A Fan With A Man

A Fan With A Man
Lucky Man (?)



Sisil tampak menunggu dengan gelisah. Berulang kali dia duduk, lalu bangkit hingga mondar-mandir dengan jemari yang saling bertautan. Menandakan kegelisahan yang amat sedang melandanya dirinya.


"Duh, kemana sih? Kenapa lama banget?!" Gerutu Sisil saat dia mulai berasa jengah menunggu James yang tidak kunjung datang sejak satu jam lalu.


Namun tiba-tiba, suara pintu terbuka mencairkan ketegangannya. Membuatnya langsung menuju ke arah pintu masuk dengan wajah antusias penuh antisipasi.


"Gimana? Apa kata mereka?" Sisil bertanya pada James dengan tidak sabar.


James berjalan melewati Sisil dengan langkah santai. Lalu memberikan satu buah tas berisi pakaian ganti untuknya disertai usapan ringan ke rambut kepalanya sambil lalu.


"Aku sudah bilang kalau aku akan mengurusnya, bukan? Itu hal yang sangat mudah untukku."


Sisil terperangah sambil menatap pada tas berisi pakaian di tangannya. Lalu mengikuti arah langkah James yang sedang menuju mini bar untuk menuangkan segelas air putih dan meminumnya.


"Tapi, bagaimana bisa? Bagaimana cara kamu meyakinkan mereka?"


Wajar kalau Sisil bertanya hingga sedetil itu. Karena dialah yang sangat tahu sifat papa dan mamanya yang sangat sulit diluluhkan.


"Kamu tidak perlu memikirkannya. Lebih baik, sekarang kamu bersiap-siap. Aku akan mengantarmu sebentar lagi."


Sisil mendecakkan lidahnya pelan. "Kamu berhutang penjelasan padaku, James."


James diam tidak menjawab. Namun, raut wajahnya nampak sebersit senyuman tipis melihat Sisil yang langsung menurutinya.


Sisil bisa saja memilih berdebat pada James. Tetapi, dirinya akan sangat terlambat jika harus beradu mulut di saat yang tidak tepat. Lalu berbalik badan dengan setengah berlari untuk segera bersiap-siap. Merapikan dirinya untuk memulai mata kuliah pagi ini dengan suasana yang sedikit berbeda tentunya.


●●●


"Apa? Kamu bilang begitu?"


James mengangguk dengan santai. Sambil memfokuskan dirinya menyetir menuju kampus Sisil.


"Hanya itu alasan yang muncul dan cukup masuk akal. Sekarang kamu tinggal pikirkan bagaimana caranya nanti kamu menghadapi pertanyaan dari om Adrian dan tante Riana."


Sisil menghela napasnya sejenak. Menundukkan wajahnya ke bawah sambil memperhatikan jemarinya yang dia letakkan ke atas pangkal pahanya.


"Haaahh, baiklah! Itu mungkin lebih baik dibanding harus menceritakan kejadian yang sebenarnya."


Alis James mengernyit heran, dia pun menengok pada Sisil.


"Kenapa lagi? Aku sudah bilang, kamu tidak perlu memikirkan itu lagi. Biar aku yang mengurusnya sampai selesai. Kamu cukup diam saja. Dan laporkan padaku jika pria kurang ajar itu menerormu lagi. Aku akan beri dia pelajaran yang pantas hingga membuatnya jera sampai berpikir ribuan kali jika akan melukai seorang perempuan."


Sisil tidak menghiraukan ucapan James. Namun, ada perasaan mengganjal yang menempel di hatinya sejak tadi. Dan itu belum terjawabkan dengan jawaban yang tepat.


"Apa ada alasan lain?"


"Alasan? Alasan apa maksudmu?"


Sisil akhirnya menoleh pada James. "Alasan lain kamu melakukan ini untuk apa? Kenapa kamu mau bantu aku?"


James tersenyum simpul menanggapi pertanyaan Sisil yang tampak begitu ingin tahu. Hal itu terlihat jelas dari sorot matanya yang sedang menunggu sebuah jawaban pasti.


"Seperti yang aku bilang tadi, aku memiliki alasanku sendiri, Sisil. Dan belum saatnya kamu tau apa maksud alasanku itu."


Sisil tersenyum kecut mendengar ucapan James.


"Mungkin kali ini aku lagi beruntung. Tapi, entah di lain waktu, entah besok, lusa, atau kapanpun itu, bisa aja Beno datang lagi dan meneror aku lagi. Dan disaat itu aku........hmpp!"


Kalimat Sisil menggantung bersamaan dengan mulutnya yang ditutup rapat oleh tangan James. Menghentikan semua kata-kata yang akan keluar dari mulut Sisil.


"Jangan katakan itu! Aku pastikan dia tidak akan melakukan apapun padamu."


