A Fan With A Man

A Fan With A Man
Meluruskan Kesalahpahaman



Didahului dengan gelengan kepala, Meila mendorong perlahan sendok yang disodorkan Dimas padanya sebagai penutup suapan terakhir sesi makan malamnya.


"Cukup, kak. Aku kenyang." Ucapnya merengek.


"Sekali lagi, Mei. Suapan terakhir. Hm?" Dimas berusaha membujuk dengan pelan. Alhasil, meski dengan berat hati Meila pun menurutinya.


"Gadis pintar." Dimas berucap memuji disertai ibu jarinya yang bergerak mengusap bibir Meila dengan lembut.


Sembari meletakkan piring ke atas nampan, Dimas memberikan air minum padanya. Lalu mengupaskan sebuah jeruk sebagai pencuci mulut.


"Kak, aku boleh tanya sesuatu?"


Tanpa menghentikan tangannya mengupas jeruk, Dimas menjawab. "Katakan,"


"Kamu... udah kenal lama sama dokter... eh, om Yoga? Kalian keliatan akrab banget soalnya. Dia juga baik banget buat ukuran seorang dokter, lho?"


Perlahan Dimas menyuapi satu potong jeruk yang sudah dikupasnya ke dalam mulut Meila, lalu tersenyum padanya seraya menjawab.


"Om Yoga itu udah kayak keluarga aku sendiri. Papa dan Om Yoga udah berteman baik sejak aku masih kecil. Bahkan saking akrabnya mereka, papa sampai harus menitipkan aku sama Om Yoga tiap kali orang tua aku ada perjalanan bisnis ke luar kota atau luar negeri." Dimas menjelaskan dengan pelan. Dengan kalimat yang mudah dipahami.


"Aku pun udah menganggapnya seperti om-ku sendiri. Beliau selalu membantu aku setiap aku butuh pertolongannya. Entah itu berkaitan dengan profesinya atau diluar dari itu." Dimas terkekeh geli seraya mengingat masa remajanya. "Makanya, aku perkenalkan kamu sama dia biar kamu bisa merasakan kebaikannya juga."


Meila tersenyum mendengar penjelasan Dimas. Dan setelahnya, terdengarlah suara seseorang yang sedang mereka bicarakan.


"Malah om yang merasa beruntung karena bisa mengenal dan membantu kalian."


Di ujung pintu, rupanya telah ada Yoga yang akan memasuki kamar rawat Meila dan tidak sengaja mendengar percakapan mereka. Mendengar suara Yoga diantara mereka, keduanya sama-sama menolehkan kepala. Dimas langsung mempersilahkan Yoga masuk, sedangkan Meila dengan eskpresi sedikit canggung berusaha menutupinya dengan senyuman.


Yoga berjalan perlahan mendekati ranjang, diikuti oleh seorang suster yang membuntutinya dari belakang. "Maaf kalo om mengganggu waktu kalian. Tapi om harus mengecek kondisi kamu untuk memastikan sekali lagi. Apakah besok sudah bisa pulang dari rumah sakit ini, atau masih harus menjalani perawatan lagi." Sambil mengeluarkan stetoskop dari kantung jasnya, Yoga tampak berucap ramah.


Melihat Yoga yang akan melakukan tugasnya, Dimas sedikit berdiri dan menyingkir menjauh dari ranjang. Pria itu tampak memperhatikan.


Sementara Yoga langsung melakukan tugasnya memeriksa kondisi Meila secara keseluruhan dengan dibantu seorang suster. Tak terkecuali pemeriksaan pada bagian luka jahit di perutnya yang merupakan hal utama yang harus diperhatikan.


Melihat raut wajah Yoga yang tampak tenang, sudah dapat dipastikan jika tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan dari kondisi Meila.


"Bagus. Kondisinya sudah jauh lebih baik." Ucapnya seketika. Melepaskan stetoskop dari telinga. "Apa masih ada yang kamu rasakan? Seperti rasa sakit atau nyeri?"


