
James tampak fokus menyetir dengan adanya Sisil di kursi penumpang sebelahnya. Selama beberapa kali dia berkesempatan berada satu mobil dengan Sisil, tak pernah sekalipun dia absen untuk tidak memperhatikan perempuan itu meski hanya sebatas lirikan mata.
Seperti saat ini. Dia terus mencuri pandang ke arah Sisil yang kali ini terlihat berbeda dari biasanya. Ada lingkaran hitam yang cukup jelas di bawah matanya. Tingkahnya juga sedikit pendiam, tidak bersemangat dan wajahnya sedikit pucat. Mungkin dikarenakan dia kurang tidur sehingga mengakibatkan rona kulit di wajahnya sedikit menghilang.
Seolah tidak mau diam saja, dan karena lidahnya pun terasa gatal, James akhirnya bertanya tanpa basa basi.
"Apa kamu sedang sakit? Wajahmu tampak pucat."
Sisil sebenarnya sangat malas menanggapi James, tetapi jika mengingat kejadian di meja makan dengan papanya, dia menjadi merasa bersalah. Bukan pada James, melainkan pada Adrian, papanya.
"I'm okay." Sisil menjawab singkat. "Jangan perhatiin aku. Kamu fokus menyetir aja. Aku lagi nggak mau berdebat sama kamu." Sambungnya kemudian yang tidak menghilangkan nada ketus di dalamnya.
James menghela napasnya dan membela diri. "Aku nggak berniat untuk mengajak kamu berdebat. Aku cuma bertanya. Apa aku salah?"
"Waktunya yang salah dan nggak tepat." Sisil menyela dengan cepat. "Aku cuma butuh ketenangan sekarang."
"Ya, baiklah. Aku nggak akan bertanya lagi." James akhirnya memilih mengalah. Namun, karena masih belum merasa puas, akhirnya dia bertanya lagi. "Tapi aku penasaran apa maksud perkataanmu semalam. Dan... masalah apa yang kamu maksud nggak ada penyelesaiannya itu?"
Mendengar ocehan James yang begitu mengganggu sekaligus membuat kepalanya semakin sakit, Sisil akhirnya mendecakkan lidahnya karena akhirnya, dia tidak bisa menahan perasaan kesal yang sedari tadi ingin meledak.
"Apa anda tidak bisa mengerti bahasa yang baik, tuan? Mau pakai bahasa apa lagi agar anda paham?" Ucapnya menahan geraman. Dan itupun sengaja menyelipkan kalimtmat baku didalamnya. "Aku udah cukup menahan sabar dari tadi. Tapi kamu malah memancing amarahku. Kamu bikin aku jengkel!"
Bukannya takut, James malah semakin yakin dengan kondisi Sisil yang memang sedang tidak seperti biasanya. Ada yang perempuan itu sembunyikan dan ada sesuatu yang berusaha dia tutupi rapat-rapat.
Mengingat itu semua, James langsung mengurungkan niatnya untuk memperpanjang percakapan mereka yang hanya akan menimbulkan perdebatan tak berujung.
"Aku cuma bertanya. Apa salahnya dengan itu? Jangan terlalu meledak-ledakkan emosimu. Karena itu akan menimbulkan penyakit."
Sisil menyeringai dengan ekpresi malas. "Aku juga emosi karena kamu, tau nggak!" Sahutnya sambil lalu yang tanpa dia sadari telah membuat James terkikik geli tanpa suara disertai gelengan kepala.
●●●
Di kejauhan, tampak Dion berada dalam kabin mobilnya sedang memperhatikan sesuatu. Memegangi setir kemudi dengan gelisah dan ekspresi tidak sabar. Pandangan matanya tidak pernah lepas dari para mahasiswa maupun mahasiswi yang satu persatu mulai keluar dari gerbang kampus. Meneliti setiap detil siapa saja yang keluar dan berlalu lalang di depannya.
Sudah jelas, dia sedang menunggu Meila dan mencarinya. Dia ingin moment seperti kemarin dia ulangi lagi dengan alasan apapun asalkan dia bisa berada satu mobil dengan gadis incarannya.
