
Tempat parkir yang begitu luas seketika menjadi ramai ketika 6 mahasiswa dari universitas lain berdatangan. Suara riuh segerombolan gadis membuat langkah kaki Airin terhenti dan berubah arah mengurungkan niatnya menuju kelas. Ia merasa penasaran dengan apa yang sedang terjadi di area parkir tersebut.
Langkahnya dipercepat seolah dirinya tak mau ketinggalan informasi yang sedang terjadi saat itu. Airin berhenti tepat dimana sekumpulan para gadis mahasiswa baru satu tahun dibawahnya berbaris sambil berbisik penuh rasa kagum ke arah yang berdatangan.
Seolah belum juga mencapai tujuannya, ia memaksakan diri berdesakan dan mengangkat kepala penuh rasa penasaran sambil menyipitkan matanya ingin tahu.
"Ada apaan sih rame-rame?"
Ucapnya tanpa bertanya pada siapapun namun mengharapkan jawaban pula tanpa pamrih. Seakan rasa penasarannya terbalas, salah satu dari sekumpulan para gadis, berbaik hati menjawab pertanyan Airin yang tak ditujukan pada siapapun.
"Itu tuh kak Airin, ada mahasiswa pertukaran pelajar dari universitas lain baru dateng. Katanya sih, Ada yang ganteng."
Jawaban itu membuat Airin semakin menyipitkan mata. Namun ia tak juga dapat menyaksikan langsung mahasiswa yang sedang di perbincangkan sepanjang koridor menuju tempat parkir tersebut.
Matanya melirik ke arah pergelangan tangan sebelah kirinya, matanya sedikit membelalak melihat waktu sudah menunjukkan pukul 9.45 menit.
Wajahnya sedikit panik, dengan buru-buru dan langsung menggunakan langkah seribu, Airin langsung menuju kelas yang memang seharusnya sudah ia masuki sejak 10 menit lalu. Andai saja ia tak berbelok arah tadi, pasti ia tak akan telat seperti ini.
Tiap langkah ia tapaki sambil mengucap dalam hati seolah membaca mantra agar dosen pembimbing hari ini datang terlambat sehingga ia tak dimarahi dan terkena hukuman. Nampaknya nasib baik masih berpihak padanya kali ini, pintu kelas nya setengah terbuka sehingga siapapun dapat melihat langsung meja dosen masih kosong belum terisi. Ia menarik nafas lega, tak berlama-lama dan langsung berjalan menuju bangku tempat duduknya.
"Lo telat lagi hari ini. Jangan bilang semalem lo begadang lagi?"
Ucap Meila dengan mata menyipit tepat duduk disebelah meja Airin sambil menunjukkan jam tangannya ke arah Airin yang baru saja mendudukkan bokongnya.
"Kalo bukan karena segerombolan para gadis di tempat parkir sana menarik perhatian gue, gue gak akan telat, Mei... Gue udah dateng dari 15 menit yang lalu. Dan untung aja keberuntungan masih berpihak sama gue!hihi."
Meila menolehkan kepala nya penasaran, menghentikan kebiasaannya memutar-mutar pulpen sambil memajukan tubuhnya sedikit.
"Emang ada apaan di parkiran? kok gue gak tau sih?"
Pertanyaan Meila membuat Airin menyunggingkan senyuman jahilnya. Menggoda sahabatnya memang mengasyikkan sebelum memulai pelajaran.
"Makanya keluar, jangan di kelas mulu. Jadi kudet, kan?"
Jawaban Airin membuat Meila sedikit mencebik gemas. Merasa tak puas dengan jawabannya, sebelum Meila menanyakan hal yang sama lagi padanya, ia langsung melanjutkan ucapannya kembali.
"Tadi, 6 mahasiswa dari universitas lain yang akan ikut pertukaran pelajar di kampus kita udah dateng. Kata salah satu adik kelas kita, ada salah satu nya yang ganteng. Makanya gue penasaran seganteng apa orangnya. Eh malah belom keliatan juga orangnya."
Penjelasannya membuat Meila menganggukkan kepala tanda mengerti. Meski perlu beberapa detik untuknya mencerna penjelasan Airin, namun tak urung ia membalas dengan pertanyaan pula.
"Oooh jadi itu yang bikin lo telat?" tanya nya sambil menaikkan sebelah alisnya dan langsung di jawab anggukan cepat oleh Airin.. Baru 5 detik ia menganggukkan kepala, pertanyaan menggelitik di benaknya seakan meminta untuk di wujudkan dalam bentuk godaan.
"Eh tapi, Mei... gue yakin sih, kalo lo yang tadi ada di posisi gue pasti lo lebih milih ngilangin rasa penasaran lo kayak gue!" sambungnya pada Meila.
"Kok gitu? emang beneran seganteng apa sih cowoknya? hm?" tanya Meila sambil memiringkan kepalanya sedikit menggoda.
