A Fan With A Man

A Fan With A Man
Supermarket



Seperti yang dokter Yoga bilang semalam jika Meila sudah diperbolehkan keluar rumah sakit, saat ini tampak sedang bersiap-siap. Dibantu oleh Dimas yang sedang memasukkan barang-barang milik Meila dan miliknya ke dalam tas semi koper yang ia bawa.


Meila masih terlihat duduk di pinggir ranjang dan sudah rapi. Menunggu Dimas merapikan dan memasukkan semua barang keperluannya selama di rumah sakit maupun obat-obatan yang harus dikonsumsinya nanti. Dimas sengaja tidak memperbolehkan Meila membantunya. Dia membiarkan gadis itu duduk berdiam diri memperhatikannya dengan kondisi sudah rapi.


Tadi, seorang perawat telah mengantarkan laporan kesehatan Meila dengan terperinci. Semua administrasi juga telah diselesaikan Dimas. Sehingga mereka hanya perlu merapikan barang-barang saja tanpa perlu mengantri mengurusi masalah administrasi.


"Ayo," sambil mengulurkan tangannya meraih tangan Meila, Dimas meletakkan tas itu ke atas sofa tunggu.


Meila menggapai uluran tangan Dimas dengan senang. Dan kemudian...


Hap!


Dimas mengangkat tubuh mungil Meila dan menurunkannya dari ranjang rumah sakit yang lumayan tinggi itu.


Mereka keluar dari ruang perawatan dengan saling melempar senyuman. Sambil bergandengan tangan pada Dimas, Meila tampak senang saat dia bisa menghirup udara segar setelah beberapa hari tidak keluar ruangan.


Perjalanan dari rumah sakit menuju rumah tidak begitu ramai. Sehingga mereka tidak terjebak kemacetan terlalu lama. Tidak sampai dua puluh menit mereka akhirnya sampai.


Dimas membiarkan Meila duduk setengah berbaring pada sofa-bed ruang utama, sementara dirinya pergi ke dapur mengambilkan air minum untuk Meila.


"Setelah ini kamu pindah ke kamar aja. Biar bisa istirahat dengan nyaman."


Meila menggeleng pelan, "nggak perlu, kak. Aku mau di sini aja." Dia meminum air yang diberikan Dimas. "Aku bosen di kamar. Karena di rumah sakit kemarin cuma di kamar terus. Biarin aku di sini aja," memberi jeda, "....ya....?" Pintanya memohon.


Disertai senyuman, Dimas menatap lembut Meila. "Aku akan ambilkan selimut buat kamu. Kamu bisa berbaring di sini sambil menonton apapun yang kamu suka."


Meila menatap Dimas dengan lekat, dan tak lupa dia memberikan senyumnya yang paling manis.


"....Thank You...."


Sambil menegakkan tubuhnya, Dimas beranjak berjalan menuju kamar sebelum kemudian mengusap lembut kepala Meila dengan sayang.


Setelah mengambilkan selimut, Dimas langsung membantu Meila berbaring dengan nyaman serta menyelimutinya.


"Istirahat, ya. Jangan terlalu banyak bergerak."


Meila mengangguk mengerti. Dan, saat Dimas berbalik akan kembali beranjak darinya, Meila menarik ujung baju Dimas seolah sedang menahannya.


"Kak Dimas mau kemana?"


"Aku mau mengambil laptop untuk menyelesaikan beberapa tugas dari dosen. Kamu butuh sesuatu?"


Meila menggeleng pelan.


Apa dia pikir aku akan membiarkannya sendirian di sini?


Melihat tingkah Meila, Dimas langsung paham maksudnya. Dia tersenyum ringan hingga terkekeh sampai berucap kembali akhirnya.


"Aku akan menyelesaikan tugasnya di sini." Sahutnya dengan setengah membungkuk. "Menemani kamu," lalu, senyuman menggoda muncul di bibir merah Dimas. "Apa kamu pikir... aku akan membiarkan gadis mungil kayak kamu sendirian di sini?"


Meila tersipu malu. Perlahan tangannya melepaskan ujung baju Dimas yang masih dipegangnya dengan canggung.


Dimas akhirnya menggerakkan tangannya untuk mengusap pipi Meila yang merona. "Just a minute." Lalu, memberikan kecupan jauhnya pada Meila yang masih menatapnya malu-malu namun tak urung dia menganggukkan kepalanya padanya.


●●●


Tidak terasa waktu sudah petang. Tugas-tugas yang Dimas kerjakan akhirnya selesai. Dan sekarang dia sedang berada di dapur seperti sedang mengecek sesuatu. Mulai dari barang-barang di kulkas hingga lemari dapur yang biasanya banyak menyimpan bahan makanan kering serta camilan ringan.


Disaat yang bersamaan, datanglah Meila yang ingin tahu apa yang sedang Dimas lakukan di sana. Perlahan, Meila mendekati Dimas dan bersandar di samping meja marmer dekat dengan tiang kokoh penyangga.


"Kak Dimas, lagi apa?"


Melihat Meila menghampirinya, Dimas menoleh sambil tersenyum. "Aku lagi mengecek barang-barang apa aja yang harus di beli, Sayang. Dan keliatannya... cukup banyak." Dia pun melirikkan matanya pada Meila.


"Kamu mau ke minimarket?" Tanya Meila lagi penuh harap.


Dimas mengangguk. "Tapi aku rasa... minimarket itu kurang komplit. Nggak semuanya ada di sana. Aku berpikir untuk pergi ke supermarket yang ada di luar komplek. Di sana banyak menyediakan barang-barang apapun yang kita butuhkan."


"Mmm... apa aku boleh ikut?" Tanya Meila akhirnya.


Mendengar Meila yang seolah menawarkan diri meminta untuk ikut berbelanja dengannya, rupanya berhasil membuat Dimas menoleh.


