A Fan With A Man

A Fan With A Man
Keras Kepala



Sebelumnya Vika masih ada di ruang senat sebelum kemudian rasa sakit dikepalanya terasa semakin berat dan berdenyut. Pandangannya kabur dan memutar, membuatnya berinisiatif untuk pergi ke toilet untuk sekedar membasahi wajahnya sejenak. Dengan tujuan menyegarkan diri yang mungkin, rasa sakitnya akan sedikit lebih ringan.


Sesampainya di toilet, rasa sakit itu semakin mendera hingga memaksanya untuk berpegangan pada pinggiran wastafel untuk membantu menopang tubuhnya. Perlahan, Vika memutar kran air dan membasuh wajahnya. Menatap dirinya di cermin yang tampak sangat pucat tanpa rona sedikitpun. Pantas saja Airin langsung bisa menebak jika dia sedang sakit. Wajahnya sangatlah pucat dengan kelopak mata sayu disertai dengan adanya lingkaran hitam yang mengelilingi matanya.


Saat sudah tidak sanggup lagi menopang tubuhnya, dengan kaki gemetar Vika menyeret langkahnya untuk keluar dari toilet. Namun, belum sampai kakinya melangkah, pandangannya buram dan menggelap. Membuatnya memejamkan matanya dan mengerjap hingga akhirnya dia tidak sanggup lagi dan terjatuh ke lantai kehilangan kesadarannya.


Dan disinilah Vika. Di ruang UKM yang baru saja mendapat perawatan dari dokter. Berbaring di atas ranjang, sementara Rendy berdiri bersedekap dengan menjaga jarak sambil memasang wajah datar. Pria itu tampak mengawasi, mengamati dari kejauhan dan sedikit menjaga jarak.


"Kenapa harus memaksakan diri kalo tubuh kamu nggak fit?" Rendy berujar datar tanpa ekspresi.


Vika mendengus mendengar ocehan Rendy. "Aku termasuk dalam mahasiswi baru di sini. Baru kemarin aku masuk. Mustahil buat absen, kan?" Vika berusaha bangkit disela-sela tubuhnya yang masih lemah, membantah ucapan Rendy dengan sikap yang sama datar.


Rendy memutar matanya malas, "absen karena kurang sehat nggak masalah, kan? Nggak perlu memaksakan diri kalo emang nggak kuat. Kalo kondisinya semakin parah gimana?"


Vika menaikkan sebelah alisnya, mengamati sikap Rendy dalam diam. Memperhatikan Rendy yang seolah sedang memarahinya tapi juga... mencemaskannya.


Mungkinkah itu? Benarkah pria ini sedang mencemaskannya?


"Rendy, apa kamu.... khawatir sama aku?"


Rendy tertegun, lalu segera menegakkan tubuhnya seakan berusaha menguasai diri.


"Aku cuma berusaha menolong disaat semua orang cuma menonton tanpa ada yang bergerak. Sebagai orang yang punya hati, aku nggak mau dicap sebagai orang yang nggak memiliki belas kasihan. Menolong itu adalah hal wajar dan manusiawi. Jadi, jangan mengharapkan sesuatu yang lebih dari kejadian ini." Ucapnya dingin hingga mampu membuat hati Vika terluka.


"Untuk sementara, jangan melakukan apapun! Cukup diam dan istirahat disini. Kejadian hari ini udah cukup merepotkan!" Perintahnya dingin diselipi nada menyindir yang kental.


Kemudian, tanpa menoleh lagi langsung pergi meninggalkan Vika yang menyimpan senyum getir tanpa bisa mengatakan apapun.


●●●


"Kak, kamu sadar nggak kalo ada yang aneh dari kak Rendy?"


Airin mengeluarkan pertanyaan yang sejak kemarin mengganggunya. Terutama saat dimana Rendy dan Vika berada dalam satu ruangan yang memposisikan diri mereka saling berhadapan hingga menciptakan suasana canggung dan terasa menegangkan.


