
"Ap...apa?" Airin memekik kaget.
Gue nggak salah denger, kan? Kak Bryant sebut tante Monic mamanya?
"Iya. Yang lagi sama mama kamu itu nyokap aku." Bryant lagi-lagi hanya menjawab dengan nada enteng. Semakin membuat Airin heran bukan kepalang.
Ya! Dia adalah Monica Gunawan, seorang desainer senior terkenal dikalangan konglomerat. Wanita cantik paruh baya itu tampak elegan dengan pakaian dipakainya. Meski tampak kerutan disudut matanya, namun tidak menghilangkan kesan modis dengan tatanan make-up tipis yang dipoleskan ke wajahnya.
Airin dan Bryant menghampiri ibu mereka masing-masing secara bersamaan. Tampak dari kejauhan keduanya sangat akrab, dan tentunya Airin sudah lama mengenal Monica. Tapi mengapa ia baru mengetahui jika dia adalah ibu Bryant, kakak seniornya?
"Eh... anak mama akhirnya datang juga. Gimana kuncinya? Udah dapet?"
Dia adalah Windy, ibu dari si gadis tomboy bernama Airin. Dialah yang lebih dulu menyadari kedatangan anak gadisnya dan langsung menyambutnya dengan hangat. Tak beda jauh dari Monica yang saat itu hanya memperhatikan percakapan Airin dan Windy dan hanya ikut tersenyum.
"Udah, mah.. nih... kuncinya." Jawab Airin sambil mengangkat kunci ditangannya ke udara.
"Syukurlah, Sayang. Mama pikir, kita nggak bisa urus kuncinya lagi," sanggah Windy dengan memasang wajah lesu.
"Syukur deh, Win.. aku pikir kalo kalian belum dapet kunci kamar, kalian menginap di kamarku aja, kebetulan kamarku double-room." Ucap Monica menimpali.
Airin tersenyum mendengar niat baik Monica yang terdengar tulus ditelinga, "terima kasih banget untuk tawarannya, tante. Tapi aku udah dapet kuncinya, kok. Jadi nggak perlu ngerepotin tante Monic malam ini." Ujar Airin disertai cengiran.
"Nggak akan ada kata repot kalo untuk kalian," jawab Monica kemudian. Dan didetik itulah, disaat yang bersamaan, tiba-tiba Bryant muncul dari arah punggung Meila dan langsung mengambil alih berdiri disamping Monica.
"Maaf, ma... kelamaan nunggu. Tadi abis urus sesuatu dulu." Ucap Bryant singkat,
"It's okay. Mama disini sama temen mama kok. Oiya, kamu belum kenalan sama Windy," Monica menjawab dengan ramah dan juga lembut, tampak suara kasih sayang akan anaknya tidak ditutupi.
"Win, kenalin, ini putra semata wayangku. Bryant Adi Gunawan. Dan Bryant... ini temen mama, tante Windy," Monica menjelaskan dengan ramah sambil mengarahkan tangan Bryant untuk memberi salam pada temannya.
"Halo, tante... Aku Bryant," Bryant mencium tangan Windy dengan sikap hormat setengah membungkuk.
Windy begitu senang bisa mengenal anak semata wayang Monica yang begitu sopan, yang sebelumnya sudah pernah diceritakan. Sekilas ingatan keduanya yang tadi datang secara bersamaan teringat kembali, Windy melirik Airin sekilas dan mendapatkan wajah Airin yang tampak memerah seperti menahan sesuatu.
"Loh, Rin.. kenapa diem aja, kenalan dong sama Bryant. Dia itu anak tante Monica loh," Windy mulai mengompori Airin, dan malah semakin menambah panas pipinya
"Iya, Rin. Kayaknya tadi kalian dateng barengan, deh. Apa udah saling kenal?" Tanya Monica penasaran, sesekali matanya melirik ke arah Airin dan Bryant secara bergantian.