"Yaaa gue sih belom liat sosok gantengnya kayak gimana, tapi gue yakin pasti ganteng. Secara segerombolan adik kelas pada pasang badan gitu."
Jawabannya membuat Meila menggelengkan kepalanya geli. "Bisa aja lo.. kirain gue lo udah liat langsung sosoknya kayak apa." kekehan Meila membuat Airin ingin menantangnya.
"Awas aja ya, kalo nanti ada yang bengong-bengong gak jelas sambil masang muka penuh rasa terpesona di depan gue. Gue jitak lo!" sungut Airin.
"Oke..Oke.. gue nyerah sama lo! Ampun kakaaaakk..." godanya sambil menyatukan kedua telapak tangan dengan kepala membungkuk yang langsung di barengi candaan gelak tawa oleh keduanya.
Selang beberapa menit, dosen pembimbing datang dan memulai pelajaran dengan lancar tanpa kendala seperti biasanya.
●●●
"Gue gak pernah nyangka kalo salah satu dari 6 siswa pertukaran pelajar itu elo, Dim.."
Rendy menghampiri Dimas dengan wajah sumringah. Setelah ia mengetahui bahwa salah satu dari 6 siswa itu tertulis nama Dimas Alexsander, ia langsung menghampiri dan menyambut sahabatnya dengan tangan terbuka, mengajaknya berkunjung ke runag senat. Seolah pertemuan tanpa sengaja mereka 3 hari lalu masih belum cukup untuk menghilangkan sedikit rasa penasaran dan tatapan penuh introgasi yang masih sering menyala diantara keduanya.
"Apalagi gue, gak pernah berpikir kalo gue bakal dikirim ke universitas lo, Ren! Jangankan mikir, ngebayangin aja nggak." ejeknya dengan menyunggingkan bibirnya.
Melihat pintu terbuka tanda seseorang datang, Dimas langsung menolehkan kepala nya disambut dengan langkah ringan Bryant menghampiri. Ia telah mengabari Bryant lewat pesan singkat whatsapp bahwa dirinya sedang berada di ruang senat. Tinggal beberapa langkah lagi Bryant di hadapannya, seolah masih terlalu lama langkahnya berhenti, pertanyaan yang muncul dibenak Dimas seolah ingin keluar minta untuk di tanyakan.
"Udahan lapornya? Enggak lupa cantumin nama gue kan?"
Pertanyaan itu dijawab dengan tarikan nafas Bryant sambil memposisikan dirinya berdiri berhadapan disisi kiri Rendy dan sisi kanan Dimas. Sambil menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal, ia menganggukkan kepala menjawab. "Siip bro.. nama lo dan termasuk 4 nama siswa lainnya udah gue cantumin." jelasnya dengan nada sumringah.
"Oiya, kenalin Ren, ini Bryant. Yant, kenalin ini Rendy."
perintahnya pada kedua pria dihadapannya dan langsung disambut dengan perkenalan sambil berjabat tangan penuh ketegasan.
"Dan.. Rendy adalah ketua senat di kampus ini." sambung Dimas sambil merangkul bahu Rendy.
"Wow.. berarti kebetulan atau gimana nih? Tapi kalian keliatan udah akrab banget sih kayaknya. Kalian berdua... sohib?" Sambil menunjuk kearah Dimas dan Rendy bergantian, tampak jelas rasa penasaran penuh penekanan di wajah Bryant.
"Yaaa... Rendy ini sahabat SMA gue. Kita udah 3 tahun gak ketemu. Dan baru ketemu lagi 3 hari lalu, dan kebetulan juga ternyata kuliah disini....." ucapannya langsung disambung oleh Rendy sendiri. "...dan gak sengaja juga mobil lo hampir nyerempet motor gue!" sambungnya dengan nada penuh ironi.
Reaksi Dimas langsung menarik ujung bibirnya. seakan sudah ditulis dan ditakdirkan bahwa sudah saatnya ia bertemu dan meluruskan masalah yang terjadi selama bertahun-tahun.
●●●
"Rin, temenin gue dong ke ruang senat. Mau kasih laporan ini ke kak Rendy.."
Mohon Meila pada Airin sambil menunjuk ke arah beberapa lembar kertas laporan yang digenggamnya.
Mereka ke perpustaan setelah mata kuliah kedua tanpa dosen dan tanpa tugas. Alhasil, kelas kosong tanpa instruksi dan seperti biasa, be-ri-sik!
Meila dan Airin lebih memilih ke perpustakaan dibanding kelas yang riuh. Di perpustakan, Meila bisa menghidupkan imajinasinya dengan membaca Novel atau menghilangkan penat dengan membaca Comic jenaka sehingga dapat meregangkan syaraf otak yang kaku setelah menerima asupan pelajaran.
"Iya.. tunggu. Gue beresin buku-buku dulu."
Airin memang selalu setia pada Meila, kemanapun Meila pergi atau kemanapun Meila meminta menemaninya, ia dengan senang hati bersedia melakukannya. Begitupun sebaliknya, ketika Airin membutuhkan sesuatu Meila selalu membantunya. Mereka seperti symbiosis mutualisme, saling membutuhkan dan satu sama lain juga saling menguntungkan.