Saat ini, Airin dan Bryant sedang menyantap makan siang di kantin kampus yang di sekitarnya dikelilingi oleh riuh rendah suara yang sama-sama sedang menikmati makan siang seperti mereka.


"Aneh?" Bryant mengulang kata 'aneh' dengan sedikit menekannya. "Aneh gimana maksud kamu?" Lalu menyambung kembali dengan nada ingin tahu.


"Iya, kak. Aneh. Kayak ada seuatu gitu."


Bryant terkekeh disertai gelengan kepala. Lalu, meneguk jus jeruk miliknya sebelum kemudian menyahuti pernyataan Airin dengan santai.


"Mungkin itu cuma perasaan kamu aja, Rin. Mungkin karena mahasiswi perbantuan kita itu cewek, jadi agak beda. Selama ini kan cowok. Iya, kan?" Sahut Bryant yang di akhiri dengan pertanyaan.


Airin menaruh sendok dan garpu miliknya dan menggeser piring yang masih menyisakan sedikit nasi goreng di sana. Kemudian meletakkan kedua lengannya ke atas meja disertai ekspresi berpikir sebelum kemudian menyesap jus alpukat miliknya.


"Iya juga, sih. Tapi, kak, aku udah kenal kak Rendy itu lama. Yang aku tau, dia selalu bersikap acuh sama perempuan, ya... terkecuali sama Meila. Dan kali ini sikap acuhnya ke kak Vika lebih kepada sikap dingin mendekati benci. Dan itu bukan sikap kak Rendy banget."


Mendengar pernyataan Airin, justru membuat Bryant terkekeh geli disertai gelengan kepala.


"Kamu sok tau, ya?" Bryant memajukan tubuhnya sedikit agar lebih nyaman untuk berbicara. "Jangan bikin gosip, ah. Belum tentu apa yang kamu liat karena mengira-ngira itu sesuai dengan yang sebenarnya."


Mendegar dirinya justru mendapatkan nasihat dari Bryant dan bukannya dukungan, membuat Airin menghela napas sejenak sementara bibirnya mengerucut. Seketika membuat Bryant gemas dan jika mereka sedang tidak di kampus dan tempat umum, mungkin dia sudah menyambar bibir itu dan melahapnya tanpa ampun.


"Kamu abis ini ada kuliah lagi, kan?" Tanya Bryant tiba-tiba yang langsung disambut anggukan kepala oleh Airin. "Nanti aku jemput, ya?" Sambungnya lagi dengan kalimat misterius. Membuat Airin tanpa sengaja menautkan kedua alisnya sejenak sebelum kemudian bertanya pada sang pacar.


Jemput? Emang dia mau kemana? Apa kak Bryant nggak ada kuliah lagi?


"Jemput? Emang kamu  mau kemana, kak?" Tanya Airin ingin tahu.


Bryant terkekeh, lalu memajukan tubuhnya seraya berucap.


"Ada tugas keluar kampus yang harus aku kerjakan. Tetap di sini sampai aku datang, ya?" Ucapnya mengingatkan.


Airin menganggukkan kepala dengan paham apa yang diperintahkan Bryant.


"Yaudah, kamu masuk sana. Jam makan siang udah hampir habis," perintah Bryant saat melihat Airin tampak masih bersantai-santai di tempat duduknya.


Mendengar Bryant yang menyuruhnya untuk kembali ke kelas, seketika ekspresi Airin tampak lesu, dirinya terlihat malas untuk kembali memasuki kelas dan melanjutkan sesi perkuliahan. Namun, tak urung dirinya beranjak dari tempatnya disertai helaan napas seraya berkata.


"Aku masuk lagi ya, kak. Selamat bertugas buat kamu." Ucap Airin memberikan semangatnya pada Bryant. Lalu melenggang pergi untuk kembali menuju kelasnya. Namun, sebelum Airin melangkah terlalu jauh dari jangkauannya, suara Bryant menghentikannya hingga tanpa sengaja telah membuatnya merona karena malu.