"Aku sama Airin satu kampus, ma. Lebih tepatnya, Airin junior aku di kampus tempat aku pertukaran pelajar itu," Sambar Bryant menjelaskan dengan santai.
"Oh ya?" Windy lah yang merespon lebih dulu, matanya membelalak sambil memindai ekspresi anak gadisnya.
"Kok kamu nggak pernah cerita ke mama, Rin?"
Airin membelalak, dia sungguh terkejut dengan tanggapan yang mamanya berikan, seperti sedang meledek anak gadisnya.
Apa-apaan deh mama ini, omongannya malah semakin bikin anaknya terpojok.
"Eh! Itu....hmmm" tenggorokan Airin seolah tersekat tidak bisa mengumpulkan kata yang akan diucapkannya.
Terlihat jelas jika Airin sangatlah gugup. Dan itu bukanlah Airin seperti biasanya. Bryant menipiskan bibirnya sesaat, melirik ke arah Airin dengan wajah memerah menahan gugup.
"Oh! Kebetulan kita satu instansi dan satu tim dalam keanggotaan senat, tante. Makanya kita udah cukup akrab," jawab Bryant menengahi,
Mendengar penjelasan Bryant, membuat Monica dan Windy ber-oh ria mengangguk paham secara bersamaan.
Airin mendesah pelan, bersyukur bahwa dia tidak harus mencari-cari jawaban atas todongan pertanyaan dari mamanya. Dengan ragu-ragu, matanya melirik ke arah Bryant, dilihatnya pula Bryant sedang menatapnya dalam diam, lalu kemudian bibir Bryant membentuk sebuah senyuman yang mampu menyejukkan hati. Bryant mengedipkan matanya perlahan, seolah memberikan isyarat bahwa dia tidak perlu berpikir macam-macam lagi.
●●●
Sepasang sejoli itu sedang berjalan dijalanan komplek yang cukup ramai dengan tangan sambil bertautan satu sama lainnya. Sang pria tidak berhenti melepaskan tangannya untuk menggenggam sang gadis yang saat ini terlihat menampakkan senyum lebarnya dibawah pancaran sinar matahari yang begitu cerah.
Ya! Seperti janji Dimas semalam, dan sesuai permintaan Meila padanya, mereka saat ini sedang berjalan-jalan menghirup udara segar menuju taman komplek dekat perumahan. Tidak menggunakan kendaraan, dikarenakan jarak antara taman dari rumah Dimas yang sangat dekat.
"Aku nggak nyangka ternyata rame juga disini," Meila berucap sambil melengkungkan bibirnya membentuk senyuman riang, begitu pandangannya melihat banyak kerumunan orang yang sedang berolahraga ringan, atau hanya sekedar untuk menghirup udara segar seperti dirinya.
Dimas mengeratkan genggamannya ditangan Meila, meremasnya dengan lembut, "namanya juga taman, Mei. Nggak akan pernah sepi." Ujarnya disertai dengan kekehan kecil. "Sama seperti aku yang nggak akan pernah merasa sepi kalo ada kamu," sambung Dimas kemudian dengan godaan, seketika membuat wajah Meila terasa panas ke permukaan.
"Kakak.... jangan buat aku malu. Disini banyak orang, aku nggak mau jadi pusat perhatian," kepalanya tertunduk disertai wajah yang tersipu.
Dimas pun terekeh geli, "oh, berarti kalo bukan ditempat ramai boleh?" Sambar Dimas menimpali. Dan reaksi Meila hanya menolehkan kepalanya cepat dengan mata membelalak seperti tatapan sedang memperingati. Dimas pun terkikik geli tidak bisa menahan tawanya.
"Tenang aja... aku tau batasanku, kamu nggak perlu khawatir untuk itu," dengan kepala tertunduk, Dimas berbisik tepat didepan telinga Meila. Bisikan yang membuat pipi Meila memerah dan terasa panas namun diselipi dengan senyuman dari bibir tipisnya.
