
"Jadi maksud kalian, Meila mendadak gelisah dan takut disaat pria itu tidak sengaja terdorong ke arahnya? Bagaimana bisa?"
Di ruangan itu, ruangan quality control yang mencakup semua jenis alat dan mesin keamanan tampak tersusun dengan rapi dan tertata. Tak satupun dari mereka terlihat keluar dari tempatnya atau berantakan. Belum lagi dengan ruangan cctv yang dibuat terpisah dan lumayan luas.
Setelah Dimas memastikan Meila masuk ke kamar dan membiarkannya mengganti pakaian, dia langsung bertandang ke ruang keamanan dimana dua orang bodyguard yang tadi ditugaskannya sudah menunggunya. Sedangkan di sudut dekat pintu tampak Henry berdiri dengan sikap sempurna, dengan posisi sigap dan tubuh tegap.
Ya, Dimas sedang menginterogasi kedua bodyguard itu dengan seksama. Lebih tepatnya menggali informasi.
"Menurut tangkapan kami seperti itu, tuan. Saat kami sedang memantau nona dari kejauhan, dan tiba-tiba pria itu datang, reaksi nona masih biasa saja. Namun, begitu seorang petugas kebersihan yang sedang bertugas tidak sengaja menabrak pria itu, seketika reaksi nona langsung berubah drastis."
"Benar, tuan. Pandangan kami tak sedetik pun lepas dari nona. Begitu pria itu mendekat, nona langsung berubah gelisah dan pandangannya langsung mencari-cari keberadaan anda."
Kedua bodyguard itu bergantian menjelaskan secara detil menurut penglihatan masing-masing. Dan jawabannya sama. Meski keduanya di tempatkan di tempat yang berjauhan dan berlawanan arah, namun tujuannya tetap sama. Memantau kondisi Meila dari jauh tanpa harus menimbulkan kecurigaan dari siapapun.
Dimas mengangguk paham dengan penjelasan kedua bodyguardnya itu. Dia pun akhirnya menyuruh mereka pergi dengan memberikan sedikit arahan sebelum kemudian mereka benar-benar meninggalkannya dengan Henry dalam ruangan itu.
Dimas pun berjalan pelan sambil mengendurkan ikatan dasi di lehernya. Lalu berhenti di samping meja dan menyandarkan pinggulnya disana sambil melipat kedua tangannya ke dada.
"Hendry, menurutmu... kenapa Meila bisa bereaksi seperti itu?"
Tanpa disadari, Henry yang sedang dalam sikap sempurna yang sudah siap menerima sebuah perintah, langsung terkesiap mendengar pertanyaan yang dilemparkan Dimas padanya. Dia pun langsung menjawab dengan kalimat lantang yang ada di benaknya.
"Menurut saya, jika reaksi nona tidak seperti biasanya dan malah gelisah bahkan sampai takut, maka tidak lain dan tidak bukan orang itu adalah berbahaya." Jawabnya lugas.
Sontak, Dimas langsung melirikkan matanya pada Henry. Lalu menyipitkan kedua matanya dengan tajam sebelum akhirnya menanggapi.
"Begitu menurutmu?"
Dengan percaya diri dan jawaban yang lantang, Henry menjawab mengiyakan.
"Benar, tuan. Tidak mungkin nona akan bereaksi berlebihan jika orang itu tidak berbahaya. Mungkin... nona merasakan sesuatu yang membuatnya trauma?"
Meski jawaban Henry sepele, tetapi itu sangatlah masuk akal. Meila sangat sensitif dengan beberapa kejadian di masa lalunya yang bisa dibilang menakutkan baginya. Terlebih lagi dia pernah mengalami hal mengerikan seperti penculikan.
Dimas mengangguk setuju. Tanggapannya terhadap jawaban Henry mendapatkan nilai lebih dan itu bisa membuatnya semakin berhati-hati dengan Dion. Setidaknya, dia bisa mewaspadai Dion dan tidak sembarangan membiarkannya mendekati Meila dengan bebas.
"Okay. Pendapat kamu masuk akal. Bersiap-siaplah dengan tugas yang akan menantimu. Dan... sebelum kamu pergi, tolong belikan berbagai macam rasa permen lollipop di supermarket yang ada di ujung jalan."
Tanggapan yang diakhiri sebuah perintah itu membuat Henry senang sekaligus terkejut. Dia sempat bingung dan ternganga dengan perintah yang Dimas berikan untuknya. Namun, tak urung dia mengiyakan dengan memberikan anggukan kepala tanda mengerti.
"Jangan lupa! Utamakan rasa strawberry di dalamnya!" Imbuh Dimas yang dibalut dengan kalimat perintahnya yang khas.
●●●
"Gimana? Apa katanya?"
Sambil menghela napas, Vika menatap ponselnya. Dia baru saja melakukan panggilan suara dengan Meila. Dan Rendy, yang menunggu di sampingnya dengan tenang langsung saat sambung telepon terputus. Bertanya sambil memasang wajah ingin tahunya yang tak bisa ditutupi.