"Sayang, jangan kemana-mana sampe aku jemput, ya?"


Kalimat itu cukup lantang, seolah Bryant memang sengaja menekankan kata 'sayang' hingga berhasil membuat pipi Airin semerah tomat. Lalu, dengan malu-malu gadis itu menoleh ke arah Bryant yang sedang tersenyum menggoda padanya. Setelahnya langsung melarikan diri dengan jantung yang berdebar tak karuan.


Menyisakan kekehan nakal dari seorang Bryant saat melihat tingkah kekasihnya.


●●●


Berada di ruang kesehatan seorang diri membuat Vika merasa bosan dibuatnya. Sudah lebih dari dua jam sejak Rendy membawanya ke sana. Dirinya masih merasa sedikit pusing, tapi jika hanya untuk berjalan dia masih merasa kuat. Lagipula, ini sudah waktunya jam pulang kuliah, jadi dia berpikir untuk pulang ke rumahnya dan beristirahat dengan nyaman. Itu lebih baik, bukan?


Perlahan, dengan kepala yang masih sedikit berdenyut, Vika menurunkan kakinya menapaki lantai. Beranjak dari ranjang dan berusaha berdiri dengan tegap sambil berpegangan pada pinggiran ranjang.


Saat Vika akan menggapai pintu kamar, seorang perawat yang tadi telah memeriksanya tiba-tiba masuk untuk mengambil sesuatu yang tertinggal di mejanya. Melihat Vika yang masih tertatih ketika berpijak, dengan sigap perawat itu menghampirinya untuk membantunya berdiri.


"Kamu mau kemana? Kamu masih lemas, istirahat aja di sini."


Vika berusaha membentuk senyuman di bibirnya disertai kepala yang langsung menoleh ke arah perawat itu.


"Aku udah baikan, dokter. Aku mau istirahat di rumah aja. Lebih nyaman. Terima kasih udah memberi perawatan buat aku." Ucap Vika dengan ramah dan penuh keyakinan. Membuat perawat itu tampak sedikit ragu.


"Tapi kondisi kamu masih lemah. Wajah kamu juga masih pucat. Tunggu 1 jam lagi, ya?" Akhirnya perawat itu bertanya lagi untuk memastikan. "Lagipula... Rendy udah menitipkan kamu ke Saya."


"Aku udah baik-baik aja, dokter. Aku udah memesan taksi dan mungkin sekarang udah sampai." Ucap Vika berusaha meyakinkan.


Perawat itu mengernyitkan alisnya, "kamu yakin?" Vika pun mengangguk pasti. Mungkin dikarenakan Vika yang telah mengucapkan jika dia telah memesan taksi yang akan mengantarnya pulang. Sehingga perawat itu melembutkan suaranya dan meredakan sedikit rasa cemasnya.


"Perlu saya antar sampai depan? Sampai kamu masuk ke dalam taksi?" Perawat itu menawarkan diri untuk mengantarnya dan juga membantunya sampai memasuki taksi yang dipesannya.


Mendengar perawat yang mau mengantarnya, sudah pasti Vika dengan cepat menolaknya. Bagaimana jika perawat itu mengetahui jika dia sama sekali belum memesan taksi? Dia hanya ingin menghindari ruangan yang membosankan baginya dalam kondisi lemah seperti ini.


"Nggak. Nggak perlu, dokter. Aku bisa sendiri. Terima kasih." Vika menyahut dengan cepat, berusaha bersikap tenang agar perawat itu tidak curiga.


"Baik, dokter. Terima kasih untuk perhatiannya." Jawab Vika tulus.


Setelahnya dengan berjalan pelan, Vika keluar dari ruang kesehatan.


Menghirup udara segar di bawah terik cahaya matahari di waktu tengah hari.