Keduanya masih lanjut berjalan, mereka sudah memasuki pintu gerbang besar yang dipenuhi dengan hiasan bunga-bunga penuh warna sepanjang jalan masuk menuju taman. Ada juga para penjual camilan ringan di pinggir sekitar taman yang ramai akan pembeli.
Tangan Dimas menarik Meila untuk mengikutinya. Bukan! Bukan untuk membeli sebuah camilan, tetapi menuju kolam ikan hias yang dipenuhi dengan tanaman teratai. Meila mengerutkan alisnya ingin tahu, tapi sebelum mulutnya mengeluarkan sikap protesnya, Dimas sudah lebih dulu memberikan alasan.
"Kamu pasti akan suka kalo aku ajak kesana," Dimas membentuk sebuah senyum mencurigakan, lalu seberkas ide muncul dikepalanya. "Tapi kayaknya... akan lebih indah dengan mata tertutup."
Tanpa membiarkan Meila protes, Dimas berdiri beriringan, sedikit agak mundur ke belakang dari posisi Meila. Dan tanpa aba-aba langsung menutup kedua mata Meila menggunakan tangannya yang besar.
"Ssshh... bicaranya nanti, cukup ikutin aja." Seolah Dimas tau jika Meila akan mengeluarkan protesnya karena kebingungan, pria itu membisikkan sedikit kalimat untuk meyakinkan gadisnya dan mengikuti perintahnya.
Mereka mulai berjalan pelan-pelan, dengan Meila memegang pergelangan tangan Dimas. Mulai dari menuruni lima anak tangga ke bawah, lalu berbelok melewati tempat bermain anak-anak yang dipenuhi dengan playground, serta sepetak rumah kaca berukuran sedang dan barulah sampai ke tempat yang Dimas maksudkan.
"Kak Dimas, kamu nggak aneh-aneh kan?"
"Percaya sama aku. Sedikit lagi sampe kok. Ya! Tiga langkah lagi," Dimas memberi isyarat jika mereka sudah sampai, hal itu terasa ketika Dimas tidak mengarahkan lagi Meila untuk mengikutinya.
Mereka berhenti tepat didepan bibir kolam yang hanya berselisih dua jengkal saja dari permukaan tempat mereka berdiri. Dimas merapatkan tubuhnya pada Meila yang saat itu masih belum memberikan instruksi apapun.
Dimas menunduk, membisikkan kalimatnya ke depan telinga Meila. "Setelah aku melepaskan tangan ini dari mata kamu, kamu buka mata kamu dengan perlahan setelah aku kasih aba-aba, okay...?"
Meila mengangguk paham atas apa yang Dimas perintahkan. Setelah melihat respon dari Meila, Dimas melepaskan tangannya dari mata Meila, membiarkan gadis itu membuka matanya perlahan. Meila mendesah pelan, matanya mulai membuka disertai dengan hembusan angin yang bertiup dengan sejuk.
Ketika matanya sudah membuka sempurna, Meila langsung membelalak penuh takjub dengan pemandangan indah yang ada didepannya saat ini. Tanpa sadar, mulutnya terbuka -seperti mengeluarkan kata wahh!- karena tidak sanggup hanya membiarkan matanya saja yang menikmatinya.
"Kak.... i-ini....." ucap Meila dengan takjub, seolah kata-kata saja tidak bisa untuk diungkapkan. Dimas mengangguk pelan disertai kedipan matanya.
"Aku nggak tau kalo di taman ini ada kolam besar kayak gini..." matanya mulai mengawasi tiap jengkal isi kolam, "ini indah banget, kak... aku suka." Kepalanya menoleh ke arah Dimas yang masih merapatkan tubuhnya pada Meila, membuat gadis itu mendongak ke atas hanya untuk menatap Dimas.
Dimas tersenyum lembut, membalas tatapan Meila. Tangannya merengkuh pinggang Meila, semakin merapatkan kedalam pelukannya.
