A Fan With A Man

A Fan With A Man
Tunggu Aku



James yang tadinya sedang fokus pada pekerjaannya, seketika teralihkan dengan suara isakan Sisil. Dia langsung menutup laptopnya dan berdiri tegap dengan wajah cemas.


"Ada apa, Sisil? Kenapa suaramu....."


"J-james.... d-dia.... Dia mengirimiku pesan berisi foto lagi. Itu benar-benar menjijikkan!" Sisil berusaha menjelaskan pada James meski suaranya tersekat.


"Apa?!" James memekik keras sambil memijat keningnya. Dia lalu berjalan mondar-mandir sambil menenangkan Sisil. "Oke, oke. Kamu tenang. Kirimkan saja alamat link beserta nomornya."


"Tapi... nomor itu bukan nomor yang dia pakai sebelumnya. Dia selalu mengganti nomor setiap akan menghubungiku." Suara Sisil terdengar bingung dan cemas karena takut ada seseorang yang mendengar pembicaraannya.


Tetapi, beruntung suasana toilet maupun area sekitarnya tampak sepi. Sehingga membuat Sisil sedikit lega tanpa takut ada yang mendengar suaranya.


"Berikan saja padaku. Urusan itu biar aku yang selesaikan. Ah, bagaimana keadaanmu? Kamu baik-baik saja? Perlu aku kesana dan menjemputmu?" James bertanya dengan nada khawatir yang kental.


"A-aku masih ada satu mata kuliah lagi. Nggak memungkinkan kalau aku meminta izin karena pasti akan sampai ke telinga papa. Aku... aku hanya syok dan baru saja memuntahkan isi perutku." Sisil berucap jujur.


James ternganga karena kehabisan kata. Jika Sisil mengatakan dirinya baru saja memuntahkan isi perutnya, mungkin karena perempuan itu merasa mual begitu melihat foto-foto itu. Dan hal itu memang sangat jelas terdengar dari suaranya yang tampak lemas.


"Baiklah. Apa kamu masih bisa menahannya? Atau apa aku perlu kesana?"


"Ja-jangan, James. Hanya satu mata kuliah lagi. Aku... aku bisa menahannya." Ucap Sisil dengan kening yang mengkerut dan kepala yang mulai pusing.


Meskipun aku memang benar-benar lemas sekarang.


Kedua mata James terpejam karena tidak fokus. Berkali-kali dia memijat pangkal hidung hingga keningnya secara kasar. Ingin segera memastikan kondisi perempuan yang sedang menjadi lawan bicaranya saat ini.


"Baiklah. Aku akan menjemputmu satu jam lagi. Tenanglah, Sisil... Tunggu aku!" Suara James merendah dan berat.


Mata Sisil tiba-tiba panas dan berkaca-kaca. Ingin dia terisak namun tenggorokannya begitu sakit dan pahit. Mungkin karena efek muntah tadi sehingga membuat tenggorokannya sakit dan perih.


"....iya." sahut Sisil sambil menguatkan diri.


Setelah panggilan itu benar-benar berakhir, Sisil meletakkan ponselnya ke pinggir wastafel dan kembali membilas wajahnya untuk menyamarkan air matanya. Wajahnya tampak sedikit pucat karena lemas dan pusing. Tetapi Sisil berusaha menguatkan diri untuk menghadapi satu mata kuliah lagi yang akan dijalaninya tidak lebih dari satu setengah jam lamanya. Dan setelah itu, James akan menjemputnya.


"Ya. James akan datang, Sisil. James akan datang. James akan datang." Ucap Sisil lirih sambil menghibur dirinya sendiri seperti merapalkan sebuah mantra yang diulang-ulang sebagai bentuk kalimat penenangan dirinya.


●●●


Hidangan makan siang yang Dimas siapkan benar-benar definisi 4 sehat 5 sempurna. Meski menunya terlihat banyak, tetapi setelah disantap memang diperuntukkan untuk satu orang. Tidak kurang ataupun membuat yang memakannya merasa kekenyangan. Sangat pas dan sesuai.


