pada Meila.
Bibir Beno menyeringai disertai dengan dihembuskannya asap rokok yang baru saja dihisapnya ke udara,
"Gue nggak nyangka, kalo gue akan ngelakuin itu sama lo, Sil." Lalu mendengus pelan disertai kekehan kecil, "lo lumayan juga ternyata."
Beno kemudian membuang sisa puntung rokok yang tinggal sedikit ke lantai, dengan menginjaknya terlebih dahulu untuk memastikan jika api dari rokok itu benar-benar mati.
"Karena kita udah ngelakuin itu dengan saling menikmati satu sama lainnya, gue memutuskan akan mencari lo secepatnya, tapi setelah gue nyelesaiin rencana awal gue ke pria itu," bibirnya berubah menyeringai licik disertai dengan gigi yang bergemeletuk.
"Dan lo... sang pahlawan kesiangan yang bisanya cuma menghancurkan rencana gue, tunggu kejutan dari gue sebentar lagi." Tangannya mengepal kencang lalu memukul meja yang ada disampingnya dengan penuh amarah, "gue nggak akan tinggal diam atas apa yang udah lo lakuin ke gue saat itu. Gue akan bales lo. Tunggu pembalasan dari gue."
Setelah gue berhasil menghabisi lo, gue akan bawa kabur Meila dan menjadikannya sebagai tawanan gue sampe gadis itu merasa putus asa dan nggak bisa berpikir untuk melarikan diri lagi.
●●●
"Ngantuk?" Suara pertanyaan itu keluar begitu Dimas memperhatikan Meila yang sedang berada disampingnya terus saja menguap dengan mata yang berair.
Sudah dua jam dari mereka selesai makan malam bersama hingga memutuskan untuk menonton acara televisi di ruang utama. Cuaca malam ini cukup dingin mengingat langit terlihat mendung di sore hari namun belum juga menurunkan hujannya hingga malam datang.
Meila menganggukkan kepalanya, menoleh ke arah Dimas dengan mata sayu yang menggemaskan. Dimas membaca ekspresi wajah Meila yang tampak sudah baikan dan tidak merasakan sakit pada perutnya lagi.
"Perutnya gimana? Masih sakit?" Dimas bertanya dengan penuh perhatian, tangannya mengusap rambut Meila dengan sayang. Lalu memundurkan tubuhnya sedikit hingga menempel ke punggung kursi setelah mendapatkan gelengan kepala disertai senyuman dari Meila. Dimas menepuk-nepuk pahanya agar Meila bisa berbaring disana.
Meila sedikit ragu, memang, ini bukan kali pertama dirinya berbaring dipangkuan Dimas, tapi tetap saja menyisakan rasa canggung luar biasa dalam dirinya. Ketika Meila hanya menatap Dimas saja tanpa bergerak sesuai dengan yang diinstruksikan Dimas, pria itu lalu berujar kembali.
"Nggak perlu malu-malu..." Lengan Dimas tanpa diminta langsung merangkul Meila untuk menariknya ke pangkuan tanpa bantahan dari Meila, "aku tau kamu ngantuk, makanya aku nyuruh kamu untuk berbaring disini," tangannya kembali mengusap rambut Meila, membelainya dengan lembut hingga Meila harus menguap beberapa kali, "tuh kan, baru disebut, udah menguap lagi." Dimas tertawa geli dibarengi dengan pipi Meila yang tampak memerah menahan malu.
Pipi Meila entah mengapa lebih cepat merona kali ini. Biasanya, harus menunggu Dimas menggodanya baru kemudian rona merah itu muncul. Tapi kali ini tidak. Baru saja Dimas berkata dengan sedikit merayu, pipinya sudah terasa panas ingin segera memalingkan wajahnya kemanapun asal jangan bertatapan lansung dengan orang yang menjadi penyebab rona merah dipipi Meila menyeruak.
Diambilnya selimut yang ada di ujung kepala sofa dekatnya duduk, lalu ditutupinya tubuh Meila hingga batas dada.
"Tidurlah, aku akan temani kamu." Tangannya mengusap lembut dahi Meila yang tertutup oleh anak rambut, lalu mengusapnya ke belakang kepala agar Meila segera terlelap dipangkuannya.
Meila mengangguk perlahan, dengan senyuman yang mengembang di bibirnya, "selamat malam, kak."