Meila menggeleng pelan. "S-sedikit, om. Kadang... masih ada rasa nyeri. Terutama di dekat luka jahitannya." dia berusaha berucap jujur.


"Tidak apa-apa. Itu wajar karena jahitannya masih belum mengering dengan sempurna. Tetapi semuanya terlihat baik. Kondisi kamu semakin membaik dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Luka jahitannya juga berangsur akan mengering. Kamu bisa pulang dari rumah sakit ini besok."


Mendengar kabar baik akan kondisinya, membuat Meila senang hingga tidak bisa menyembunyikan senyumnya. Tak terkecuali Dimas yang tampak memperhatikan dan ikut tertular oleh senyuman Meila.


"Terima kasih, om..." ucap Meila yang tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.


Yoga tersenyum menyahuti. Lalu, dia memerintahkan kepada suster itu untuk membuatkan laporan kesehatan Meila sebagai bukti dan diberikan sebelum meninggalkan rumah sakit. Kemudian, setelah suster itu keluar lebih dulu dari ruang rawat, setelahnya barulah Yoga mengundurkan diri dan membiarkan Meila untuk beristirahat.


"Baiklah kalau begitu, kalian beristirahatlah. Hasil tes kesehatannya akan diberikan besok." Ucap Yoga. "Dan kamu, segera pulih, ya." Sambungnya pada Meila sembari mengedipkan matanya.


Dan dengan mudahnya, Meila langsung tersenyum disertai anggukan kepala.


"Terima kasih, om." Ucap Dimas menimpali.


Setelahnya, dokter Yoga berbalik badan dan berjalan ke arah pintu. Namun, saat langkah kakinya akan keluar, kepalanya menoleh tiba-tiba disertai seringaian ringan disusul dengan kalimat bernada mengingatkan yang dibubuhi dengan ledekan.


"Oh, ya, Dimas, jangan lupa untuk mengingatkan kekasihmu agar melakukan check-up selama satu bulan kedepan. Kamu pasti sudah memberitahunya, kan?" Sambil melirikkan matanya ke arah Meila yang langsung tersipu dan sedang berusaha memalingkan wajahnya dari kedua pria itu.


Melihat lirikan mata Yoga yang mengarah pada Meila, membuat Dimas juga ikut menoleh. Dia ikut menipiskan bibirnya seraya menjawab.


Diawali dengan anggukan, Dimas menjawab dengan tegas diikuti lirikan nakal. "Siap, om. Aku akan mengingatkan gadisku ini."


Mendengar kalimat Dimas yang ikut menimpali, wajah Meila semakin memerah padam. Sedangkan dokter Yoga yang terlihat puas karena berhasil menggoda gadis polos itu, menyeringai lebar sembari melanjutkan kembali langkahnya.


Sementara Dimas yang melihat gadisnya tersipu malu, tidak tahan untuk menangkup kedua sisi wajah Meila dan menciumi kening serta kedua pipinya yang merona dengan gemas.


"Sayang-nya aku lagi tersipu malu rupanya." Kekehnya ringan sembari membawa Meila ke dalam dekapan. Refleks, Meila langsung menyembunyikan wajahnya di balik dada bidang Dimas. Lalu, tersenyum malu-malu di sana sambil melingkarkan lengannya ke punggung kokoh pria itu dengan nyaman.


●●●


Suara Bel dari arah pintu utama menghentikan langkah Vika yang baru akan menuju dapur. Pandangannya mengitari sekeliling, tidak didapatinya sosok Rendy yang entah dimana keberadaannya.


Dengan langkah pelan dan hati-hati karena pergelangan kakinya yang masih terasa ngilu, Vika berjalan dengan sedikit menyeret. Lalu, membukakan pintu untuk mengetahui siapa yang bertamu malam ini.