Karena memang Vika belum memesan taksi, dia akhirnya memilih berada di dekat halte sambil menunggu taksi datang. Duduk bersandar pada tiang halte besi yang kokoh sebagai tempat berteduh, disamping juga untuk memangkas tenaga di tengah keadaan kakinya yang lemas untuk menopang tubuhnya.


Sementara Vika duduk berteduh menunggu taksi, Rendy berjalan menuju ruang kesehatan untuk melihat kondisi Vika. Bukan karena ia peduli, melainkan karena tuntutan tugas dan tanggung jawabnya sebagai ketua senat yang harus memperhatikan anggotanya. Meski memang, dan tidak bisa dipungkiri, ada setitik rasa cemas di dalam hatinya yang tak terlihat dan ia pendam dalam-dalam, karena ia lebih memilih untuk menyembunyikannya.


Rendy memasuki bilik ruang kesehatan tempat dimana Vika dirawat tadi. Dan matanya langsung melebar sempurna saat dia melihat bilik kamar itu kosong dan tidak menemukan Vika di sana. Rendy melihat ke arah perawat yang sedang merapikan mejanya seolah akan pergi keluar dan telah menyelesaikan tugasnya.


"Dokter, kemana perempuan yang tadi pingsan? Kenapa dia nggak ada di sini?" Tanpa basa basi, Rendy bertanya spontan dengan nada tidak sabar.


"Dia baru aja pergi. Katanya, dia akan beristirahat di rumahnya. Saya udah menawarkan untuk mengantarnya, tapi dia bilang sudah memesan taksi."


Mendengar penjelasan perawat itu, Rendy tertegun dengan sedikit dengusan kesal. Dia tampak marah. Bukan marah karena Vika tidak menunggunya. Melainkan marah karena seharusnya dia datang lebih cepat dan mencegahnya untuk pulang sendirian. Karena, jika terjadi sesuatu pada gadis itu, sudah pasti Rendy lah orang pertama yang akan ditanyakan mengenai pertanggung jawabannya oleh kepala dekan. Dan itu akan menyusahkannya.


"Udah berapa lama dia keluar, dok?"


"Sekitar... 10 menit yang lalu."


Setelah mendapat jawaban dari perawat, Rendy langsung membalikkan tubuh sambil menahan amarah dengan tangan terkepal.


"Gadis keras kepala itu, sungguh menyusahkan!"


Geramnya marah dengan rahang mengetat. Lalu mempercepat langkahnya untuk memastikan jika Vika memanglah sudah mendapatkan kendaraan yang akan mengantarnya pulang dengan selamat seperti kemauannya.


●●●


Tidak seperti yang Vika pikir jika dia akan segera mendapatkan taksi, hal itu jauh dari perkiraannya. Dia berharap jika saat dia keluar dari kampus akan ada taksi yang lewat, namun ini jauh dari prediksinya.


Sudah lebih dari 15 menit Vika setia menunggu di halte itu berdiam diri menghindari panas matahari.


Cuaca semakin terik. Membuat kepalanya semakin berdenyut tak karuan ditambah dengan tenggorokannya yang terasa kering karena dehidrasi.


Rendy keluar dari pintu gerbang mengendarai mobilnya. Matanya tak lepas menyalang seperti sedang mencari seseorang. Ya, dia sedang mencari Vika. Gadis keras kepala yang menurutnya sangat menyusahkan dirinya.


Jika benar gadis itu baru keluar beberapa menit lalu, itu tandanya dia masih belum jauh dari sini, bukan?


Rendy sangat tahu betul bagaimana sikap Vika. Gadis itu tidak akan memesan taksi sebelum dirinya tuntas dan keluar dari tempatnya berada. Dia akan lebih memilih menunggu taksi itu dibanding harus ditunggui. Sebab gadis itu pikir, dia akan merasa tidak enak hati jika harus membiarkan seorang pengemudi menunggunya dengan waktu yang sangat lama dari waktu perkiraannya.


Dan Rendy sangatlah benar. Saat dia melewati halte, dia melihat Vika masih duduk lemas bersandar pada sebuah tiang besi yang kokoh seolah sedang menghindar dari panasnya terik matahari yang menusuk.