"Katanya dia mendadak pusing. Jadi mereka pulang duluan. Yaaa... wajar sih, semakin malam acaranya memang semakin ramai. Sedikit gak cocok sama kepribadian adik kamu yang kalem."
Rendy terkekeh ringan. "Yaudah biarin aja. Ada Dimas bersamanya. Aku juga gak terlalu khawatir."
"Ya, kamu benar. Kalo aja aku gak ngebiarin Meila sendirian tadi....."
Sambil memegang bahu Vika, "Sst... jangan ngerasa bersalah gitu. Yang terpenting sekarang Meila baik-baik aja dan bersama Dimas." Rendy berujar menenangkan. Dan Vika yang mendengarnya cukup merasa lega.
●●●
Ceklak!
Sambil membawa jas tuxedo di lengannya, Dimas membuka pintu kamar. Gerakannya itu tanpa sengaja berbarengan dengan langkah Meila yang baru saja keluar dari toilet dengan wajah segar tanpa make-up serta rambut yang dibiarkan tergerai setengah basah. Dengan mengenakan baju longgar dan celana panjang, Meila bersiap untuk tidur.
Dimas tersenyum sambil meletakkan jas tuxedo miliknya ke badan sofa. Lalu menggulung lengan baju putih yang ia kenakan hingga batas siku, dan tercetaklah bentuk dada bidangnya yang menonjol kekar dari balik kemeja putih dimana dua kancing bagian atas kerahnya dia biarkan terbuka.
Meila sedikit ragu saat bibirnya akan mengatakan sesuatu. Namun, sebelum itu Dimas sudah lebih dulu melangkah dengan cepat untuk memeluknya dan membiarkannya terdiam beberapa saat. Dekapannya itu mampu membuat Meila sedikit lebih tenang. Aroma strong mint yang menguar dan tercium dari tubuh Dimas membuat kedua mata Meila terpejam. Diikuti dengan kedua lengan mungilnya yang bergerak melingkari tubuh Dimas.
Kecupan-kecupan kecil ke puncak kepala pun diberikan Dimas untuk Meila. Begitu juga usapan-usapan lembut yang beraturan ke punggungnya.
Kedua pasang mata itupun bertemu disaat Dimas merenggangkan pelukannya. Dia menatap Meila dengan seksama saat gadis itu mendongakkan wajah kepadanya dengan sikap manja.
Cup!
Kecupan kecil nan lembut pun jatuh ke atas bibir Meila. Sambil menangkup sisi wajahnya yang memerah muda, Dimas menunduk dan menggesekkan hidungnya ke hidung Meila dengan gemas sebelum kemudian menatapnya kembali dengan tatapan penuh sayang.
"...ada apa?" Dimas akhirnya bertanya.
Meila tau, meski dirinya lebih dulu atau Dimas yang lebih dulu bertanya, dirinya sudah siap dengan itu. Lagi pula, dia memang ingin memberi tahu Dimas dan tidak mau menutupinya.
"Pria itu... Pria itu orangnya," suara jawaban di akhir kalimat terdengar bergetar pun dengan kedua bola matanya yang mulai berkaca-kaca. Hal itu begitu terasa dengan remasan tangannya ke baju Dimas.
"Pria itu.... pria yang ada dalam mimpi itu... a-aromanya sama persis sama apa yang ada dalam mimpi. Aroma alkohol, aroma rokok, bahkan suaranya juga sama."
Sesaat, Dimas mengingat Dion lah yang tadi bertemu dengannya. Tapi, apa mungkin dia orangnya?
"Dion?" Dimas menjawab.
Begitu nama itu disebut, Meila refleks langsung bergidik ngeri. Rasa takut dimatanya mulai terpancar kembali.
"Sshh... tenang, tenang." Dimas kembali memeluk Meila dan menepuk-nepuk punggungnya dengan pelan.
"K-kak Dimas kenal orang itu?" Tanya Meila dalam pelukan Dimas.
"Kamu ingat saat kamu disandera di toilet Mall beberapa waktu lalu?" Dimas berusaha menggali ingatan Meila. Meila pun mengangguk. "Dialah yang menolong kamu sebelum aku datang."
Sontak, Meila langsung menjauhkan pelukan Dimas. Kedua matanya membelalak seolah tidak percaya. "B-benarkah?" Tanyanya seolah tidak percaya.
Dimas mengangguk. "Iya. Dia yang pertama kali datang menyelamatkan kamu dalam insiden itu. Dialah orang yang bikin kamu merasa nggak enak karena belum mengucapkan terima kasih saat itu. Kamu ingat?"
Seberkas ingatan kecil disertai suara Dion bercampur di ingatan Meila. Memang, saat itu dia merasa tidak enak hati karena tidak sempat mengucapkan terima kasih karena sudah menolongnya. Tetapi, jika diurutkan dengan kejadian penyanderaan dan mimpi buruk itu seakan berkaitan.
"Tapi, kak, aroma dan suaranya....."