"Dimana perempuan itu? Kenapa dari tadi dia belum keluar juga? Apa mungkin dia punya kelas tambahan? Atau... dia nggak masuk?"
Dan perempuan yang dia maksud adalah Vika. Dion sempat melihat dan memperhatikannya beberapa kali ketika Meila berada satu meja dengan Vika sambil berbincang dan tertawa sebelum perempuan itu meninggalkan Meila sendirian hingga akhirnya dihampiri olehnya.
"Itu kan perempuan yang bersama Meila di pesta itu?" Gumamnya sendiri.
Terlihat Vika nampak sedang menunggu sebuah mobil yang tidak lama datang menghampirinya dan berhenti tepat di depannya dari arah halaman parkir. Dilihatnya seorang pria yang ada di balik kursi kemudi sedang melempar senyum pada Vika yang langsung dibalas dengan senyuman penuh cinta.
"Oh, jadi mereka satu kampus? Pantes aja keliatan akrab. Dan... kalau nggak salah, pria yang di dalam mobil itu juga kayaknya ada di malam pesta kemarin."
Tapi, kemana perempuan yang dicarinya?
Setelah memastikan mobil yang membawa Vika meninggalkan halaman kampus, dengan sangat hati-hati dan penuh kewaspadaan, Dion langsung turun dari mobilnya yang secara kebetulan berpapasan dengan seorang mahasiswi. Dion tanpa pikir panjang langsung menanyakan dimana keberadaan Meila kepadanya.
"Maaf, permisi. Apa kamu kenal Meila?"
Mahasiswi itu sempat terdiam bingung sejenak sebelum akhirnya mengingat dan menjawab pertanyaan Dion.
"Meila? Meila anak sastra bahasa yang populer itu?"
Dion merasa bingung. Apa benar Meila yang mahasiswi itu maksud sama dengan apa yang dia maksud juga? Sebab, dia tidak mengetahui informasi tentang kehidupan perkuliahan Meila secara mendetil.
"Ah, i-iya. Meila yang itu." Dion akhirnya mengiyakan.
"Kayaknya hari ini dia nggak masuk, deh. Nggak keliatan juga dari pagi. Atau anda tanya langsung aja sama sahabatnya yang bernama Airin. Dia satu kelas sama Meila." Mahasiswi itu menjelaskan pada Dion dengan menyarankannya untuk bertanya pada Airin agar mendapatkan informasi yang lebih akurat.
"Oh, begitu, ya? emm... oke. Terima kasih."
Tetapi, alih-alih bertanya, Dion lebih memilih pergi setelah bertanya pada mahasiswi itu. Dia berpikir untuk pergi saja dari pada menanyakannya langsung pada sahabatnya secara mendetil. Sebab, itu akan menyebabkan kecurigaan padanya. Dia mungkin akan meminta seseorang untuk mencari informasi tentang Meila.
Dion akhirnya mengeluarkan ponsel dari sakunya. Mencari sebuah kontak dan segera menghubunginya. Dia lalu memberikan rentetan perintah yang yang harus dikerjakan untuknya dengan cepat.
Sebelumnya, Dion memang telah mencari tahu semua informasi tentang Meila diluar dari kegiatan perkuliahan perempuan itu. Karena dia pikir, mencari informasi seperti itu akan lebih mudah dibanding informasi yang lain. Sebab, jika infromasi tentang kehidupan Meila yang tinggal bersama Dimas saja bisa dia dapatkan dengan mudah, sudah tentu jika soal dunia perkuliahan saja akan jauh lebih mudah dia dapatkan, bukan?
Setelah memberikan beberapa perintah kepada seseorang, Dion pun pergi meninggalkan area kampus dengan perasaan sedikit kecewa. Kecewa karena tidak seperti ekspektasinya untuk bisa mengantar pulang perempuan incarannya dan berada satu mobil dengannya. Walaupun dengan berbagai cara akan dia tempuh agar bisa terus menemuinya.
Agar bisa menikmati waktu singkatnya yang sangat jarang bisa dia dapatkan selain mencuri-curi waktu dengan berbagai alasan palsu.