Meila mulai menutup matanya, melepaskan segala beban yang menempel dipikirannya, serta mengistirahatkan tubuhnya yang hampir terkuras energi seharian tadi.
Lalu tiba-tiba, seakan masih ada pikiran yang mengganggu, Meila membuka matanya kembali dengan mata yang langsung menatap Dimas. Dirinya berpikir sejenak, apakah ia harus katakan atau tidak, namun selang beberapa detik kemudian, akhirnya dia memutuskan untuk mengatakannya.
"Kak Dimas...." Meila memanggil Dimas dengan nada suara ragu.
"Ya, kenapa?" Jawab Dimas ingin tahu, terlihat sekilas jika alis pria itu sedikit mengernyit sambil lalu.
"Mmm... apa... apa aku boleh keluar rumah?" Suaranya sedikit terbata, "ke taman komplek sekitar sini aja gak apa-apa, kok. Aku... aku pengen merasakan suasana luar seperti biasa..." kepalanya terdongak keatas, hingga ditatapnya Dimas tampak diam tanpa ekspresi.
"Itupun.... itupun kalo kamu izinin, kak..." kepalanya tertunduk kembali begitu dirasakannya Dimas belum memberikan tanggapan atas permintaannya.
Dimas tampak menimbang-nimbang permintaan Meila padanya, mengingat Dimas juga pernah berkata pada Meila bahwa dia akan mengajak gadis itu keluar rumah jika memang benar-benar sudah pulih. Dan sekarang, gadis itu terlihat sudah lebih baik, sudah mulai ceria kembali. Jadi tidak ada salahnya jika dia menuruti permintaan gadis itu, bukan?
Bibir Dimas membentuk sebuah senyuman, lalu wajahnya membuat ekspresi tampak sedang berpikir, "menurut kamu... aku akan izinin atau nggak?"
Meila mengangkat bahunya perlahan, menatap Dimas kembali dengan mata polosnya.
"Kalo kami berperilaku baik malam ini, dan tidur lebih awal... mungkin aku akan sedikit mempertimbangkan permintaan kamu itu?" Ucapan Dimas itu terdengar seperti sedang meledek, sedikit menyembunyikan wajah jahilnya sehingga Meila tidak bisa menerka ekspresinya.
"Ka-kamu... serius, kak?" Kepala Meila terdongak cepat dengan mata yang berbinar dari mata beningnya. Hingga membuat Dimas tidak tega untuk terus menggodanya,
Memang benar! Dimas memang akan mengajak Meila keluar menikmati es krim disekitar taman komplek dekat rumahnya, tentunya dengan memperhatikan kesehatan Meila terlebih dahulu. Ketika dirinya sudah mantap dan memutuskan untuk mengajak gadis itu keluar, melihat keadaannya tadi yang sempat kesakitan hingga terlihat pucat, dirinya sempat mengurungkan niatnya. Tapi, setelah kemudian rona merah di wajahnya sudah kembali dengan warna kulit normal, Dimas tidak tega untuk membatalkan rencananya. Apalagi melihat ekspresi gadis itu yang tanpak kegirangan menahan senang dengan mata berbinar.
"Sebelum kamu meminta pun, aku emang ada niat untuk mengajak kamu keluar besok. Yaaaa... meskipun hanya untuk menikmati sebuah... es krim?" Sanggah Dimas dengan nada memancing, matanya tampak memperhatikan Meila sambil menunduk, menilai ekpsresi gadis itu.
"E-es krim...?" Meila sedikit membeo kata-kata Dimas disertai bola mata yang berbinar dibawah sinar lampu yang redup, hanya cahaya televisi saja yang tampak nyata.
Entah mengapa mendengar kata es krim ras kantuk yang tadi sempat melanda hingga rasanya tak tertahankan, seketika hilang begitu saja. Pikirannya berkelana, membayangkan dirinya menikmati es krim strawberry segar disertai lelehan selai dari buah tersebut yang menyegarkan.
Dimas pun mengangguk dengan cepat sambil menahan tawanya,
Tiba-tiba pikiran jahil muncul di kepala Dimas, membuatnya ingin menggoda Meila sekali lagi.
"Kenapa? Kamu nggak mau es krim? Atau kita....."
"Aku mau!" Sambar Meila cepat diselipi dengan nada memohon sampai harus memegang tangan Dimas agar pria itu tetap melanjutkan rencananya.
