A Fan With A Man

A Fan With A Man
Lebih Cepat, Lebih Baik!



"Waahhh... ini semua kakak yang buat?"


Meila terlihat takjub melihat hidangan sarapan yang telah Dimas siapkan. Terdapat dua porsi omelette yang masih mengepul hangat yang di lengkapi dengan berbagai macam sosis panggang di sebuah piring penuh besar untuk mereka berdua. Ada juga susu putih hangat dan jus buah segar masing-masing di sisi kiri dan kanan piring.


"Iya. Kamu suka?" Dimas menyahuti sambil menarik sebuah kursi untuk Meila.


Meila langsung mengangguk antusias sambil mendudukkan bokongnya di kursi yang telah Dimas tarik untuknya. Tetapi, di tengah-tengah ketakjubannya, ada penampilan yang berbeda dari dua piring omelette antara miliknya dan Dimas.


"Tapi, bedanya ini sama punya kamu apa? Kenapa warna omelette kamu lebih merah?"


Dimas tersenyum dengan pertanyaan polos Meila. Sembari menarik kursi untuk dirinya sendiri, Dimas duduk dan menjawab pertanyaan itu.


"Punyaku agak sedikit pedas. Aku menaruh bubuk cabai didalamnya. Kalau punya kamu cukup aku beri lada bubuk sebagai penambah rasa. Kamu nggak suka pedas, bukan?"


Meila mengangguk setuju. Dia lalu memotong omelettenya karena tidak sabar ingin segera mencicipinya.


"Enak!" Ujarnya senang begitu potongan omelette itu masuk ke dalam mulutnya. "Tapi... aku mau coba punya kamu. Boleh?"


Sambil menyuap ke dalam mulutnya, Dimas mengernyit heran. "Tentu boleh. Tapi bukannya kamu gak suka makanan pedas? Dan kamu juga nggak boleh mengkonsumsinya karena ada gejala asam lambung saat itu. Kamu ingat?"


Tentu saja Meila ingat malam dimana dirinya sakit dan terkena gejala asam lambung. "Iya, aku ingat. Tapi kalau coba sedikiiiiittt aja. Gak apa-apa, kan?"


Melihat Meila yang meminta seperti itu, disertai ekspresi menggemaskannya, tentu Dimas tidak tega jika menolaknya lagi. Akhirnya dia mengiyakannya dan memotong satu suap omelette yang kemudian disuapi ke mulut Meila dengan penuh sayang.


"Tapi satu suap aja, ya."


Dimas menyuapi omelette pedas miliknya pada Meila yang langsung di terima dengan senang olehnya. Mengunyahnya dengan senang sambil berujar girang.


"Gimana? Apa terlalu pedas? Mau minum?" Dimas sedikit panik melihat Meila yang belum memberikan reaksi apapun.


"Enak. Enak banget. Ternyata enak juga ya makan pedas." Cengirnya seketika.


"Tapi kamu ga bisa makan-makanan ini. Pencernaan kamu nggak terbiasa. Ini, diminum dulu." Sambil menasihati Meila, Dimas mengambilkan air minum untuk membantu melancarkan pencernaannya.


"iya, aku paham, kok." sahutnya dengan patuh.


"Ayo, dihabiskan sarapannya."


●●●


James dan Sisil masuk ke dalam mobil bersama-sama. Sama-sama langsung memasang seat belt, mereka bersiap untuk menuju ke rumah Dimas seperti apa yang mereka bicarakan semalam. Setelah mandi dan sarapan, serta mengenakan pakaian yang telah James siapkan, Sisil terlihat lebih pendiam dari biasanya. Mungkin karena dia merasa gugup karena akan berhadapan dengan Meila dan meminta maaf padanya.


"Kamu sudah siap? Kalau masih belum, kita bisa tunda dulu."


"Ja-jangan, James. Lebih cepat, lebih baik. Aku juga nggak mau terus-terusan dihantui oleh rasa bersalahku lagi. Aku mau menyelesaikan masalahku dari akarnya."


James tersenyum lega mendengar pengakuan jujur Sisil. Meskipun dia tampak gugup, tetapi dia tetap berusaha tenang mengatasi kegugupannya. Entah bagaimana perasaannya nanti, itu bisa dia selesaikan ketika sudah mengutarakannya.


James pun mengusap lembut rambut kepala Sisil sambil kemudian berujar.


"Apapun yang kamu lakukan, aku akan ada dipihakmu. Kita hadapi masalah itu bersama."


Sisil mengangguk pelan dengan sedikit ulasan senyum tipis yang samar. Lalu segera mengalihkan pandangannya sambil berusaha menghembuskan napasnya sebagai bentuk menenangkan diri.


●●●


James membunyikan klakson mobilnya tepat di depan pintu gerbang rumah Dimas. Melewati serangkaian pengamanan standar tanpa halangan, James langsung diizinkan masuk begitu beberapa tim khusus segera mengenali kedatangannya.


"Selamat datang, tuan James." Seseorang menyapa James dengan tubuh setengah membungkuk.


James mengangguk ramah. Lalu bertanya dengan sedikit candaan. "Thank you. Apa tuan muda kalian ada?"


"Ada, tuan. Kebetulan tuan muda sedang sarapan dengan nona. Silahkan masuk, tuan."


"Thank you."