Meila pun akhirnya menghabiskan menu utamanya setelah Dimas. Dia tampak menikmatinya dengan senang dan itu menandakan jika menu yang dipesan oleh Dimas sangat cocok dengan lidahnya. Tentu saja, Dimas sengaja memilihkan porsi komplit untuk memenuhi kebutuhan gizi dalam tubuh yang dibutuhkan sesuai takarannya.


"Gimana? Apa kamu menikmati menu yang aku pilih?"


Meila mengangguk senang disusul dengan jawaban. "Iya. Terima kasih."


Dimas menanggapinya dengan senyuman. "Habiskan buah-buahannya juga. Itu sangat bagus untuk pencernaan kamu." Ucap Dimas dengan penuh perhatian. Dia lalu membantu menyeka sebutir nasi yang menempel di sudut bibir Meila  dengan sangat perhatian dan penuh kasih sayang.


"Oh iya, aku hampir lupa. Apa kamu tau, kak? Tadi, pas aku mau ke perpustakaan sambil bawa tumpukan buku-buku di tangan, tiba-tiba aku ketemu Sisil. Tepatnya hampir bertabrakan, sih." ucapnya yang diakhiri cengiran.


"Lalu?" Tanya Dimas dengan alis mengernyit.


"Iya. Wajahnya memerah gitu. Aku langsung tebak aja pasti karena dia habis digoda sama kak James. Tapi sayangnya dia langsung mengelak." Ujar Meila dengan cekikikannya. Dan tawanya itu menular pada Dimas hingga membuatnya menggeleng-gelengkan kepala.


"Wajahnya memerah sama seperti kamu, kan?" Seru Dimas dengan menggoda sambil mencubit pipi Meila tentunya.


"Ih, kak Dimas!" Sergah Meila sambil memberengutkan bibirnya. "Oh, iya. Satu lagi. Setelah bertemu Sisil, aku kan lanjut ke perpustakaan lagi, sampai akhirnya buku-buku itu benar-benar jatuh. Dan kamu tau siapa yang bantu aku?"


Kening Dimas mengkerut bingung. "Siapa?"


"Salah satu tim keamanan yang kamu tugaskan itu. Tadinya aku hampir nggak sadar karena aku terlalu sibuk merapikan buku-buku yang ada di tangan aku. Tapi, pas aku ingat orang itu memanggil aku dengan sebutan nona, aku langsung sadar dan memanggilnya lagi. Aku langsung menebak aja dan dia langsung mengaku."


"Pacar aku memang pintar, ya!" Dimas memuji Meila dengan memberikan usapan lembut tanda sayang ke kepala Meila.


"Lakukan senyaman kamu aja. Aku nggak akan mencegah atau menghentikannya. Kamu boleh meminta bahkan memberi mereka perintah apapun semau kamu. Sebab jika di kampus, kamu adalah atasan mereka. Dan mereka bertanggung jawab atas keselamatan tuannya."


Meila pun menyunggingkan senyuman khasnya. "...oke!"


Tanpa terasa satu jam berlalu saat mereka berbincang dan menghabiskan waktu bersama. Dan Dimas seketika melihat pada jam tangannya.


"Setengah jam lagi aku akan kembali meeting. Kamu tetap disini, ya. Kita pulang sama-sama dari sini. Kamu nggak apa-apa, kan?"


"Disini? Nggak apa-apa? Nanti kalau kamu nggak fokus gimana?"


Dimas terkekeh geli. "Justru kalau aku membiarkan kamu pulang dan sendirian di rumah, pikiran aku malah nggak tenang. Kalau kamu bosan, kamu bisa nonton film, baca-baca buku, atau tidur siang di kamar sebelah sana." Sambil menunjuk ke arah pintu kayu berukir yang ada di ujung ruangan yang tentunya bersifat privasi. Yang artinya tidak sembarang orang bisa memasukinya bahkan dilarang keras untuk mengaksesnya.


"Oke. Aku mengerti." Sahut Meila dengan patuh.


"Good Girl. Kalau perlu sesuatu, kamu bisa hubungi Henry atau langsung hubungi aku. Nggak ada yang berani masuk ke ruangan ini selain aku yang memintanya."