Sisil menoleh disertai ekspresi terperangah yang nyata. Dan bersamaan dengan itu, perasaannya kembali penuh dan aneh saat James melepaskan tangannya dari mulutnya dan beralih naik untuk mengusap kepalanya. Membuat hatinya dialiri oleh perasaan asing yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Bahkan dengan pria manapun.


●●●


"Duh, Mei. Gue bantu telfonin kak Dimas aja, deh... ya? Gue gak tega liat lo kesakitan sampe pucat kayak gitu."


Sambil memapah sahabatnya pelan-pelan, Airin tampak khawatir dengan Meila yang keliatannya semakin merasa sakit karena kram perut yang diakibatkan oleh masa periodenya.


"Nggak usah, Rin. Gue naik taksi aja. Kalo lo telpon, yang ada ganggu jam meeting dia yang lagi berlangsung sekarang." Jawab Meila disertai ringisan tertahan.


"Ih, bandel banget sih! Gue takut lo pingsan di jalan, tau nggak!" Airin berseru marah. Dia memang sedikit sebal pada Meila karena tidak mau mendengarkannya. Minimal jika dia takut mengganggu Dimas, setidaknya dia bisa menghubungi Henry untuk menjemputnya, bukan?


Mereka akhirnya sampai di ujung koridor depan halaman. Airin langsung menyuruh Meila duduk di sebuah bangku panjang dan menunggunya dengan diam. Sementara dirinya akan mencarikan taksi untuk mengantarkan sahabatnya pulang.


"Diam disini. Jangan kemana-mana. Gue mau cari taksi buat lo."


Meila mengangguk pelan sembari memegangi perutnya yang terasa seperti ditekan-tekan sekaligus juga rasa pegal di bagian pinggang yang bersamaan.


Beralih pada Airin, perempuan itu tampak berlari kecil ke arah halaman hingga gerbang gedung. Dicarinya sebuah taksi yang biasanya melewati jalan itu, tetapi saat ini tampak sulit ditemukan. Untuk memudahkan, akhirnya Sisil berjalan hingga keluar gedung dengan tergesa-gesa hingga akhirnya tidak sengaja dia bertabrakan dengan seorang laki-laki.


"Oh, maaf." Ucap Airin meminta maaf lebih dulu.


"Oh, nggak apa-apa. Aku juga nggak liat, kok."


Raut wajah laki-laki itu tampak bingung keheranan melihat Airin yang sedang bingung dan tidak fokus. Hal itu terlihat saat Airin tidak menanggapi lawan bicaranya dengan baik.


"Keliatan nya kamu lagi mencari sesuatu? Mungkin aku bisa membantu?"


"Eh, itu, aku lagi mencari taksi untuk mengantar temanku yang lagi sakit untuk pulang. Tapi dari tadi belum ada taksi yang lewat sini."


"Mmm... dimana temanmu? Mungkin aku bisa membantunya?" Laki-laki itu menawarkan sedikit bantuan pada Airin yang langsung ditanggapinya dengan ragu.


"Ah, emmm... Nggak perlu. Kayaknya dia nggak akan mau diantar sama orang lain yang nggak dia kenal. Aku akan tetap mencari taksi aja."


"Bagaimana kalau dicoba dulu? Kalau temanmu berubah pikiran, aku bisa bantu mengantarnya dan itu akan membuatnya lebih cepat sampai rumah, bukan?"


Benar juga. Kalau Airin membiarkan dirinya untuk terus mencari dan menunggu taksi datang, entah sampai kapan Meila akan menunggunya didalam? Yang ada Meila akan benar-benar pingsan karena kesakitan.


Perkataan laki-laki itu ada benarnya juga . Mungkin tidak ada salahnya jika dia mengiyakan tawarannya lebih dulu dan membiarkan laki-laki itu membantunya. Lagi pula, laki-laki itu keliatan baik dan juga ramah.


"Hmmm... baiklah,"


●●●


Airin mengajak laki-laki itu masuk ke area kampus menuju ke tempat dimana Meila sedang menunggunya. Dengan langkah cepat, Airin memimpin jalan diikuti laki-laki itu dibelakangnya.


"Dimana temanmu?"


"Itu, disana. Sebentar lagi sampai."


Ternyata tak begitu jauh dari gerbang gedung menuju ke ujung koridor gedung yang menghubungkan antar tiap ruangan.


"Nah, ini dia, temanku!"


Mendengar suara Airin yang datang, sontak membuat Meila yang sedang menundukkan kepala langsung mendongak ke arah sumber suara. Dan di detik Meila mendongak, di detik itulah dia terkejut dengan seorang laki-laki yang ikut datang bersama Airin di sampingnya.


"Kak..... Dion?!"


"Kamu?"


Benar! Laki-laki itu ternyata adalah Dion. Airin merasa terkejut melihat Meila dan Dion yang tampak telah saling mengenal. Dan yang lebih mengagetkannya lagi adalah, ekspresi tak terbaca yang ditampilkan oleh Dion. Yang menunjukkan antara senang, kaget, dan juga cemas yang muncul secara bersamaan.