"Sshh... okay, kalo kamu merasa kayak gitu, kita hanya perlu waspada. Kamu nggak perlu mendekat atau sampai mengenalnya lebih jauh. Hanya sekedar mengingat, it's okay gak apa-apa. Mengerti?"
Dengan mata sayu, Meila mengangguk paham. Seperti anak kecil yang baik, yang langsung menurut saat diberi nasihat oleh ibunya.
"Good girl!" Dan mencubit gemas dagu mungil Meila dengan pelan.
"Aku punya sesuatu buat kamu." Ucap Dimas lagi sambil merogoh kantung celananya yang dalam. Kedua mata Meila pun mengikuti gerakan tangan Dimas dengan penasaran sekaligus bingung.
Ta-Da....!
Sepuluh buah permen lollipop dengan berbagai macam rasa Dimas keluarkan dari saku celananya. Sontak, kedua mata Meila langsung membelalak senang. Matanya berbinar, dan wajahnya yang berseri-seri langsung tertuju pada permen lollipop. Masing-masing dari mereka terdiri dari berbagai macam rasa buah segar yang Meila tidak bisa untuk tidak menahan air liurnya. Mulai dari rasa jeruk, mangga, anggur, melon, nanas, dan yang paling menarik perhatiannya adalah strawberry, rasa favoritnya.
Henry memang bisa diandalkan. Hanya butuh waktu sepuluh menit untuk membelikan bermacam jenis permen lollipop dengan berbagai macam rasa. Dia juga sangat kompeten dan cekatan saat dia tahu jika Dimas memberinya perintah diluar kebiasaan, sudah pasti itu untuk keperluan pribadi.
"Ayo, ambil!" pinta Dimas dengan nada mengayun. Meminta Meila untuk segera mengambil permen itu dari genggamannya.
Begitu semua permen itu sudah di tangannya, dengan refleks cepat Meila langsung menghambur ke pelukan Dimas. Sambil mengucapkan kata terima kasih dengan suasana hati yang langsung berubah gembira.
"Terima kasih... permennya banyak sekali. Aku suka!" Ucapnya polos. Diselipi dengan cengiran khasnya yang langsung dapat Dimas bayangkan saat itu juga.
"Aku jauh lebih suka kalo liat kamu senang." Lalu mencium pelipis Meila dengan sayang.
Sambil melepaskan pelukannya dari Dimas dengan masih menyisakan senyum, "tapi... kapan kakak beli ini?"
Sambil memainkan ujung rambut Meila, Dimas menjawab. "Aku menyuruh Henry untuk membelikannya ke supermarket di ujung jalan. Dan dia langsung melakukannya."
Meila terkikik mendengar ucapan Dimas. "Kalo gitu... aku juga harus ucapin terima kasih juga sama Henry." Ucapnya.
Kedua alis Dimas tertaut bersamaan mendengarnya. Dia berpikir jika ucapan terima kasih yang Meila akan ucapkan pada Henry adalah sebuah pelukan juga.
"Kamu akan memeluknya juga?"
Meila terbahak-bahak mendengar pertanyaan Dimas yang menurutnya sangat polos. Jujur, baru kali ini dirinya melihat wajah polos Dimas yang sangat lucu menurutnya.
"Kalo kamu izinin aku akan melakukannya." Jawab Meila tak kalah polos dengan nada meledek yang kental.
Tetapi, tak butuh waktu lama untuk Dimas menyadari jika Meila sedang meledeknya. Kedua matanya pun menyipit dengan siratan tatapan nakal penuh rencana. Lalu tanpa ragu lagi langsung mencubit gemas hidung Meila yang lancip sebelum gadis itu bisa melarikan diri darinya.
"Gadis nakal!" Seru Dimas dengan sebelah lengan merengkuh pinggang Meila. Keduanya pun tertawa bersama.
"Permennya.... nanti permennya jatuh, kak."
Tidak tega dan merasa luluh dengan suara Meila yang terdengar lembut dan manja, Dimas pun menghentikan tangannya. Dia akhirnya mengusap-usap batang hidung Meila yang sedikit memerah karena ulahnya.
"Sakit?" Dimas bertanya. Meila langsung menggeleng dengan cepat. Tak hanya diam, Dimas langsung memberikan kecupan ke ujung hidung Meila yang mungil dengan kecupan kecil nan ringan disana.
"Udah hampir dinihari. Simpan permennya, kamu boleh memakannya besok. Okay?"
Meila mengangguk disertai ucapan. "Okay..."
"Aku akan mandi dan ganti baju. Kalo kamu ngantuk, tidur duluan aja, ya!" perintah Dimas yang langsung dijawab anggukan oleh Meila.
Setelahnya Dimas langsung bergegas ke toilet untuk membersihkan diri. Sementara Meila, yang memperhatikan Dimas dari belakang tampak tersenyum manis sambil bergantian menatap permen-permen lollipop di tangannya yang berjejer rapi sembari bergumam pelan.
"Terima kasih permennya,"