"Sebenernya aku juga baru inget kalo di taman ini ada kolam besar yang pasti akan kamu sukai..." Dimas menundukkan kepalanya, menggesekkan pipinya ke pipi Meila dengan gerakan lembut, "rencana ini baru aku pikirkan begitu kita udah masuk ke dalam taman ini." Bibirnya bergerak mencium pelipis Meila, membuat Meila tersenyum malu atas perlakuannya. "Dan dugaan aku benar, kan? Kamu terlihat menyukainya." Dimas berbisik kembali dengan nada suara menggoda, membuat Meila tersipu malu diselingi dengan senyuman rasa senang yang tidak bisa disembunyikan lagi.
●●●
Bukan tanpa alasan Dimas berlaku manis, dikarenakan melihat penampilan Meila yang tampak imut membuat Dimas ingin selalu memanjakannya. Gadis itu memakai sweater lengan panjang berwarna abu-abu lembut dengan ukuran yang melebihi ukuran tubuhnya yang mungil, disertai celana olahraga ketat berbentuk legging dan sepatu sneakers putih. Meski memakai legging yang cukup ketat hingga biasanya akan menjiplak bentuk bokong, hal itu tidak dengan Meila, sweater oversize yang dipakainya telah menolongnya dari lekukan tubuh yang akan dilihat oleh orang-orang yang ada ditaman itu.
Rambutnya dibiarkan digerai begitu saja, membuat Meila terlihat semakin imut dan tenggelam oleh pakaian yang dipakainya.
Rasanya memang kurang mengasyikkan jika melihat kolam yang penuh dengan ikan hias cantik tapi tidak melakukan sesuatu untuk memancing kerumunan ikan agar mendekat. Setelah memutari taman dan puas bermain di arena bermain, keduanya kembali ke tempat dimana menjadi spot favorit Meila diantara seluruh spot yang ada.
Dimas membelikan sekantung kecil makanan ikan berbentuk pelet kecil yang memang diperuntukkan makhluk air nan imut juga kecil itu. Dimas membiarkan Meila yang memberikan makanan itu ke kolam, sedetik ketika beberapa pelet ikan itu jatuh ke kolam, didetik itulah kerumunan ikan kecil mengerubungi makanannya, seolah sedang berusaha berlomba agar tidak kehabisan umpan yang diberikan olehnya.
Rasa bahagia pun menyelubungi hati Meila, bibir merah muda nan tipis itu tak henti-hentinya untuk memberikan senyuman lepas, disertai pancaran matanya yang berbinar ketika setiap ikan-ikan kecil menyambut makanan yang dilemparnya ke kolam.
Ketika angin berhembus menerpa rambutnya hingga hampir menghalangi mata Meila, Dimas lah yang dengan cepat menyelipkan rambut itu ke belakang telinga Meila dengan lembut, dan diakhiri dengan usapan sayang di kepala gadisnya.
Setelah selesai memberi makan ikan kecil di kolam, mereka duduk di bibir kolam sambil menghirup angin segar tepat dibawah pohon besar nan rindang.
"Kamu seneng hari ini?" Dimas berucap begitu pandangannya menangkap Meila yang tampak sumringah.
Meila menoleh, mengangguk dengan anggukan pasti tanpa ada keraguan diwajahnya. "Seneng banget!"
Meila terdiam, matanya melihat ke bawah, lalu menoleh kembali ke arah Dimas untuk berucap sesuatu.
"Terima kasih karena udah ajak aku kesini. Aku seneng banget bisa menikmati udara segar di taman ini," ucapnya disertai dengan senyuman tulus.
"Sama-sama. Aku bahagia kalo kamu juga bahagia, Mei..." jawab Dimas disertai senyuman yang tak kalah lembut.
"Mau es krim?" Dimas bertanya pada Meila, begitu ingatannya akan es krim muncul di kepala, langsung ditawarkannya es krim itu pada Meila yang tadi malam sangat antusias begitu mendengar ajakannya untuk menikmati sebuau es krim. Dan benar saja, mata Meila membelalak sempurna dengan antusiasme yang terpancar dari matanya yang berbinar. Gadis itu mengangguk dengan ekspresi setengah memohon.