"Iya." Sahut Meila lagi dengan mengerti.


"Yaudah, kamu lanjutkan lagi makannya. Aku akan keluar sekarang."


Dimas segera bergegas bangkit dari sofa sebelum kemudian mengecup puncak kepala Meila dengan sayang dan mengusapnya lembut.


"Ingat! Habiskan buahnya." Ujar Dimas yang kembali mengingatkan sambil membawa kakinya menuju pintu keluar.


"Iyaaaa...." sahut Meila dengan intonasi kata yang panjang.


Ketika Dimas keluar, dia langsung menuju meja Cindy dan memberikan serentetan perintah yang tidak bisa dibantah atau dilanggar sekalipun.


"Cindy, pastikan jangan ada yang masuk ke dalam kecuali dengan izinku. Pastikan pintu ruanganku selalu tertutup selama aku keluar. Dan jika memang ada proposal yang mengharuskan tanda tanganku, kamu tahan dulu dan tunggu sampai aku datang. Mengerti?"


"Mengerti, pak."


Dimas tampak puas dengan jawaban dari Cindy. Setelah benar-benar memastikan semuanya, Dimas langsung melangkahkan kakinya lebar-lebar dan memasuki lift untuk kembali menghadiri meeting yang akan dipimpinnya.


●●●


Begitu jam mata kuliah berakhir, Sisil langsung bergegas membereskan buku-bukunya ke dalam tas. Kemudian pergi meninggalkan kelas sambil berlari membelah kerumunan orang yang sedang memenuhi koridor. Pikirannya begitu berkecamuk dan perasaannya pun campur aduk. Entah apa yang tadi dijelaskan oleh dosen apakah menyerap ke otaknya atau tidak. Tubuh lemasnya telah ia paksakan untuk duduk tegap selama mata kuliah berlangsung. Dan pandangannya yang buram telah berkali-kali terpejam untuk mengurangi rasa pusingnya.


Tetapi tetap saja. Meski begitu, Sisil tetap tidak mampu mengusir kegelisahan dan kecemasannya yang menumpuk di dada. Rasanya sangat sesak dan tidak nyaman.


Ketika Sisil telah sampai di ujung koridor, dia langsung melihat mobil James telah terparkir dan pemiliknya sedang menunggunya di samping pintu kemudi dengan gusar. Berbanding terbalik dengan perasaan Sisil yang seketika lega melihatnya.


James datang, Sisil... James menepati janjinya...


Pandangan mereka pun bertemu dan Sisil langsung menghampiri James. Dengan napas tersengal Sisil berhenti di depan James. Dan pria itu pun langsung memegang bahunya sambil memasang ekspresi cemas.


"Kamu baik-baik saja?"


"...i'm okay! Aku cuma lemas dan nggak bertenaga." Ucap Sisil lirih.


James mulai memperhatikan Sisil dengan seksama. Dan setelahnya segera dia menyuruh Sisil untuk masuk ke dalam mobil.


"Ayo, masuk."


James langsung menghela Sisil masuk ke dalam mobil. Dan kemudian dirinya yang segera memposisikan diri ke balik kemudi dan menatap Sisil sesaat yang telah menyandarkan kepalanya ke kepala jok. Memejamkan matanya dengan dahi yang mengkerut dalam. Seolah sedang merasakan sakit yang luar biasa.


James pun membawa tangannya ke kening Sisil untuk memeriksa kondisinya dan merasakan suhunya. Dan benar dugaannya, tubuh Sisil sedikit panas dan kemungkinan dia sedang demam akibat syok ditambah dengan perutnya yang kosong karena telah memuntahkan seluruh isi perutnya tadi.


"Kamu sedikit demam." Ucap James. Disusul dengan erangan kecil dari bibir Sisil. "Kita ke apartemenku. Kamu bisa istirahat disana."


Dan tanpa meminta pendapat Sisil lebih dulu, James langsung melajukan mobilnya dengan cepat membelah kemacetan ibu kota yang mulai padat menuju apartemennya.