"Kamu mau ikut?" Dimas bertanya lagi untuk memastikan. "Tapi kamu masih lemas, kan? Aku nggak mau tiba-tiba kamu sakit nanti. Lagipula bukan aku yang akan kesana. Biar nanti aku suruh seseorang aja untuk membelinya."


Meila memberengutkan bibirnya, "aku udah nggak apa-apa, kok." Rengeknya. "Sebenernya... aku pengen ke luar rumah. Pengen menghirup udara segar. Aku janji nggak akan melakukan hal yang akan memicu sakit aku lagi. Nggak akan ngerepotin kamu dan akan nurut apapun kata-kata kamu. Tapi, please.... biarin aku ikut, ya....?" Mohonnya lagi agar Dimas mengizinkannya.


Melihat ekspresi Meila membuat tatapan Dimas melembut seiring dengan desahan napas ringan. Lalu, berjalan mendekati Meila dan berhenti di depannya, mengangkat kedua tangannya dan diletakkan ke bahu mungilnya.


"Kamu yakin akan nurut apa kata aku?"


Meila mengangguk, mendogak pada Dimas yang sangat tinggi darinya.


"Kalo kamu maksa... apa boleh buat?" Ucap Dimas meledek sembari mengangkat kedua bahunya.


Meila begitu senang saat Dimas memberikan kalimat persetujuannya. Dia baru saja ingin melompat tapi segera diurungkan karena sudah pasti pria itu akan memarahinya. Alhasil, Meila memperlihatkan deretan gigi-giginya yang rapi hingga membentuk senyuman cengiran kuda.


"Baiklah..." Dimas langsung meraih tangan Meila dan menggenggamnya. "Ayo kita belanja," sambungnya sumringah. Meila pun tak mau kalah, dia langsung tersenyum senang dan antusias mendengarnya.


Mereka baru akan melangkah keluar namun hampir saja kunci mobil milik Dimas tertinggal. Dan Meila-lah yang berinisiatif meraih kunci mobil itu menggunakan sebelah tangannya yang bebas.


"Eits, kunci mo....bilnya," Rupanya Meila sudah melambaikan kunci mobil itu ke udara sebelum Dimas menoleh dan mencarinya. Meila langsung memberikan kunci itu pada Dimas, dan dengan tatapan sayang, Dimas pun langsung menarik lembut Meila untuk dirangkulnya. Lalu Memberikan kecupan singkat ke pelipisnya sembari berjalan menuju halaman tempat mobilnya terparkir.


●●●


Supermarket itu cukup ramai. Gedungnya yang besar menggambarkan jika barang-barang yang tersedia sangatlah komplit. Saat Dimas dan Meila masuk, bukan hanya mereka yang mengantri untuk melewati pintu metal-detector, melainkan orang-orang seperti mereka yang sama halnya ingin berbelanja juga.


Dimas mengambil trolly untuk menempatkan barang-barang yang akan dibelinya. Sementara Meila, mengikuti Dimas dengan patuh kemanapun pria itu melangkah.


"Kalo kamu butuh sesuatu, kamu boleh ambil apapun yang kamu mau."


Mendengar kalimat Dimas, Meila menoleh dengan setengah mendongak, lalu tersenyum padanya. "Aku akan mengambilnya jika memang aku membutuhkannya nanti. Karena aku udah janji untuk nurut sama kamu."


Ucapnya setengah berbisik yang diikuti dengan cengiran khasnya.


Dimas mendengus pelan sembari terkikik geli. Dia mengangkat tangannya untuk mengusap lembut rambut Meila.


Mereka mulai mengambil barang-barang yang diperlukan. Tidak lupa juga Dimas mengambil beberapa selai yang biasanya mereka konsumsi saat sarapan. Bahkan, dia juga selalu bertanya pada Meila terlebih dulu untuk meminta pendapatnya saat akan mengambil sesuatu.


Saat Dimas hampir menyelesaikan apa yang harus dibelinya, sampai detik itu juga Meila masih belum mengambil apapun. Membuat Dimas bertanya kembali untuk membeli apapun yang disukainya.


"Kamu nggak membeli sesuatu? Aku perhatiin, dari tadi kamu nggak mengambil satupun barang yang kamu suka. Kenapa?"


Meila terdiam, tapi tak urung dia menggeleng pelan. "Kayaknya aku nggak memerlukan apapun, kak."


"Kamu yakin?" Tanya Dimas memastikan. "Kamu bisa memilih apapun yang kamu mau. Camilan, es krim, atau.... mungkin yang lain?"


"Mmm...." ekspresi Meila tampak bingung.


Dimas berdecak ringan. "Ayolah, Sayang. Ambil apapun yang kamu suka. Tadi kamu bilang akan nurut sama aku, kan? Sekarang aku minta buat kamu membeli barang yang kamu butuhkan. Ayo, ambil."


Meila menghela napas ringan. "....okay, tapi... apa aku boleh ke sana?" Dia lalu menunjuk ke arah koridor lain. "Mungkin di sana ada sesuatu yang aku butuhkan?"


"Okay, kita ke sana,"


"Eh, nggak perlu, kak." Meila menyergah dengan cepat. "Maksudnya... a-aku cuma sebentar aja, kok." Dia memberi jeda sejenak sebelum kemudian memohon kembali sambil menilai wajah Dimas. "Ya?"


"Kamu yakin nggak mau ditemenin?"


Meila mengangguk dengan yakin.


Tatapan Dimas melembut, "yaudah, nanti kita ketemu di depan pintu masuk, ya? Dekat dengan kasir yang itu." Sambil menunjuk, memberi tahu Meila tempat dimana mereka bertemu nanti.


"Okay," jawab Meila sumringah.