
"Sayang, sarapannya udah siap. Cepatlah, atau kita akan terlambat ke kampus."
Suara Rendy yang memanggil Vika dari ruang makan membuat Vika menyadari jika dirinya sudah terlalu lama bersiap diri.
"Ya, Rendy. Aku datang." Sahutnya dari dalam kamar
Dia langsung bergegas untuk memastikan kembali penampilannya di cermin agar tidak ada yang kurang sedikitpun. Setelah dilihat semuanya sempurna, Vika langsung meraih tas dan keluar kamar dengan terburu-buru. Mendatangi Rendy yang sudah menunggunya di meja makan sambil memperhatikannya dari kejauhan.
"Kamu itu udah cantik. Model pula. Buat apa berdan-dan lama-lama? Hm?"
Vika tertawa mendengar ocehan Rendy yang sedang mengambilkan sepotong roti untuknya.
"Mungkin karena aku udah terbiasa." Cengirnya. Lalu, Vika mengingat kembali akan profesinya sebagai model yang cukup lama telah vacum. "Oh, ya, Rendy. Bicara soal model... apa kamu nggak keberatan jika nantinya aku kembali syuting dan pemotretan lagi? Kalo memang kamu keberatan.... aku bisa kok berhenti dari profesi aku." Vika menghela napasnya seraya melipat kedua lengannya ke atas meja makan. "Aku juga nggak mau mengambil resiko nantinya dan akan berimbas dengan hubungan kita."
Rendy terkekeh, dan itu membuat Vika bingung. "Jadi kamu pikir aku akan keberatan dengan profesi kamu sebagai model itu?" Menghentikan tangannya, Rendy meraih tangan Vika dan meremasnya lembut. "Vika, aku nggak akan masalah jika kamu kembali lagi pada pekerjaan kamu. Kamu boleh menjalaninya sampai di titik kamu merasa bosan. Aku nggak akan keberatan." Kelakarnya renyah hingga menular pada Vika. Dan tentunya dengan kalimat pengertiannya.
Vika pun ikut tertawa, tangannya bergerak menangkup tangan Rendy yang ada di tangannya.
"Kamu tau, Rendy? Aku beruntung memiliki kamu. Kamu itu selalu memikirkan kebahagiaan orang-orang terkasih yang ada di sekeliling kamu. Terima kasih karena selalu mendukungku." Vika berucap dengan kalimat manis.
"Asalkan kamu bisa membagi waktu antara kuliah dan pekerjaan, kamu nggak akan kesulitan untuk menjalaninya. Dan satu lagi, istirahat yang cukup juga penting buat kesehatan kamu." Ucap Rendy lagi mengingatkan.
Vika tersenyum dan setelahnya berucap dengan penuh keyakinan. "Kalo masalah itu kamu tenang aja, aku akan adil membagi waktuku. Itupun termasuk membagi waktu untuk kebersamaan kita. Aku nggak akan lupa. Karena itu udah masuk dalam list penting kita."
Rendy terkekeh sambil membawa tangannya untuk mencubit hidung Vika dengan gemas.
"Oh, ya? Apa nanti James nggak akan marah dengan itu?"
"Nggak lah, Ren. Dia itu memang bos aku, sekaligus kakak aku juga. Dia pasti akan menuruti kata-kata adiknya. Atau nanti, aunty El akan marah padanya." Kekehnya renyah sampai membuat Rendy ikut terbahak.
"Baiklah, apapun itu, sekarang kita sarapan atau kita akan benar-benar telat ke kampus. Buka mulut kamu!" Sambil memoleskan selai coklat ke atas roti Vika dan menyuapinya dengan penuh cinta.
●●●
Dengan langkah ringan, Sisil menuruni anak tangga sambil menggenggam beberapa buku di tangannya. Dia berjalan menuju meja makan dimana telah disediakam roti lapis kesukaannya. Ya, ibunya telah membuatkan roti lapis itu untuknya agar dia bisa sarapan dulu sebelum pergi ke kampus.
Dilihatnya meja makan yang tampak sepi. Hanya beberapa pelayan yang bolak-balik meletakkan sesuatu di sana untuk membantu ibunya. Tentu, tidak lain dan tidak bukan, Sisil sedang mencari ayahnya. Karena biasanya, pada saat ini pria itu telah duduk lebih dulu di kursi utama pada meja makan sambil membaca surat kabar. Namun, hari ini dia tidak melihatnya.
"Papa mana, ma?" Akhirnya suara itu keluar juga dari mulut Sisil.
Sambil meletakkan susu untuk Sisil, ibunya tersenyum lalu menjawab.
