
Begitu sampai di depan gedung apartemen yang Sisil datangi, dengan gerakan serampangan James langsung keluar dari mobilnya dan berlari menuju meja resepsionis. Tanpa basa-basi James langsung mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sebuah foto kepada petugas resepsionis dengan ekspresi tidak sabar.
"Ada di kamar berapa perempuan ini?"
Resepsionis itu tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya saat melihat foto perempuan yang baru saja datang dan menanyakan sebuah nomor kamar. Siapa lagi kalau bukan Sisil. Rupanya foto itu adalah foto Sisil yang James tunjukkan dengan sangat jelas. Bahkan saking terkejutnya hingga membuat James yakin jika Sisil memang benar datang dan ada di salah satu kamar apartemen di dalam gedung ini.
"Ma-maaf, tuan. Kami tidak tau."
"Bukannya dia datang kesini beberapa menit yang lalu? Cepat sebutkan kamar nomor berapa?!" James bertanya dengan mendesak.
"Sekali lagi kami minta maaf, tuan. Ka-kami memang benar-benar tidak tau."
"Kalian... benar-benar tidak tau, atau memang tidak mau memberikan informasi?"
Petugas respsionis itu tampak menunduk kebingungan dan tidak bisa menjawab.
James pun akhirnya menyeringai. Ditambah dengan sorotan matanya yang tajam, James akhirnya bertanya untuk yang terakhir kalinya agar resepsionis itu mau membuka mulut.
Mungkin... Dia akan sedikit mengancamnya kali ini?
"Aku sudah bertanya dengan sopan. Tapi kalian tetap tidak mau membuka mulut. Sekarang putuskan! Kalian akan jawab dengan jujur, atau aku akan hubungi pihak kepolisian sekarang juga tentang adanya transaksi ilegal di dalam gedung ini?! Cepat putuskan!"
●●●
Setelah berdiam diri di dalam kamar mandi, Sisil akhirnya keluar dengan mengenakan jubah mandi berwarna putih dengan langkah pelan. Gerakannya sangat tidak bersemangat dan hanya ada dua kata di dalam benaknya. Yaitu, 'melarikan diri'.
Bagaimana dia bisa melarikan diri sekarang? Bagaimana caranya menghindari lelaki menjijikkan ini tanpa harus membuatnya marah dan mengancam?
Putus asa!
Sisil benar-benar putus asa. Jalan pikirannya benar-benar buntu sekarang. Begitu dia melangkahkan kakinya keluar, dilihatnya Beno sudah berada di pinggiran ranjang sambil berselonjor dengan segelas wine ditangan. Sama sepertinya, menggunakan jubah mandi yang talinya masih terlilit di pinggang.
Ekor matanya otomatis langsung mengarah pada Sisil yang sedang mengenakan jubah mandi dengan rambut yang masih setengah basah. Memandanginya dari ujung kepala hingga kaki dengan pandangan penuh hasrat seperti seekor singa yang kelaparan.
Kenapa Sisil bisa secantik dan begitu menggairahkan? Kenapa dia baru menyadarinya sekarang?
Perlahan, Beno meletakkan gelas berisi wine tersebut ke atas meja dan berjalan mendekati Sisil yang masih belum mau menggerakkan kakinya dari sana.
Ketika sudah berdiri tepat di depan Sisil dan saling berhadapan, tangan Beno tergerak dengan sendirinya meraih rambut-rambut Sisil yang setengah basah. Memainkannya sesaat hingga akhirnya beralih ke pipi Sisil yang terasa dingin karena habis terguyur air di bawah shower kamar mandi.
Merasakan hangatnya telapak tangan Beno yang bersentuhan dengan kulit pipinya, Sisil justru merasa merinding sampai-sampai refleks ingin bergerak mundur tetapi tangan Beno yang kuat telah lebih cepat menahan pinggangnya dengan setengah menariknya rapat.
Kalimat Beno terdengar vulgar dengan ******* napasnya yang mengenai wajah Sisil karena jarak mereka yang begitu dekat.
Seluruh bulu kuduk Sisil langsung meremang rasanya. Jantungnya pun berdegup kencang bersamaan dengan sinyal tanda bahaya yang seolah sedang mengingatkannya.