Dimas tersenyum, kepalanya menoleh ke arah belakang, mencari-cari sesuatu yang diinginkannya. Dan ingatan Dimas kembali pada kedai es krim yang berada di dekat pintu masuk taman dekat dengan halaman parkir.
"Kamu tunggu disini. Aku akan beli es krim buat kita, di kedai dekat halaman parkir tadi," ujar Dimas memerintah, tangannya memegang bahu Meila, "jangan kemana-mana, okay?"
Meila mengangguk patuh atas perintah yang Dimas ucapkan, gadis itu tidak berniat membantah ataupun merengek meminta Dimas mengajaknya ikut bersamanya, justru malah menjadi seorang Meila, gadis manis yang penurut.
"Gadis pintar!" Tangan Dimas mengusap lembut rambut Meila dengan singkat, "kalo ada sesuatu yang mencurigakan, kamu teriak, okay?"
"Okay," jawab Meila dengan patuh.
Dimas beranjak berdiri, melangkah membelakangi Meila yang duduk sendiri di dekat kolam dengan senyuman lebar menghiasi wajahnya. Namun, dibalik senyuman yang Dimas lihat itu, entah mengapa perasaan Dimas seperti tidak mengenakkan, seperti ada perasaan ingin membawa Meila pergi secepatnya lalu melindunginya. Dia bisa saja mengajak Meila untuk ikut bersamanya mengantri es krim, tapi Dimas tidak mau membiarkan gadisnya berkerumun ditengah-tengah pengunjung yang mengantri. Ditengah pikiran yang mengganjal itu, dia langsung membawa langkahnya lebih cepat agar segera sampai dan kembali secepatnya membawa es krim itu untuk gadisnya.
●●●
Beno terlihat baru keluar dari mobilnya dengan gerakan santai dan pandangan mencurigakan. Dengan langkah santai namun pasti, dia berjalan membelah hingar bingar pengunjung yang sedang memadati taman dengan kedua tangan dimasukkan kedalam saku sweaternya. Ya! Beno datang ke taman dimana Dimas dan Meila berada. Tadi, ketika dia berusaha memata-matai kegiatan didalam rumah Dimas, tidak sengaja dirinya mendengar percakapan salah satu petugas keamanan yang mengatakan bahwa tuan rumah dan teman wanitanya sedang berjalan-jalan ke taman komplek.
Bagaikan kesempatan emas untuk Beno, tanpa membuang-buang waktu lagi dirinya langsung menancapkan gas mobilnya menuju taman komplek yang didengarnya.
Dan disinilah dia. Ditaman yang penuh dengan kerumunan orang, yang jika melakukan sesuatu, setidaknya akan tersamarkan oleh kasat mata. Langkahnya mulai menapaki pintu masuk menuju taman, dengan sedikit mengamati orang-orang sekitar sambil mencari keberadaan target utama, yaitu Dimas, sang penghalang di segala rencananya.
Good Place! Gue akan lakuin disini. Lo sendiri yang memilih tempatnya, Bung!
Ditempat lain, Meila terlihat gelisah menunggu Dimas yang belum juga datang hampir setengah jam lamanya. Dia berniat untuk menyusul Dimas ke kedai es krim yang tadi pria itu ucapkan.
"Kak Dimas kenapa belum dateng juga, ya? Apa aku susul aja?" Meila bergumam sendiri ketika matanya memindai satu persatu pengunjung yang berdatangan dan melewatinya.
Meila bangkit dari tempatnya duduk. Kakinya mulai menapaki jalanan setapak ditengah-tengah rerumputan taman dengan hati-hati. Pandangannya tak henti mencari-cari keberadaan Dimas ke segala arah di tiap sudut-sudut taman terutama ke setiap kedai minuman.