Begitu pintu terbuka, dia langsung disambut dengan satu bucket bunga lily putih berukuran besar yang menutupi wajah si pendatang. Kedua alis Vika mengernyit. Dan beberapa saat kemudian, sosok itu memperlihatkan wajahnya. Didetik itulah terlihat jelas siapa sosok dibalik bucket bunga tersebut.


"James!" Pekik Vika sumringah.


Dialah James. Pria tampan half-british yang begitu memukau dengan penampilan santainya. Hanya dibalut dengan jeans, kaus turtle neck berwarna navy yang dipadu padankan dengan jaket kulit hitam berkerah. Tanpa jas, kemeja, dasi, ataupun sepatu mengkilap sebagai penunjang penampilan kantornya.


"Bunga yang cantik untuk gadis yang cantik." James memberikan bucket bunga itu kepada Vika layaknya seorang pria gentlemen. Dan Vika menerimanya dengan senyuman yang tak kalah bahagia.


"Aku yang menghubunginya." Suara Rendy yang muncul dari arah belakang mengambil alih pembicaraan mereka dan menyahutinya sambil berjalan mendekat.


Dengan kepala mendongak Vika berucap. "Kamu?" Tanyanya tidak percaya. Sementara James tampak mengawasi dengan senyuman.


"Aku sengaja memberitahunya tentang keadaan kamu. Sekalian aku juga ingin meluruskan kesalahpahaman waktu itu. Dan... sekaligus juga sebagai tanda permintaan maaf aku untuk perlakuan kasarku beberapa waktu lalu." Ucap Rendy tulus sambil menatap James dengan tatapan yang teduh. "Thanks udah mau datang ke sini, bro." Sedangkan James, tampak mengangguk setuju dengan isyarat kedipan mata.


Melihat perubahan sikap Rendy pada James yang sudah membaik, membuat Vika senang.


"Masuklah, aku yang akan membuatkan minuman. Kamu temani dia, ya."  Rendy mempersilahkan James masuk dan menyuruh Vika untuk menemaninya.


Setelahnya, James dan Vika langsung menuju ruang tamu utama dan mulai mengobrol layaknya adik kakak. Sedangkan Rendy, yang berada di dapur terlihat mengawasi sambil sesekali tersenyum lebar melihat keduanya yang tampak akur.


"Bagaimana dengan kakimu?" Melihat pergelangan kaki Vika yang masih sedikit memar, tak elak membuat James menanyakan kondisinya.


Kepalanya menunduk untuk menatap kakinya. "It's much better, kak." Memarnya memang belum sepenuhnya hilang, tapi percayalah nggak ada rasa sakit lagi, kok." Sahut Vika meyakinkan yang dibubuhi dengan senyum tipisnya.


"So happy to hear that." Terdengar desahan lega di sana.


Beberapa saat kemudian Rendy datang dengan membawa nampan minuman disertai cemilan ringan. Mereka menikmati kebersamaan yang baru saja terjalin antara James dan Rendy dengan sangat akrab. Sama-sama bertukar cerita dan canda hingga menciptakan kedamaian yang nyata.


●●●


Sisil baru saja selesai membersihkan diri sekaligus mengeringkan rambutnya yang basah. Suara ketukan pintu membuatnya mengurungkan langkahnya yang akan menuju meja rias dan beralih ke arah pintu.


Perlahan, dia membuka pintu kamarnya sebelum kemudian melemparkan handuk yang ia gunakan ke atas tempat tidur. Dan ternyata, ibunya lah yang datang untuk membawakan segelas susu hangat untuknya.


"Sisil, mama bawakan segelas susu hangat ini untuk kamu. Diminum, ya."


Ibu Sisil memberikan susu itu pada Sisil yang langsung diterima olehnya.


"...thanks..."


"Kalo gitu... selamat istirahat, ya. Jangan terlalu malam. Diminum susunya selagi masih hangat." Sambil mengangkat tangannya mengusap bahu Sisil.


"Selamat malam, sayang." Ucapnya lagi sambil mengingatkan dan terdengar sangat lembut.


Sisil menanggapinya tanpa ekspresi. Namun terdengar adanya gumaman pelan dari bibirnya.