Dimas terkekeh geli, "kalo gitu... lebih baik sekarang kamu tidur. Nggak baik buat anak gadis tidur terlalu malam." Tangannya kembali mengusap kepala Meila dengan usapan sayang. "Karena nanti, akan ada lingkaran hitam dibawah mata kamu. Nanti nggak keliatan manis lagi," jari Dimas menunjuk ke bawah mata Meila dengan jahil, disertai usapan lembut.
Meila tersenyum malu dengan pipi yang hampir merona, namun tak urung dia menganggukkan kepalanya dengan patuh dan tanpa membantah. Dipejamkannya matanya perlahan sebelum kemudian berucap,
"Selamat malam, kak..." ucapnya pelan disertai senyuman dibibirnya sebagai senyuman selamat malam untuk Dimas. Seketika matanya terpejam disertai dengan usapan lembut tangan Dimas di kepalanya, menghantarkannya kedalam rasa kantuk yang semakin dalam.
Diambilnya remote televisi untuk mematikan layar pipih besar itu terlebih dulu. Diselipkannya tangannya ke belakang punggung dan belakang lutut Meila, dan digendongnya gadis itu kedalam pelukannya dengan hati-hati. Ketika gadis itu sudah dalam gendongan Dimas, tiba-tiba Meila mengeluarkan gumaman tidak jelas dari bibirnya sekaligus secara refleks mengalungkan tangannya ke leher Dimas dan sambil mendesakkan wajahnya ke lekukan antar leher Dimas dengan sikap manja, membuat Dimas tersenyum geli malihat tingkah gadisnya.
Dibawanya Meila menuju kamar dan ditidurkannya ke atas tempat tidur. Dimas menyelimuti Meila dengan hati-hati hingga batas dada, sebelum kemudian berucap disertai dengan sebuah kecupan di kening gadis itu.
"Selamat malam, Sayang. Mimpi indah, ya..."
Dimas berucap berbisik. Setelah kira-kira beberapa detik gadisnya sudah mulai tenang dan kembali terlelap, Dimas meninggalkannya sendiri dan membiarkan gadisnya tenggelam ke alam mimpi indahnya.
●●●
"Duh! Gue pasti telat banget, nih."
Gumam Airin setengah berlari, tak jarang dirinya melihat jam ditangannya untuk mengingatkan kalau dirinya benar-benar sudah telat setengah jam dikarenakan seminar yang baru selesai dari perkiraan.
Airin menuju ke sebuah kafe tempat dimana yang sudah dijanjikan Bryant lewat pesan di ponselnya. Pria itu mengabarinya kalau kunci kamar hotel milik Airin sudah selesai diurus dan sekarang dipegang olehnya.
Mata Airin tampak mencari-cari ke setiap meja seluruh sudut ruangan kafe tersebut. Tiba-tiba, pada saat berbarengan seorang pria yang sedang menunggu melambaikan tangannya ke arah Airin. Dengan cepat mata Airin menangkap lambaian pria itu dan langsung menghampirinya.
"Hhhh... Sorry kak, Bry. Udah buat kamu nunggu lama. Seminarnya baru aja selesai," tampak Airin menggeser kursi yang ada didepan Bryant dengan perlahan, dengan napas terengah, didudukkannya bokongnya ke atas kursi tersebut.
Entah mengapa mendengar Airin memanggilnya dengan sebutan itu terdengar enak ditelinga, membuatnya sedikit menyunggingkan senyum tipis hampir tak terlihat oleh kasat mata.
"It's oke. Santai, Rin.. Masih kaku aja," Bryant terkekeh, berusaha menetralisir suasana. "Oiya. Mau minum apa?"
"Apa aja deh, kak. Terserah kamu mau pesenin apa." Jawab Airin cuek sambil lalu. Meski terkesan cuek, namun tak urung dia selalu menyelipkan senyuman di akhir kalimatnya.
Setelah mendapat persetujuan Airin, Bryant memanggil seorang pelayan dan memesankan minuman untuk Airin dan tak lupa juga beberapa cemilan ringan untuk menemani obrolan mereka.
Bryant merogoh saku bagian dalam jaketnya mencari sesuatu. Lalu mengeluarkan sebuah benda berbentuk pipih persegi panjang layaknya kartu atm dan menyodorkannya ke arah Airin yang masih sibuk mengatur napasnya yang masih sedikit terengah.
"Nih... kunci kamar kamu," tangannya lurus sejajar dengan meja, membuat Airin terkesiap melihat benda pipih itu.