Rendy menghentikan mobilnya tepat didepan halte. Lalu, membuka kaca mobilnya seraya berteriak memerintah dengan nada suara datar.


"Masuk ke mobil!" Perintah Rendy setengah berteriak.


Melihat Rendy yang sudah berada di depannya dan memerintah dengan sikap arogan, membuat Vika mengernyitkan alisnya sebal sebelum kemudian menjawab perintah Rendy dengan nada suara yang tak kalah membantah.


"Nggak perlu repot-repot, Rendy. Aku udah pesen taksi. Lagian... sebentar lagi juga datang," sahut Vika datar tanpa ekspresi.


Melihat sikap membantah yang ditunjukkan Vika, seketika membuat Rendy berdecak kesal dan memilih keluar dari kemudinya untuk menghampiri gadis itu.


"Jangan membantah! Aku bilang masuk ke mobil!" Perintah Rendy lagi sambil menatap Vika tajam.


Vika mengangkat kepalanya, dia baru akan menyahuti Rendy saat sebuah taksi yang dipesannya datang lalu berhenti tepat di depan mobil Rendy terparkir. Mata Vika mengerling. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum penuh kemenangan.


"Terima kasih untuk tawarannya. Tapi, seperti yang aku bilang, taksi yang aku pesan udah datang. Jadi kamu nggak perlu merepotkan diri kamu untuk mengantar aku pulang." Sahut Vika sambil berusaha bersikap ramah di tengah sikap Rendy yang berbanding terbalik darinya.


Saat Vika akan berbalik dan menghampiri taksi, sebuah tangan berhasil mencekal pergelangan tangannya hingga membuat langkahnya terhenti seketika. Sepertinya Rendy tidak mau menunggu sikap protes yang ditunjukkan Vika padanya. Dengan cepat, Rendy langsung menarik tangan gadis itu untuk mengikutinya memasuki mobil.


Vika meronta-ronta berusaha melepaskan cekalan Rendy ditangannya.


"Rendy, lepasin aku! Kamu menyakiti aku,"


Rendy tidak menggubris suara permintaan Vika. Pria itu terus menariknya hingga masuk ke dalam kursi penumpang samping kemudi, dan memastikannya duduk di sana.


"Rendy, kamu apa-apaan!" Bentak Vika saat dilihatnya Rendy menutup pintu dengan membantingnya keras. Membuat gadis itu tersentak kaget dan terpaksa untuk diam kehabisan kata sekaligus memandanginya dengan kesal. Membiarkan Vika memandanginya dengan sikap marah, membuat seulas senyum ironi muncul di bibir Rendy sambil berbalik arah memberikan beberapa uang kepada supir taksi. Lalu, membatalkan pesanan Vika seraya mengucapkan kata maaf pada supir taksi itu.


●●● 


Mereka akhirnya sampai di sebuah rumah besar yang tampak asri. Suasananya juga masih tetap sama seperti saat terakhir kali Rendy mendatanginya. Ya! Disinilah mereka. Berada di depan rumah Vika yang sangat familiar, terutama bagi Rendy. Rumah dimana dia terlalu sering untuk mengantar dan menjemput Vika semasa sekolah dulu.


Tidak ada yang mereka bicarakan selama perjalanan tadi. Keduanya saling diam membisu, bermain dengan pikirannya sendiri dengan masing-masing memasang wajah kesal, dan yang satunya lagi memasang wajah dingin tanpa ekspresi. Menciptakan aura menyeramkan hingga Vika tidak mampu menoleh ataupun sekedar melirikkan matanya pada Rendy.


"Terima kasih tumpangannya,"


Suara Vika memecah suasana yang tercipta di dalam kabin mobil tersebut. Disusul dengan suara gumaman tak jelas dari Rendy sebagai jawaban.