"Papa kamu udah berangkat satu jam yang lalu. Katanya ada meeting penting sampai nggak sempat sarapan." Sisil hanya ber-oh ria mendengar jawaban ibunya. Lalu, beberapa detik ibunya berpikir untuk meminta anaknya membawakan sarapan untuk suaminya karena jalan menuju kantor searah dengan kampusnya.
"Sisil, mama minta tolong, ya? Tolong bawakan sarapan buat papa. Keliatan tadi buru-buru banget mama juga belum sempat nyiapin sarapan."
Ekspresi Sisil tampak santai, tidak ada penolakan. Dia tetap mengunyah roti lapisnya sambil mengangguk diikuti dengan jawaban yang membuat ibunya senang.
"Iya. Mama siapin aja kotak makannya. Aku akan bawakan buat papa."
Sejenak, samar-samar Ibu Sisil mendesahkan napas lega. Sambil tersenyum, wanita itupun berujar.
Setelahnya, ibu Sisil langsung bergegas menuju dapur. Membiarkan putrinya menyelesaikan sarapannya sementara dirinya menyiapkan bekal kotak makan untuk suaminya sarapan di kantor nanti.
●●●
Meila mulai menggeliatkan tubuhnya yang masih berbalut selimut. Mengucek pelan matanya sambil membaca keadaan sekitar. Alisnya sedikit mengerut saat dia tidak melihat seseorang yang selalu menyapanya setiap pagi saat dirinya membuka mata.
Perlahan, Meila duduk dan bersandar ke kepala ranjang. Tidak sengaja, dia melihat ke arah meja nakas dan menemukan secarik kertas berwarna merah muda di sana. Dimana ada senampan set menu sarapan untuknya termasuk segelas susu hangat yang masih mengepulka uap panas dan juga segelas jus jeruk segar yang berdiri berdampingan. Tidak lupa juga ada semangkuk plain yoghurt yang sudah ditambahkan dengan irisan buah strawberry segar yang menggugah selera tentunya.
Meila mengambil kertas itu, membacanya, sekaligus dibuatnya tersenyum.
"Selamat pagi,
Aku harus menyelesaikan sedikit pekerjaan pagi ini. Aku sengaja nggak membangunkanmu karena aku nggak mau mengganggu mimpi indahmu. Ah, ya, aku juga udah menyiapkan sarapan sekaligus obat yang harus kamu minum. Jangan lupa dimakan sarapannya juga obatnya, ya? Aku akan kembali saat jam makan siang nanti."
*Yang mencintaimu*,
Dimas ♡
Membaca surat itu, Meila tidak bisa menyembunyikan senyum bahagianya. Dia sangat bersyukur karena dirinya tidaklah sendirian. Saat orang tuanya tinggal di luar negeri, masih ada Dimas yang memperhatikannya dan juga merawatnya dengan sangat baik.
"Terima kasih, kak..." Gumamnya seketika sambil membawa surat itu ke dadanya. "Kalo nggak ada kamu, aku nggak tau lagi harus gimana." Sambungnya dengan sedikit nada lirih dan senyuman getir bercampur haru.
Meila mengambil nampan berisi sarapan itu dan menaruhnya ke atas pangkuannya. Dia mulai menikmati sarapannya, merasakan rasa penuh cinta dari orang yang memiliki tempat di hatinya.
●●●
Sisil pun akhirnya sampai di kantor papanya. Dia mulai memasuki lobby kantor dan menuju meja resepsionis.
"Selamat pagi, nona. Mau bertemu pak Adrian?"
Resepsionis itu langsung menyapa Sisil saat dilihatnya menuju meja besar kayu berbentuk setengah lingkaran itu.
Sisil mengangguk. Sembari mengangkat kotak meja makan ke atas meja resepsionis.
"Langsung aja, nona. Beliau baru saja selesai meeting."
"Ok. Thanks." Sambil melengkungkan senyum tipisnya.
Disaat Sisil membalikkan badannya, tanpa sengaja dia bertabrakan dengan seorang pria bertubuh tegap berpakaian rapi. Entah sekencang apa benturan itu hingga berhasil mengeluarkan suara ringisan dari mulut Sisil.
"Aww!"
"Ups, sorry!" Pria itu menjawab dengan tanpa rasa bersalah.
Sisil berhasil dibuat kesal olehnya. Dengan sedikit mencebik, dia mengucapkan kata-kata ketus sambil memegangi bahunya yang sakit. "Lain kali, perhatikan jalanmu, tuan!" Ucapnya dengan nada menyindir disertai bola mata yang memutar sambil berjalan menuju lift.
Melihat adanya kekesalan yang menguar dari lawan bicaranya, pria tampan itu hanya menyeringai ringan sambil mengangkat kedua bahunya pelan. Melanjutkan langkahnya menuju meja resepsionis sambil memasang ekspresi penuh wibawa nan berkharisma.