Beno megawasi setiap orang yang berjalan, terutama untuk pengunjung yang datang berpasangan, karena memudahkannya untuk menemukan Dimas. Matanya mengawasi ke setiap kedai makanan dan minuman yang dia lewati sepanjang pintu masuk taman, dia berpikir mungkin saja mereka sedang membeli sebuah camilan seperti cotton candy layaknya pasangan diluar sana yang dibutakan oleh cinta.
Ketika langkahnya baru akan memasuki sebuah area bermain, tiba-tiba mata tajamnya menangkap sosok tinggi nan tegap juga kekar baru selesai membeli dua buah es krim ditangannya. Matanya menyipit begitu mengetahui Meila sedang tidak bersamanya. Kemana Meila? Kenapa pria itu tidak bersama Meila?
Pikiran itu mulai berkecamuk di benak Beno. Namun sesaat kemudian, pikiran pertanyaan yang menumpuk dikepalanya berubah menjadi kebahagian. Jika Meila tidak sedang bersamanya, itu akan memudahkannya melakukan rencana untuk melenyapkan Dimas, bukan?
Beno menyeringai, wajahnya dipenuhi senyuman licik yang tidak ditutupi lagi.
"Ini saatnya, Bung! Lo akan merasakan sedikit sakit. Tapi setelahnya lo akan merasa lepas tanpa beban!" Gumaman itu terbang ke udara seiring dengan kekehan licik tanpa suara. Beno mulai menghampiri Dimas dengan setengah mengendap, kepalanya sesekali menunduk dengan mata tajam yang memutar sambil membaca situasi sekitar.
Disaat yang bersamaan, Meila sedang mencari Dimas ke tiap sudut kedai satu persatu. Dilihatnya setiap pria yang baru selesai membeli es krim, namun beberapa pria itu bukanlah pria yang dicarinya. Matanya sedikit ditajamkan lagi, mungkin dia yang tidak teliti mencarinya. Dan benar! Hanya hitungan detik saja mata polos dan indah itu menangkap sosok tegap bertubuh kekar baru saja keluar dari kedai es krim tempat Dimas membelinya.
Senyum mengembang di wajah Meila. Tangannya tidak sabar untuk melambai ke arah Dimas, ingin memberitahunya bahwa dia sedang menunggunya diseberang tak jauh dari tempatnya beranjak.
Ketika tangannya melambai ke arah Dimas, dan dengan cepat pria itu merespon lambaian tangannya, betapa senangnya Meila melihat Dimas yang sedang menghampirinya dengan membawa dua buah es krim ditangannya. Namun seketika, hatinya seakan dihantam batu besar begitu matanya menangkap sosok berpakaian serba hitam yang sangat familiar dengan ingatan dan penglihatannya. Matanya menyipit disertai kening yang berkerut, namun sedetik kemudian, matanya membelalak sempurna ketika kepalanya menemukan sebuah nama yang membuatnya terkejut dengan hembusan napas kasar namun lemas disertai kecemasan.
B-beno... Ngapain dia berjalan menghampiri kak Dimas?
Semakin lama langkah Beno semakin cepat. Disertai dengan gerakan sebelah tangannya yang bergerak ke belakang untuk mengambil sesuatu yang diselipkannya. Benda itu berbentuk panjang dan lancip diujungnya, dengan dua mata sisi tajam yang berkilat terkena cahaya. Jantung Meila seakan bergemuruh tatkala kecemasannya tak terbendung lagi.
Apa yang akan dilakukan Beno ke kak Dimas? Kenapa gerak-geriknya mencurigakan? Dan pisau itu.......
Perasaan macam apa ini? Perasaan akan takut kehilangan yang belum pernah dirasakan sebelumnya.
"Aku harus menyelamatkan kak Dimas. Aku nggak mau kak Dimas terluka karena melindungi aku. Ya! Ini saatnya untuk membalas semua kebaikan kak Dimas ke aku." Sambil bergumam pelan dibalut suara bergetar, Meila mulai berlari menghampiri Dimas, setidaknya mencegah kemungkinan yang akan tejadi kedepannya.