Apa yang harus gue lakuin sekarang? Apa pada akhirnya gue juga harus jatuh ke tangan laki-laki hina dan menjijikkan sepertinya?
●●●
Setelah memberikan sedikit ancaman, akhirnya resepsionis itu mau memberikan informasi yang diminta James.
James sendiri sekarang sedang berjalan di area lantai tiga sambil melihat-lihat nomor pintu kamar yang tadi disebutkan.
"305. 305. 305."
Itulah gumaman James sedari tadi. Mulutnya tidak berhenti merapalkan nomor kamar tersebut seakan dia akan lupa jika satu detik saja tidak dia ucapkan.
"Argh! Apa yang dipikirkan perempuan itu?!" James mulai merasa kesal. "Jika dia punya masalah, dia bisa menceritakannya pada orang tuanya, kan? Benar-benar perempuan keras kepala!" geramnya.
Setelah melangkah lebih dari dua puluh langkah sejak keluar dari lift, akhirnya James menemukan nomor yang dia cari. Kedua matanya melebar dan rasa lega pun seolah sudah di depan mata. Namun, dia harus memastikannya lebih dulu dan tidak bertindak gegabah. Bisa saja resepsionis tadi membohonginya dengan memberinya nomor kamar lalu menelepon sang pemilik kamar agar segera keluar dari sana melalui pintu darurat, bukan? Hal itu bisa saja terjadi. Dan James sangat mewaspadai itu.
Di lain sisi, Beno mulai menjalankan niatnya. Menyentuhkan tangannya yang kurang ajar ke bagian-bagian sensitif hingga Sisil merasa sesak karena menahan napas.
"Lo tau, gue sangat menantikan momen ini. Gue masih belum ngelupain malam panas kita saat itu." Jarinya bergerak menggoda ke pipi Sisil. Sedangkan Sisil yang diperlakukan seperti itu, begitu sangat merasa terhina hingga dia tidak bisa melakukan apapun kecuali memejamkan matanya rapat-rapat sambil mengepalkan tangannya kuat-kuat. Berharap ada seseorang yang datang dan membuat kekacauan disana.
Dirasakannya tangan Beno yang menangkup sisi wajahnya. Sedangkan tangan satunya lagi, melepaskan pegangan pinggangnya dan beralih pada tali jubah yang melilit di pinggang Sisil dengan gerakan menggoda. Mulai menariknya dan melepaskannya.
Napas Beno terasa semakin dekat bersamaan dengan dirasakannya tali jubah mandi Sisil yang mengendur hingga akhirnya terlepas sempurna. Baru saja Sisil akan merapatkan jubahnya kembali, namun kata-kata cegahan yang keluar dari mulut Beno membuat gerakannya kaku hingga akhirnya tidak jadi dia lakukan.
"Jangan coba-coba menghindar satu jengkal pun! Gue nggak menerima penolakan."
Itu adalah sebuah bisikan. Tetapi, terdengar begitu keras di telinga Sisil hingga membuat telinganya terasa pengang.
Beno pun mulai mendekatkan wajahnya pada Sisil. Mengarah pada Bibir yang sedari tadi berhasil membuatnya terpesona. Bibir tipis berwarna merah pucat yang terlihat kering. Dia ingin sekali mencecapnya.
Tanpa ingin menundanya lagi, Beno berpikir akan langsung menciuminya. Mendekatkan bibirnya pada Bibir Sisil hingga menyisakan jarak satu senti di antara wajah mereka. Tetapi, ketika Beno akan benar-benar menyentuhkan bibirnya ke atas bibir Sisil, terdengar suara bel yang tiada henti seperti sedang meminta untuk segera dibukakan pintu. Membuat keduanya langsung menoleh secara bersamaan ke arah pintu masuk.
"Argh! Siapa yang berani mengganggu acara kita?!" Beno merasa kesal. Dan itu adalah geraman dari ketidaksabarannya.
"Tunggu disini dan jangan membuat ulah! Aku akan melihat siapa pengganggu yang berani mengganggu kita." Sebelum beranjak pergi, tidak lupa juga Beno memberikan ancamannya. Yang pada saat itu Sisil sedang tergesa-gesa merapatkan jubah mandinya lagi dan mengikat talinya kembali.