Sambil memutar bola matamya malas, Vika berusaha membuka seatbelt yang terasa sedikit macet hingga sulit untuk dilepaskan. Entah memang dirinya yang seolah tidak sabar ingin segera menghindar dari aura dingin yang menguar dari sikap Rendy, atau juga karena situasi yang seolah tidak berpihak padanya.


Melihat Vika yang tampak kesulitan untuk melepaskan seatbeltnya, tak urung Rendy mendekat untuk membantunya melepaskan seatbelt itu. Tanpa sengaja, telah membuat Vika tersentak dan mengangkat wajahnya dengan cepat hingga Vika dapat merasakan hembusan napas Rendy yang sangat dekat dengannya.


Tiba-tiba hening sejenak. Mata keduanya saling bertemu. Saling menatap lekat seolah sedang menyelami perasaan masing-masing untuk mencari jawaban yang tak pernah terjawab sejak lama. Vika membeku dengan tatapan intens yang diberikan Rendy. Tatapan yang sangat dirindukannya setelah sekian lama tidak dirasakannya.


Berusaha menguasai diri, Rendy menggerutu sambil menjauhkan dirinya seraya mengucap kata.


"Buka seatbelt aja nggak bisa. Sungguh merepotkan!" Serunya ketus tanpa menatap ke arah Vika. Membuat Vika tersenyum getir dengan sikap Rendy yang ditunjukkan padanya.


"Aku nggak nyangka kamu masih ingat rumah aku." Ucapnya tiba-tiba yang tidak mendapatkan respon apapun dari Rendy. "Padahal... itu udah lama banget," tangan Vika bergerak untuk membuka pintu penumpang.


Namun, sebelum dia benar-benar keluar dari mobil itu, Vika menyempatkan diri untuk mengucapkan sesuatu hingga berhasil membuat Rendy menoleh sambil memasang wajah tertegun.


"Oh iya, hampir lupa," perlahan Vika menolehkan kepalanya pada Rendy yang masih setia memegang setir kemudi. "Aku hanya berusaha memperbaiki komunikasi diantara kita. Sebelumnya... aku juga nggak pernah menyangka akan ketemu kamu lagi setelah sekian lama dan dengan cara seperti ini. Tapi... melihat respon kamu serta situasi dan kondisinya yang malah membuat komunikasi kita bertambah buruk, sepertinya akan semakin sulit bagi aku meluruskan semuanya atas apa yang nggak kamu ketahui. Bahkan mungkin, sama sekali nggak pernah mau kamu ketahui kebenarannya. Mungkin kamu udah nyaman dengan keterdiaman kamu. Maaf, kalo aku udah bikin semuanya menjadi kacau. Maaf, kalo tanpa sadar, udah merubah sikap kamu menjadi dingin ke aku. Dan aku akui, semuanya murni kesalahan aku. Aku terlalu pengecut untuk menjelaskan semuanya, aku lebih memilih menghindari masalah. Karena aku juga nggak bisa memutuskan apa yang harus aku lakukan pada saat itu. Aku harap kamu mengerti, dan akan ada saatnya untuk kamu ketahui seluruh kebenaran yang masih belum terungkapkan selama ini." Vika berhenti sejenak sambil mengurai sebuah senyum ditengah wajahnya yang pucat. Dan entah mengapa, ada setitik kesedihan yang mengendap dari caranya berbicara hingga Rendy dapat merasakan sebuah penyesalan yang amat dalam.


"Sekali lagi.... Terima kasih untuk tumpangannya. Dan, hati-hati di jalan." tutup Vika kemudian yang masih berusaha melengkungkan sebuah senyuman pada Rendy.


Setelahnya, Vika langsung melenggang pergi sambil berusaha menjaga keseimbangannya agar tidak terjatuh. Meninggalkan Rendy seorang diri di dalam kabin mobil dengan ekspresi muram tak terbaca.


Apa yang sebenarnya terjadi hingga dia tidak mengetahuinya? Apa maksud dari ucapannya tadi tentang sebuah kebenaran yang belum terungkap itu?