Beno mulai berlari, dirinya semakin dekat dengan Dimas. Hanya sekali gerakan saja, dia sudah menyelesaikan rencananya. Dipegangnya pisau ke tangannya, di pegangnya erat untuk mengambil ancang-ancang, lalu ketika jarak kedekatannya sudah tepat, Beno langsung melayangkan pisau itu ke arah depan. Disaat yang bersamaan suara teriakan Meila begitu bergema dibarengi dengan gerakan cepat dari tubuh mungil itu yang mendorong Dimas untuk menghindar.
"Kak Dimas....!" Pekikan lantang itu mengudara disertai suara tersekat menahan sakit luar biasa.
Darah segar keluar dari perut bagian bawah sebelah kanan seiring dengan tumbangnya Meila. Darah segar yang menembus ke sweater berwarna abu-abu lembut yang Meila pakai. Ya! Rencana Beno telah dipatahkan oleh Meila.
"Meila!" Dimas memekik, berteriak memanggil nama Meila yang saat itu tumbang dan terbaring lemah ke rerumputan. Dengan cepat Dimas langsung menghampiri Meila dan mengangkat kepalanya agar bersandar dipangkuannya. Didetik itulah matanya terangkat ke atas, menoleh ke arah penyebab Meila terluka.
"Beno? Brengsek!" Dimas berteriak dengan penuh amarah. Namun pandangannya kemudian berpusat pada
Meila yang saat itu dengan mata setengah terpejam, dan napasnya yang terengah menahan sakit luar biasa karena tusukan pisau tajam yang menembus perutnya, sedang memanggil namanya dengan suara yang hampir tak terdengar.
Dengan tangan gemetar dan langkah yang memundur perlahan, Beno tampak terkejut melihat pemandangan yang terpampang didepannya.
Gue salah sasaran! Gadis itu menyelamatkan nyawa pria itu? Gue harus segera kabur sebelum gue dikeroyok. Gue nggak mau mati konyol disini.
Tanpa menoleh ke belakang lagi, Beno yang diselimuti ketakutan, langsung mengambil langkah seribu meninggalkan taman secepatnya.
Seketika suasana mencekam. Suara riuh pengunjung mengerumuni Meila yang terkapar dengan kepala bersandar di pangkuan Dimas. Darah segar terus keluar dari perutnya.
"Tolong panggil ambulance! Cepat!" Sergah Dimas dengan suara keras.
"K-kaaakk..." suaranya tersekat, dengan napas tersengal dan wajah meringis menahan sakit. Tampak bulir bening keluar dari sudut matanya.
"Ssshh.... jangan katakan apapun." Suara Dimas ikut bergetar disertai elusan tangannya ke pipi Meila. "Bertahanlah, Sayang..." Dimas membawa kepala Meila kedalam pelukannya. "Bertahanlah... aku mohon..." lalu berbisik ke telinga Meila sebelum kemudian memberikan sebuah kecupan ke pelipis Meila.
"K-kak Dim...mas.... Ak-akuh.... A...aku sayang Kamu,"
Seolah keheningan menghampiri Dimas mendengar pengakuan Meila yang berbisik didalam pelukannya. Seolah ada batu besar yang jatuh dan menimpa dadanya, perasaannya saat ini antara sesak namun juga bahagia bercampur kecemasan. Dilihatnya Meila yang terpejam tak bergerak lagi, didetik itulah kekalutan menyelimuti diri Dimas.
Dia merasa putus asa, dirinya merasa gagal melindungi gadisnya. Tangannya menepuk-nepuk pipi Meila, mencoba membangunkan Meila agar kembali tersadar. Namun usahanya nihil tak membuahkan hasil, gadis itu terbaring lemah dalam dekapannya tanpa ada gerakan dari tubuh mungilnya lagi.