"Waaahhh... ini beneran, kak?" Matanya mengerling gembira, seperti anak balita yang diberikan permen lollipop setelah sembuh dari sakitnya. Tangannya dengan segera mengambil kunci itu lalu menerawangnya ke udara, membuat Bryant terkekeh sambil menggeleng kepalanya heran.
Seorang cewek tomboy kayak Airin, kenapa gue bisa gampang ketawa ngeliat tingkahnya? Bener-bener cewek ajaib!
"Beneran, kok. Bisa diliat keasliannya. Dibagian belakang ada barcode, bisa kamu cocokin dengan men-scan lewat ponsel dan langsung terbaca ke akuratannya."
Dengan bodohnya, Airin mengikuti instruksi yang Bryant berikan padanya. Dan beberapa detik kemudian, matanya berbinar, dengan ketakjuban yang terpancar dari bola matanya.
Ini gila sih! Gue baru sadar kalo barcode yang ada dibalik kunci ini berfungsi sebagai rincian identitas untuk para penginap, termasuk ke dalam jadwal check-in dan check out. Keliatan bodoh dong gue?
Airin menyengir, dengan canggung dia menatap Bryant yang sedang menertawakan tingkahnya.
"Sorry kak, Bry..." Airin masih menyengir dengan memperlihatkan giginya, "aku keliatan kudet banget, ya?"
"Santai aja... nggak perlu dibahas. Yang penting kuncinya udah jadi, biar kamu dan mama kamu bisa istirahat dengan nyaman." Jawab Bryant menanggapi.
"Thank you banget loh, kak... udah mau repot-repot bantuin aku ngurus kunci kamar. Padahal... kamu ada kerjaan yang lebih penting dari ini," Airin berucap tulus sambil memasang senyum terbaiknya. Namun tetap tidak menghilangkan sikap tomboynya.
"It's okay." jawab Bryant singkat.
Tak lama kemudian, minuman beserta cemilan yang dipesankan oleh Bryant sampai ke meja mereka. Dengan suasana malam yang penuh dengan bintang, untuk pertama kalinya mereka berbincang dengan akrab dan tampak lebih dekat dari sebelumnya dibanding ketika dikampus.
Begitupun dengan Bryant yang juga merasa heran dengan dirinya yang langsung cepat akrab dengan Airin. Seketika perasaan aneh menguasai dirinya, perasaan ketertarikan kepada gadis tomboy nan cuek yang saat ini sedang bersamanya.
●●●
"Jadi mama kamu sekarang dimana, Rin?"
"Mama lagi sama temennya, kak. Aku langsung kesini pas aku dapet pesan dari kamu,"
Mereka baru saja keluar dari kafe tempat mereka bertemu. Karena jarak antara hotel dengan kafe tersebut tidaklah banyak memakan waktu, hanya berkisar antara sepuluh sampai lima belas menit, mereka memilih untuk berjalan kaki sambil menikmati pemandangan malam kota Bandung yang masih sangat ramai dengan pejalan kaki dan turis yang sedang berwisata.
"Kamu udah berapa hari di Bandung, kak?"
"Udah dua hari. Kamu? Oh..." belum memberikan Airin jeda untuk menjawab, Bryant sudah lebih dulu menjawab dari pertanyaannya sendiri. "...jangan-jangan ini yang kamu maksud izin itu, ya?"
Airin menyengir lagi, dengan setengah malu-malu, dia mengiyakan tebakan Bryant tentang perizinan perkuliahannya.
"Iya, kak. Karena aku cuma anak cewek sendiri, jadi aku yang temenin mama untuk seminar kayak keluar kota gini,"
Bryant mengangguk paham. Keduanya saat ini sedang berjalan dipinggir trotoar ditengah keramaian wisatawan yang masih memenuhi kota dengan sebutan paris van java itu yang hampir tengah malam. Jika dipikir-pikir, ini adalah pertama kalinya Bryant berjalan berdampingan bersama seorang wanita pada malam hari, terlebih lagi dengan waktu yang tak terduga dan tanpa terencana sebelumnya.
Ada rasa ketertarikan sendiri dalam diri cewek tomboy seperti Airin. Selain sifat jujur yang beda tipis dengan sikap polosnya, ternyata Airin adalah cewek tomboy yang sangat manis. Bryant sendiri juga bingung mengapa dirinya tiba-tiba menawarkan diri untuk membantu Airin mengurus sebuah kunci kamar hotel yang memanglah bukan urusannya?