Koridor demi koridor mereka lalui sambil sesekali bersenda gurau ataupun membicarakan hal yang tak penting sekedar membuat pikiran mereka ter-refresh kembali.
Ruang senat berada di blok kedua setelah blok perpustakan mereka lewati. Bisa dibilang, ruang senat hanya membutuhkan waktu 3 menit jika mereka memulai start dari perpustakaan tempat mereka berkunjung sebelumnya.
Meila memutar knop pintu, mendorong pintu setengah terbuka. Matanya langsung bertatapan dengan 6 pasang mata yang saat itu sedang membentuk sebuah tawa di bibir mereka.
Dimas terpaku melihat sosok dihadapannya. Dirinya yang saat itu sedang menempatkan sebelah bokongnya di atas meja seketika itu juga langsung menurunkan sebelah kakinya yang sedikit menggantung menjadi tegap sepenuhnya. Tubuhnya sedikit kaku. Masih tak percaya dengan apa yang sedang ia lihat saat ini.
Cewek itu...? Gue gak salah liat kan ? Jadi... dia kuliah dikampus ini? God... You're really kind...
"S-sorry kak.. aku lupa ketuk pintu tadi. Aku mau kasih laporan ini.."
Masih berdiri di balik pintu, dan memperlihatkan laporan ditangannya, Meila dan Airin masih belum melangkahkan kakinya. Meila yang saat itu belum memperhatikan dengan jelas siapa seseorang yang ada di sana dan tampak berbicara akrab dengan ketua senat, sedikit mengerutkan alisnya.
Meila mengenal jelas siapa lelaki itu, ia masih muda dan belum pikun ataupun lupa ingatan. Meski dirinya hanya sekilas melihat dan tidak memperhatikan secara detail wajah photo profile si pemilik akun itu, ia mengingatnya. Ya, sangat amat mengingatnya.
Oh my God ! that man....
Meila masih tak percaya dengan sosok yang ada di hadapannya. Tak urung ia melangkahkan kakinya sampai ia pikir batas aman untuk berbicara.
"Gapapa dek.. sini masuk! Kita juga lagi nggak bicarain masalah serius kok."
Sapa Rendy pada adik kecilnya. Tatapan keduanya, Meila dan Dimas bertemu meski sesekali Meila mengalihkan pandangannya untuk sekedar mengusir rasa canggung dan sesak di ruangan itu seolah stok oksigen yang telah habis.
"Oiya.. kamu udah denger, kan? 6 mahasiswa yang mengikuti pertukaran pelajar dikampus kita? Nah, mereka berdua adalah dari 6 siswa itu. Mumpung kamu ada disini, sekalian aja perkenalan antara kalian. hm?"
Pertanyaan itu menggantung di udara. Nuansa canggung mulai tercipta antara Meila dan Dimas. Bisa dibilang, suasana itu hanya mereka berdua yang bisa merasakan.
"Nah... Mei, ini Dimas. dan yang ini Bryant. Mereka akan mengikuti sistem belajar mengajar di kampus kita selama 3 bulan ke depan." sambil menjelaskan dengan sabar. Karena Rendy tau, adik kecil nya yang satu ini sedikit lambat untuk mencerna ketika perasaan gugup datang. Setelah dikiranya rasa gugup hilang dari wajah Meila, Rendy menyambung penjelasannya lagi.
"Dan, bro.. ini Meila, Carmeila Queenza. salah satu anggota senat dikampus ini, biasa suka bantu-bantu gue ngerjain tugas senat. Bisa dibilang, dia Secretaris gue. Dan, yang itu...." Rendy memberi jeda sebelum melanjutkan. "...itu Airin. yang suka ngintilin Meila." ejeknya penuh rasa puas dan dibalas dengan membelalakkan mata penuh peringatan dari Airin pada Rendy.
"Hai, gue Dimas... senang bisa berkenalan sama cewek manis kayak kamu."
Dimas mengulurkan tangannya terlebih dulu sambil memasang senyum manisnya yang bisa membuat para wanita bertekuk lutut padanya. Uluran tangan Dimas disambut Meila dengan penuh rasa canggung, meski sedikit ragu namun tak urung ia mengulurkan tangannya dan menyambut uluran tangan pria di depannya.
"H-hai kak.. Aku Meila. hmmm.. terima kasih..!"
Ucapnya dengan menyisakan sedikit rasa canggung. Namun hal itu tak penting bagi Dimas. Baginya, bertemu dengan gadis yang selama ini membuatnya uring-uringan sudah membuatnya bahagia. Ia hampir putus asa ketika kehilangan kontak akun milik Meila.
Meski ia akui, tindakannya memang salah dan ia mencatat pada dirinya sendiri, bahwa ia tak akan membuang kesempatan yang datang kembali di depan matanya.