Setelah itu ibunya langsung kembali meninggalkan Sisil seorang diri yang masih betah berdiri di depan pintu dengan tangan sambil memegang gelas susu. Samar-samar, sebuah senyuman tipis muncul begitu ibunya sudah hilang dari pandangannya, lalu beralih pada segelas susu di tangannya.


"Good night, mom." Gumamnya seorang diri sembari menutup pintu kamarnya kembali.


Beralih pada kediaman Pratama, James yang masih bersenda gurau tampak melirik ke arah jam tangannya. Pria itu mengerutkan keningnya sebelum kemudian mengucapkan kalimat berpamitan pada Rendy dan Vika.


"Sepertinya waktu sudah semakin malam. Aku harus kembali ke apartemen."


"Baiklah. Thanks udah mau dateng menjenguk adikmu ini. I'm so happy." Vika menyahuti dengan senang disertai senyum puas.


"Nevermind, sissy." Jawab James sembari bangkit dari sofa. Diikuti dengan Rendy dan Vika yang sama-sama berdiri dan mengantarnya sampai pintu utama. "Ah, ya. Jangan pikirkan pekerjaanmu dulu. Kamu bisa istirahat selama yang kamu mau. Aku yang akan mengurus semuanya."


Sahut James lagi saat dia berpikir jika Vika akan memikirkan pekerjaannya yang akan tertunda semakin lama lagi.


Mendengar James yang mengetahui kekhawatirannya, Vika tampak senang hingga memperlihatkan senyuman lega.


"I trust you, James. Thank you sooooo much!"


"Thanks James untuk kedatangannya. Gue harap, next time kita bisa kumpul kayak gini lagi kedepannya. Dan mungkin... bersama dengan teman yang lain juga. Iya, kan?" Rendy ikut menimpali. Tak lupa juga dia meminta pendapat dari Vika.


"Tentu." Jawab Vika dengan setuju. "Siapa tau ada yang cocok denganmu." Sindirnya lagi. Sontak semuanya tertawa mendengar kelakar Vika.


Dan James pun berpamitan. Mengendarai mobilnya keluar dari halaman rumah Rendy sambil membunyikan klakson mobil yang langsung disambut lambaian tangan dari keduanya.


Setelahnya, Rendy dan Vika kembali masuk saat mobil James mulai hilang dari pandangan tanpa jejak.


"Thank you karena udah mengundangnya." Ucap Vika tiba-tiba.


Sambil menutup pintu, perlahan tangan Rendy terangkat merangkul bahu Vika dan menariknya merapat.


"Apapun untukmu," sahutnya. Lalu, sambil mendekatkan wajahnya pada Vika, Rendy berucap nakal untuk menggodanya. "Ada lagi hal yang mau kamu lakuin sebagai tanda terima kasih?"


Vika mengerti. Dia tersenyum dan memajukan wajahnya dengan kepala menengadah. "Kalau......" dan satu ciuman mendarat ke bibir Rendy. "....ini....?" Vika melepaskan bibirnya dari ciuman sekilas itu. Lalu, menatap Rendy dengan tatapan gemas dari mata indahnya.


Rendy memutar tubuhnya agar saling berhadapan dengan Vika sambil mengangkat kedua tangannya untuk menangkup wajah Vika. Kemudian berbisik dengan wajah yang sangat dekat.


"Tapi akan lebih menarik lagi jika sebuah ciuman itu mendapatkan balasan, bukan?" Dan tanpa menunggu Vika menjawab, Rendy sudah mendaratkan ciuman ke atas bibir Vika dengan lembut, menciumnya dengan hangat dan menggodanya. Lalu melepasnya dan saling tersenyum dengan dahi yang saling menempel.


"...I love you... No matter what!"


"You did better know how I feel you, Rendy." Vika menyahuti dengan suara yang tak kalah pelan hingga keduanya dapat merasakan deru napas masing-masing menerpa wajah mereka.