"Tadi aku dengar, mereka menyebut kata 'tuan muda'. Apa yang mereka maksud itu Dimas?"


"Benar." James hanya menjawab singkat. Dia tidak menjelaskan secara rinci alasan kenapa Dimas dipanggil dengan sebutan seperti itu.


Ekspresi Sisil masih tampak bingung. "Memangnya Dimas itu siapa? Dan kenapa dia bisa datang ke acara pesta orang tuamu?"


Sambil memarkirkan mobilnya di halaman lalu menarik rem tangannya, James tersenyum singkat sebelum kemudian menjawab keingintahuan Sisil.


"Dia adalah sahabatku. Tepatnya sahabat bisnis. Orang tua kami bersahabat sebagai kolega bisnis yang sama-sama kami bangun. Kamu mungkin pernah mendengar nama Alfero Alexsander dan Natalizha Oswel? Mereka adalah orang tua Dimas."


Sisil tercengang bukan main mendengar pernyataan James. Pantas saja, dia sudah merasa jika pria itu sangat dominan dalam melindungi Meila. Tidak pernah main-main dalam bertindak.


"...ap-apa?" Sisil memekik kaget.


James terkekeh geli melihat ekspresi Sisil yang begitu terkejut. "Kenapa kamu begitu terkejut? Lebih baik, kamu tunda dulu rasa terkejutmu itu. Sekarang kita tuntaskan dulu misi kita. Kamu siap?"


Sambil menatap James dengan lekat, Sisil memberikan anggukan pelan meski dia menahan rasa gugupnya.


"Iya. Aku siap."


Setelah mendapat persetujuan Sisil, James keluar dari mobil lebih dulu yang diikuti Sisil setelahnya. Mereka mulai berjalan bersisian dan James seketika langsung menangkup tangan Sisil dan menggandengnya. Membantu perempuan itu mengatasi kegugupannya yang James tau jika Sisil sedang berusaha menahannya sekuat tenaga.


Sementara di ruang makan, Dimas dan Meila baru saja selesai menyantap sarapan mereka. Sarapan itu habis tidak tersisa. Hanya tinggal beberapa sosis-sosis saja yang masih tersisa di piring yang akan dijadikannya sebagai camilan nanti.


"Biar aku bantu mencuci piring-piringnya, ya." Meila berujar sambil menawarkan diri.


"Nggak perlu, biar aku aja. Kamu duduk aja disini atau di sofa itu." Dimas menolak permintaan Meila dengan lembut.


"Tapi aku mau bantu kamu. Oh, atau aku temani aja. Ya?"


Sambil membawa piring-piring kotor ke wastafel, Dimas sumringah melihat Meila yang tidak mau mengalah dan malah mengekorinya hingga wastafel. Membantunya membawakan gelas-gelas kosong yang akan dicuci.


Seolah tidak mendengarkan perkataan Dimas, Meila malah memajukan dirinya dan mengambil gelas yang akan dicuci untuk diberikan sabun cair. Lalu mencucinya tanpa meminta izin lagi pada Dimas. Dari situlah Dimas paham jika Meila hanya ingin bermain air dengan alasan ingin membantunya.


"Kamu itu cuma mau main air aja, kan? Bukan mau membantu?"


Cengiran Meila yang khas sudah menjawab semuanya. Gadis itu malah melebarkan senyumnya dengan tangan penuh busa dari gelas-gelas yang dicucinya.


Suara bel yang berbunyi seketika langsung membuat Dimas menoleh ke arah pintu. Sedikit mengernyitkan alisnya bingung.


"Apa kakak sedang menunggu seseorang?" Meila bertanya seketika.


"Nggak. Mungkin itu Henry." Dimas menjawab sekenanya.


"Biar aku aja yang buka pintunya."


Dimas mengangguk tanda memberi izin. Meila langsung membilas tangannya yang penuh busa ke air kran yang mengalir.


Jika orang itu sampai bisa menekan bel pintu utama, berarti dia telah melewati serangkaian proses keamanan. Atau mungkin, orang itu bukan orang asing. Sebab, jika orang asing, tim keamanan khusus akan menghubunginya melalui telepon dan meminta izinnya lebih dulu. Jadi, bisa Dimas pastikan saat ini sangat aman untuk Meila.


Meila mulai melangkah ke arah pintu utama dan langsung membuka pintu dengan semangat. Ketika pintu itu membuka, wajah terkejut sekaligus juga ramah yang ditunjukkannya begitu nyata. Pintu yang setengah terbuka itu memperlihatkan sosok pria yang dikenalinya.


"Hai!" James menyapa lebih dulu.


"Kak James?" Sapa Meila dengan sumringah.


"Siapa yang datang, sayang?" Suara Dimas yang jauh dari arah dapur langsung terdengar.


"Kak James, kak." Meila menoleh ke arah dapur tempat Dimas berada. Lalu menoleh setelahnya dengan ekspresi setengah terkejut ketika seseorang yang tadi belum terlihat seketika muncul sedang berdiri disamping James dengan kepala tertunduk.


"Dan..... Sisil?"


Meila terkejut melihat Sisil yang ada di balik pintu sedang berdiri gugup karena tidak berani menatapnya. Tetapi, ada satu hal menarik lain yang membuat Meila tak kalah terkejut. Yaitu, tangan Sisil yang ada dalam genggaman hangat tangan James yang tak lepas dari perhatiannya.