Mungkinkah Bryant mulai menyukainya? Atau hanya perasaan suka sesaat karena rasa kagum?
Bryant sendiri tidak memiliki jawabannya. Dia sendiri bingung untuk mendeskripsikan perasaannya dengan cepat, namun dia meyakini, bahwa ada perasaan aneh yang membuatnya tertarik dan ingin mengenal lebih jauh tentang Airin.
Keterdiaman mereka saat ini membuat Airin merasa canggung luar biasa. Jika biasanya dialah yang paling cerewet dan tidak bisa diam, sekarang malah tunduk terdiam malu berjalan berdampingan dengan Bryant. Airin memang belum pernah sedekat ini dengan seorang pria, dia memang memiliki banyak teman, namun bersama Bryant adalah pengalaman baru yang ia rasakan.
Duuuh! Kenapa gue harus diem melempem kayak gini, sih? Biasanya gue kan ceriwis nggak bisa diem nih mulut, bawaannya ngoceh terus. Tapi kenapa sekarang gue malah diem dan pengen cepet-cepet sampe hotel dan ngumpet ke dalam kamar
secepatnya?
Tepat ketika mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing, dari arah belakang muncul sebuah mobil dengan kecepatan tinggi. Beruntung Bryant sigap dan langsung menarik tangan Airin ke arahnya. Bryant menarik pinggang Airin dengan erat hingga menempel ke tubuhnya, dan disaat itulah tanpa diprediksi, bibir mereka bersentuhan secara tidak sengaja, keduanya sama-sama terkejut namun masih belum juga menjauhkan diri masing-masing.
Sisil menahan dada Bryant dengan mata membelalak karena terkejut, disertai pipi yang merona dan jantung yang berdegup tak beraturan.
Ya ampun! Yang barusan itu... ah! First kiss gue!
Pikirannya bergejolak ditengah-tengah rangkulan Bryant padanya. Bryant sendiri masih terpaku, memperhatikan wajah Airin yang sangat dekat dengannya, menilai wanita itu dengan kedekatan yang hampir tanpa celah. Bukan! Bukan karena Bryant menyesali hal yang baru saja terjadi, melainkan mensyukuri bahwa dirinya langsung diberikan kesempatan untuk merasakan perasaannya. Sekaligus menilai perasaannya sendiri pada Airin yang masih berputar-putar dikepalanya.
"Ah! S..sorry, kak.." Airin lah yang lebih dulu memecah suasana. Dirinya yang lebih dulu membangunkan Bryant yang hampir tenggelam dalam lamunannya. Dengan perlahan, Bryant melepaskan rangkulan pada pinggang Airin, memberi ruang untuk Airin mengatur perasaannya yang jelas-jelas sangat bertentangan dengan logikanya saat ini.
Tanpa diduga, Bryant malah tersenyum cerah ditengah-tengah kepanikan Airin yang tampak nyata dimatanya.
"It's okay. Don't mind!" Bryant menjawab dengan enteng. Berkebalikan dengan Airin yang tampak kebingungan salah tingkah dengan kejadian yang baru saja terjadi.
What? Setengah mati gue nahan malu sampe pipi gue panas. Tapi respon pria ini malah jawab dengan enteng.
Beberapa menit setelah Airin berhasil mengatasi degub jantungnya yang berdetak hebat, tidak terasa mereka sudah hampir sampai di lobby hotel tempat mama Airin menunggu bersama seorang temannya.
Mereka memasuki lobby, tampak Bryant seperti mencari seseorang yang juga sedang menunggunya.
"Mama kamu dimana, Rin?" Bryant bertanya lebih dulu,
"Itu... disana, kak," Airin langsung menemukan keberadaan mamanya tanpa susah-susah untuk mencarinya lagi. Disertai rasa ingin tahu Bryant yang juga berbarengan dengan mencari seseorang, tak elak dia juga melihat ke arah tempat Airin menunjuk ke sebuah ruang tunggu lobby.
Tak urung mata Bryant membelalak heran, matanya sedikit menyipit disertai wajah familiar yang memang sedang menunggunya. Bibirnya tak urung mengucap sebuah kata, hingga hampir membuat Airin memekik kaget mendengar satu kata yang keluar dengan begitu saja.
"Mama...?"